
Di saat yang sama, Annisa dan Rahmat yang hendak keluar dari ruangan Ilham dirawat, berpapasan dengan dokter Sinta.
"Pak Amar dan Bu Yuana ditunggu dokter Yusuf di ruangannya," ucap dokter Sinta menyampaikan pesan dari dokter Yusuf setelah itu ia berlalu menuju tempat Amar dirawat diikuti Rahmat yang hendak melihat Amar dan mengajak Yuana untuk bareng ke tempat dokter Yusuf.
Dokter Sinta membeliakkan mata melihat kondisi Amar yang termengap-mengap kepayahan mengambil nafas.
"Maaf silahkan tunggu di luar," ujar dokter Sinta pada semua orang yang berada di ruangan itu. Ia segera menangani kondisi Amar yang sepertinya semakin memburuk.
Dokter Yusuf yang baru saja kembali dari kamar mandi, duduk di meja kerjanya, ia bermaksud menunggu kedatangan Rahmat dan Yuana untuk menemui dokter Bastian membahas rencana operasi untuk Amar dan Ilham. Ia terkejut melihat layar monitor di laptopnya yang menampakkan kondisi kegawatan di ruang ICU. Ia pun segera bangkit, berlari menuju ruang ICU diikuti dua orang perawat yang berjaga.
Sempat ia melirik ke ruang tunggu ICU, Annisa sedang memeluk perempuan dan Rahmat yang sedang menggendong Nabila berdiri di dekat taman. Tanpa menyapa mereka, dokter Yusuf langsung masuk ke ruang di mana dokter Sinta sedang mengatur kenop humidifier menyesuaikan dengan kebutuhan Amar saat ini.
Segala cara dilakukan dokter Yusuf dibantu dokter Sinta dan dua orang perawat untuk memulihkan kondisi vital Amar, namun tanda-tanda vital Amar makin melemah.
"Circling the drain" sesal dokter Yusuf ketika melihat monitoring alat-alat vital menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Ia pun keluar dan disambut oleh Rahmat yang ternyata menunggu di depan pintu ruang ICU.
Yuana yang sedang duduk membaca surat Yaa Siin dan Annisa yang sedang memangku Nabila, sontak menoleh ke arah dokter Yusuf. Semua berharap kabar baik yang hendak keluar dari mulut dokter Yusuf. Namun raut wajah dokter Yusuf mengisyaratkan lain.
"Kritis... detak jantungnya sangat lemah, bisa dikatakan hidupnya tergantung alat bantu saat ini," kata dokter Yusuf sambil melepas kacamatanya dan menepuk lengan Rahmat. Lalu menghela nafas ketika melihat Yuana yang sedang menatapnya dengan sendu. "Hanya doa dan pendampingan keluarga yang dibutuhkan Amar saat ini," lanjutnya.
Yuana pun bangkit dan menghampiri dokter Yusuf, ia ingin memastikan bahwa yang ia dengar salah. "Kak... aku salah dengar kan? Mas Amar baik-baik saja kan?"
"Maaf," jawab dokter Yusuf penuh sesal. Ia segera berlalu pergi karena sesungguhnya ia tak sanggup melihat kesedihan Yuana, ingin rasanya ia meraih Yuana ke dalam dekapannya. Tapi itu tak mungkin, ia tahu batasan dirinya.
Menyadari dokter Yusuf telah berlalu pergi, Yuana pun bergegas masuk ke dalam ruang ICU. Begitu terlihat tubuh suaminya yang tertutup selimut hingga setengah dada itu, kaki serasa tiada tenaga, sangat berat untuk dilangkahkan.
Bagaimana tidak, orang yang sangat ia cintai, kini terbaring tidak berdaya di brankar ruang ICU dalam keadaan kritis. Baru saja ia bahagia, karena suaminya itu sudah sadar dari koma. Bukankah seharusnya keadaannya lebih baik lagi dan secepatnya pulih dan bisa pulang? Kenapa sekarang malah kritis?
__ADS_1
Makin mendekat makin tidak bertenaga rasanya, jiwa terasa melayang, ntah kekuatan darimana sehingga tubuhnya tetap bisa berdiri dengan baik. Dilihat sekilas dokter Sinta sedang tersenyum padanya, namun bibirnya terasa keluh sekedar untuk membalas senyum itu.
Dokter Sinta menyambut Yuana dengan memeluk lengannya, menuntun dan mendudukkan ke bangku plastik yang baru saja disediakan oleh perawat.
"Temani suami Bu Yuana, tuntun ia menemukan jalannya, doakan semoga ada keajaiban untuknya. Mari kita bekerja sama, kami yang berjuang mempertahankan raganya dan Bu Yuana berjuang mempertahankan jiwanya. Okey?" tegas dokter Sinta pada Yuana agar Yuana bisa menguatkan hatinya mendampingi Amar menghadapi masa kritis.
Dengan gemetar tangan Yuana meraih tangan Amar, diciumnya punggung tangan itu kemudian ia tempelkan dipipinya. Dipandang wajah suaminya, wajah yang setiap hari ia kagumi karena aura kasih sayang yang selalu terpancar untuknya dan buah hatinya itu.
Namun kini tampak sangat pucat, raut wajahnya seakan sedang menahan rasa sakit. Terdapat garis-garis halus di keningnya sedangkan alis mengkerut dalam dan rahangnya mengeras.
Tampak di dada Amar, kembang kempis tidak beraturan. Kadang sangat dalam dan cepat, kadang sangat dangkal dan lambat.
"Mas... sakit ya... sabar ya Mas... hk... hks..." bisik Yuana sambil menahan isakan.
Rahmat yang sedari tadi duduk di belakang Yuana, sepertinya menyadari kondisi Amar. Ia teringat ketika harus menunggui almarhum Abah Haikal, ayahnya, saat sakaratul maut hingga tutup usia.
Tangan kanannya memegang jemari tangan kanan Amar, karena hanya jemarinya yang terbuka, telapak hingga lengannya tertutup balutan perban dan gipsum/belat.
"Mhaaas... pe... nuhi... jan... ji... mhu," suara lirih dan serak dari mulut Amar terdengar ketika Rahmat.
"Pasti... pasti Mar! Kamu tenang yaa... mereka pasti bisa hidup dengan baik, aku janji... aku akan pastikan sendiri itu," sahut Rahmat dengan tegas.
"Mas Amar... berjuanglah Mas... bukannya Mas janji... mau ngajak Nabila... naik kuda di Bromo... berjuang ya Mas..." tuntut Yuana pada Amar, ia masih berkeyakinan bahwa suaminya itu pasti akan segera pulih. Pasti akan sembuh dan akan selalu menemaninya merajut mimpi-mimpi yang belum terwujud.
Amar menatap nanar pada Yuana, rasa sakit yang ia rasakan, sesaat menghilang. Ia tersenyum, "aku... me... ridlo... imu... Yua... nhaa."
Tak lama kemudian masuk seorang perempuan paruh baya, memakai sarung batik dan baju kurung polos berwarna hijau lumut, berkerudung panjang warna kuning gading yang ujungnya dikalungkan di lehernya. Ditemani lelaki yang wajahnya mirip dengan Amar hanya saja lebih tinggi dan kulitnya lebih kecoklatan.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." Setengah berbisik kedua orang itu mengucap salam ketika sudah berada di dalam ruangan tempat Amar dirawat.
"Sepurane Nduuk... ibu lagek teko," ucap perempuan tersebut sambil mengelus pundak Yuana. Yuana pun sontak mendongak ke samping menatap sendu wajah perempuan yang merupakan ibu mertuanya itu.
"Alaikumussalam, Ibuuu... Mas Amar Buu..." Yuana pun langsung memeluk erat orang yang sudah ia anggap ibu kandungnya sendiri itu dan terisak dalam pelukan itu.
"usssssh... sabar Nduk..."
"Wa 'alaikum salam wa rohmatullah. Apa kabar Mas Yusron?" sambut Rahmat dengan hangat kepada lelaki yang berjalan mendekat kearahnya tersebut.
"Alhamdulillah baik Mas Rahmat." Keduanya pun bersalaman dan berangkulan sebentar sambil menepuk punggung masing-masing.
Masih dengan senyum tipis, Amar melihat kedua orang tersebut. Dengan tatapan yang entah bagaimana menggambarkannya, tidak jernih, tidak sendu, tidak ada binar pun tidak kosong.
"Buuk... ma... af... fin... Amar Buk..." suara lirih dan serak serta terpotong-potong Amar terdengar pilu baik bagi orang yang telah melahirkannya itu maupun orang-orang yang sedang berada di situ.
"Oalah Le... ibu ridlo marang awakmu Le... awakmu anak sholih... mugi dipadangno dalanmu yo Le... ibu ikhlas Le," ucap ibu Amar sambil mengusap-usap ubun-ubun Amar lalu mencium kening anak keduanya itu.
Ketika terdengar suara derik halus dari dada Amar, sang ibu meraih tangan Yuana dan menggenggamnya dengan erat, "Nduk... ikhlasno Masmu yo Nduk."
Rahmat dan Yusron yang juga mendengar suara nafas Amar yang seperti dengkuran halus tapi terkesan kasar tersebut mulai menuntun Amar untuk membaca dua kalimat syahadat. Suara derik halus itu semakin terdengar seiring dengan ucapan syahadat yang diucapkan oleh Amar dengan terbata-bata dan terpotong oleh tarikan nafas yang kasar.
"Laa... hhrr... ilaah... hhhrr... illallaaaah... hhrrrr... muham... hrr... mad... ro... hhr... suul... hhrr... Allaaaaahh..."
Monitor EKG yang terhubung dengan tubuh Amar menunjukkan flat/asystole, pertanda bahwa sudah tidak ada aktifitas detak jantung lagi di tubuh Amar. Dokter Sinta yang sedari tadi berjaga segera memeriksa seluruh tanda vital Amar.
"Maaf... hari ini Kamis, pukul 09.30 WIB, pasien Amar Nasiruddin telah tiada. Kita telah melakukan yang terbaik untuk beliau, tapi Tuhan lah yang menentukan segalanya. Kami mohon maaf," tutur dokter Sinta memperjelas keadaan Amar yang telah meninggal dunia.
__ADS_1
"Innaa lillaahi wa innaailaihi rooji'un."