HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 41 BERDAMAILAH HATI


__ADS_3

"Maaf, Kak. Ini tolong disimpan dulu baik-baik. Yuana pasti akan mengganti semua uang Kak Jo. Beri Yuana waktu sedikit lagi," masih dengan menunduk, Yuana menyodorkan kembali map coklat bertali kancing berisi surat sertifikat rumahnya yang tadi ia terima dan buka.


"Ambil saja, Na. Aku ikhlas membantumu. Rumah itu pasti penuh kenangan untukmu. Soal lamaran kakak, jangan terburu-buru. Pikirkan dulu baik-baik, Na. Hidupmu pasti jauh lebih baik daripada sekarang, Na. Kakak bisa menjamin itu."


"Maaf, Kak. Yuana benar-benar tidak bisa."


Dokter Yusuf duduk dengan lemas, bersandar pada sandaran kursi dengan memandang lekat Yuana yang semakin menunduk dalam.


Merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Yuana bangkit dari duduknya. Bergeser selangkah dan sedikit membungkukkan badannya.


"Yuana permisi dulu, Kak, assalamu'alaikum," berpamitan tanpa membalas tatapan mata dokter Yusuf padanya.


"Wa'alaikum salam," jawab dokter Yusuf dengan lirih, hampir tak terdengar.


Ilham cepat-cepat bersembunyi dibalik gorden yang terikat di tepi jendela melirik Yuana yang berjalan masuk ke dalam rumah.


Yuana yang suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja tidak mempedulikan sekitarnya, termasuk ketika berpapasan dengan Bu Fatma yang baru keluar dari kamar. Ia terus saja berjalan menuju pintu belakang untuk kembali ke paviliun.


Bu Fatma heran melihat Yuana yang biasanya selalu kelihatan ceria dan menjaga sopan santun, bisa bersikap cuek dan bermuka masam. Melihat Ilham berdiri sembunyi di gorden, ia mengira Ilham berulah. Ia pelototi anak kesayangannya itu.


Namun Ilham menggeleng-gelengkan kepala seraya menunjuk dirinya lalu menggerak-gerakkan tangan tanda bahwa ia tidak tahu apa-apa.


Bu Fatma menggerakkan bibir seolah bertanya, "trus kenapa?"


Ilham menggedikkan bahu lalu menunjuk ke luar. Dengan menggerakkan dagunya, Bu Fatma menyuruh Ilham untuk melihat ke depan. Ilham pun serta merta merapikan pakaiannya yang sebenarnya tidak kusut, berdehem sebentar lalu berjalan ke teras rumah. Tanpa berbasa basi, langsung saja duduk di tempat Yuana tadi duduk.


Tanpa melepas pandangannya ke hamparan padang golf yang sepi, Dokter Yusuf menghembuskan nafas kasar.


"Selamat atas kepulanganmu."


"Apakah terlalu cepat?"


"Aku minta, jangan pernah masuk IGD lagi."


"Apakah itu doa untukku? Terima kasih kalau begitu."


"Wajahmu cukup menyebalkan bagi tim dokter."


"Hei, Dok. Kalau lagi kesal, ya kesal saja. Jangan dilampiaskan pada orang."


"Jangan pernah telat minum obatnya! Aku pulang dulu, sampaikan maaf ke ummah, maaf aku tidak pamit. Assalamu'alaikum."


"Hmm, wa 'alaikum salam."


Meski Ilham tetap duduk, namun pandangan matanya mengiringi dokter Yusuf, bahkan hingga mobil sang dokter tak terlihat lagi.


Pandangan yang beralih pada hamparan padang golf yang dikelilingi pepohonan, menariknya ke dalam permasalahan hidup yang berkecamuk dalam hati dan pikirannya.


Ia pernah merelakan Yuana ketika tiba-tiba Amar mengabarkan bahwa mereka sudah menikah. Dan kini muncul dokter Yusuf yang juga tiba-tiba melamar saja. Apa ia harus merelakannya lagi, di saat ia bimbang akan perasaannya lagi pada Yuana. Apalagi ini dokter Yusuf, kualifikasinya sangat jauh di atasnya.


Namun hatinya terasa melonggar kala teringat Yuana yang dengan tegas menolak lamaran dokter Yusuf. Tapi ia tak tahu, kenapa Yuana menolak calon suami idaman macam dokter Yusuf itu. Apa memang Yuana benar-benar tidak menyukainya? Atau itu hanya trik tarik ulur? Atau ada hal lain yang menyebabkan Yuana harus menolaknya? Apa ada lelaki yang lain lagi? Wah, gawat!


"Aaaaagrh," teriaknya dalam hati.


Sebuah tangan yang halus dan hangat, mengusap bahunya.


"Surup-surup, gak baik dibuat melamun. Sudah masuk dulu, nanti malam ada yang mau ummah bicarakan."


Ilham meraih tangan itu, menciumnya lalu menempelkan di pipi sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya, Ummah. Ummah... terima kasih ya, sudah bersabar pada Ilham."


Bakda isya di paviliun taman.


Yuana menyenandungkan sholawat sambil menggaruk-garuk punggung Nabila. Kebiasaan baru Nabila, baru bisa tertidur jika sambil digaruk-garuk lembut punggungnya.


Tangan menggaruk, bibir bersholawat, mata dipejamkan, tapi pikiran Yuana masih melanglang buana. Teringat kejadian yang ia alami seharian ini.


Ia tidak menyangka sama sekali, dokter Yusuf lah yang telah menebus sertifikat rumahnya demi bisa melamarnya lagi. Bukan ia tidak menyukai dokter Yusuf, dia cukup tampan dan menarik bukan. Dari segi kemapanan, pasti mapanlah. Masa depan juga pasti terjamin, cukup berdiam diri di rumah, pasti ia akan termanjakan. Seperti apa yang dibilang oleh dokter Yusuf tadi.


Tapi Yuana sama sekali tidak ada rasa sedikitpun padanya. Sejak dulu hingga sekarang. Ia pun teringat ayahnya yang tidak menerima lamaran dokter Yusuf dulu, bahkan lebih memilih untuk menikahkannya dengan Amar, asisten pribadi ayahnya.


Lalu teringat gadis yang menyerangnya di parkiran basement gedung perbankan tadi pagi. Sakit di punggung akibat benturan dengan kaca spion mobil juga masih terasa, apalagi jika ia raba, nyuut sampai ke tulang belikat rasanya. Siapa gadis itu? Ah, kenapa tadi tidak ditanyakan langsung ke Kak Jo saja, pikirnya. Eh tapi kan aku sudah menolak Kak Jo, gak ada gunanya lagi mengurusi gadis itu.


Berdegub kencang saat ingatannya menuju Ilham. Pertemuan pertama dan kedua di hari yang sama, hanya selisih beberapa jam saja, keduanya pun hanya sebentar, berlangsung sangat singkat dan sangat cepat. Tapi situasinya sangat tidak menguntungkan baginya.


Pertama, ia datang marah-marah tidak jelas lalu terjatuh bersama-sama. Dan... dari sela-sela hidung keduanya yang hampir bersentuhan, ia sempat melihat bibir Ilham yang sudah hendak menciumnya. Sungguh menjengkelkan! Dasar laki-laki mesum!


Kedua, bagaimana ia terkejut dan malu, dalam keadaan yang hanya berbebat handuk, laki-laki itu masuk rumahnya yang sepi tanpa permisi. Dasar tidak sopan! Aaaaah sungguh memalukan!


Dasar laki-laki tak tau malu! Harusnya dia kan meminta maaf atau gimana gitu. Ini malah senyum-senyum nggak jelas.


Yuana mengomel-omel sendiri dalam hatinya, sampai terdengar suara ketukan pintu.


Rima mengetuk pintu paviliun sambil melirik ke arah taman yang remang-remang.


"Mbak Yuana selalu saja tidak menyalakan lampu taman, aku kan jadi merinding gini," gerutu Rima yang pada dasarnya memang penakut itu.


Yuana sengaja hanya menyalakan lampu yang menerangi akses jalan saja. Untuk menghemat biaya listrik, pikirnya. Begitupun di dalam paviliun, ia hanya menyalakan lampu yang ia butuhkan saja. AC kamarpun jarang ia nyalakan, karena itulah Nabila yang terbiasa bermain di ruangan ber-AC bersama Azyan, merasa kurang nyaman sehingga selalu minta digaruk punggungnya setiap menjelang tidur.


Yuana merasa sudah sangat beruntung bisa tinggal di paviliun itu, maka iapun tidak ingin menambah beban keluarga bu Fatma dengan tagihan listrik yang besar jika ia tidak bisa berhemat. Pernah merasakan tinggal di rumah kontrakan dengan listrik token, membuat ia bisa berpikir demikian.


Rima mengetuk sekali lagi, karena tidak terdengar suara apapun dari dalam paviliun. Ia semakin ketakutan. Andai saja tidak disuruh oleh majikannya untuk memanggil Yuana, ia tidak akan datang kemari, kecuali ada yang mengantarnya.


"Mbaaak... Mbak Yuana!"


Yuana memang tidak langsung membuka pintu ketika mendengar ketukan pintu tadi. Ia masih harus mengganti daster yang ia pakai untuk tidur dengan gamis dan jilbab berbahan jersey yang nyaman dipakai di rumah. Ia harus berhati-hati, bagaimana jika laki-laki tidak tahu malu itu yang mengetuk pintu.


Maka Yuana mengaitkan grendel rantai pengaman pintu sebelum membuka pintu, agar pintu hanya terbuka sedikit. Jika benar Ilham yang mengetuk pintu maka ia akan segera menutup pintu itu dengan membantingnya tepat di depan muka Ilham. Dalam hati, Yuana terkikik membayangkannya. Biar kapok!


Tentu saja Yuana terkejut ketika membuka pintu, ternyata Rima sudah menatapnya dengan wajah pucat pasi.


"Mbaaak! Cepat buka pintunya!"


Yuana pun segera menutup pintu agar bisa segera membukanya. Dan setelah terbuka, Rima berlari secepat kilat masuk ke dalam paviliun tanpa menghiraukan Yuana yang menatapnya keheranan.


"Rima... Kamu kenapa? Sampai pucat pasi gitu. Ada apa, hmm?"


"Rima takut, Mbak. Ada suara mendesis dari taman."


"Ish... mana ada. Ada-ada aja kamu ini. Kamu sendiri, ke sini malam-malam ada apa?"


"Itu, Mbak. Mbak Yuana dipanggil ibu ke dalam."


"Dipanggil ibu? Emm, apa ada laki-laki itu?"


"Laki-laki siapa, Mbak? Mas Ilham?"


"Iya, dia, siapa lagi?" ketus Yuana dengan berwajah masam.

__ADS_1


"Mbak Yuana juga takut sama Mas Ilham? Sama, Rima juga takut, Mbak. Orangnya judes banget. Tahu kalau ada Mas Ilham tadi harusnya Mbok Sari aja yang nyiapin makan malamnya ibu. Dulu aja, cuma Mbok Sari sama Pak Hadi yang boleh masuk rumah dalam saja, Mbak. Sejak ada Ning Norish aja, Rima baru boleh masuk, takut sih tapi terpaksa harus mau ya, Mbak. Untung Mbak Annisa orangnya baiiiik banget."


"Masak sih, orangnya judes?" tanya Yuana sambil membatin, orang mesum tak tahu malu gitu kok dibilang judes sih, mana senyum-senyum gak jelas lagi.


"Eh, emang Mbak Yuana belum kenal sama Mas Ilham?"


"Gak kenal, baru ketemu hari ini aja. Emang beneran orangnya judes?"


"Emmm, gak tau juga sih, judes apa ndak. Yang jelas jarang mau ngomong sama kita-kita ini, Mbak. Tapi sekalinya ngomong, kuetuuus banget, Mbak. Oh iya, Mbak... Nabila mana, biar Rima temenin."


"Sudah tidur dari tadi. Kamu balik aja ke kamarmu, istirahat. Biar ada energi hadapi hari esok, hehe."


Yuana pun mengajak Rima berjalan bersama-sama setelah memastikan menutup pintu dengan baik. Mereka berpisah di depan pintu belakang rumah utama. Rima kembali ke kamarnya di paviliun belakang dan Yuana masuk ke rumah utama.


Yuana masuk rumah pelan-pelan, ada deguban halus di dadanya. Tidak tau apa yang akan terjadi lagi jika harus bertemu dengan Ilham yang ketiga kalinya.


Belum sempat membaca situasi dalam rumah, panggilan Bu Fatma membuatnya tersentak.


"Yuana! Duduk sini!" seru Bu Fatma dengan riang begitu melihat Yuana. Menepuk kursi di sebelahnya untuk mempersilahkan Yuana duduk.


Dengan menunduk Yuana mendekat, lalu ia pun duduk tanpa melihat lelaki yang duduk di seberang Bu Fatma. Pasti Ilham, pikirnya.


"Sudah makan malam?" tanya Bu Fatma.


"Sudah, Bu," jawab asal Yuana, pasalnya ia jarang sekali makan malam sejak tinggal di paviliun, hanya kadang-kadang saja jika makan bersama atau menemani Nabila. Dan ia melihat piring di depan Bu Fatma pun telah kosong isinya, pertanda mereka sudah selesai makan malam.


"Kalau begitu, makan salad buah aja ya. Tadi Annisa beli di mana gitu, banyak sekali," ucap Bu Fatma sambil berdiri dan berjalan ke dapur. Mengambil salad buah dalam kemasan cup thinwall kecil sebanyak tiga buah. Sudah ada sendok kecil pula yang terekat di atas tutupnya. Satu untuk dirinya, satu untuk Yuana dan satu lagi untuk Ilham.


Yuana sempat melirik sebentar ke arah Ilham ketika Bu Fatma menyodorkan satu salad ke depan Ilham. Ia melihat lelaki itu duduk bersandar dengan kedua tangan bersedekap di depan dadanya, dan tatapan tajam mengarah padanya.


Namun ia tak berani menatap langsung wajah itu. Sepertinya benar kata Rima tadi, pasti judes banget orangnya. Maka ia pun merasa terintimidasi oleh tatapan itu.


"Ayo dimakan saladnya, enak banget lho, seger, ndak eneg," ucap Bu Fatma sambil menyendokkan potongan buah apel ke dalam mulutnya.


Yuana pun mengambil dan membuka tutup salad di depannya pelan-pelan.


"Oh iya, Yuana. Kenalkan ini Ilham, anak tengah ibu. Adiknya Rahmat sekaligus kakaknya Annisa. Ham, ini Yuana yang baru ibu ceritakan sama kamu."


"Hmm," Ilham hanya mengangguk sambil terus menatap Yuana yang menunduk sedari tadi.


Yuana meletakkan kembali cup salad di atas meja. Meletakkan kedua tangan di atas pangkuan, meremasnya pelan dan memberanikan diri mengangkat wajahnya.


"Salam kenal, Mas. Saya Yuana."


Rasa takut dan sedikit terintimidasi tadi hilang seketika, berganti rasa jengkel yang datang tanpa permisi. Ilham sama sekali tidak menjawab salamnya dengan kata-kata yang sewajarnya.


Ilham yang gemas melihat Yuana memberanikan diri menatapnya, hanya tersenyum, memainkan kedua alisnya dan mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Sampai melotot mata Yuana dibuatnya.


Ilham pun semakin gemas melihat Yuana, dan semakin berpikir untuk menggodanya.


"Nabila mana, Bunda? Kok ndak diajak ke sini," tanya Ilham dengan mimik muka serius.


Yuana semakin jengkel dibuatnya, ia semakin melotot ke arah Ilham lalu memelengoskan wajahnya ke samping sambil cemberut. Dan meledaklah tawa Ilham hingga ia terpingkal-pingkal seraya memegangi perutnya yang terasa kaku.


"Ilham Adelio."


Tawa Ilham seketika berhenti mendengar Bu Fatma memanggil nama lengkapnya karena itu pertanda ibunya itu sedang memperingatkannya atau sedang marah. Walaupun tubuhnya masih sedikit bergetar menahan tawa.


"Ham, kamu ingat yang ummah bilang anak baru? Nah, ini Yuana sudah ummah anggap anak sendiri. Jaadiii... kamu harus memperlakukan Yuana dengan baik, selayaknya saudara. Daaan... Jangan jahil! Jaangan usil! Yuana tetap bukan mahrommu, dia bukan Annisa. Ingat!"

__ADS_1


"Siap, Ummah!" Ilham malah sumringah mendengar wejangan Bu Fatma tentang Yuana.


Bu Fatma menyebut kata mahrom, pertanda bahwa Yuana bisa ia nikahi kelak. Berarti pula ibunya sudah bisa menerima keberadaan Yuana di rumah ini, tak akan ada drama mertua memusuhi menantu kelak. Hehehe.


__ADS_2