HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 69 PAPI... MAMI...


__ADS_3

"Mas Ilham punya teman di Madinah, Bu? Kok Mas Ilham tidak cerita ya? Orang Arab asli, Bu? Laki-laki apa perempuan?" cecar Yuana namun cepat-cepat menutup mulutnya karena merasa keceplosan.


Bu Fatma tersenyum sumringah melihat Yuana yang bertanya mencecarnya, karena dengan begitu ia menjadi tahu jika Yuana sebenarnya sudah ada sedikit rasa kepada Ilham. Entah rasa khawatir atau... cemburu mungkin?


"Bukan orang Arab, orang Indonesia juga tapi domisili di sini. Laki-laki dan perempuan, mereka suami istri. Tenang saja, Ilham itu tipikal orang yang setia, tidak akan macam-macam."


Yuana menjadi salah tingkah dan malu sendiri sekaligus lega mendengar jawaban Bu Fatma yang memang sengaja menggodanya dengan menepuk-nepuk lengannya.


Untung saja rombongan sudah berjalan keluar dari hotel, sehingga Yuana bisa segera menutupi rasa malunya karena terkesan seperti seorang gadis yang sedang mencemburui kekasihnya. Padahal ia kan bukan siapa-siapanya Ilham, hanya seorang asisten pribadi saja.


Pagi ini di saat jamaah pergi menghadiri majlis taklim salah satu ulama besar Madinah, Ilham justru pergi ke ahya Al Jumuah, distrik tempat Jacob dan Linda tinggal.


Ini adalah rencana urutan kesekian dari daftar rencana yang ia susun ketika masih di tanah air. Begitu mendengar bahwa Bu Fatma mengetahui informasi keberadaan Jacob dan Linda, kemudian Ustadz Al mengatakan bahwa mereka berdomisili di Madinah, maka di sinilah sekarang ia berada.


Bibirnya tidak berhenti bersholawat, menengadah menyandarkan kepala di sandaran bangku penumpang sebuah taksi. Di tengah perjalanan, sebuah pesan masuk di handphonenya.


'Mas Ilham, ada tamu yang mengaku kakek dan neneknya Yuana. Bagaimana ini?'


'Apakah mereka dari keluarga Tanoewidjaya?' sent


Pikiran Ilham langsung tertuju kepada sosok Ferry Tanoewidjaya.


'Iya, mereka juga menanyakan apakah benar Yuana sedang umroh bersama dokter Joseph.'


'Apa mereka membuat ulah?' sent


'Tidak, mereka hanya menangis ingin bertemu Yuana, sekarang lagi ditenangkan sama mas Arief. Kasihan lihatnya, Mas.'


'Bilang saja, Yuana sedang umroh, mohon doa restunya.' sent


'Ya, Mas.'


'Doakan usaha kita berhasil, Nis.' sent


Mematikan handphone dan memasukkannya kembali ke dalam cluth. Ilham semakin yakin dengan langkah yang ia ambil, ia tidak akan pernah menyerah kali ini. Seandainya hari ini ia gagal, besok ia masih memiliki rencana pamungkas. Ia berharap kapergiannya sekarang menemui Jacob bisa mendapatkan hasil.


Kemarin pagi ia juga menyempatkan diri pergi ke ruko penjual barang-barang asli Indonesia itu demi berkenalan dengan Jacob, memperkenalkan diri lebih tepatnya. Namun ia tidak menyebut nama Yuana sama sekali.


Dan hari ini ia kembali ke sana untuk menyampaikan suatu hal yang berkaitan dengan Yuana.


Tepat ketika taksi yang dinaiki Ilham berhenti di depan ruko, di lain tempat Yuana sedang memasuki sebuah ruangan yang luas seperti aula yang disekat tengahnya bersama rombongan jamaah perempuan. Sedangkan jamaah laki-laki masuk melalui sisi yang lain.


Dalam aula tersebut sudah hadir terlebih dahulu beberapa rombongan jamaah yang lain, yang ternyata sama-sama jamaah dari Indonesia, terlihat dari masing-masing rombongan yang memakai atributnya masing-masing, seperti halnya seragam jamaah yang dipakai oleh Yuana.


Pembacaan maulid simtudduror baru saja dimulai, meskipun tanpa pengeras suara namun terasa sangat syahdu menggema di seluruh ruangan.


"Beliau asli orang Indonesia lho, pernah menjadi imam besar di masjid Nabawi juga. Perjuangan beliau di sini juga tidak mudah, karena berbeda madzhab dengan imam yang lain, apalagi mayoritas di sini mengikuti aliran wahabi walaupun madzhab resminya madzhab Hambali, ya kan?" bisik-bisik gadis sebaya Yuana yang duduk di belakangnya.


"Iya, untung saja sekarang Mohammed bin Salman membuat dobrakan baru, Arab Saudi jadi lebih open minded," balas rekan satunya lagi.


"Yaa, jaman kan memang selalu berubah. Meskipun tetap saja selalu ada kekurangan dan kelebihan."


"Iya, yang penting kita bisa beribadah dengan tenang dan khusyuk."

__ADS_1


Yuana yang mendengar bisik-bisik rekan satu rombongannya itu hanya bisa mendengarkan saja, karena ia sendiri sedang memyempatkan berbalas pesan dengan Annisa, menanyakan kabar Nabila.


Setelah memberitahu kabar Nabila dan keadaan rumah serta hal lainnya, Annisa mengirimkan beberapa foto. Namun belum sempat Yuana mengunduh foto-foto itu, terdengar ucapan salam dari pengeras suara yang menandakan bahwa sang syekh yakni Syekh Fatah sudah datang dan kajian hendak dimulai.


Dan benar saja, di sebuah layar besar sudah ditayangkan secara langsung Syekh Fatah yang duduk di podium kecil sedang membuka sebuah kitab.


Seluruh ruangan aula seketika hening setelah menjawab ucapan salam tadi, semua sedang menunggu Syekh Fatah memulai kajiannya. Yuana cepat-cepat mematikan handphone dan memasukkannya ke dalam tas, serta mengambil sebuah notes.


Kajian khusus berbahasa Indonesia ini diadakan sekali setiap minggunya, yang dihadiri oleh jamaah umroh dari tanah air dan beberapa negara asia tenggara yang bisa memahami bahasa Indonesia.


Saat memulai kajian, sang syeikh meminta salah satu santrinya untuk membacakan Qur'an Surat Al Ahqaf ayat satu hingga sembilan belas berikut terjemahannya.


Rupanya kajian kali ini membahas kitab Birru Al Walidaini karangan Imam Abdillah Muhammad bin Ibrahim bin Ismail bin Ibrahim Al Bukhari atau yang biasa disebut Imam Bukhari.


Kitab yang berisi sebanyak tujuh puluh enam hadits yang semuanya menjelaskan tentang pentingnya berbakti kepada kedua orang tua.


Semua hadirin menyimak kajian dengan penuh hikmat, tak ada satu orang pun yang berbicara sendiri selama kajian. Adab menghadiri majelis ilmu memang harus benar-benar dijaga agar Allah Subhanahu wa Ta'ala memudahkan kita menerima ilmu itu.


Kajian pun dimulai.


Ibnu Mas’ud bertanya kepada Rasulullah Saw, "wahai Rasulullah Shollahu 'alaihi wa Salam, amalan apa yang paling disukai Allah Subhanahu wa Ta'ala?”


Rasulullah Saw pun menjawab, "shalat pada waktunya."


"Kemudian, apalagi ya Rasulullah?”


"Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.”


"Kemudian apalagi Rasulullah?"


"Keutamaan berbakti kepada orang tua itu sama dengan berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala.”


Tutur Syekh Fatah yang berasal dari Indonesia bagian tengah itu.


Melanjutkan materi, menceritakan tentang Uais Al Qorni, seorang tabi’in asal Yaman, berniat pergi ke Madinah untuk bertemu dengan Nabi Muhammad Saw. Sesampainya di Madinah, keinginannya pun kandas, karena Nabi Saw tidak ada di sana. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali pulang, karena ibunya sedang sakit. Selain hal ini, Uais juga rela menggendong ibunya dari Yaman ke Mekkah, hanya untuk memenuhi keinginan ibunya berhaji. Rasa sayangnya telah membuat ia lebih mengutamakan ibunya, dibanding keinginannya sendiri. Karena itu Uais menyandang predikat Tabi’in paling mulia di masanya dan menjadi pemuda yang namanya masyhur di langit. Jelas Syekh Fatah.


Berbakti kepada kedua orang tua tetap wajib hukumnya meskipun berbeda keyakinan. Sebagaimana yang dilakukan oleh Sa’ad bin Abi Waqqosh. Ia rela tidak makan selama tiga hari hanya karena ibunya menyuruh untuk keluar dari agama Islam.


"Karena itu berbaktilah kepada orang tua, sekalipun mereka bukan Muslim. Selagi mereka tidak menyuruh untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala."


Dokter Yusuf termangu selama mendengar penuturan dari Syekh Fatah, ia teringat kepada kedua orang tua yang selama ini merawat dan mendidiknya itu masih memeluk keyakinannya yang lama. Papah Rudi dan Mamah Mei. Tak sadar air mata mulai menggenang di pelupuknya, berkaca-kaca. Bukakanlah pintu hidayah untuk mereka, Yaa Allah. Pekik hati dokter Yusuf.


Ustadz Al yang kebetulan duduk di sebelahnya, menepuk-nepuk bahu dokter Yusuf. Membuat dokter Yusuf tersadar dan mengusap kedua matanya.


Tak jauh berbeda dengan dokter Yusuf, Yuana pun demikian. Bahkan air mata tidak saja menggenang, melainkan sudah mengalir tiada henti selama mendengar penuturan Syekh Fatah.


Namun ia bersyukur memiliki dua orang tua yang mengajarkannya tentang Islam, yakni Ayah Bram dan Bu Suci. Ia juga bersyukur orang tua kandung yang belum pernah ia temui hingga saat ini ternyata adalah orang-orang terpilih yang mendapat hidayah cahaya Islam.


Sebelum mengakhiri kajian, Syekh Fatah mempersilahkan hadirin yang ingin menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan penjabaran dalam kajian tadi.


Kemudian ada seorang dari jamaah laki-laki yang bertanya. Dirinya adalah seorang anak angkat dari sepasang suami istri yang menemukan bayi dalam kardus di ujung gang. Ketika ia dewasa, akhirnya ia bisa menemukan siapa ibu kandungnya. Namun sampai saat ini perempuan yang diketahui adalah ibu kandungnya itu tidak mau mengakuinya, karena dirinya adalah aib, terlahir jauh sebelum ibunya hidup berumah tangga. Apakah ia masih memiliki kewajiban untuk berbakti kepada ibu kandungnya tersebut?


"Seseorang wajib untuk berbakti kepada orang tuanya, meski orang tuanya lalai, sembrono, dan tidak perduli dalam perawatan dan pendidikan anaknya," jawab Syekh Fatah yang kemudian menukil ayat Qur'an Surat Luqman ayat lima belas yang menyebutkan bahwa kekafiran sekalipun, yang merupakan kejahatan dan dosa lainnya yang lebih besar dari sikap menelantarkan anak, tidak bisa menggugurkan kewajiban anak untuk berbakti.

__ADS_1


Dengan begitu, perbuatan menelantarkan anak tidak bisa menggugurkan kewajiban berbakti dan berbuat baik kepada orang tua. Kelalaian orang tua melaksanakan kewajiban merawat dan mendidik anak, kelak akan ada pertanggungjawabannya. Sedangkan berbakti kepada orang tua adalah kewajiban seorang anak yang tidak ada hubungannya dengan kewajiban orang tua tadi. Masing-masing berdiri sendiri dengan pertanggungjawaban sendiri-sendiri pula.


"Jadi tetaplah menjadi anak yang berbakti dengan cara yang kita bisa, dengan cara yang tidak sampai menyakiti hatinya. Teruslah mendoakan kebahagiaannya dan maafkan segala kesalahannya. Sedangkan kepada orang tua angkat, meski hak orang tua atas anaknya lebih besar dari hak orang tua angkat. Sudah selaiknya kita berbuat baik kepada orang yang merawat kita dari kecil, sebagai bentuk rasa terima kasih atas jasanya yang besar."


Yuana, yang semula mengira dirinya sudah sebatangkara sejak kepergian orang tua dan juga suaminya, setelah mendengar penuturan dari Syekh Fatah jadi semakin ingin bertemu dengan kedua orang tua kandungnya.


Ia berjanji sepulang dari umroh akan berusaha keras untuk menemukan keberadaan orang tua kandungnya. Seberapapun berbahayanya, ia akan berusaha menghadapi dengan segala resikonya. Lagipula ada Kak Jo yang pasti bersedia mencari mereka bersama-sama.


Yuana, yang semula mengira dirinya dan Kak Jo adalah saudara satu ibu yang sama-sama terlahir dari hasil perselingkuhan, namun ternyata sama-sama memiliki orang tua kandung yang sah, tentu saja merasa lega dan bahagia.


Ia mencoba memahami bahwa ada alasan yang kuat sehingga orang tua kandungnya harus memisahkan dan meninggalkan mereka dahulu. Dan apapun alasan itu, ia ingin bertemu dan berkumpul kembali sebagaimana keluarga yang seharusnya.


"Percayalah, kamu pasti akan bertemu dengan orang tua kandungmu dan berkesempatan untuk berbakti kepada mereka," ucap Bu Fatma yang tiba-tiba menggamit tangan kiri Yuana dan menggenggamnya.


"Terima kasih, Bu. Bu Fatma juga orang tua Yuana sekarang, izinkan Yuana juga bisa berbakti kepada Ibu juga," jawab haru Yuana karena merasa bahwa Bu Fatma bisa memahami perasaan dan pikirannya saat ini.


"Tentu saja, makanya segera jadi menantu ibu, ya?" seloroh Bu Fatma meskipun dalam hatinya ia serius dengan ucapannya, dan itu cukup membuat pipi Yuana memerah karena malu.


Dan ternyata kajian masih berlanjut dengan pertanyaan kedua dari jamaah yang lain, ketika seseorang membisikkan sesuatu kepada Ustadz Al yang kemudian mengangguk-angguk mendengarkan.


Sementara dokter Yusuf yang tercenung pada jawaban Syekh Fatah tadi tidak mendengar suara Ustadz Al yang memanggil-manggil namanya setelah orang yang berbisik tadi undur diri.


"Kita harus masuk ke rumah Syekh Fatah, ada yang minta bertemu dengan Nak Dokter," tepukan tangan Ustadz Al di bahunya cukup mengejutkan dokter Yusuf, apalagi mendengar ada yang ingin bertemu dengannya di rumah Syekh Fatah.


Memangnya siapa yang ingin bertemu dengannya? Apalagi di rumah seorang syekh besar di kota Madinah ini. Ia sama sekali tidak bisa menerka siapa gerangan.


Dokter Yusuf mengikuti Ustadz Al yang berjalan mendahuluinya menuju rumah Syekh Fatah yang berada tepat di samping aula besar tadi, namun tak terlihat dari luar karena tertutup pagar tembok yang cukup tinggi.


Hingga ia masuk ke dalam ruangan yang cukup sejuk dan beraroma bakaran bukhur gaharu yang lembut. Ruangan dengan sofa lesehan yang mengelilingi karpet hijau yang terlihat cukup nyaman, dan ada beberapa orang yang duduk, memandang ke arahnya.


Pandangan dokter Yusuf seolah terseret ke kenangan masa kecil, masa kecil yang bahkan sudah terlupakan sekian tahun.


Di sebuah taman bunga berumput hijau.


"Joseph... sini sayang," panggil seorang perempuan berambut hitam lurus sebahu.


Kemudian ia turun dari seorang lelaki yang memanggul menggendongnya.


Joseph kecil pun berlari-lari kecil menghampiri perempuan itu, bahkan ia bisa merasakan bahkan ia berlari sambil tertawa-tawa.


Namun perhatiannya teralihkan kepada dua ekor kupu-kupu yang terbang beriringan seolah menari melewatinya menuju tanaman bunga yang tumbuh berjajar di tepian taman berumput hijau.


Ia pun berlarian berusaha mengejar kupu-kupu tersebut.


"Joseph..." terdengar lagi perempuan itu memanggilnya lagi.


Joseph kecil menoleh ke arah sumber suara. Perempuan yang memanggilnya dan lelaki yang menggendongnya tadi sudah duduk di atas tikar dengan beberapa kudapan tersaji di hadapannya.


Joseph kecil berlonjak-lonjak lalu berlari kecil ke arah tikar digelar. Saking senangnya, tak sengaja kaki kanannya tersangkut kaki kiri, keserimpet, hingga terjatuh ke rumput Manila yang terawat dengan baik.


Untungnya tidak sampai tersungkur karena seseorang menangkap tubuhnya dan kemudian menggendongnya.


"Joseph ikut kami jalan-jalan, kalian diminta menemui papa dan mama sekarang," ucap orang itu kepada dua orang yang duduk di tikar tadi.

__ADS_1


Joseph kecil yang bingung kenapa ia dibawa pergi, hanya bisa menatap masygul.


"Papi... Mami..."


__ADS_2