HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 17 HASIL BIOPSI


__ADS_3

Setelah memastikan Yuana masuk ruang ICU, Annisa bergegas menuju ruangan dokter Yusuf. Selain ingin mengetahui kondisi medis kakaknya, ada hal lain yang membuat Annisa penasaran dan harus menanyakan langsung pada dokter Yusuf.


Dokter Yusuf yang baru saja meletakkan gagang pesawat telepon di mejanya, menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara ketukan.


"Masuk!" seru dokter yang saat ini memakai kemeja lengan panjang warna soft blue itu sambil memperbaiki posisi duduknya. Ketika mengetahui Annisa yang masuk, ia tersenyum dan melepas kacamata yang ia pakai dan meletakkannya di meja.


"Ning manis... apa kabar?" sapanya dengan senyuman lebar.


"Annisa, Dok... Annisa! Kebiasaan deh... Saya ke sini mau menanyakan soal Mas Ilham, apa yang sebenarnya terjadi padanya? Apa yang membuatnya koma lagi?" cecar Annisa pada dokter tampan di depannya itu. Dan dokter Yusuf tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Salam dulu kek... ketemu orang ganteng gini langsung aja nyerocos."


"Iiish... Dok, saya nanya baik-baik ya?" lanjut Annisa karena dokter Yusuf tidak kunjung menjawabnya.


"Kamu ini, tetep aja dari dulu... uda punya dua anak tetep aja ndak sabaran."


"Trus... kalau emang ganteng, kenapa dokter tetep jones?" Annisa yang sudah mengenal dokter Yusuf dengan baik itu mencoba balas menyindir dokter tersebut. Annisa mengenalnya karena dokter Yusuf sering ke rumahnya sejak masa masih SMA untuk belajar bersama Rahmat, kakak pertama Annisa, yang merupakan teman sekelasnya dokter Yusuf.


"Cks... Masmu kena sirosis hati, gagal hati akibat adiktif alkohol berlebihan. Kami sedang mengupayakan meminimalisir kegagalannya, sebelum..." dokter Yusuf memilih menjawab langsung pada inti pertanyaan Annisa dan ia menghela nafasnya sebentar sebelum melanjutkan "sebelum diputuskan harus transplantasi atau tidak."


"Segitu kah bahayanya minum alkohol? Kenapa teman-teman Kak Zein baik-baik saja, banyak yang hampir tiap hari minum malah. Dokter Yusuf dulu juga minum kan? Kenapa kalau Mas Ilham bisa sampai koma?" Annisa terus saja mencecar.


"Ilham saat ini tidak koma, ia mengalami somnolensia tapi entah kenapa ia tak merespon suara ibu. Padahal ia bisa merespon panggilanku juga dokter Sinta."


"Somnolensia?"


"Somnolensia atau hipersomnia... Ilham hanya tidur dan tidak dapat menahan kantuk. Harusnya masih bisa dirangsang untuk bangun meskipun sebentar-sebentar," dokter Yusuf mengamati respon Annisa saat ia menjelaskan.


"Untuk sirosis hati yang dialami kakakmu, sebaiknya dijelaskan langsung oleh Prof. Diyono saja. Ruangannya di lantai dua, ayo saya antar... mumpung ada sedikit waktu," ucap dokter Yusuf kemudian.

__ADS_1


"Tidak perlu Dok... cukup jelaskan garis besarnya saja. Saya percaya sama dokter Yusuf," Annisa yang tidak sabar ingin segera mengetahui kondisi kakaknya walaupun hanya garis besarnya saja.


"Tapi saya tidak yakin... kamu bakal puas dengan penjelasan saya nanti," sungut dokter Yusuf yang hafal dengan sikap Annisa padanya setiap ia berkunjung setiap Rahmat datang dulu.


"Haiiish... dokter... ini kan di rumah sakit, gak bakalan deh aku banyak ngomong kayak di rumah. Asal dokter njelasinnya pake bahasa yang aku bisa paham," kilah Annisa.


"Oke...oke... simak baik-baik yaa, soalnya saya gak akan ulang dua kali," kata dokter Yusuf sambil tersenyum dengan merapatkan bibir dan mengangkat alisnya. Annisa memutar bola matanya sekilas, "iyaaa... saya simak dengan baik ini," ucapnya sambil memajukan badannya dan menyandarkan kedua tangannya ke atas meja.


"Sebelumnya Ilham mengalami fatty liver, banyak lemak dalam hatinya karena pernah obesitas. Fatty liver ini tidak bisa diobati, hanya saja selama nutrisi terjaga masih bisa terkontrol. Tapi... kasus overdosis yang bikin kakakmu koma dulu itu, memperparah kondisi hatinya. Yang saya heran, selama kontrol ke sini, kakakmu baik-baik saja. Kontrol terakhir bulan lalu... eh hampir dua bulan yang lalu sih, kakakmu dalam kondisi prima kok, jauh lebih baik malahan. Kok sekarang jadi makin parah gini...adiktif alkohol pula. Sejak kapan kakakmu mengkonsumsi alkohol?"


"Sepertinya sejak terakhir ke Singapura itu... sejak ia melihat Cathrine sama Robert," dengus Annisa menyebut dua nama yang ia benci itu.


"Masih berkeliaran mereka? Belum tertangkap? Memang lihat di mana?"


"Kurang tau juga sih... soalnya dari cerita Kak Zein pas nyusul Mas Ilham ke club, Mas Ilham bilang habis melihat istri sama managernya gitu. Sepertinya mereka berdua lari ke luar negeri deh," jelas Annisa.


"Balik ke negaranya maybe, belum istrinya kaliii... kan waktu itu tidak sah pernikahannya," celetuk dokter Yusuf.


"Sepertinya Ilham mengkonsumsi alkohol secara berlebihan dan terus-terusan. Akibatnya ia mengalami sirosis alkoholik... alias kegagalan hati akibat alkohol. Dan sekarang tinggal menunggu hasil biopsi untuk memutuskan akan dilakukan transplantasi atau tidak. Mungkin itu saja yang bisa saya jelaskan... sekarang, coba Annisa ajak ngobrol Ilham, siapa tahu mau bangun kakakmu itu."


"Baik... makasih yaa dokter ganteng idola emak-emak sejagat. Assalamu´alaikum, saya permisi dulu... belum melihat Mas Ilham," pamit Annisa sambil memamerkan deretan gigi putihnya.


"Wa´alaikum salam," jawab dokter Yusuf sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah melihat Annisa keluar melewati pintu ruangannya, ia melihat layar di laptopnya yang menampilkan monitor CCTV ruang ICU. Tampak bahwa dokter Sinta sedang memeriksa Amar dan Yuana berdiri di dekatnya.


"Actually, when you close to him, I am jealous, Yuana. But, I am remember, I am not anyone. Aku tahu ini salah... tapi, bolehkah aku mencintaimu dalam diam"


Tiba-tiba Annisa datang lagi mengejutkan dokter Yusuf, sampai pena yang ia pegang terjatuh ke lantai, karena tanpa ia sadari Annisa sudah berdiri di depan mejanya.


"Maaf Dok... tapi ada lagi yang ingin saya tanyakan," ucap Annisa ketika dokter Yusuf menatapnya.

__ADS_1


"Sudah saya jelaskan yang bisa saya jelaskan. Kalau ingin tahu lebih detailnya, silahkan menemui Profesor Diyono saja," sahut dokter Yusuf.


"Soal yang lain Dok... agak pribadi sih," imbuh perempuan berkerudung pasmina yang warnanya senada dengan outer dan kulot yang ia pakai itu.


"Hmm..."


"Apa...emm... itu... Yuu... Yuana yang sama?" tanya Annisa dengan pelan dan terbata.


Dokter Yusuf terkejut dengan pertanyaan Annisa. Langsung ia beranjak berdiri kemudian sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah Annisa.


Annisa sampai harus memundurkan kepalanya dan kemudian membelalakkan matanya ketika dokter Yusuf dengan ketus menjawab, "KE... PO!"


Annisa pun mencebikkan bibirnya dan melengos pergi.


Sedangkan dokter Yusuf tergelak melihat reaksi Annisa, namun sesaat lalu ia terdiam mengeratkan rahangnya, menarik nafas dan membuangnya kasar.


truut... truut...


Suara pesawat telepon di meja mengalihkan perhatiannya. Dokter Yusuf kembali duduk dan mengangkat gagang telepon lalu mendekatkan ke telinganya.


"Hallo..."


"Hallo Dok... pesan dari Profesor, kalau hasil biopsi pasien Ilham sudah keluar," suara seorang perempuan dari seberang telepon. Sepertinya suara asisten Profesor Diyono.


"Baik... saya ke sana sekarang," jawab dokter Yusuf yang langsung meletakkan gagang telepon ke tempatnya sehingga sambungan telepon menjadi terputus.


Diraihnya jas putih yang ia gantung di belakang sandaran kursinya lalu memakainya sambil melangkah keluar ruangan.


"Kita harus mencari pendonor yang tepat dengan segera. Lihatlah... ini sudah tidak bisa tertolong lagi," ucap Profesor Diyono pada dokter Yusuf. Saat ini mereka berdua duduk di sofa dalam ruang kerja profesor sambil memperhatikan data hasil biopsi hati Ilham.

__ADS_1


"Baik Prof... saya akan bicara dengan keluarganya, siapa tahu ada anggota keluarga yang bersedia menjadi pendonor." Dokter Yusuf pun teringat dengan Annisa yang baru saja menemuinya. 'Pasti Annisa sekarang sedang di ruang ICU. Apakah dia juga masih ada di sana?' batinnya.


__ADS_2