
Kumandang adzan Ashar terdengar dari handphone Yuana. Sengaja ia memasang aplikasi pengingat waktu sholat di telepon genggamnya itu, mengingat bahwa dari tempatnya tinggal itu jauh dari masjid ataupun mushola.
Menggeliatkan tubuh, meregang-regangkan dan menarik-tarik tangan dan tubuh, menstimulasi sistem saraf untuk membangunkan sistem motorik sensorik agar siap dipakai beraktifitas.
Mengistirahatkan tubuh lebih lama dari biasanya, entah kenapa ia bisa senyenyak itu. Mungkin karena tadi cukup lelah berjalan-jalan dan berbelanja sebanyak itu.
Ah, iya. Ia jadi teringat barang belanjaan yang digeletakkan begitu saja didepan almari tadi. Ia pun turun dari ranjang berjalan ke tumpukan paperbag tadi.
Yuana memilah, tiga kantung paperbag yang ia terima dari Bu Fatma. Dan menghitung kantung paperbag yang terpaksa ia terima dari Ilham. Ada tujuh! Banyak sekali.
Yuana tersenyum mengingat betapa bersemangatnya Bu Fatma ketika berbelanja tadi, bertolak belakang ketika berada di dalam rumah yang sering mengeluhkan kepala atau kakinya yang sakit.
Saking asyiknya menemani Bu Fatma, ia bahkan tidak sempat memperhatikan Nabila yang berjalan bergandengan dengan Ilham tadi. "Maaf ya, Nak," sesal Yuana sambil mengusap punggung Nabila yang tidur tengkurap di atas guling.
Lalu ia buka satu persatu kantung pemberian Bu Fatma. Ia ingat semua yang ia terima dari Bu Fatma, karena ia ikut serta dalam memilihnya tadi. Dua stel gamis syar'i yang masing-masing modelnya serupa dengan yang dibelikan Bu Fatma untuk Annisa, beda warna saja. Sebuah clutch berbahan anyaman daun pandan cantik yang ia temukan di gerai UMKM binaan dinas terkait.
Bu fatma selalu membeli masing-masing sebanyak tiga buah, untuk dirinya, untuk Annisa dan untuk Yuana. Hatinya terasa berbunga hangat, merasa sangat beruntung dianggap seperti anak sendiri oleh Bu Fatma. Ia jadi teringat pada almarhum orang tuanya, mereka pasti bisa tenang karena anak yang mereka tinggalkan ada yang menyayangi selayaknya keluarga.
Melirik malas pada ketujuh kantong paperbag pemberian Ilham, sama sekali tidak tertarik melihat isinya. Setelah membereskan gamis dan clutch pemberian Bu Fatma tadi, Yuana bergegas ke kamar mandi, bersiap-siap untuk sholat ashar.
Selesai sholat ashar, Yuana memandikan Nabila yang baru terbangun.
"Bunda, sepatu barruku mana?" tanya Nabila ketika Yuana selesai menyisir rambutnya.
"Sepatu yang mana, Sayang?"
"Yang tadi beli sama ayah."
Yuana bergegas memeriksa ketujuh paperbag pemberian paksa Ilham tadi satu persatu. Tidak ada sepatu anak-anak. Apa mungkin tadi mereka melihat-lihat sepatu tetapi tidak jadi membeli? Tapi Nabila terlanjur mengira ia dibelikan. 'Ah, kasihan anakku,' batin Yuana.
"Tidak ada, Sayang. Lain kali bunda belikan sendiri, ya."
Tanpa menghiraukan ucapan Yuana, Nabila berlari keluar paviliun menuju ke rumah utama. Yuana mengecek sekali lagi ketujuh kantong tadi. Sama sekali tidak ada sepatu.
Ia pun segera menyusul Nabila menuju rumah utama. Melewati Mbok Sari, Rima dan dua orang lainnya yang sedang duduk di pelataran paviliun belakang.
"Nabila ke dalam ya, Mbok."
"Iya, Mbak Yuana. Monggo, masuk saja."
Yuana pun masuk ke rumah utama melalui pintu belakang yang sedikit terbuka. Melewati dapur dan ruang makan yang kosong, menuju ruang keluarga yang juga sepi. Celingukan mencari keberadaan Nabila, melirik ke lantai atas, sepertinya tidak mungkin. Karena tidak ada Azyan, Annisa bilang malam ini akan menginap di hotel. Lalu kemana Nabila?
Mengintip ke ruang tamu, ada Arief dan Bu Fatma yang sepertinya sedang membahas sesuatu yang penting. Karena terlihat Arief sedang menunjukkan beberapa berkas. Tidak mungkin Nabila ada di situ.
Lalu ia melangkah menuju garasi melalui pintu samping. Dan benar saja, terdengar suara Nabila yang sepertinya sedang kesulitan memasang sepatu.
"Yang ini kenapa susah, Ayah."
"Coba ayah bantu," terlihat Ilham berjongkok di samping rak helm, membantu Nabila memakai sepatu. Sepatu booth berwarna soft pink dengan bulu-bulu halus di bagian atasnya.
Sesaat Yuana merasa seperti tersedot masuk ke alam lain, alam yang sangat bersinar dimana di tengah-tengahnya ia melihat Amar sedang membantu Nabila memakaikan sepatu.
Tapi kemudian ia merasa seolah terhempas ke dunia nyata saat tiba-tiba Ilham sudah berada di depannya. Tanpa ia sadari, ia bersandar di tembok dalam kungkungan kedua tangan Ilham.
"Gimana? Kamu suka?"
"Ah, iya. Terima kasih, sepatunya bagus."
"Ckk," bukannya senang, Ilham malah berdecak dan bertolak pinggang mendengar jawaban Yuana, "belum kamu lihat belanjaanmu tadi?" disentilnya kening Yuana.
Yuana mengusap-usap keningnya sambil menggerutu dan baru menyadari maksud pertanyaan Ilham. Hendak menjawab tapi suara Nabila mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
"Bunda, sepatuku barru... Cantik kan?" Nabila berjalan mondar-mandir sambil menunduk melihat sepatu barunya.
"Iya, Sayang. Cocok sekali dipakai Nabila. Sudah bilang terima kasih sama om?"
"Sudah tadi, terrima kasihnya buanyak-buanyaaak. Ya kan, Ayah."
Yuana pun mengajak Nabila kembali ke paviliun, melewati Ilham tanpa menghiraukannya.
Ilham hanya menggelengkan kepala melihat sikap Yuana padanya. Ingin sekali rasanya ia membeberkan semua pada Yuana, tetapi ia takut jika Yuana justru akan semakin menghindarinya.
Biarkan semua berjalan dengan sewajarnya, dan ia akan bersabar untuk memulai semua dari awal. Tapi kemudian ia tersenyum menyeringai, mengingat kantung belanjaan darinya yang ternyata belum dilihat isinya oleh Yuana. Ia tidak sabar menanti bagaimana reaksi Yuana nanti.
Ilham hendak kembali ke dalam rumah, melihat sebuah telepon genggam tergeletak di atas rak. Diambil dan ditekan tombol powernya.
Sebuah kaligrafi bertuliskan 'al hubbu laa ya'rifu ayya qoonuun' muncul sebagai layar kuncinya. Seringaian tipis muncul dibibirnya.
Lalu disentuh dan digeser tombol kunci layar handphone tersebut. Ternyata tak berpasword. Dilihatnya wallpaper layar handphone tersebut, terpasang sebuah foto yang menimbulkan sebuah kedutan nyeri di ulu hatinya.
Foto Yuana yang tersenyum manis, sedang memangku Nabila kecil dan Amar yang tampak merangkul keduanya dari belakang.
"Bahkan kamu masih bisa tersenyum dengan keadaanmu saat itu."
Tak ingin berlama-lama memandang foto itu, Ilham segera mencari menu telepon, memasukkan nomor pribadinya dan memencet tombol telepon. Ketika terdengar nada terhubung, segera ia menutupnya. Menyimpan nomornya dengan nama inisial 'IA', lalu memencet tombol power untuk mengunci layar kembali. Memasukkan handphone tersebut ke dalam sakunya lalu berlenggang masuk ke dalam rumah.
Dengan beralasan lelah dan hendak sholat ashar, Ilham berpamitan kepada Bu Fatma dan Arief untuk kembali ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, cepat-cepat ia membuka telepon genggamnya untuk menyimpan nomor yang baru masuk, dan disimpan dengan nama 'kissme'. Terkekeh ketika ia menuliskan nama itu, mengingat kejadian awal bertemu Yuana di masa lalu dan saat terjatuh bersama awal bertemu kemarin.
"Hehe... Al hubbu laa ya'rifu ayya qoonuun. Yaa... Yaa... Cinta tak kenal aturan memang, hehe."
Di saat Ilham sedang berbunga-bunga di lantai dua, maka Yuana sedang kebingungan di lantai satu. Ia yang semula sudah sampai di paviliun baru teringat jika ia tadi sempat meletakkan telepon genggamnya di atas rak di garasi.
Tentu saja ia kebingungan, lalu ia coba menyusuri ke dalam rumah utama. Barangkali terjatuh atau ada yang menyimpannya. Celingukan mencari di sepanjang tempat yang ia lewati tadi. Mengintip di kolong meja, bufet, sofa, di bawah bantal sofa sampai di bawah lipatan gorden.
Bu Fatma yang melihat sekelebatan Yuana pun segera menghampiri.
"Nyari apa, Nduk?"
"Nyari handphone Yuana, Bu. Kok bisa ndak ada ya, padahal baruuu saja Yuana pegang."
"Namanya ketlisut itu, nanti juga ketemu."
"Iya mungkin, Bu."
"Ada perlu penting kah? Pakai punya ibu dulu aja, gak apa-apa."
"Ndak usah, Bu. Tadi saking Nabila minta difotoin pakai sepatu baru."
"Oh iya, duduk di sini dulu sebentar. Ibu ada perlu penting dengan Yuana," Bu Fatma menggamit lengan Yuana dan mengajaknya untuk duduk di ruang tamu di mana masih ada Arief yang juga duduk di situ. Sedang membereskan berkas-berkas pekerjaan yang tadi sempat dibahas bersama Bu Fatma dan juga Ilham.
Kemudian Bu Fatma menjelaskan kepada Yuana secara garis besar tentang keadaan perusahaan dan posisi Ilham saat ini bagi perusahaan.
Yuana yang merasa tidak berkepentingan hanya bisa mengangguk-angguk berusaha memahami penjelasan Bu Fatma. Meskipun dalam hati sedikit bingung kenapa Bu Fatma merasa penting untuk menjelaskan kepadanya.
Lalu Bu Fatma beralih menjelaskan pula tentang kondisi kesehatan Ilham, dimana Ilham harus mengonsumsi obat secara disiplin seumur hidupnya. Juga mengenai beberapa protokol kesehatan demi menjaga kelangsungan hidupnya.
Tentu saja Yuana tidak pernah mengira jika Ilham harus menjalani kondisi yang seperti ini, karena ia melihat Ilham dalam keadaan baik-baik saja. Timbul rasa trenyuh, iba di hatinya.
"Oleh sebab itu, ibu bisa minta tolong pada Nak Yuana?"
"Apa yang bisa Yuana bantu, Bu?"
__ADS_1
"Nak Yuana benar-benar mau menolong ibu?" Bu Fatma menggenggam erat tangan Yuana penuh permohonan.
"Insya Allah, Yuana akan bantu sebisa mungkin, Bu," mengangguk mantab seraya menepuk-nepuk lembut tangan Bu Fatma yang menggenggam tangan kanannya.
Arief yang sedari tadi menyimpan kegalauan gegara tugas mencari asisten pribadi untuk Ilham menjadi berbinar karena sepertinya tahu arah pembicaraan Bu Fatma. Karena ia juga berpikir meminta Yuana untuk menjadi asisten pribadi yang dimaksud.
Ia yang tidak berkonsentrasi penuh sepanjang berbincang dengan Bu Fatma tadi, karena terus berpikir mencari cara bagaimana berbicara dengan Yuana dan memintanya menjadi asisten pribadi Ilham, seperti terangkat beban hidupnya.
"Nak Yuana bisa menjadi asisten pribadi untuk Ilham?"
"Asisten pribadi?" Yuana terperangah mendengar permintaan Bu Fatma, sementara Arief di seberang meja, tersenyum penuh harap pada Yuana.
"Tugasnya hanya memastikan Ilham bisa disiplin menjalani protokol kesehatannya, itu saja, tidak lebih."
"Tapi, Bu," Yuana yang selalu berusaha meminimalisir berdekatan dengan Ilham, ini malah harus menjadi asisten pribadinya. Tentu saja ia menjadi gamang, akan seperti apa dia jika Ilham bakal membuayainya seperti dalam setiap pertemuan mereka beberapa kali ini.
"Bantu ibu, ya. Sementara saja, sampai Ilham menemukan orang yang dia rasa cocok."
Buah simalakama bagi Yuana, jika menerima maka ia harus mempersiapkan mentalnya sekuat mungkin untuk selalu menghadapi Ilham. Dari cerita Rima, bahwa Ilham sangat tidak suka ada orang yang memasuki wilayah pribadinya tanpa seizinnya.
Apalagi ini menjadi asisten pribadi yang sepertinya pasti akan mengusik wilayah bahkan kehidupan pribadinya. Sudah seperti anak rusa yang harus menghadapi seekor singa rasanya.
Sementara jika menolak, ia tidak tega dan tidak enak hati melihat Bu Fatma yang memohon seperti ini. Bukankah ini juga merupakan kesempatannya untuk membalas kebaikan keluarga ini kepadanya selama ini.
Sambil berpikir, Yuana mengalihkan pandangannya pada Arief, asisten Ilham yang selalu bisa diandalkan sebagaimana Pak Hadi selama ini, pasti sangat mengenal kepribadian Ilham. Melihat Arief mengangguk pasti, Yuana menafsirkan bahwa Arief menjamin semua akan baik-baik saja.
Lalu melihat kembali ke Bu Fatma yang juga masih berbinar penuh harap menatapnya. Melirik takut-takut ke arah atas tangga di mana kamar Ilham berada, biasanya biasa saja, tapi kenapa sekarang aura horor begitu nampak terlihat seolah ingin menelannya?
Bu Fatma mempererat genggaman tangannya, menyalurkan rasa hangat yang menjalar sampai ke sanubarinya. Memberi kekuatan untuk mengambil keputusan yang tepat untuk dirinya, untuk Bu Fatma sekeluarga, terutama untuk Ilham.
"Baik, Bu. Akan Yuana coba."
Seketika terdengar helaan nafas lega dari Bu Fatma dan Arief.
Sementara itu, Ilham yang telah menyelesaikan sholat ashar berjalan menuju balkon. Melongok melihat ke bawah ke arah teras paviliun, terlihat hanya ada Rima dan Nabila yang sedang membolak balik sepatu barunya.
"Dia tidak ingat atau tidak peduli dengan handphonenya? Dasar ceroboh."
Karena dirasa Yuana tak akan muncul, Ilham pun akhirnya masuk kembali ke dalam kamar. Mengambil handphonenya sendiri lalu membaringkan punggungnya di kasur.
Membuka menu galeri dan melihat banyak sekali foto yang diam-diam dia ambil ketika berjalan-jalan di mall tadi. Tak ada foto yang menampakkan wajah dengan jelas. Ilham memang sengaja berjalan sedikit melambat, selain karena sambil menuntun Nabila juga karena ingin memberi ruang dan untuk mengetahui bagaimana kedekatan Yuana dan ibunya.
"Hah... Dia sama sekali tak pernah memandangku, bahkan di saat aku sedang bersama anaknya," Ilham hanya bisa tersenyum kecut menyadari posisinya saat ini di mata Yuana. Sepertinya ia memang harus bekerja keras untuk bisa membuat seorang Yuana memandangnya.
Di saat sedang asyik menggulir layar handphone, ia dikagetkan dengan suara telepon di atas nakas. Ia pun bangkit duduk untuk melihatnya.
Mas Arief
📞
Dipandangi saja layar handphone dengan tulisan nama Arief itu sampai suara panggilan berhenti. Tak sudi ia mengangkatnya, biarkan saja, memangnya ada keperluan apa Si Arief dengan Yuana.
"Apa Arief mau menikungku? Bikin kesal saja."
Ketika layar handphone Yuana mati, Ilham menekan tombol power. Dibacanya tulisan kaligrafi yang terpampang di situ.
"Al hubbu laa ya'rifu ayya qoonuun."
Diulang-ulang sampai layar menjadi gelap lagi. Ditekan kembali tombol powernya. Dibaca lagi, berulang-ulang lagi.
Sebuah panggilan masuk, mengejutkannya lagi. Terlihat tulisan 'Mas Arief' lagi. Ditekan dan digesernya tombol telepon ke arah kiri. Lalu membuka laci nakas dan memasukkan handphone yang ia pegang itu dengan layar menghadap ke bawah. Lalu menutup laci itu dengan kasar.
__ADS_1