
Mbok Sari setengah berlari kembali ke halaman depan untuk menutup pintu pagar setelah membantu Yuana membawa koper ke paviliun. Mbok Sari terkejut melihat Bu Fatma duduk termangu di kursi teras.
"Ilham ke mana, Mbok?"
"Maaf, Bu... Eh... Sepertinya Mas Ilham ada keperluan dengan Mas Rahmat."
"Rahmat datang?"
"Eh, maaf, dengan Pak Hadi dan Mbak Annisa maksud mbok."
Karena bingung harus menjawab bagaimana, Mbok Sari sampai keliru menyebutkan nama. Perasaan Bu Fatma menjadi semakin tidak karuan, tidak seperti biasanya Mbok Sari gugup seperti sekarang. Pasti terjadi sesuatu.
"Sebenarnya ada apa, Mbok? Memangnya Ilham ke mana sampai tidak sempat menyalamiku, Mbok?"
"Saya kurang paham, Bu. Oh iya, Mbak Yuana sudah kembali ke sini lho, Bu. Barusan saya antar ke paviliun," dengan cepat Mbok Sari berusaha mengalihkan perhatian Bu Fatma, "kayaknya juga lagi sedih, Bu. Bengep, seperti habis menangis gitu. Mungkin teringat pada almarhum suaminya kali ya, Bu."
Antara terkejut, senang sekaligus sedih mendengar kabar tentang kedatangan Yuana, Bu Fatma seakan melupakan kekhawatirannya tentang Ilham berganti mengkhawatirkan keadaan Yuana.
Cepat-cepat Bu Fatma berjalan ke belakang menuju paviliun tempat Yuana, tidak peduli jika jalannya harus sedikit sempoyongan dan sesekali harus berpegangan pada tembok.
Yuana sedang duduk bersandar pada headboard ranjang dan berbalas pesan dengan Annisa ketika Bu Fatma masuk paviliun dan memanggilnya.
Karena memang merasa sangat letih dan kebetulan Nabila tidur dengan memeluk kakinya, Yuana tidak turun dari ranjang, hanya menyahut dan membiarkan Bu Fatma yang masuk ke kamarnya.
"Ya, Bu... Yuana di kamar."
"Yuana, kamu tidak apa-apa, Nduk?" tanya Bu Fatma penuh kekhawatiran, karena memang area mata Yuana masih terlihat sembab.
Yuana juga belum sempat menyegarkan diri ke kamar mandi karena tadi langsung menidurkan Nabila yang menggelayut manja padanya.
Tidak sempat memikirkan keadaan dirinya karena saat ini kepikiran bagaimana keadaan Ilham. Namun sedikit lebih tenang karena Annisa membalas pesannya dengan mengatakan kalau Ilham baik-baik saja, hanya kelelahan saja.
"Ibu, ibu sudah bangun?"
"Ibu ndak tidur kok, tadi cuma klesetan di kamar. Kamu tidak apa-apa kan? Ndak ada kejadian apa-apa kan? Ilham ndak..."
"Tidak terjadi apa-apa, Bu. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Ibu tenang ya," potong Yuana melihat Bu Fatma yang panik mengkhawatirkannya. Yuana tahu pasti Bu Fatma khawatir kejadian buruk di acara reuni sekolah Ilham yang menimpa dirinya terulang dengan kejadian buruk yang lain.
"Kamu tadi pulang bareng Ilham, kan? Sekarang ke mana anak itu?"
"Iya, Bu. Tadi Yuana pulang dijemput Mas Ilham, tapi begitu sampai di rumah, Pak Hadi sama Kak Annisa ngajak pergi, ada hal penting katanya," jawab Yuana sambil berpaling, berpura-pura memperbaiki posisi Nabila, berusaha untuk tidak menatap Bu Fatma.
Bu Fatma merasa lega mendengar jawaban dari Yuana tersebut, tetapi entah kenapa hati kecilnya tetap merasakan kekhawatiran, entah pada Ilham atau Yuana. Ia merasa ada hal besar terjadi pada salah satu dari mereka atau bahkan keduanya.
"Ibu hanya berharap, kalian selalu baik-baik saja."
Yuana hanya tersenyum menanggapi, lidahnya terasa keluh untuk berbicara, karena ia sendiri tidak tahu apakah ke depannya ia akan baik-baik saja.
"Kamu yakin baik-baik saja?" dengan menepuk lembut kaki Yuana, Bu Fatma ingin memastikan kondisi Yuana yang sebenarnya.
"Mungkin Yuana sedang lelah saja, Bu."
"Ya sudah istirahat saja dulu, maafkan ibu ya ganggu istirahatmu."
"Ndak ganggu, Bu. Yuana justru senang atas perhatian ibu pada Yuana. Terima kasih banyak ya, Bu."
Bu Fatma mengulas senyuman, kemudian bangkit dan keluar dengan sebelumnya menutup pelan pintu kamar Yuana. Dengan perasaan tak menentu, Bu Fatma berjalan hingga masuk ke dalam ruang kerja Ilham tanpa ia sadari. Tahu-tahu ia sudah duduk saja di kursi yang biasa diduduki Ilham ketika bekerja.
Ruangan ini jadi lebih rapi sejak Yuana ia pekerjakan sebagai asisten Ilham.
Buku-buku dan dokumen tertata rapi di rak buku, ada etalase baru, kecil dan berlampu di sudut ruangan, miniatur ikon negara-negara yang pernah dikunjungi Ilham terpajang rapi di situ.
__ADS_1
Kemudian ia berpaling ke tempat miniatur-miniatur itu semula, telah berganti menjadi deretan foto-foto Ilham dari masa ke masa. Pasti idenya Yuana ini, alangkah manisnya jika Yuana adalah istrinya Ilham, maka ia akan tenang jika sewaktu-waktu ajal menjemputnya.
Sebenarnya bagaimana perasaan atau penilaian Yuana tentang Ilham. Setelah sekian lama tidak kah terbersit rasa suka di hatinya pada Ilham. Tidak bisa kah dia membaca tatapan Ilham kepadanya selama ini?
"Astaghfirullah! Apakah telah terjadi sesuatu di antara mereka?" Bu Fatma terbelalak terkejut dengan hasil pemikirannya sendiri.
Bisa jadi kan, Yuana menangis karena hal itu. Yuana seorang janda, dan Ilham sudah bertahun-tahun memendam perasaan kepada Yuana. Bisa saja kan sesuatu terjadi antara mereka?
"Yaa Allah... Ini salah hamba Yaa Allah, ampuni keteledoran hamba," sesal Bu Fatma, ia merasa egois karena rasa sayangnya kepada Yuana memaksanya mendekatkan Yuana dan Ilham, berharap mereka bisa dekat sebagaimana Ilham dan Annisa. Ia lupa walau bagaimanapun Yuana bukanlah mahrom bagi Ilham dan ia tidak tahu perihal perasaan Ilham sebelumnya.
Memang sudah seharusnya jika ia bisa menikahkan mereka, bukankah Ilham sangat mencintai Yuana sejak dulu? Ilham bahkan pernah memproklamirkan Yuana sebagai calon istrinya, ya meskipun itu hanya untuk menghentikan kecemburuan tak berdasar Ratna kepada Rahmat.
"Lalu di mana masalahnya? Apakah terhalang restu? Tentu tidak. Kurang mapan? Juga tidak. Apakah Ilham pernah menyatakan perasaan dan Yuana menolaknya? Atau justru Ilham belum pernah menyatakan pada Yuana? Apakah anakku memang hanya sebatas pengagum rahasia. Ah, bodohnya."
Semakin memikirkan semakin terasa sakit kepala Bu Fatma. Harusnya ia mencari cara untuk menyatukan mereka dalam sebuah ikatan suci? Ataukah ia harus pasrah saja menunggu perkembangan mereka. Atau...
"Siapa yang bodoh, Ummah?"
Dengan wajah sedikit pucat, Ilham masuk ke ruang kerjanya. Sebenarnya ia hendak naik ke atas menyusul Annisa yang sudah naik duluan, namun melihat ruang kerjanya yang terbuka dan Bu Fatma duduk di kursinya, mau tidak mau Ilham berbelok dulu. Menyapa ibunya yang sedang bergumam dan terdengar kalimat terakhirnya saja.
"Kamu sudah pulang? Dari mana? Ada kejadian apalagi sampai membuat Yuana menangis begitu?"
"Yuana menangis lagi?"
Pertanyaan balik Ilham justru memantik kecurigaan Bu Fatma, "ada apa lagi, Ham? Kalian..."
"Kita jamaah dulu, ya? Sebentar lagi adzan maghrib, nanti Ilham cerita."
Ilham memahami kecemasan ibunya, maka dari itu ia akan menceritakan apa yang baru diketahui olehnya tentang Yuana dengan jelas dalam suasana yang tenang. Mungkin saja ibunya itu bisa memberi pandangan nantinya, mengingat kedekatan Bu Fatma dengan ibu Yuana dulu setiap bertemu di pesantren.
Selepas makan malam, Ilham mendatangi kamar Bu Fatma. Yuana, malam ini sama sekali tidak datang ke rumah utama. Ia membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya. Norish yang sedikit rewel, membuat Annisa dan Azyan berdiam diri di dalam kamar. Sehingga suasana malam ini begitu tenang bagi Ilham dan Bu Fatma untuk berbincang.
Bu Fatma pun mengetahui dengan persis siapa orang tua dokter Yusuf, bahkan mengenalnya. Sangat tidak mungkin Pak Rudi Wijaya memiliki anak di luar pernikahannya dengan Cik Mei.
Lebih mengejutkan lagi bagi Bu Fatma ketika Ilham menyebutkan nama kecil dan nama orang tua Yuana.
"Jadi Pak Bram sendiri yang mengatakan kalau Yusuf adalah kakak kandung Yuana? Sedangkan orang tua Yuana bernama Jacob dan Linda? Nama asli Yuana adalah Joanne dan nama asli Yusuf kan juga Joseph. Kalau benar ucapan Pak Bram, berarti Yusuf bukan anak kandung Pak Rudi?"
"Entahlah, Ummah. Mana yang benar, mas Jo sama sekali menolak untuk mengakuinya."
Sambil memijat lembut telapak kaki Bu Fatma, Ilham berpikir bagaimana cara memecahkan masalah ini.
Keesokan paginya, Yuana masih tidak muncul ke rumah utama untuk sarapan bersama seperti biasanya waktu sebelum Yuana pergi ke desa.
"Ham, kamu bisa antar ummah ke rumah Ustadz Al sekarang?" tanya Bu Fatma setengah berbisik setelah mereka menyelesaikan sarapan.
"Ustadz Alhusein?" dijawab anggukan oleh Bu Fatma.
"Iya, ke rumah Ustadz Alhusein. Ummah harus memastikan sesuatu."
"Tapi kan Ustadz Al jarang ada di rumah, Ummah."
"Ummah sudah chat ustadzah Nadia, beliau bilang minggu ini beliau ada di tanah air."
"Ah syukurlah kalau begitu."
Ustadz Alhusein adalah seorang da'i yang berdakwah ke berbagai daerah bahkan hingga ke pelosok negeri. Banyak mualaf yang dituntun membaca syahadat oleh beliau yang kemudian menjadi santri pondok pesantren atau majelis taklim yang asuhannya bahkan ada beberapa yang menjadi pejuang dakwah bersama beliau.
Selain berdakwah, Ustadz Alhusein juga memiliki biro perjalanan haji dan umroh. Hampir tiap dua bulan beliau mendampingi salah satu kloter umroh.
Setelah hampir satu jam perjalanan dengan kecepatan sedang, mobil Ilham tiba di halaman rumah Ustadz Alhusein.
__ADS_1
Seseorang yang memakai cadar membukakan pintu dan mempersilahkan Ilham dan Bu Fatma untuk masuk ke ruang tamu. Tak lama kemudian Ustadz Al dan istrinya, Ustadzah Nadia menemui mereka.
"Assalamu'alaikum!" seru Ustadz menyapa dan menyalami Ilham, "apa kabar, Bu Fatma?" sambil mempersilahkan Bu Fatma dan Ilham untuk susuk kembali.
"Wa alaikum salam, Ustadz. Alhamdulillah baik."
Kemudian mereka berbincang saling menceritakan aktifitas masing-masing sebelum akhirnya Bu Fatma mengutarakan maksud kedatangannya.
"Apa Ustadz masih ingat dengan Jacob dan Linda?"
"Ya, tentu saja. Kami masih sering berkomunikasi sampai saat ini, ya kan Mi?" sahut Ustadz Al sambil mengambil tangan istrinya lalu meletakkan di pangkuannya.
Ustadzah Nadia tersenyum dan mengangguk mengiyakan jawaban Ustadz Al.
"Bisakah Ustadz mempertemukan kami?"
"Bisa saja, haha... Sekalian kita umroh," Ustadz Al tergelak dengan jawabannya sendiri, karena merasa ia seperti sedang menodong Bu Fatma untuk pergi umroh.
"Maksudnya gimana, Ustadz?" tanya Ilham bingung, mempertemukan Bu Fatma dengan Jacob saja kenapa sekalian umroh.
"Yaaa kan katanya ingin bertemu Jacob dan Linda, mereka sekarang mukim di Madinah. Sayang kan kalau tidak sekalian umroh. Bagaimana?"
"Boleh... Boleh... Kami daftar empat orang, pemberangkatan paling cepat kapan?"
"Ummah..." Ilham heran dengan keputusan Bu Fatma yang seperti tanpa berpikir panjang itu.
"Pemberangkatan paling cepat hari Kamis ini, tapi untuk menambah empat orang sepertinya tidak bisa. Sebentar..."
Ustadz Al berdiri menuju ke dalam, sepertinya untuk menelpon seseorang namun tak lama kemudian beliau kembali ke ruang tamu.
"Tiga minggu lagi bisa. Soalnya yang minggu depan dan minggu depannya lagi sudah full."
"Iya, iya, Ustadz," sahut Bu Fatma dengan berbinar-binar.
Sepanjang perjalanan pulang kembali ke rumah, Bu Fatma menceritakan perkenalan singkatnya dengan Jacob dan Linda.
Setelah hampir semalaman tidak bisa tidur, mencoba mengingat-ingat nama Jacob dan Linda, karena ia seperti pernah mengenal dua nama itu di masa lalu.
Dan ketika berhasil mengingat, ia yakin bahwa Jacob dan Linda yang ia kenal adalah pasangan yang sama yang diceritakan Ilham sebagai orang tua kandung Yuana.
Tetapi mengenai Yusuf dan Yuana, satu-satunya cara adalah dengan menanyakan secara langsung kepada mereka berdua. Apapun yang bisa dilakukan, berapapun yang harus dibayar dan kemanapun harus melangkah, selagi Bu Fatma mampu pasti akan dilakukan sampai tuntas.
"Empat orang siapa saja, Ummah?"
"Kita, Yuana dan Yusuf. Memangnya siapa lagi?"
"Bagaimana kalau hanya kita berdua saja dulu? Ummah yakin, mereka Jacob dan Linda yang sama? Jangan sampai perjalanan kita sia-sia nantinya."
"Ya mana bisa yakin kalau kita tidak mendatangi dan menanyakan langsung pada yang bersangkutan. Jadi orang itu mbok ya yang cak cek. Kamu itu kalau urusan pekerjaan saja bisa tap-tap-tap-tap, kenapa kalau urusan begini luambatnya ngalahin siput. Kapan nikahnya kalau begitu? Lagian kita ini pergi umroh, mana ada pergi umroh jadi sia-sia."
Jawaban Bu Fatma seketika membuat Ilham merasa pusing. Ia segera menepikan mobilnya di bahu jalan yang teduh. Ia tidak ingin kenekadannya memaksa diri mengendarai mobil dalam keadaan tidak tenang dan lelah seperti kemarin terulang lagi.
Ilham berpura-pura minum air mineral lalu mengecek email yang masuk. Padahal dalam pikirannya berkecamuk, bagaimana cara mengajak Yuana dan dokter Yusuf untuk pergi umroh dalam waktu yang sesingkat itu.
Ia sendiri bahkan belum yakin, Yuana dan dokter Yusuf sudah menerima kehadiran Jacob dan Linda dalam kehidupan mereka. Belum lagi kesibukan dokter Yusuf sebagai seorang dokter spesialis sebuah rumah sakit ternama, mana bisa mengajukan cuti seenaknya sendiri.
"Wes, kamu jangan kebanyakan mikir. Ummah sudah kirim pesan sama Arief biar ngurus semua dokumennya. Tugasmu jaga kesehatan sampai nanti berangkat dan yakinin Yuana untuk bisa ikut. Yusuf biar ummah yang ngomong, dia pasti mau. Yang penting jangan bilang dulu soal Jacob sama Linda sebelum kita menemukan kepastian."
Ilham menghela nafas pasrah dengan segala manuver yang dilakukan Bu Fatma. Ilham yang sangat mengenal Bu Fatma tak bisa menolak atau menyangkal keputusan dan strategi yang diambil ketika mereka menghadapi sebuah masalah.
Mudah-mudahan saja manuver Bu Fatma kali ini benar-benar tepat sasaran dan bisa mempersatukan lagi sebuah keluarga yang tercerai berai oleh sebuah takdir.
__ADS_1