
Aroma karbol dan antiseptik menguar menusuk hidung, tiga orang petugas cleaning servis baru saja keluar ruangan. Lantai tampak masih basah bekas tersapu kain pel dan botol hand sanitizer tampak terisi penuh baru diganti.
Tirai-tirai pembatas juga nampak bersih dan tergantung berlipat di dekat tembok. Peralatan medis tertata rapi di tempatnya. Semua kembali normal setelah semalam ruangan ini penuh dengan pasien korban kecelakaan beruntun yang melibatkan empat motor.
Konon penyebab kecelakaan adalah pengendara motor paling depan yang memasang sein kiri tetapi ternyata belok ke kanan. Seorang ibu paruh baya yang hendak mengantar makan malam dan menemani suaminya berjualan di pasar sayur.
Bersyukur tidak ada korban jiwa, tapi hampir semua mengalami luka-luka sedang dan baru saja dipindahkan ke ruang rawat inap. Hebatnya, hanya satu orang yang mengalami luka ringan, yaitu ibu paruh baya tadi.
"Selamat Pagi, Dok."
"Hmm, pagi."
Dokter Yusuf baru saja selesai sholat subuh, lalu kembali ke ruang IGD untuk mengambil clutch yang tadi ia titipkan di meja perawat.
Sebenarnya hari ini masih terhitung masa cuti tiga harinya. Tetapi setelah penolakan Yuana tempo hari, ia justru menghabiskan waktu cutinya di rumah sakit.
"Suf, istirahatlah dulu. Kau sudah macam panda saja kutengok. Seingatku sudah dua hari kau tak tidur," tegur dokter Edgar yang ia temani berjaga semalam di ruang IGD.
"Malas pulang aku, Gar."
"Kau tiap ada masalah, selalu macam ini. Badan kau ada hak untuk istirahat, jangan sampai pula jadi pasien kau di sini," ucap dokter Edgar sebelum ia kembali masuk ke ruang jaga IGD.
Setelah menganggukkan kepala dan menepuk bahu dokter Edgar, dokter Yusuf berjalan gontai ke ruangannya. Sesekali memijat pangkal hidungnya dan mengerjapkan mata. Ya, sepertinya ia memang butuh untuk tidur.
Gubrak!
Tak sadar jika langkah kakinya menyerong sedikit ke tengah koridor, dokter Yusuf menabrak troli laundry kotor rumah sakit. Troli yang mengangkut linen kotor dari ruang operasi menuju ruang instalasi binatu.
"Innalillahi!" teriak karyawan laundry tersebut karena kaget tiba-tiba dari belakang ada seorang dokter yang menabrak troli yang ia dorong.
"Maaf... kamu tak apa-apa?"
Dokter Yusuf yang menunggu jawaban, memandang sejenak karyawan berbaju seragam warna hijau dan memakai masker dan topi dengan warna serupa itu. Namun karyawan itu tak berkata apa-apa, hanya terlihat bulu mata lentik yang membingkai bola mata bulat yang seakan terpana melihatnya.
Dokter Yusuf melambaikan tangan ke muka karyawan yang kemudian menjadi gelagapan karenanya.
"Ah, ti...tidak. Tidak apa-apa, Dok."
Dokter Yusuf pun berlalu meninggalkan karyawan tadi dan langsung masuk ke ruangannya. Dan karyawan tadi pun langsung mendorong troli kembali. Masing-masing tidak menyadari jika jas snellen dokter Yusuf yang tadi disampirkan di bahunya terjatuh ke dalam keranjang troli.
Di dalam ruangannya, dokter Yusuf langsung memasukkan laptop dan clutch ke dalam tasnya. Memastikan mejanya sudah rapi dan melirik ke meja di sisi yang lain. Sebuah jas lengan pendek dan sebuah tas selempang sudah tersampir di sandaran kursi. Berarti dokter Sinta atau temannya sudah ada yang datang, atau bahkan masih bertugas. Ia pun bergegas pulang setelah menitipkan pesan ke petugas yang sedang berjaga.
Begitu keluar dari rumah sakit, pikiran dokter Yusuf kembali pada sosok Yuana. Ia teringat bagaimana Yuana benar-benar telah menolaknya padahal ia yakin sudah tidak ada lagi penghalang baginya untuk melamar Yuana lagi.
Dulu, orang tua Yuana memang menolak lamarannya dengan alasan berbeda keyakinan, tetapi ia tidak mendengar penolakan langsung dari Yuana. Sekarang ia sudah berkeyakinan yang sama dengan Yuana, orang tuanya pun telah tiada. Yuana yang hidup sendirian pun harus menjadi seorang single parent.
Jika ia sekarang maju untuk melamarnya lagi, secara logika harusnya Yuana bisa melihat ketulusannya. Ia sekarang juga sudah mapan, berbeda dengan dulu yang masih belum punya apa-apa dan masih menjalani intership. Orang yang berpikiran jernih pastinya akan mau menerima lamarannya.
Tapi dokter Yusuf menyadari, ini Yuana. Dia berbeda. Dokter Yusuf sudah memperkirakan kemungkinan Yuana akan menolaknya. Tapi ketika benar-benar ditolak kenapa sakitnya terasa menyesakkan seperti ini. Bahkan lebih menyakitkan daripada ketika ditolak orangtuanya dulu.
Ia sudah menanti Yuana sekian lama, hingga teman-temannya sering berseloroh, "kutunggu jandamu," setiap ia menyebut nama Yuana. Apakah sekarang ia harus benar-benar melepasnya, dengan sekali tolakan dari Yuana. Tidak. Ia harus berusaha lebih keras lagi.
Tiin... Tiin... Tiin...
__ADS_1
Suara klakson bersautan menyadarkan dokter Yusuf dari lamunan. Tidak menyadari jika lampu merah sudah berganti lampu hijau. Ia pun kembali fokus mengendarai mobilnya.
Di pagi yang sama.
"Rim, coba kau hubungi nomorku," pinta Yuana pada Rima yang baru saja mengantar bahan makanan.
"Kenapa, Mbak?" tanya Rima tapi tetap mengambil handphonenya dan menghubungi nomor Yuana, "sudah berdering, Mbak. Mana hape Mbak Yuana? Kok gak kedengeran?"
"Lah makanya itu, Rim. Sejak kemarin sore ndak ketemu. Padahal nyambung kan?"
"Iya, Mbak. Coba diingat-ingat, Mbak, terakhir pegang di mana coba."
"Seingatku waktu di garasi, aku taruh di atas rak helm. Pas Nabila dipakaiin sepatu baru itu sama Mas Ilham. Tapi aku cari ke mana-mana gak ada."
"Coba pas sarapan nanti sekalian tanya Mas Ilham aja, Mbak."
Tercenung Yuana mendengar usulan dari Rima. Teringat bahwa ia akan menjadi asisten pribadi untuk Ilham. Bagaimana caranya nanti, sama sekali tidak terbayang dalam pikirannya. Ia masih malu sekaligus jengkel akan kejadian kemarin-kemarin itu.
Tapi ia bertekad untuk melaksanakan semua tugas yang ia terima dari Bu Fatma dengan baik. Apalagi saat Arief menunjukkan besaran gaji yang akan ia terima. Jika ia berhemat, beberapa bulan lagi pasti bisa mengembalikan uang milik dokter Yusuf, yang telah menebus sertifikat rumahnya berikut tanda terima kasihnya.
Setelah itu Yuana juga harus mengumpulkan modal yang tidak sedikit untuk membangun usaha kembali. Tidak mungkin kan, selamanya mengandalkan royalti dari Starla dan bergantung pada kebaikan keluarga Bu Fatma?
Berpikir seperti itu membuat Yuana kembali bersemangat. Segala hal kesedihan sudah ia lewati dengan baik. Menjalani kehidupan sederhana setelah hidup berkecukupan juga sudah ia jalani. Hanya menghadapi Ilham saja, apa sulitnya? Selama ia bisa menjaga diri pasti semua akan baik-baik saja.
"Innallaha ma'anaa. Semangat!"
"Iya, Mbak. Semangat! Tapi sarapan dulu, Mbak, biar tambah semangat, hehe."
Yuana memasuki rumah utama dengan perasaan canggung, ditambah Nabila yang sepertinya kurang bersemangat karena tidak ada Azyan dan Norish. Tapi Nabila bersorak bersemangat ketika mendengar suara Ilham memanggilnya.
Begitu Nabila berlari ke arah Ilham, bergegas Yuana menghampiri Bu Fatma yang telah tersenyum menyambutnya, lalu duduk di sebelah beliau.
"Nah, yang ditunggu sudah datang. Annisa nanti sore baru pulang, jadi kita makan berempat dulu."
"Asiyan mana, Buti?" Nabila celingukan mencari keberadaan Azyan.
"Azyan sedang ada keperluan, Sayang," jawab Bu Fatma.
"Asiyan dalan-dalan ya sama papina, tan papina dateng. Dulu buya duga serrring ajak Bila dalan-dalan, tapi buya sudah meninggal," Nabila menunduk sedih teringat akan Amar, ayahnya.
Bu Fatma, Yuana dan Ilham saling melirik, mendengar ucapan Nabila. Ilham menyadari raut kesedihan dari mata Yuana yang sekilas meliriknya. Bu Fatma pun demikian, ia pegang tangan kiri Yuana lalu menggenggamnya.
"Yang sabar," hibur Bu Fatma ketika Yuana memandangnya.
"Nabila mau ndak, jalan-jalan sama ayah?" Ilham mencoba menghibur Nabila, entah kenapa melihat Nabila bersedih, hatinya terasa teriris perih.
'Ayah?' batin Bu Fatma sambil menatap tajam kepada Ilham menuntut penjelasan.
Yuana pun terhenyak dengan pertanyaan Ilham, bagaimana mungkin ia tetap membahasakan dirinya ayah di depan Bu Fatma. Apa yang akan beliau pikirkan nanti tentangnya.
"Boleh Ayah?" seketika Nabila mengangkat wajah memandang Ilham dengan mata berbinar.
"Ya boleh lah, coba tanya bunda, pasti boleh," Ilham mengelus rambut Nabila seraya menatap Yuana.
__ADS_1
Yuana menjadi gelagapan mendapat todongan seperti itu. Ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Sangat canggung rasanya. Dipandanginya Nabila, Bu Fatma dan Ilham bergantian. Bu Fatma dapat menangkap kecanggungan itu, namun ia juga kasihan pada Nabila.
"Tentu saja boleh, nanti Nabila jalan-jalan sama ayah sama bunda, ya. Sekarang kita sarapan dulu, keburu dingin makanannya nanti," akhirnya Bu Fatma memutuskan menyudahi obrolan, yang penting bisa menenangkan Nabila dulu. Perkara penjelasan dari Ilham, bisa diurus nanti.
Selesai sarapan, Yuana membantu untuk membereskan meja makan lalu menuju dapur untuk mencuci piring yang baru mereka pakai. Sedangkan Nabila sudah turun duduk di karpet ruang keluarga bermain balok susun.
"Kemarin Ilham kira Nabila anak yatim piatu yang Ummah adopsi. Makanya Ilham pede aja nyuruh panggil ayah, kayak Azyan. Ndak tau ada ibunya juga di sini," bisik Ilham pada Bu Fatma yang meminta penjelasan.
"Trus?"
"Yaa, Nabilanya kadung kesenengan. Kasihan, gak apa-apa, biarin aja, Ilham gak masalah."
"Tapi Yuana gak keberatan gitu?"
"Ummah gak lihat, dia udah melotot gitu. Makin serem aja lihatnya. Hehe..." Ilham mengangkat pundak dan menunjukkan senyum jahilnya di depan ibunya. Padahal dalam hatinya selalu kebat-kebit melihat reaksi Yuana setiap ia menyebut dirinya ayah di depan Nabila.
"Mulai sekarang, kamu jangan jahil sama Yuana. Dia sudah setuju jadi asisten pribadimu, dia yang akan bertanggung jawab atas protokol kesehatanmu. Kamu harus nurut sama dia, awas aja kalau kamu rewel."
"Apa?!"
Ilham yang sebelumnya masih tampak cengengesan, langsung syok mendengar ucapan Bu Fatma. Bisa-bisanya ibunya menempatkan Yuana sebagai asisten pribadi, sama saja dengan membongkar semua kelemahannya saat ini pada Yuana.
Aaah, bagaimana ini? Ilham yang ingin selalu muncul di depan Yuana dengan segala kharisma dan keotoritasannya, kenapa kini malah ia yang harus tunduk pada pengaturan Yuana. Mana bisa ia mengambil hati Yuana jika begini caranya. Ia pun bimbang lagi pada perasaannya pada Yuana. Apakah ada harapan masa depan dengan Yuana nantinya?
"Yuana, kemari sebentar," panggil Bu Fatma ketika melihat Yuana hendak menghampiri Nabila. Yuana pun akhirnya kembali duduk di tempat ia makan tadi.
"Ibu sudah bicara dengan Ilham tentang pembicaraan kita kemarin. Kita tunggu Arief datang, nanti akan ibu jelaskan tugas utamamu sebagai asisten pribadi Ilham," terbiasa mengatur segala urusan di perusahaan dan keluarga membuat Ilham seakan mati kutu jika ibunya sudah berbicara dan membuat keputusan.
"Biar nanti Ilham sendiri yang jelaskan, Ummah," potong Ilham, maksudnya biar Ilham sendiri yang memutuskan apa saja job deskripsi pekerjaan Yuana, tentu saja dengan pertimbangan sudut pandangnya sendiri.
"Ilham Adelio," kalau Bu Fatma sudah menyebut nama lengkap sebaiknya memang diam saja dulu, daripada panjang nanti urusannya.
"Iya, Ummah," Ilham semakin merasa kecil di bawah tatapan Yuana saat ini.
"Ummah hanya akan menjelaskan garis besarnya saja, protokol yang tidak boleh dilanggar oleh kamu. Yuana harus pegang aturan itu. Soal detail pelaksanaannya nanti kalian atur sendiri senyamannya. Yang jelas kamu harus tahu batasan, ngerti?!"
"Iya, Ummah," Ilham pun hanya bisa pasrah sebagaimana anak kecil yang sedang dimarahi ibunya. Cukup menunduk, mengangguk dan bilang 'iya'.
Yuana pun sudah seperti murid sekolah yang sedang mendengar gurunya memarahi temannya yang jahil, ia hanya bisa ikut menunduk dan mendengar. Sedikit menahan senyum kemenangan sambil melirik sebentar-sebentar temannya itu. Perasaannya seperti mengatakan 'rasain, satu sama'.
"Bagaimana Yuana, siap?" tanya Bu Fatma memastikan kesiapan Yuana menjadi seorang asisten pribadi bagi Ilham Adelio.
"Insya Allah siap, Bu," aura ketegasan dari Bu Fatma seperti menular ke dalam hati Yuana. Tiba-tiba saja ia berani menegakkan kepala dan menatap Ilham dengan sorot tak kalah tajam dengan yang ditatap.
Melihat kesiapan Yuana, Bu Fatma merasa tenang. Rasa berat di tengkuk yang terasa beberapa hari ini seolah terangkat dengan sendirinya. Berkurang satu beban pikirannya dan ia berpikir sekarang ia bisa fokus menjaga kesehatannya sendiri.
Memang sebaiknya Ilham menikah saja, dengan seorang perempuan yang sabar, pengertian dan penuh perhatian. Tapi akankah semudah menemukan ibu jari di telapak tangan? Jelas tidak. Apalagi pengalaman pahit Ilham perihal percintaan, pasti membuat Ilham sulit membuka hati.
Dan Bu Fatma tak akan memaksakan hal itu pada anak kesayangan yang baru kembali menjalani kehidupan baru. Mengandalkan bantuan Annisa untuk selalu memperhatikan Ilham juga sangat tidak mungkin. Jadi dengan adanya Yuana yang bersedia menjadi asisten pribadi bagi Ilham, sudah cukup membuatnya tenang.
Tak menyadari jika dua insan muda di hadapan sedang berperang dengan saling melemparkan tatapan mata yang tajam.
Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Yuana melempar tatapan tajam mengintimidasi, seolah mengatakan pada Ilham, "tunggu saja, hidupmu ada di tanganku sekarang! Kau mau apa, hah?!"
__ADS_1
Sedangkan Ilham yang semula merasa bimbang, menjadi bersemangat kembali ketika melihat keberanian Yuana menantangnya. Seolah bisa membaca pikiran Yuana, ia pun mengirimkan tatapan balasan yang tak kalah tajam. "Kau boleh menguasai hidupku, tapi yakinlah aku yang akan menguasai hatimu."
Terkesiap Yuana ketika tiba-tiba Ilham mengedipkan sebelah mata seraya tersenyum miring dan memajukan kedua ujung bibirnya sekilas.