HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 14 AZYAN DAN NABILA


__ADS_3

Yuana kembali duduk di hadapan Nabil dan Bu Fatma dengan membawa semangkuk bubur ayam, sebungkus biskuit gandum dan sekotak susu UHT plain.


"Saya sarapan dulu Bu," ucap Yuana pada Bu Fatma saat hendak menyantap bubur ayam yang ia beli di stand yang sama dengan yang dibeli Bu Fatma sebelumnya. Bu Fatma yang memberi suapan terakhir bubur milik Nabila mengangguk dan tersenyum.


"Bagaimana keadaan suamimu?" tanya Bu Fatma saat melihat keadaan Yuana sudah lebih tenang daripada sebelum menjumpai Amar tadi.


"Masih belum sadar Bu," jawab Yuana sambil menatap sekilas pada Bu Fatma kemudian mengalihkan pandangan pada Nabila. "Selama ini kami hanya tinggal bertiga, sekarang keadaan Mas Amar seperti ini. Yuana tidak tahu harus bagimana jika tidak ada Bu Fatma. Terima kasih Bu," lanjutnya.


Dengan wajah teduh, Bu Fatma menggenggam tangan kiri Yuana yang berada di atas meja. "Yang sabar ya Nak... Nak Yuana harus kuat, lihat ada gadis kecil yang sangat membutuhkan ketegaran hatimu. Ada ibu juga di sini, kau tidak sendirian Nak."


"Terima kasih Bu..." sahut Yuana sambil mengusap air mata haru yang baru menetes di pipinya.


"Bunda napa nangis?" tanya Nabila yang turun dari bangku kantin menghampiri bundanya.


"Bunda tidak nangis sayang. Ini... bunda tadi kebanyakan ambil sambalnya, jadi kepedesan deh," elak Yuana sambil berusaha tersenyum.


"Baik kalo begitu. Ibu pergi melihat Ilham dulu ya. Kalau Nak Yuana sudah selesai sarapan, kalian ke ruang tunggu yang ada di kanan ruang ICU saja ya. Di sana lebih leluasa dan ada tamannya, Nabila pasti suka di sana," pamit Bu Fatma.


Bu Fatma pun berlalu meninggalkan Yuana menyelesaikan sarapannya, sementara Nabila sedang asyik menyedot susu UHT melalui sedotan yang bengkok di ujungnya.


*


Bu Fatma melangkah keluar dari ruang ICU, kemudian ia menuju ruang kunjungan dan duduk di bangku beralaskan busa yang terbungkus dengan kulit sintetis berwana biru terang. Dari tempat ia duduk, Bu Fatma bisa melihat kondisi Amar dan Ilham di dalam ruang ICU. Lama ia termenung mengingat ia pernah duduk di posisi yang sama setahun yang lalu.


"Maaf Bu," sapaan dari dokter Sinta mengejutkan lamunan Bu Fatma. "Bisa menemui dokter Yusuf di ruangannya sekarang?" lanjutnya setelah Bu Fatma merespon sapaannya. Kemudian Bu Fatma mengikuti langkah dokter Fatma menuju ruangan dokter Yusuf.


Ketika masuk ke ruangan dokter Yusuf, terlihat dokter Yusuf sedang berbincang dengan seorang dokter paruh baya. Sepertinya beliau seorang seorang ahli penyakit dalam. Pria berkacamata yang masih tampak gagah meskipun hampir separuh rambutnya memutih itu tersenyum dan mempersilahkan Bu Fatma duduk di sofa di depannya.


Setelah Bu Fatma duduk di sofa dan diikuti oleh dokter Sinta, dokter Yusuf memulai pembicaraan mengenai kelanjutan penanganan Ilham.


"Bu Fatma... sebelumnya, perkenalkan beliau Profesor Diyono. Beliau akan menjelaskan tentang kondisi Ilham dan bagaimana solusi penanganannya. Apa Bu Fatma perlu didampingi keluarga yang lain?" dokter Yusuf membuka pembicaraan dengan hati-hati.


"Tidak perlu dokter Yusuf. Senang berkenalan dengan anda Profesor Diyono. Untuk Ilham, saya percayakan sepenuhnya pada dokter Yusuf, apapun yang terbaik untuk kesembuhannya, saya pasti setuju. Jadi saya mohon bantuannya."


Kemudian pembicaraan berlanjut tentang kondisi Ilham, kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, langkah-langkah pemeriksaan apa saja yang harus dilalui hingga kemungkinan terbaik dan terburuk dari setiap langkah yang akan diambil.

__ADS_1


*


Perlahan Yuana menuntun Nabila berjalan menuju ruang tunggu dekat ruang ICU. Ketika melewati taman, Nabila yang melihat seekor capung terbang lalu hinggap di pucuk daun tanaman angelonia pink atau biasa disebut bunga lavender lokal berseru dengan riang, "tupu-tupu... tupu-tupu... bundaa... tupu-tupuna lucu yaa, tuyus hihi..."


"Mana? Oh... itu bukan kupu-kupu sayang. Itu... namanya caa... puuung," Yuana menjelaskan tentang serangga kecil yang baru ditemui Nabila itu.


"Caa pun? Oh... butan tupu-tupu ya," Nabila yang masih penasaran terus memperhatikan serangga berordo odonata tersebut.


"Kupu-kupu sama capung beda sayang, tapi keduanya sama-sama serangga," sambil menuntun Nabila melihat lebih dekat, Yuana menjelaskan apa yang ia ketahui tentang serangga.


"See.. lan... daa?" Nabila selalu mengeja ketika menanyakan kosakata yang baru ia dengar.


"Iya... ibaratnya nih yaa. Kalo dalam keluarga besarnya tuh... serangga itu kakeknya. Naaah capung yang Bila lihat ini sama kupu-kupu kecil warna kuning itu, masih saudara... saudara sepupu."


"sodala? emmm... capun tuh tatakna tupu-tupu ya, uda teliput hihi..."


"Hehe... iya kali yaa. Udah yuk... duduk di sana aja," Yuana mengajak putrinya itu untuk duduk di ruang tunggu. Setelah mengambil beberapa tetes hand sanitiser yang tergantung di dinding ruang tunggu dan mengusap-usapkan pada tangannya dan tangan Nabila, Yuana duduk di salah satu bangku.


Lima belas menit sudah Yuana duduk di sana, sementara Nabila terus bertingkah layaknya anak-anak seusianya. Beberapa kali Yuana melihat perawat mondar-mandir. Ingin sekali Yuana masuk ke dalam ruang ICU untuk menemani suaminya. Namun tidak mungkin ia mengajak masuk Nabila, meninggalkannya sendiri juga lebih tidak mungkin.


"Sebaiknya nanti dijelaskan dokter Sinta saja ya Bu... mudah-mudahan kondisinya lebih baik, permisi," dan perawat itu berlalu meninggalkan Yuana yang berdiri menatap kosong pada pintu masuk ruang ICU.


Kemudian ketika Yuana kembali ke ruang tunggu, dilihatnya Nabila sedang berbincang dengan seorang anak laki-laki yang sedikit lebih besar dari Nabila.


Rupanya mereka berdua saling menawarkan snack yang mereka pegang. Nabila menawarkan biskuit gandum dan anak tadi menawarkan keripik kentang bertabur sari rumput laut.


"Namamu siapa?" tanya anak itu, rupanya selain lebih besar, artikulasi bicaranya juga lebih sempurna daripada Nabila.


"Namatu Nabila... pandinna Bila. Tamu sapa?"


"Aku Ajiyan," jawab bocah sedikit gendut berbaju setelan warna navy tersebut.


"Zyan... duduk sini sama mami," seorang ibu muda yang memangku seorang bayi memanggil anak laki-laki itu.


"Kak Nisa?" sapa Yuana pada perempuan tersebut. "Lama tidak bertemu... sedang apa di sini kak?" lanjutnya.

__ADS_1


"Yuanaaa... eh kok bisa ketemu di sini? Ini kakakku katanya dirawat di ICU sini, tapi aku belum ketemu, nunggu ummah dulu. Kamu sendiri ngapain?"


"Suamiku kemarin kecelakaan dan sekarang sedang koma di ruang ICU. Apa kakak, putrinya Bu Fatma?"


"Dan kamu istrinya Mas Amar?" berbinar Anisa menatap Yuana. "Aaah sempitnya duniaaa," lanjutnya sambil berdiri mendekat dan memeluk Yuana. Rupanya Yuana dan Anisa sudah saling mengenal sebelumnya.


"Kamu sudah punya anak Na? Kirain masih kuliah," tanya Annisa.


"Belum sempat kuliah akunya kak... Lulus SMK langsung bantu desain di garment ayah. Eh malah dijodohin sama asistennya ayah, mas Amar itu. Dan ini Nabila, putri kami," jelas Yuana sambil mengangkat Nabila ke pangkuannya. "Bukankah Kak Nisa kuliah di Singapura ya... nah ini kok malah uda buntut dua aja."


"Iya... emang aku ke Singapur, baru setahun di sana dilamar kak Zein. Langsung dinikahin deh sama abah. Jadi kuliah baru dua tahun udah harus cuti, soalnya Azyan dah mau lahir waktu itu. Eh sampe sekarang belum sempat lanjutin. Ada Noris nih, hehe," jelas Anisa sambil kemudian menunjuk pada bayi yang tertidur dalam gendongannya.


Selama kedua ibu muda itu bercengkerama, rupanya Azyan dan Nabila juga sudah saling berinteraksi dengan baik.


"Dadi tamu yan namana Asiyan," kata Nabila.


"Bukan Asiyan...tapi Aa... Jiyan," protes Azyan karena Nabila tidak bisa mengeja namanya dengan benar.


"Buti binangna, Asiyan butan Adiyan," Nabila dengan polosnya mempertahankan pendapatnya.


"Dibilang Ajiyan... bukan Asiyan, bukan Adiyan. Aa...Jiyan... inget... Aa Jiyan!" Azyan yang jadi emosi mengerutkan alisnya dan bersedekap.


"Azyaaan...sudah, gak boleh marah. Nabila kan belum lancar ngomongnya. Zyan saja belum bisa ngomong Ziyan," Anisa mencoba menengahi pertikaian dua anak kecil itu.


"Tante...namana benel Asiyan tan?"


"Iya... nama anak tante Azyan. Azyan Syafi´ bin Zein lengkapnya."


"Bella iiiih... dibilang Ajiyan kok" makin manyun Azyan dibuatnya.


"Bila... butan Bella."


"Ajiyan... bukan Asiyan."


Akhirnya kedua ibu muda yang duduk di bangku kayu bercat putih tersebut tertawa terbahak-bahak melihat dua bocah bertikai soal namanya.

__ADS_1


__ADS_2