
Sebuah mobil SUV berwarna quart white pearl terparkir sempurna di area parkir khusus dokter rumah sakit Raya Husada. Seorang pria berjas putih lengan panjang, menenteng sebuah tas kerja keluar dari mobil tersebut. Setelah mengunci mobil dengan smart key yang ia pegang, berkaca pada jendela mobil, ia merapikan rambut dengan jari-jarinya.
Suara sepatu pantofel bergema terdengar di koridor yang menghubungkan tempat parkir dengan ruang kerja dokter spesialis. Namun langkah tersebut terhenti tepat di depan pintu yang diatasnya terpampang tulisan 'dr. Yusuf Wijaya Sp.An.', ruangan tempat pria tersebut bekerja.
Pria yang ternyata adalah dokter Yusuf tersebut terpaku melihat seorang perempuan berjilbab syar´i berwarna soft peach yang berjalan tergesa di seberang koridor dan berbelok ke arah ruang ICU.
Bergegas dokter Yusuf masuk ke ruangannya dan duduk di meja kerjanya serta mengaktifkan laptopnya. Ia menatap layar monitornya ketika jemarinya sibuk memasang kabel LAN DRV dan membuka aplikasi monitoring CCTV yang biasa ia gunakan untuk memantau ruang ICU.
Di layar monitor laptopnya menampilkan ruangan ICU dengan dua brankar di sisi kiri dan sisi kanan, karena kamera cctv berada tepat di tengah di atas pintu yang lurus dengan gorden pembatas dua brankar tersebut. Dari layar laptopnya tersebut, dokter Yusuf bisa memantau perkembangan pasien dan segala aktifitas di ruang yang menjadi tanggung jawabnya tersebut.
Mengambil pulpen yang tertancap di stationery stand dan kertas memo di ujung meja, tatapan mata dokter Yusuf tak lepas dari layar monitor. Tidak ada perkembangan berarti pada kondisi kedua pasiennya tersebut. Diketuk-ketukkan pulpen tersebut hingga terbentuk coretan tak beraturan pada kertas memo di hadapannya itu.
Hingga ia melihat perempuan berjilbab soft peach memasuki ruangan dan mendekati pasien di sisi kiri. Tanpa berkedip dipandangi setiap gerak gerik perempuan tersebut. Hatinya seakan teriris melihat perempuan yang sedang sesenggukan dan meratapi lelaki yang terbaring tak berdaya di brankar tersebut. Tak terasa pulpen yang ia genggam dengan erat patah jadi dua, saking eratnya ia menggenggam.
Tak tahan sudah ia melihat perempuan yang namanya tertanam begitu lama dalam hatinya itu menangis dan meratap. Bergegas ia bangkit dari kursinya dan melangkah keluar. Berjalan cepat menuju ruang ICU.
"Ikut aku!" perintahnya pada seorang perawat ketika ia melewati ruang perawat.
Perawat bersanggul mungil di bagian tengkuk itu berlari-lari kecil mengikuti langkah lebar dokter Yusuf sambil menerima dengan sigap buku visite dokter yang diberikan oleh dokter yang ia ikuti itu.
Perawat itu sedikit bingung ketika dokter Yusuf mengajaknya masuk ke ruang ICU, pasalnya ia tadi baru saja mendampingi dokter Sinta melakukan visite ke ruang tersebut. Semakin bingung ternyata dokter Yusuf pun tidak melakukan apa-apa, ia hanya disuruh membacakan ulang catatan dalam buku visite atas nama pasien Ilham.
"Tolong ingatkan perempuan itu, kalau tidak bisa tenang, tunggu di luar saja."
Ucapan dokter Yusuf yang semula terkesan bisik-bisik lalu tiba-tiba lebih keras dan ketus membuat perawat tersebut tersentak dan termangu. Belum sempat ia membalas ucapan tersebut, dokter Yusuf sudah berlalu pergi dan keluar dari ruang ICU.
Perawat yang baru bisa mencerna maksud dokter Yusuf setelah pintu tertutup sempurna, bergegas menghampiri Yuana.
__ADS_1
"Maaf Bu... harap tenang atau menunggu di luar ruang tunggu saja. Kasihan pasiennya jika terganggu," si perawat mencoba melaksanakan tugas dari dokter Yusuf untuk mengingatkan Yuana.
"Eh iya... saya minta maaf. Sebentar lagi saya keluar," ujar Yuana merasa tidak enak. Melihat perawat itu berlalu, Yuana kembali memfokuskan diri pada suaminya.
"Mas... cepet sadar yaaa... cepet sembuh. Mas tidak kasihan pada Nabila kah, putri kita masih kangen main sama buyanya."
Yuana mendekat pada suaminya kembali, memandang wajahnya. Lalu memajukan tangannya untuk merapikan rambutnya dan mengusapnya perlahan. Mencium perban yang menutupi pelipisnya dan membacakan doa kesembuhan.
Allahumma rabban nasi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syafi. La syafiya illa anta syifa’an la yughadiru saqaman.
"Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri"
Diulang-ulang bacaan tersebut ia lantunkan sampai ia menyadari bahwa tetesan airmatanya membasahi perban di pelipis Amar.
"Maaf Mas... Yuana harus keluar dulu, Nabila sekarang sedang bersama Bu Fatma. Bu Fatma sangat baik Mas... bahkan beliau sangat sayang pada Nabila, padahal kita baru bertemu kemarin. Mas Amar yang semangat yaa untuk kembali sembuh... jangan keasyikan tidur begini...ndak asyik tau. Mas... Yuana keluar dulu ya Mas... janji yaa, nanti Yuana kembali, Mas sudah harus bangun," sambil merapikan selimut yang sebenarnya masih rapi dan mencoba mengajak Amar bicara, Yuana pamit hendak keluar dari ruang ICU.
*
"Buti... apa benel abis ini Bila puna temen? anaknya Buti yaa?" Nabila yang lelah habis berlari-lari mengejar kupu-kupu menghampiri Bu Fatma yang duduk di bangku taman.
"Bukan anak Buti... tapi cucu-cucu Buti. Iya nanti pasti cucu-cucu Buti seneng berteman sama Nabila," jawab Bu Fatma sambil menyeka kening Nabila yang berkeringat.
"Namana siyapa Buti?"
"Namanya Azyan... besarnya hampir sama kayak Nabila, tapi agak gendut dia. Trus yang masih bayi, namanya Noris."
"Hihihi Asiyan dendut ya... telus Nolis pasti dak puna didi... hihi," seru Nabila sambil tertawa lucu.
__ADS_1
"Iya... nanti mereka datang. Bila ajak main ya..."
"Nanti Bila ajak tejal-tejal tupu-tupu... Bila suta main lutis sama bunda. Walna bilu sama tuning bisa jadi hijau."
"Nabila suka melukis? Waaah pinter. Ya sudah... Nabila pasti laper, ayo ke kantin," ajak Bu Fatma karena beliau sendiri sudah merasa lapar.
Meraih tangan Nabila dan bangkit dari bangku taman, Bu Fatma menuntun Nabila berjalan ke kantin. Tepat di pertigaan koridor sebelum arah ke kantin, Bu Fatma berpapasan dengan dokter Yusuf yang hendak menuju kantin juga.
"Dokter Yusuf!" sapa Bu Fatma pada dokter yang sudah ia kenal dengan dekat tersebut.
"Assalamu´alaikum Bu Fatma," jawab dokter Yusuf sambil meraih tangan Bu fatma dan mencium punggung tangannya.
"Mau ke kantin juga? Ayo sarapan bareng kalo gitu," ajak Bu Fatma. Mereka bertiga pun bersama-sama menuju kantin.
Menikmati sarapan sambil berbincang-bincang mengenai kondisi Ilham dan Amar. Juga tentang kabar Rahmat, yang ternyata dulu satu angkatan di salah satu SMU favorit di kota mereka. Melihat keakraban Bu Fatma dan Nabila, dokter Yusuf mengira bahwa gadis kecil tersebut adalah cucu Bu Fatma, anak Rahmat.
Saat memasukkan suapan terakhir dalam mulutnya, dokter itu melihat Yuana berjalan menuju kantin. Dengan tergesa ia mengambil minum dan berpamitan.
"Bu Fatma... maaf saya duluan, ada yang harus saya lakukan."
"Eh... kenapa buru-buru gitu?" tanpa menjawab pertanyaan Bu Fatma, dokter Yusuf berlalu meninggalkan kantin dengan memunggungi kedatangan Yuana.
Yuana yang sempat melihat kepergian dokter tersebut, bertanya pada Bu Fatma ketika sudah duduk di bangku yang tadi diduduki dokter Yusuf.
"Ibu tadi sarapan bareng siapa?"
"Oh dia dokter Yusuf, itu... yang bertanggungjawab pada penanganan Ilham dan Amar," jawab Bu Fatma sambil menyuapi Nabila.
__ADS_1
'dokter Yusuf?' batin Yuana.