HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 65 UMROH


__ADS_3

Dua hari berlalu tanpa pembahasan apapun mengenai status Yuana dan juga dokter Yusuf. Semua seakan sepakat untuk tidak mengungkit hal tersebut hingga masing-masing bisa menerima dengan hati lapang dan kepala dingin.


Semua beraktifitas seperti biasa, Yuana juga sudah beraktifitas sebagai asisten pribadi Ilham sebagaimana biasanya. Kali ini ia lebih ekstra menjaga pola makan dan istirahat Ilham.


Ia tidak mau kecolongan lagi seperti kemarin. Walaupun memang dokter mengatakan Ilham hanya kelelahan, namun Yuana merasa bersalah karena telah mengabaikan kondisi kesehatan Ilham beberapa hari kemarin.


Yuana juga bersikap seolah tidak pernah ada kejadian apa-apa, selama tidak ada yang bertanya atau menyinggungnya. Jalan hidupnya masih panjang, cita-cita masih jauh di depan dan Nabila yang menjadi penyemangatnya dalam menjalani aktifitas sehari-harinya.


Pagi ini dimulai dengan sarapan bersama. Bu Fatma duduk paling ujung, lalu Ilham berhadapan dengan Yuana. Di samping Ilham, Arief duduk berhadapan dengan Nabila.


"Om Arief danteng ya Bunda," tiba-tiba Nabila menyeletuk memuji Arief yang memang penampilannya terlihat lebih segar setelah berganti model rambut.


Ilham dan Yuana tersedak bersamaan, terbatuk-batuk lalu meminum air dari gelas masing-masing secara bersamaan pula.


"Ciyee... Ciyee...," Annisa yang duduk di karpet sambil menyuapi Azyan dan Norish berseloroh, entah ditujukan kepada siapa , yang jelas Arief menjadi salah tingkah, sedangkan Ilham dan Yuana terlihat saling melirik setelah batuknya sama-sama reda.


"Tuh kan, Rief. Anak kecil saja bisa menilai lho. Sesibuk apapun, sempatkan merawat diri, penampilan itu penting lho. Apalagi kamu sering ketemu klien," Bu Fatma yang tadinya makan dengan tenang


Arief semakin salah tingkah, karena sekarang semua perhatian tertuju kepadanya, mana Nabila masih senyum-senyum tanpa dosa melihat ke arahnya. Gara-gara potong rambut, rumah majikannya itu menjadi heboh karena kepolosan Nabila. Namun ia berusaha mengalihkan perhatian dengan membahas perihal umroh.


"Iya, Bu... Oh iya, Bu, untuk syarat umroh, tinggal paspornya Mbak Yuana yang belum. Nanti fotonya sekalian dengan vaksin saja."


"Umroh?" Yuana dan Annisa serempak bertanya.


Bu Fatma memicing kepada Ilham, bertanya apakah belum berbicara perihal keberangkatan umroh mereka. Dan menghela nafas ketika Ilham justru hanya menggelengkan kepala.


"Iya, sudah lama ummah pingin ngajak Yuana untuk umroh. Mau ya, Nduk, nemenin ibu umroh."


"Nisa ikut, Ummah," tentu saja Annisa merajuk ingin ikut juga.


"Kamu jaga anak-anak saja, nanti kalau anak-anak sudah mengerti ibadah umroh, kita berangkat sekeluarga."


"Tapi, Bu..." Yuana merasa tidak enak kepada Annisa karena ternyata hanya dirinya yang diajak pergi umroh, kedua tangannya saling menggenggam di atas meja makan.


"Sudah, kamu tinggal ngikut aja, semua sudah diurus sama Arief kok, kita tinggal berangkatnya saja," ucap Bu Fatma seraya menepuk punggung tangan Yuana.


Tiga minggu berlalu, semua sudah siap mengantar kepergian Bu Fatma, Ilham dan Yuana. Yuana dan dokter Yusuf sama-sama terkejut ketika bertemu di kantor biro haji milik Ustadz Al tempat pemberangkatan bis rombongan. Pasalnya masing-masing tidak paham jika mereka diajak bersama-sama.


Bu Fatma mengatakan pada Yuana sudah lama ingin mengajak Yuana menemani ibu umroh, sedangkan pada dokter Yusuf mengatakan maaf batu bisa menunaikan keinginan abah Haikal menghadiahi umroh ketika dokter Yusuf menjadi mualaf.


Yuana berpikir ia dan Bu Fatma saja yang pergi, sedangkan dokter Yusuf mengira ia dan Ilham saja yang pergi.


Keduanya sama-sama merasa canggung karena permasalahan mereka yang belum jelas titik terangnya.


Ingin rasanya Ilham mengatakan tujuan kepergian mereka sebenarnya, tetapi Bu Fatma melarang sebelum benar-benar mendapat kepastian tentang Jacob dan Linda.


Rencananya Bu Fatma dan Ustadz Al menemui Jacob dan Linda terlebih dahulu sebelum mempertemukan mereka dengan anak-anaknya.


Keberangkatan rombongan umroh selalu dalam keadaan penuh haru dan syahdu. Pelukan, air mata dan doa keselamatan memenuhi pelataran kantor sebelum rombongan jamaah mulai naik bis satu persatu. Lambaian tangan mengiringi bis yang melaju perlahan menuju arah bandara.


Annisa, Mbok Sari, Pak Hadi dan Arief bergegas kembali ke rumah, tidak tega meninggalkan Nabila, Azyan dan Norish lama-lama. Meskipun ketika berangkat tadi mereka sudah tertidur lelap dijaga oleh Rima. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam ketika tiba di rumah.


Sementara itu di dalam bis, Yuana dan Bu Fatma duduk diam menyimak arahan dari pemandu atau pendamping rombongan.


Dokter Yusuf meninju lengan Ilham sambil terkekeh, mengingat dua hari yang lalu ketika Bu Fatma dan Ilham menemui pimpinan rumah sakit untuk memohon diijinkannya dokter Yusuf mendampingi Ilham menjalankan ibadah umroh.

__ADS_1


Dokter Yusuf memang kesulitan mendapatkan ijin cuti, karena masa cutinya yang memang sedikit sudah ia habiskan kemarin untuk memperjuangkan hati Yuana.


Dan Ilham sudah berakting sedemikian rupa agar pimpinan rumah sakit berkenan mengijinkan dokter Yusuf mendampinginya. Alhasil dokter Yusuf bukannya mendapat ijin cuti melainkan dinas luar pendampingan pasien, dan Ilham wajib membayar biayanya. Menang banyak tentunya bagi dokter Yusuf, yang membuat ia tak henti-hentinya tersenyum lebar dan terkekeh menertawakan Ilham.


"Cih, seandainya saja kamu tahu tujuan kita sebenarnya berangkat umroh ini. Lihat saja nanti, kamu bukan hanya akan berhenti mengejar-kejar Yuana. Bahkan kamu harus menerimaku menjadi adik ipar, hahaha..."


Tentu saja semua hanya terucap dalam hati Ilham, karena yang keluar dari mulutnya hanyalah sebuah decakan dan memalingkan wajah pura-pura tidur, walaupun pada akhirnya memang benar-benar tertidur.


Setelah menjalani proses imigrasi di bandara yang lumayan lama, penerbangan langsung menuju Jeddah selama kurang lebih sebelas jam, sampailah rombongan jamaah umroh di bandara King abdul Aziz.


Tiba di Jeddah, kemudian setelah proses imigrasi dan pengaturan bagasi, jamaah bersama melakukan miqat di bandara King Abdul Aziz dibimbing oleh seorang muthawwif. Melanjutkan perjalanan dengan bis selama satu jam menuju Makkah untuk check in hotel. Selanjutnya melakukan ibadah umrah yang pertama di Masjidil Haram dibimbing oleh muthawwif.


Selama lima hari di kota Mekkah menjalankan rangkaian ibadah umroh, ziarah kota Makkah hingga thawwaf wada, baik Bu Fatma, Yuana, Ilham dan dokter Yusuf menjalaninya dengan sangat khusyuk.


Bagi Yuana dan dokter Yusuf yang merupakan pengalaman pertama melihat Ka'bah di depan mata kepala sendiri, pasti merasakan keharuan yang teramat dalam, membuncah di dalam dada, tak dapat terungkapkan dengan kata melainkan dengan tumpahnya air mata.


Hingga setelah menyelesaikan thawaf wada, dengan berat hati jamaah meninggalkan kota Makkah menuju kota Madinah.


Yuana bahkan menangis tidak mau meninggalkan masjidil haram sampai Ilham menjanjikan akan mengajak kembali tahun depan bersama Nabila. Begitu mendengar nama Nabila, barulah Yuana tersadar dan mau meninggalkan masjid.


Lima hari berada di Makkah, hanya keharuan dan kekhusyukan beribadah yang dirasakan oleh masing-masing.


Namun ketika bus yang mereka naiki sudah mendekati masuk kota Madinah, ada debaran aneh menelusup di dalam hatinya, berbeda debaran yang ia rasakan ketika dalam perjalanan dari Jeddah ke Makkah. Mendadak ia menjadi gelisah yang ia sendiri tidak tahu kenapa.


Pagi hari setelah bermalam di hotel yang berada tepat di depan masjid Nabawi, bersama jamaah yang lain berziarah ke makam Rasulullah dan Raudhah, kemudian acara bebas dan jamaah bisa beribadah di Masjid Nabawi secara mandiri.


Di saat itulah, Bu Fatma memanfaatkan kesempatan yang ada. Beralasan sedikit lelah dan ingin berisitirahat di hotel, Bu Fatma tidak mengikuti rombongan jamaah pergi bersama-sama beribadah mandiri di Masjid Nabawi.


Padahal sebenarnya beliau berjanjian dengan Ustadz Al dan Ustadzah Nadia untuk bertamu ke kediaman Jacob dan Linda.


Yuana sangat antusias dalam beribadah di masjid Nabawi apalagi memiliki dua teman sebaya dalam satu rombongan yang sama-sama bersemangatnya, tentu saja menyayangkan absennya Bu Fatma kali ini. Ia berharap setelah beristirahat, Bu Fatma bisa bergabung kembali dengan jamaah yang lain.


Dengan menggunakan mobil fasilitas hotel, Bu Fatma diantar oleh Ustadz Al dan istrinya menuju distrik atau ahya Al Jumuah yang berada sebelah selatan tidak jauh dari hotel tempat rombongan menginap.


Melewati First Ring Road King Faisol kemudian berbelok menyusuri Prince Abd Mouhsen ibn Abd Al Aziz Road yang panjang hingga ketika melewati toko manisan Halwani Syaikhah, ingin rasanya Bu Fatma turun dari mobil dan masuk ke dalam toko tersebut.


Teringat pada almarhum suaminya, Abah Haikal yang selalu membeli halawah dan sobia untuk oleh-oleh, harissa dan labneh di toko itu pun yang terenak menurutnya.


Karena melamun mengingat betapa antusiasnya Abah Haikal setiap mencicipi setiap manisan khas timur tengah di toko itu, Bu Fatma sampai tidak menyadari mobil telah berbelok dan melipir ke deretan bangunan yang sekilas tampak serupa itu dan berhenti di depan sebuah toko swalayan dengan neon box besar bertuliskan nama toko tersebut.


Toko Indonesia Al Yaqoub


Sepintas toko tersebut tampak sempit, tetapi ketika Ustadz Al membukakan pintu untuk istrinya dan Bu Fatma masuk, barulah terlihat didalamnya sangat luas.


Sambil mengikuti Ustadz Al yang berjalan lurus ke dalam di mana terlihat meja kasir berada, Bu Fatma menyapukan pandangannya ke sekeliling toko tersebut. Bisa dikatakan toko tersebut menjual beraneka ragam produk-produk ternama di Indonesia.


"Assalamu'alaikum, Ustadz! Ahlan wa sahlan."


Seorang berperawakan tinggi berjubah putih menyambut kedatangan mereka bertiga dengan sumringah. Sekilas tak terlihat jika orang tersebut bukanlah orang arab. Tetapi jika dilihat wajahnya maka semua pasti bisa menebak keturunan mana. Seandainya saja ia lebih muda dan tak bercelak pasti mirip dengan dokter Yusuf,


"Wa'alaikum salam wa rohmatullah wa barokaatuh. Ahlan bik."


Ustadz Al menjawab salam tersebut sambil merentangkan tangan, bersalaman dan berpelukan.


"Ada hal penting yang ingin beliau bicarakan dengan kalian," tutur Ustadz Al tanpa basa basi menyampaikan tujuan kedatangannya seraya menunjuk Bu Fatma yang berdiri di samping Ustadzah Nadia.

__ADS_1


"Ah iya, mari-mari kita ke atas, tafadlol."


Orang tersebut mempersilahkan tamunya untuk naik ke lantai dua tempat ia tinggal melalui tangga yang berada tepat di belakang meja kasir, kemudian ia memanggil salah satu karyawannya untuk menggantikannya sebagai kasir.


"Bilal! Astabdili. La yazal hunak duyuf."


"Labbaik."


Setelah memastikan karyawannya tersebut menempati meja kasir sesuai perintahnya, cepat-cepat ia menyusul tamunya yang sudah naik terlebih dahulu.


Begitu naik ke lantai dua, Bu Fatma terkesima dengan ruang tamu yang berada di lantai tersebut. Hamparan permadani mewah dengan sofa lesehan yang berhadapan di sisi kiri dan kanannya dengan bantal-bantal yang berjajar rapi di atasnya.


Sebuah lampu gantung hias tepat berada lurus di atas meja. Jendela sebesar dinding menghadap ke depan yang tertutup gorden transparan dan gorden tebal yang diikat ke samping kiri dan kanan. Serta kaligrafi yang sangat indah terpasang di salah satu dinding.


"Silahkan-silahkan."


Setelah mempersilahkan para tamu untuk duduk, orang tersebut masuk ke ruangan sisi dalam yang terpisah sebuah partisi. Tak lama kemudian orang itu kembali bersama seorang perempuan berhijab yang mendorong sebuah troli stainless steel berisi aneka kudapan dan minuman.


Dengan cekatan Ustadzah Nadia membantu perempuan itu menata hidangan ke atas meja. Setelah itu keduanya saling berpandangan menatap dengan penuh keharuan lalu berpelukan erat.


"Nadia."


"Linda, apa kabar?" tanya Ustadzah Nadia setelah melepas pelukannya.


Ustadzah Nadia dan Linda dari masa remaja sudah saling bersahabat, dan persahabatannya itulah yang menjembatani masuknya Jacob dan Linda ke dalam agama Islam.


"Oh iya, Lin. Ini Bu Fatma, apakah kalian sudah saling kenal sebelumnya?" dijawab gelengan oleh Linda, namun ia tetap menyambut ramah uluran tangan Bu Fatma.


Setelah saling memperkenalkan diri, Bu Fatma pun mengungkapkan tujuannya bertamu.


"Mungkin Pak Jacob dan Bu Linda tidak mengingat saya. Tapi kalau dengan Pak Bramantio dan Bu Suci, pasti kenal kan?"


Tentu saja pertanyaan dari Bu Fatma tersebut mengagetkan mereka.


"Bu Fatma kenal dengan Pak Bram dan Bu Suci?" tanya Jacob, sang tuan rumah pemilik toko swalayan tersebut.


"Tentu saja, bahkan dengan satu-satunya putri mereka yang cantik, Yuana."


Mendengar nama Yuana disebut, mereka langsung yakin bahwa itu adalah Joanne, putri mereka. Tubuh Linda menjadi bergetar, menjatuhkan diri, menangis dalam pelukan Ustadzah Nadia.


Sebuah nama yang selama ini hanya bisa disebutkan dalam doa, kini ia dengar dari orang yang baru mereka kenal.


"Yuana?" meskipun dengan mata berkaca-kaca, sepertinya Jacob masih bisa mengendalikan emosinya.


"Iya, Yuana. Dan juga Nabila, putri kecil dari Yuana."


"Yuana... Sudah memiliki anak?" dengan suara bergetar, Jacob seakan tak percaya. Antara senang, takjub, sedih, entah perasaan apalagi yang berkecamuk di dalam dadanya.


Dalam bayangan Jacob dan Linda, Yuana atau Joanne saat ini pasti sedang sibuk menyelesaikan kuliahnya dan merajut impian. Mereka sama sekali tidak menyangka jika Joanne ternyata sudah menikah dan memiliki seorang anak.


"Nad, bahkan aku sekarang sudah jadi seorang nenek," ucap Linda disela isak tangisnya.


Ustadzah Nadia mempererat pelukannya sambil sesekali mengusap-usap lengan Linda untuk menguatkan hati sahabat yang jarang bersua itu.


"Apakah kalian tidak ingin bertemu Yuana?" tanpa bertanya detailnya seperti apa, Bu Fatma sangat yakin bahwa Yuana adalah Joanne, putri kandung dua orang yang sedang bersimbah air mata di depannya saat ini.

__ADS_1


Jacob mengetatkan rahangnya ketika mendengar pertanyaan yang menohok hatinya itu. Tentu saja ia ingin, mereka sangat ingin bertemu anak-anaknya. Tapi...


"Tidak. Sebisa mungkin kami tidak usah bertemu, dan sebaiknya jangan sampai seorang pun tahu Yuana ada hubungan dengan kami."


__ADS_2