
Bu Fatma sangat antusias memperhatikan setiap detail sketsa tas yang Yuana gambar, mungkin karena beliau juga penggemar bermacam-macam model tas.
Walaupun bukan pengoleksi tas-tas branded luar negeri yang harganya selangit, namun koleksi tas yang dimiliki tidaklah sedikit, bahkan beliau memiliki lemari besar khusus menyimpan tas koleksinya. Ada sebagian tas-tas branded kado dari anak-anaknya juga relasi bisnisnya.
Tapi Bu Fatma lebih menyukai tas-tas unik khas lokal berbagai daerah, baik dalam negeri atau pun luar negeri. Apalagi produksi buatan tangan asli pengrajin tas tradisional Indonesia, bisa dikatakan beliau memiliki tas dari hampir semua propinsi yang pernah beliau datangi. Mulai tas bordir khas Aceh, tas koja Badui, tas tenun Lombok, tas anjat Dayak, tas sepu Toraja, bahkan tas noken Papua dan tas dari daerah lainnya beliau punya.
Selain itu berbagai tas dari bahan kulit juga mempunyai tempat tersendiri di lemari itu. Ada yang dari kulit sapi, kulit domba, kulit ular, kulit buaya, juga kulit ikan pari. Semua terpajang apik dalam lemari berbahan dasar kaca transparan itu.
"Saran ibu, sebaiknya kamu fokus di tas kulit aja, Nduk. Ini, ini sama ini, pasti kelihatan elegan dan mewah lho kalau pakai bahan kulit," kata Bu Fatma sambil menunjuk beberapa sketsa yang dari tadi ia bolak balik lembar demi lembarnya.
"Akan Yuana pertimbangkan, Bu. Sebenarnya Yuana dan Kak Annisa juga masih meraba-raba konsep butiknya nanti seperti apa."
"Kalau pakai kulit, suplier bahan baku juga sudah siap, tanya aja masmu, mau kulit jenis apa, warna apa bahkan custom motif juga bisa. Motif terbaru apa, Ham?" Bu Fatma yang baru menyadari kemasaman wajah anak kesayangannya mencoba mengajak berinteraksi.
Namun Ilham tidak bereaksi, dengan tatapan tajam ke arah Yuana, wajah masamnya sama sekali tak berkurang. Bu Fatma menghela nafas, heran dengan sikap Ilham.
Namun tidak heran bagi Rahmat, iya yakin saat ini Ilham sangat kesal padanya. Sejak kecil Ilham selalu cemburu padanya, jika ia dekat dengan ummah atau Annisa. Ilham akan impulsif melompat duduk di tengah-tengah jika ia duduk berdua dengan ibunya atau Annisa.
Hahaha, sayangnya ini Yuana, tak mungkin kan tiba-tiba ia mendusel, menyusup di tengah-tengah antara dirinya dengan Yuana, hahaha.
Senang sekali rasanya mengerjai Ilham seperti ini, mengingatkan ketika mereka masih sama-sama remaja dulu.
Walaupun bukan itu yang dirasakan oleh Ilham. Ilham membayangkan jika Yuana adalah menantu kesayangan ummah dan dirinyalah yang seharusnya duduk di posisi Rahmat sekarang. Tapi yang membuatnya kesal justru karena dirinya yang sama sekali belum bernyali untuk menyampaikan perasaannya pada perempuan yang dari tadi tidak memandangnya sama sekali itu.
Ilham memang kesal, tapi bukan pada Rahmat, melainkan pada dirinya sendiri.
"Motif apa, Ham?" Bu Fatma mengulangi lagi pertanyaannya, membuat Yuana mendongakkan kepala ikut menanti jawaban dari Ilham.
"Ekoprint, Ummah. Justru Yuana lebih paham, karena kita pernah bahas sepulang dari EXPO kemarin," tatapan mata Yuana menyadarkan Ilham untuk menjawab pertanyaan ibunya.
Yuana yang menyadari Ilham menjawab sambil memandangnya tanpa berkedip menjadi salah tingkah. Ia bisa merasakan jemarinya yang tiba-tiba sedikit gemetar, berpura-pura melihat-lihat gambar sketsanya untuk menyembunyikan kegugupannya itu. Sampai tak menyadari jika posisi duduk Rahmat semakin dekat di sebelahnya, mungkin juga karena sekedar dekat tidak sampai menyentuh dan sama-sama sedang memperhatikan buku sketsa di pangkuannya.
'Ih, kenapa Mas Ilham suka nglihatin kayak gitu sih, serem banget,' batin Yuana.
Rahmat meletakkan tangan kirinya di sandaran sofa tepat di belakang Yuana memancing reaksi Ilham bagaimana. Tetapi kesalahpahaman justru terjadi pada seseorang yang baru saja masuk ke ruang tamu yang terbuka pintunya.
Ketika orang tersebut mengucap salam tak ada satu orangpun dari ruang keluarga tersebut menjawabnya, padahal ia bisa melihat dengan jelas Ilham dan Bu Fatma sedang duduk di situ. Perlahan ia masuk untuk melihat situasi, sepertinya mereka sedang membahas sesuatu yang serius.
Posisi Rahmat yang sangat dekat dengan tangan kiri berada di sandaran dan tangan kanan menunjuk gambar pada buku sketsa yang berada di pangkuan seorang perempuan. Apakah itu istri Rahmat atau Annisa atau perempuan lain?
"Assalamu'alaikum, lagi serius nih?," ia ulangi mengucap salam hingga semua menoleh ke arahnya.
Rahmat mendongak dan menegakkan tubuh agar bisa menoleh ke arahnya, sehingga perempuan yang wajahnya tadi tertutupi posisi kepala Rahmat akhirnya terlihat dengan jelas dan membuatnya tergemap.
"Wa alaikum salam," jawab mereka serempak.
"Eh Suf. Duduk... Duduk," Rahmat terlihat senang melihat kedatangan sahabat karibnya itu. Namun wajah sumringah Rahmat diartikan lain oleh Yusuf.
Yuana yang terkejut dengan kedatangan dokter Yusuf reflek menutup buku sketsa dan memeluknya. Ingin rasanya segera beranjak pergi dari sana, tapi tidak mungkin juga ia lakukan.
'Apakah Yuana ada hubungan khusus dengan Rahmat? Apa ini alasan kenapa Yuana tidak sedikit pun memberiku kesempatan? Rahmat juga, akhir-akhir ini sering datang sendirian tanpa membawa keluarganya. Bu Fatma tahu kah? Merestui? Kenapa Ilham juga membiarkan? Hah... Jadi bukan Ilham penghalangku, tapi Rahmat!'
Berbagai pikiran dan prasangka dengan cepat menjejali kepala dokter Yusuf.
__ADS_1
Dua pria dengan wajah sama-sama kesal duduk berdampingan, karena dokter Yusuf duduk tepat di sebelah Ilham. Dua pria dengan tatapan yang sama-sama mengintimidasi bagi Yuana.
"Dari rumah sakit atau dari mana?" tanya Rahmat mengawali perbincangan.
"Dari rumah, nanti masuk jam enam sore. Daripada bengong sendirian di rumah, mampir ke sini dulu saja. Nanti langsung dari sini saja ke rumah sakitnya."
"Kalau begitu langsung makan saja. Pasti belum makan siang juga kan?" Bu Fatma yang sudah menganggap dokter Yusuf anak sendiri sudah hafal dengan kebiasaannya menunda-nunda makan.
"Nah... itu juga alasan Yusuf ke sini, hehe," seloroh dokter Yusuf untuk menutupi keresahannya.
"Ya sudah, sana. Ambil sendiri," celetuk Ilham sambil sedikit mendorong bahu dokter Yusuf.
"Iya bener, ambil-ambil sendiri kayak biasanya aja. Kamu ndak sekalian Mat," timpal Bu Fatma.
"Tadi sudah makan sih, di bandara sambil nunggu pesawat yang delay," jawab Rahmat yang sudah bersandar santai di sofa yang ia duduki.
"Makan lagi sana, temenin Yusuf."
Tanpa menjawab, Rahmat bangkit dan berjalan menuju ruang makan di mana dokter Yusuf sedang memilih piring yang hendak ia pakai.
"Mau pilih yang mana lagi, itu piring semua model dan warnanya sama," ucap Rahmat melihat tingkah Yusuf yang tidak biasanya.
"Oh iya, hehe," dokter Yusuf menyengir menyadari keabsurdannya.
"Kenapa? Masih belum move on? Kalau kamu memang seyakin itu, ya maju saja. Tapi aku gak yakin dia akan semudah itu kamu taklukkan, menaklukan janda cerai dan janda mati itu berbeda perjuangannya," bisik Rahmat pada dokter Yusuf.
"****! Sebenarnya kamu mendukungku maju atau menyuruhku mundur? Lupa kalau kamu sudah ada anak istri?!"
"Hei! Apa hubungannya sama anak istriku?"
Sementara dokter Yusuf dan Rahmat menikmati makan siang yang terlambat, Yuana kembali masuk ke ruang kerja karena Ilham memintanya untuk mencetak file yang baru saja dikirim oleh Arief ke alamat surel-nya.
Sedangkan Ilham dan Bu Fatma berbincang sebentar sebelum akhirnya Ilham menyusul Yuana masuk ke ruang kerjanya. Dan Bu Fatma pergi ke kamar anak-anak untuk membangunkan mereka dari tidur siangnya karena sudah berjanji akan mengajak jalan-jalan selepas sholat ashar.
Setelah sholat ashar berjamaah yang diimami oleh Rahmat, Bu Fatma mengajak Rahmat menemani anak-anak yang ingin main di playground yang ada di Corner Park Mall. Karena Nabila hampir menangis meminta ibunya ikut serta, akhirnya Yuana meminta izin kepada Ilham untuk ikut pergi ke mall. Dan dokter Yusuf pun pada akhirnya ikut pula, beralasan nanti sekalian langsung ke rumah sakit yang berada di seberang mall tersebut.
Selama di mall, dokter Yusuf selalu berusaha mendekati Yuana. Bu Fatma yang memahami hal tersebut, tidak menghalangi, namun juga tidak meninggalkan Yuana yang kentara sekali kecanggungannya. Hanya saja beliau akan berpura-pura tidak mendengar jika dokter Yusuf berusaha berbicara dengan Yuana.
Rahmat sudah berada jauh di depan karena kedua tangannya ditarik oleh Azyan dan Nabila yang tidak sabar segera sampai di playground. Tidak peduli pada ketiga orang dewasa yang berjalan pelan di belakang.
Sampai akhirnya tiba di arena playground, anak-anak sudah tidak sabar untuk masuk arena sehingga Rahmat harus cepat-cepat membayar tiket masuknya. Sementara Yuana, yang hendak mengikuti anak-anak ditahan oleh dokter Yusuf dan diminta untuk duduk di bangku yang disediakan untuk orang tua anak-anak yang sedang bermain.
"Apa sampai sekarang pabrik belum bisa beroperasi? "
"Belum, Kak. Mungkin setelah urusan rumah selesai, Yuana baru bisa fokus ke pabrik."
"Kan aku sudah bilang, Na. Ambil saja sertifikatnya, tak perlu diganti. Demi Allah... untuk kamu, aku ikhlas."
"Terima kasih, Kak. Tapi maaf, Yuana tidak bisa menerimanya. Beri Yuana sedikit waktu lagi, pasti Yuana akan mengembalikan tabungan Kak Jo."
"Ya Tuhaaaan... Keras kepala sekali kamu, Yuana!"
"Maaf, Kak. Yuana tidak bisa memberi harapan apapun pada Kak Jo. Kuharap Kak Jo..."
__ADS_1
"Apa kamu sama sekali tidak bisa melihat ketulusanku selama ini, Na. Bahkan aku rela menunggu jandamu seperti saat ini. Perasaanku masih sama, Na!" dengan gusar dokter Yusuf memotong ucapan Yuana. Ia sangat frustasi dengan sikap Yuana yang sama sekali tidak menganggap perjuangannya selama ini.
"Jadi Kak Jo berharap Yuana menjanda? Atau Kak Jo sengaja membuat Yuana menjadi janda!" Yuana emosi mendengar kata janda keluar dari mulut dokter Yusuf. Airmata tiba-tiba saja menggenang di pelupuk matanya.
Percakapan keduanya sudah tidak kondusif lagi, Bu Fatma yang berdiri tidak jauh dari mereka duduk melihat beberapa orang yang berlalu lalang menoleh ke arah Yuana dan dokter Yusuf duduk. Ia pun mendekati mereka berdua agar mereka menyadari keberadaan mereka di mana.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Bu Fatma tetap berpura-pura tidak mengetahui apa-apa.
"Maaf, Bu."
"Maaf, tidak ada apa-apa, Bu."
Ucap Yuana dan dokter Yusuf bersamaan.
"Kalau ada masalah dibicarakan di rumah saja, jangan di tempat umum kayak gini," gumam Bu Fatma sambil mendudukkan diri di antara keduanya.
Yuana berpamitan, karena terlihat Rahmat memanggilnya karena Nabila tak mau masuk arena bermain tanpa bundanya.
Setelah melihat Yuana, Rahmat, Azyan dan Nabila memasuki arena playground, Bu Fatma menepuk pundak dokter Yusuf yang tampak menunduk dengan menopangkan siku diatas lututnya.
"Wa 'asaa an tuhibbu syai-an wa huwa syarrullakum, wa Allahu ya'lamu wa antum ta'lamuun. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” *)
Meskipun sudah sering mendengar satu ayat tersebut dalam beberapa kajian, entah kenapa mendengar hal tersebut dari Bu Fatma yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri itu terasa menyentuh ke dalam hati dokter Yusuf.
Ia spontan menyandarkan punggungnya, menengadah sambil mengusap kasar wajahnya. Menarik napas yang tiba-tiba terasa sesak di dadanya.
"Apa Yuana memang benar-benar tidak ditakdirkan untukku, Bu?"
"Jodoh, rizqi, ajal dan perceraian adalah takdir dari Allah Ta'ala. Semua sudah tertulis di Lauhul Mahfudz bahkan sebelum manusia diciptakan. Seberapa besar upayamu, jika dia bukan jodohmu ya tidak akan pernah berjodoh. Pasrahkan semua pada Allah, percayalah... Allah sedang menyiapkan yang terbaik untukmu, jangan sampai terjerat nafsu."
"Tapi aku sangat mencintai Yuana, Bu. Bahkan sampai saat ini, meskipun dia janda, tidak masalah buatku."
"Kamu coba selami hatimu dulu, itu beneran cinta atau obsesi?"
Lagi-lagi dokter Yusuf menghela nafas panjang, mencoba untuk menerima masukan dari Bu Fatma. Akhirnya ia pun berdiri setelah melihat jarum jam yang berdetak halus di pergelangan tangannya.
"Saya pamit ke rumah sakit dulu, tolong pamitkan pada Rahmat dan Yuana. Kapan-kapan saya main ke rumah lagi."
"Jam enam kan masih lama, ndak pingin ngopi-ngopi dulu?"
"Terima kasih, Bu. Saya langsung ke rumah sakit saja. Assalamu'alaikum," pamit dokter Yusuf sambil mencium punggung tangan Bu Fatma selayaknya anak berpamitan pada ibunya.
Tak lama kemudian Bu Fatma berjalan mendekat ke arena playground, namun tidak masuk, hanya melihat dari kejauhan saja keseruan Azyan dan Nabila bermain. Lalu menertawakan Rahmat dan Yuana yang kelimpungan menjaga mereka berdua yang sama-sama sedang lincah-lincahnya bermain.
Setelah puas bermain, mereka pun beranjak untuk pulang.
"Yaaa... kok udahan, maaf ya mami terlambat," tiba-tiba Annisa muncul di hadapan mereka, "mami beliin sosis bakar aja deh, mau kan?"
Namun Nabila merengek minta pulang, mungkin karena sudah mengantuk. Akhirnya diputuskan berpisah, Yuana pulang duluan diantar oleh Rahmat, dan Bu Fatma menemani Annisa dan Azyan membeli sosis bakar.
Sesampainya di rumah, setelah memarkir mobil di garasi, Rahmat turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu Yuana. Melihat Yuana yang kerepotan menggendong Nabila dan membawa beberapa merchandise yang didapat dari playground, Rahmat berinisiatif untuk mengambil alih menggendong Nabila yang ternyata sudah tertidur.
Rahmat berjalan terlebih dahulu diikuti Yuana di belakangnya. Namun langkahnya terhenti karena berdiri persis di tengah pintu masuk seorang perempuan cantik yang terlihat pucat pasi menatapnya tajam.
__ADS_1
-----
*) QS. Al Baqarah ayat 216