HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 20 UMMAH... MAAFKAN ILHAM


__ADS_3

"Maaaas! Mas Amaaaaaar..." pekik tangis Yuana melihat Amar yang tersengal-sengal mengambil nafas.


Dokter Sinta dengan sigap memeriksa Amar sedangkan dokter Yusuf memerhatikan tanda-tanda vital pada alat-alat yang terhubung dengan tubuh Amar.


Yuana semakin meraung ketika Bu Fatma memeluk dan membawanya menjauh agar dokter bisa memeriksa keadaan Amar.


Setelah menangani kondisi Amar dengan baik, dokter Yusuf menghampiri Ilham yang sepertinya terbangun mendengar keributan barusan, sedangkan dokter Sinta menghampiri Yuana dan Bu Fatma yang berdiri gelisah di dekat pintu masuk ICU.


"Tolong... biarkan pasien istirahat dengan tenang, Pak Amar memang sudah sadar dari koma tapi... kemampuannya masih terbatas, jangan sampai ia emosi atau kelelahan agar tidak sampai terserang hipoksia lagi. Itu sangat berbahaya untuknya," tutur dokter Sinta pada Yuana yang masih terisak dalam pelukan Bu Fatma.


"Baik Dokter," sahut Bu Fatma sambil mengelus-elus punggung Yuana.


Yuana melepas pelukannya dan menghela nafas berusaha menghentikan tangis, kemudian meraih tangan dokter Sinta, "apa suami saya baik-baik saja, Dok?"


Dokter cantik berambut sebahu tersebut tersenyum, "Alhamdulillah, Pak Amar sudah mulai bisa bernafas normal kembali dan sekarang biarkan ia tidur dulu."


Yuana pun mengangguk dengan tenang dan mengikuti Bu Fatma yang memapahnya untuk duduk di ruang tunggu.


Bu Fatma yang pernah mengalami posisi seperti Yuana, sangat mengerti perasaan Yuana. Perasaan sedih, khawatir, cemas dan takut kehilangan orang yang sangat dicintai dan sayangi.


Beliau teringat kembali, betapa hancur hatinya saat suaminya terkena serangan jantung yang mengantarnya menemui ajal bersamaan dengan anak kesayangannya harus terbaring koma karena overdosis psikotropika.


Melihat Yuana berada pada situasi seperti ini, membuat Bu Fatma semakin menyayangi Yuana. Ia ingin menganggap Yuana sebagai anaknya sendiri.


Sementara di dalam ruang ICU...


"Akhirnya bangun juga kamu, gak bosen tidur terus?" seloroh dokter Yusuf pada Ilham yang sedang berusaha untuk duduk.

__ADS_1


Ilham hanya tersenyum miring menanggapi selorohan dokter Yusuf, ia menggeliatkan punggung dan tangannya. Kemudian melihat jarum infus yang tertancap di punggung tangannya dan meraba perutnya.


"Apa aku harus pake ini, Mas Jo... dan, aduh! perutku..." keluh Ilham sambil menunjuk botol infus kemudian mengadu ketika ia merasa perut sebelah kanannya terasa kaku dan keras.


"Kamu kira tidur seminggu tidak butuh asupan seperti beruang sedang hibernasi," sungut dokter Yusuf yang merasa kesal pada Ilham karena tidak dapat menjaga tubuhnya.


"Kau cekoki apa saja livermu itu sampai jadi sirosis begitu?" lanjutnya dengan geram.


"Cks... aku hanya minum, Mas... bukannya uda biasa ya orang minum baik-baik saja, sebelumnya aku juga baik-baik saja bukan? Lagi apes aja ini," decak dan gerutu Ilham menanggapi ucapan dokter Yusuf.


"Kau ini... Allah memberimu hidup dua kali bukannya dijaga malah disia-siakan begini. Untung saja Amar cepat mambawamu kemari, kalau tidak... sudah tinggal nama kamu!" kali ini Rahmat yang baru masuk, dengan suara sedikit ditahan, menghardik adiknya yang terkesan menyepelekan kondisinya.


"Duh... kalau dua perfect men berkolaborasi kayak gini... aku angkat tangan deh."


"Ham... cobalah bersikap dewasa sedikit. Bukankah abah sama ummah menggantungkan harapan yang besar padamu, jangan kau hancurkan perjuangan abah selama ini... tolong... jangan kecewakan abah sama ummah," dengan lembut Rahmat berusaha memberi pemahaman pada adik yang ia sayangi itu.


Ia mengingat kembali awal mula ia mulai berubah. Yaitu saat ia menghadiri sebuah konser musik di negara tempat ia menuntut ilmu management. Di salah satu venue VIP konser tersebut ia berkenalan dengan seorang model bernama Cathrine dan kemudian menjalin hubungan kekasih dengannya serta lambat laun mengikuti gaya hidupnya. Tentu saja hal ini tanpa sepengetahuan keluarganya.


Sampai pada saat ia telah menyelesaikan pendidikan magisternya lalu diminta memegang perusahaan, menggantikan abah yang mulai bermasalah dengan kesehatan jantungnya. Saat itulah ia mengutarakan keinginan untuk menikah dengan Cathrine, namun abah dan ummah menentang keras niat tersebut.


Latar belakang gadis yang tidak jelas dan perbedaan keyakinan yang tertera dalam surat identitas Cathrine yang menyebabkan abah tidak merestui.


Namun bukan Ilham namanya jika tidak nekad melaksanakan keinginannya. Ia tetap menggelar acara pernikahan meskipun tanpa restu orang tua di salah satu hotel bintang lima.


Tapi, alih-alih pernikahan yang terjadi, ia malah ditemukan dalam keadaan hampir meregang nyawa karena overdosis psikotropika di dalam sebuah kamar hotel tersebut. Sedangkan calon mempelai perempuan menghilang beserta uang sebesar satu juta US dollar dalam bentuk tunai yang rencananya akan dijadikan mahar dalam pernikahan tersebut.


Beruntung waktu itu Rahmat dan Arif datang mencari Ilham ke hotel tersebut, untuk menggagalkan rencana pernikahan itu. Ilham yang dalam kondisi tidak sadarkan diri dengan banyak luka bekas suntikan di lengan dan paha, segera dilarikan ke rumah sakit Raya Husada yang berada tidak jauh dari hotel.

__ADS_1


Mengingat peristiwa itu, Ilham menjadi merasa bersalah.


"Maaf Mas," setengah bergumam, Ilham meminta maaf pada kakaknya.


"Minta maaf lah sama ummah... asal kamu tahu, gimana hancurnya hati ummah saat abah terkena serangan jantung hingga beliau tiada... ditambah kamu koma dulu. Sekarang... kamu malah sengaja mengulangi."


"Mas Jo... sekarang aku sudah tidak apa-apa lagi, kapan aku bisa pulang?" tanya Ilham pada dokter Yusuf, yang sedari tadi berdiri bersedekap melihat interaksi Rahmat dengan adik sahabatnya itu.


"Pertama... jangan panggil aku mas Jo lagi, panggil aku Yusuf. Kedua... kamu tidak saya ijinkan pulang sampai kamu berhasil menjalani transplantasi hati dan sudah pulih. Aku tidak mau kecolongan untuk kedua kalinya lagi," tegas dokter Yusuf pada Ilham.


"Maksudnya?" Ilham mengernyitkan kedua alis dan memundurkan kepala, bingung dan terkejut mendengar jawaban dokter Yusuf yang di luar ekspektasinya.


"Aku berhutang budi pada abah.. yang telah menunjukkan jalan untukku menjemput hidayah, maka aku akan membayar... dengan menunjukkan padamu, anak kesayangan abah, jalan untuk kembali," lanjut dokter Yusuf.


"Trus apa maksudnya transplantasi?"


"Caramu mengkonsumsi alkohol secara berlebihan... membuat hatimu harus bekerja keras... mengurai alkohol menjadi air dan karbon dioksida... dan itu mengakibatkan hatimu mengalami sirosis... akibat terlalu banyak sel hati yang mati karena paparan alkohol terus-terusan. Dengan kata lain... jika kau ingin punya waktu lama... untuk bisa berbakti pada ibumu dan melanjutkan lagi hidupmu... harus ada hati baru yang sehat untuk mengganti hatimu yang sudah rusak itu. Satu-satunya jalan... yaa transplantasi," papar dokter Yusuf.


Mendengar paparan dari dokter Yusuf, Ilham semakin menyesali sikap yang ia ambil selama ini. Keegoisannya yang hanya memikirkan keinginan dan perasaan sendiri membuat ia harus hidup dalam keterpurukan teramat dalam. Meremas kasar rambut serta mendongakkan kepalanya, Ilham berusaha menahan keluarnya linangan air mata.


"Rahmat... tolong ajak Yuana pulang ya, kasian Nabila belum bertemu dengannya dari pagi tadi. Kau juga harus istirahat bukan?"


Suara Bu Fatma yang tiba-tiba masuk, mengejutkan ketiga pria tersebut, membuat mereka menoleh secara bersamaan.


Bu Fatma pun terpaku melihat Ilham yang duduk menatapnya, pasalnya selama seminggu ia menjaga Ilham, anak keduanya itu selalu dalam kondisi tidur pulas. Berkaca-kaca mata Bu Fatma sebelum akhirnya air mata bahagia itu menetes dari pelupuk matanya. Bibirnya yang tersenyum sekaligus menangis itu, ia tutup dengan kedua tangannya.


Sedangkan Ilham yang perasaannya sedang dipenuhi penyesalan dan rasa bersalah, memandang perempuan yang melahirkannya itu semakin merasakan penyesalan dan rasa bersalahnya. Mbrabak. Wajahnya memerah, alis mengerut dan bibir gemetar menahan keluarnya isak tangis.

__ADS_1


"Ummah... maafkan Ilham."


__ADS_2