HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 37 PERTEMUAN TAK TERDUGA


__ADS_3

"Aaaargh!" sekali lagi Ilham terbangun dari tidurnya dengan nafas tersengal-sengal. Ia meraba dadanya yang naik turun dan merasakan sedikit berdenyut di dalamnya.


Lagi-lagi Ilham bermimpi tentang gadis kecil yang. Bahkan hanya dalam mimpi pun, ia seperti jatuh hati padanya. Ujung rambut yang bergelombang beriap-riap ketika berlari-lari, sungguh menggemaskan.


Ketika Ilham berusaha mengejarnya, gadis kecil itu ternyata bergandengan dengan seorang wanita yang ujung gamis dan hijabnya ikut melambai-lambai ketika berlari bersama gadis kecil itu.


Tangan Ilham berusaha menggapai wanita itu, namun ketika wanita itu hendak menoleh tiba-tiba Ilham merasakan sesak yang luar biasa dan denyutan di dadanya. Sehingga membuat Ilham selalu terbangun dan selalu seperti itu.


Mimpi yang ia alami hampir setiap hari dan selalu menyisakan rasa sesak di dadanya.


Gus Bahtiar sempat khawatir jika kondisi Ilham itu akibat adanya reaksi penolakan paska transplantasi hati. Namun ternyata setelah dilakukan general cek up, semua baik-baik saja. Tidak ada reaksi penolakan yang berarti dalam tubuh Ilham.


Organ hati yang baru bekerja dengan baik dalam tubuh Ilham, bahkan jauh lebih baik dari pada organ hati Ilham sendiri. Dokter sendiri sampai takjub dengan pencapaian kesehatan Ilham.


Hanya saja untuk mengantisipasi keadaan yang tidak diinginkan, Ilham tetap diharuskan untuk mengkonsumsi obat immunosupresan walaupun dosisnya telah dikurangi.


"Mungkin ini benar-benar saatnya kamu harus pulang, Ham. Aku benar-benar yakin kamu sudah sehat dan pulih. Percayalah... cukup dengan menjaga pola hidup sehat, hidupmu pasti akan kembali bersinar. Kembali bekerja, kembali produktif. Agar bisa segera melunasi cicilan mesin-mesin itu, hahaha..."


"Tapi, Gus. Di sini aku merasa hidupku lebih berguna, Gus."


"Kamu jangan memikirkan dirimu sendiri, ingat... perusahaan butuh kamu. Tidak kasian juga dengan ibumu yang harus mengurusnya sendirian? Beliau sakit-sakitan sekarang. Pulanglah. Saatnya kamu berbakti, carikan menantu untuk beliau. Cari perempuan yang bisa membuat jantungmu berdebar sampai kau merasa sesak nafas."


"Ckk."


"Hahaha..."


Dan akhirnya Ilham pun benar-benar memutuskan untuk pulang. Tanpa memberi kabar, ia pulang mengunakan jasa taksi online.


Sesampainya di depan rumah, ia melihat Mbok Sari membuka pintu pagar lalu seseorang mengendarai motor keluar dari rumahnya.


"Siapa, Mbok?" tanya Ilham pada Mbok Sari yang hendak menutup pintu pagar tersebut.


"Masya Allah! Alhamdulillah Mas Ilham sudah pulang," seru Mbok Sari yang terkejut sekaligus senang majikan yang ia asuh sejak kecil itu pulang dalam keadaan yang jauh lebih baik dari saat terakhir meninggalkan rumah. Bola mata tuanya tampak berkaca-kaca menahan hari.


"Iya, Mbok. Alhamdulillah. Siapa tadi? Ummah ada?" tanya Ilham sambil berjalan menuju pintu samping melewati garasi.


"Itu, Mas... guru les mewarnai Mas Azyan dan Non Nabila. Ibu ada di kamar, barusan tidur setelah minum obat, tolong jangan diganggu dulu ya, Mas."


Ilham mengangguk mengerti kemudian masuk ke dalam rumah, sementara Mbok Sari menuju pintu belakang membawa serta koper yang diserahkan Ilham padanya.


Ilham berjalan pelan memandang dua anak kecil yang sedang bermain di atas karpet. Azyan yang terbelalak senang melihat dirinya dan gadis kecil yang membuatnya terpana.


Rambut gadis kecil itu. Ya! Itu rambut yang sama dengan rambut gadis kecil yang ada dalam mimpi-mimpinya.


"Yah Ham! Yeay... Yeay... Yah Ham pulang," seru Azyan sambil berlompat-lompat girang melihat paman yang dipanggil dengan sebutan Yah Ham (ayah Ilham) itu. Lalu berlari menubruk tubuh Ilham yang telah berlutut merentangkan kedua tangan.


Ilham pun memeluk erat Azyan sementara matanya tak lepas memandang lembut kepada gadis kecil yang juga sedang memandangnya malu-malu.


Melihat gadis kecil itu berjalan pelan-pelan menghampirinya, Ilham mengulurkan tangan kanannya. Dan dengan menggemaskannya, gadis kecil itu menyambut uluran tangan itu lalu mencium punggung tangannya.


"Siapa namanya, Cantik?"


"Bila, Om."


"Namanya Nabila, Yah. Dipanggilnya Bila," Azyan berusaha menjelaskan.


"Nabila? Wah nama yang cantik seperti anaknya."


"Matasih, Om danteng," balas Nabila tersipu.


Ilham yang tangan kirinya masih memeluk Azyan dan tangan kanan menggenggam tangan Nabila pun sedikit tersipu juga dikatakan ganteng oleh gadis yang membuat hatinya menghangat itu.

__ADS_1


"Yah Ham dari mana, kok ndak bawa oleh-oleh?" melihat Ilham tidak membawa apa-apa, khas anak-anak dengan jujur Azyan bertanya.


"Emm... Iya, ayah ndak bawa apa-apa. Azyan kepingin apa, ayo kita belanja."


"Yeaaay.. Asyiiik!" Azyan yang kegirangan berlari-lari memutari tubuh Ilham, "yeayay... yeayay..."


Sementara Nabila hanya tersenyum tanpa melepas genggaman tangannya pada jemari Ilham.


Azyan dan Nabila sudah duduk manis di jok belakang mobil Ilham, sementara Ilham memanasi mesin mobil sambil membersihkannya dari debu.


Suasana hati memang bisa mengubah seseorang, anak-anak sekalipun. Azyan yang tidak terlalu banyak bicara, tiba-tiba saja menceritakan banyak hal.


Menceritakan kepada Nabila, siapa Ilham dan kenapa ia panggil ayah. Menceritakan kepada Ilham, bahwa ayah Nabila sudah meninggal dan sekarang tinggal bersama mereka di rumah. Tentang Buti yang sering sakit, pusingnya datang pergi. Tentang mami yang sekarang bekerja gantiin Yah Ham yang perginya lama.


Ya, walaupun apa yang diceritakan adalah versinya, sepanjang apa yang ia ketahui saja. Sudah cukup untuk gambaran bagi Ilham, apa saja yang sudah ia lewatkan.


Bukannya tidak tahu apa-apa, karena sebenarnya Arief pun sering mendatanginya ke pondok rehabilitasi. Namun ia lebih sering tidak memperdulikan apa yng disampaikan, karena ujung-ujungnya selalu berharap Ilham cepat kembali ke perusahaan.


Sesampainya di mall depan perumahan, Ilham menuntun dua anak tersebut di kanan dan di kiri. Sambil melirik kaca mall yang memantulkan bayangan ketiganya, Ilham tersenyum-senyum sendiri membayangkan dirinya sedang menuntun dua anaknya berjalan-jalan di mall di saat istrinya sedang asyik merawat diri di salon.


Mereka langsung menuju outlet mainan anak-anak. Berkeliling sebentar sampai menemukan mainan yang disukai keduanya. Ketika Ilham menawari untuk membeli snack, kompak keduanya menggelengkan kepala.


Dan akhirnya Ilham pun membawa sekeranjang mainan ke meja kasir untuk dibayar. Karena harus mengantri 3 orang, maka Ilham menyuruh kedua anak tersebut untuk bermain perusutan yang di sediakan tak jauh dari meja kasir.


"Mas Ilham kan, apa kabar?"


"Eh, Yulia. Alhamdulillah, baik."


"Mas Ilham sendirian aja?" ucap Yulia sambil memainkan tali tas di bahunya.


Ilham hanya tersenyum sambil melirik sebentar pada gadis yang memakai celana high waist dan kaos pendek model sabrina itu. Lipstik merah bata, bulu mata tambahan, rambut sebahu yang dismoothing.


'Masih ganjen saja anak ini,' pikir Ilham.


"Aku juga sendirian nih, Mas. Bosen di rumah. Makan siang bareng yuk, Mas. Kan sudah lama tidak ketemu."


'Tuh kan, sudah kuduga,' batin Ilham.


Ilham tidak menjawab karena kini gilirannya untuk membayar di kasir.


Yulia yang masih menunggu Ilham, tak sengaja melihat Azyan. Mereka pernah bertemu saat Annisa mengajak Azyan menghadiri acara reuni sekolah tahun lalu. Ia pun menghampiri, karena tahu pasti jika Ilham pasti datang bersama Azyan.


"Wah ada Zyan di sini. Masih inget tante kan?"


"Tante yang nyanyi di sekolahannya mami kan," jawab Azyan sesaat setelah berusaha mengingat Yulia, "yang bilang kalo Jiyan ganteng," tetap dengan kenarsisannya.


"Haha... Iya, memang Zyan ganteng kok, kayak om Ilham, hihi."


Ilham selesai membayar mainan yang dibeli bersamaan dengan Nabila menangis karena tersungkur di depan perusutan akibat pendaratan yang kurang pas.


"Nabila! Sini gendong ayah, usss... sudah jangan nangis ya, ayo kita ke tempat bunda saja ya," dengan spontan, Ilham menghampiri Nabila, menggendong, mencium pipi dan mengusap keningnya. Siapapun yang melihat pasti menganggap Ilham adalah seorang ayah yang sangat menyayangi anaknya.


Kebiasaan membahasakan ayah pada Azyan memudahkannya menemukan cara menghindar dari Yulia, yakni berpura-pura menjadi ayah Nabila.


Iya yakin Yulia tidak mengenal Nabila, toh Nabila juga anak yatim, tak ada salah dan rugi baginya untuk menjadi ayah Nabila. Karena dari cerita Azyan, ia berspekulasi bahwa Nabila adalah anak yatim piatu yang diasuh oleh ummah atau Annisa. Ia pun akan dengan senang hati menjadi ayah asuhnya.


"Maaf, kami permisi dulu," pamit Ilham dan tanpa menunggu jawaban Yulia, Ilham yang menggendong Nabila, menuntun Azyan pergi keluar mall.


"Iya, Mas," Yulia lirih menjawabnya dengan tatapan nanar, "ayah?"


Nabila merasa berbunga-bunga berada dalam gendongan Ilham, dipandangi lekat-lekat wajah yang baru ia kenal tapi mengatakan dirinya ayah itu. Ia belum melupakan buya Amar dan tidak akan pernah melupakannya. Namun beberapa bulan kehilangan sosok ayahnya itu, ia merasa bahagia dengan ucapan Ilham.

__ADS_1


"Ayah?" memberanikan diri untuk mengusap pipi Ilham untuk meyakinkan dirinya apakah itu benar.


"Hmm... Kalau Nabila mau, Nabila boleh panggil om, ayah. Nabila mau?"


"Asiyan punya papi sama ayah, papina peldi jauh tapi bisa pulang, Bila punya buya tapi sudah peldi jauh ndak bisa pulang, Bila jadi sedih. Bila mau punya ayah."


"Nabila gak boleh sedih, kalau ingat buya, didoain aja ya. Sekarang, Nabila punya ayah, jadi jangan sedih lagi ya. Coba... panggil ayah!"


"Iya, Ayah. Asiyan, sekanang Bila sudah punya ayah lagi. Ayah!" Nabila mempererat pelukannya pada Ilham, kakinya bergerak-gerak hingga tas kantong berisi mainan yang dipegang Ilham turut bergoyang.


Azyan yang sepanjang perjalanan tidak berbicara apapun, ternyata diam-diam mendengarkan juga.


"Kalau Bela jadi anaknya Yah Ham, berarti Ajiyan harus panggil kakak, sama kayak panggil Kak Tiara gitu, gak mau ah!"


"Hahaha... Ya nggak gitu juga, Azyan. Azyan dan Nabila kan sama-sama manggil ayah."


"Iya... ayah tapi yang gak ada ibunya," sahut Azyan sambil menahan senyum sementara tawa Ilham langsung hilang seketika.


Sesampainya di rumah, Ilham membiarkan Azyan dan Nabila bermain mainan baru mereka. Ia sendiri naik ke lantai dua menuju kamarnya. Berpapasan dengan Mbok Sari yang baru saja mengantarkan minuman dan membersihkan kamar Ilham.


"Saya istirahat dulu, Mbok. Ummah juga masih istirahat kan?"


"Iya, Mas."


Ilham memasuki kamarnya, tidak ada yang berubah. Ada rasa penyesalan yang menyeruak dalam hatinya. Kenapa ia dengan begitu bodohnya merusak diri sendiri. Apa gunanya ia bermabuk-mabukan hanya karena sakit hati pada perempuan yang sebenarnya bukan pujaan hatinya.


"Hufh," menghela nafas ketika menyadari bahwa sebenarnya ia sedang kecewa bukan pada perempuan itu, tapi pada kebodohan dirinya dalam menyikapi perasaannya pada perempuan.


Ia berjalan menuju balkon kamar. Ia ingat, Arief pernah berkata bahwa sudah ada orang yang merawat tamannya atas perintah Bu Fatma. Ia ingin melihat seberapa pandai orang itu merawat taman yang ia bangun dengan sepenuh hati itu.


Alangkah terkejutnya ketika melihat bahwa taman yang ia bangun telah berubah sepenuhnya. Bukan tidak bagus, hanya saja sudah berubah dari impian Ilham. Dan ia sangat tidak suka ada yang mengubah taman itu.


Dilongokkan kepalanya ke bawah, demi melihat seseorang yang baru saja merapikan rumput sintetis di tepi taman. Dan itu semakin membuatnya murka.


Secepat kilat ia berlari, menuruni tangga menuju ke belakang, membuka pintu besi dengan kuat sampai terdengar debuman di tembok.


Dengan langkah lebar sambil berteriak mendekati seorang perempuan yang sedang terlonjak berdiri.


"LANCANG!! Berani-beraninya kau rusak semua!"


Ditariknya bahu perempuan itu agar menghadap dirinya sampai tidak disadari punggung perempuan itu membentur dinding. Lalu mengungkungkan kedua tangan di tembok di kanan kiri kepala perempuan itu.


"Siapa kamu!?" menggeram menahan amarah, menanyakan siapa perempuan yang terlihat pucat pasi dan menutup mulut dengan kedua tangannya yang gemetar.


Mengunci tatapannya pada sepasang bola mata yang membulat berkaca-kaca menatapnya pula.


Dalam beberapa saat, mereka saling mengunci tatapan sambil mengatur nafas.


Ketika Ilham mulai terlihat sedikit tenang, perempuan itu mulai menurunkan kedua tangannya ke dada dan menjawab dengan suara pelan, "saya Yuana."


Kini berganti Ilham yang terbelalak matanya. Tangan yang mengungkung Yuana ia tarik demi memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sangat sesak dan ulu hati yang berdenyut dengan kerasnya. Dan ia limbung ke belakang.


Melihat Ilham yang hendak terjatuh di atas garpu rumput yang ia letakkan menghadap ke atas, Yuana segera meraih Ilham dan berhasil menggamit kemeja bagian depan dalam genggaman, menariknya ke arah tumpukan sisa rumput sintetis.


Namun naas baginya karena tanpa sengaja ia menginjak ujung gamisnya membuat ia pun ikut jatuh tersungkur.


Ilham yang melihat Yuana ikut terjatuh spontan meraih pinggang Yuana merapat ke tubuhnya. Cukup ia yang merasakan sakitnya jatuh, jangan Yuana.


Jilbab Yuana yang terbuat dari bahan ceruty, cukup licin. Tersungkurnya Yuana ke atas tubuh Ilham, membuat jilbab itu melorot hampir terlepas dengan lubang wajah yang terjatuh membingkai wajah Ilham.


Kedua wajah itu saling berhadapan di dalam ruang yang terbentuk oleh jilbab.

__ADS_1


Lagi-lagi tatapan mereka saling mengunci. Ilham dengan tatapan teduh dan Yuana dengan tatapan malu yang teramat sangat.


Yuana yang masih terdiam karena syok membuat Ilham mempererat pelukannya. Bias cahaya dari jilbab yang berwarna baby pink membuat pipi Yuana semakin terlihat merona.


__ADS_2