HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 33 ANAK BARU


__ADS_3

Sudah lebih dari satu tahun, dokter Yusuf tidak pernah mengunjungi orang tuanya. Terbersit sedikit rasa bersalah dalam hatinya. Memang ada banyak alasan kenapa ia tak pernah pulang, tapi bukankah itu hanya alasan?


Dan akhirnya kini ia berada di dalam kamar yang sudah lama tidak ia tempati. Kamar yang tatanannya masih sama sejak ia kuliah kedokteran, bahkan pernak-pernik di atas meja belajarnya pun tak ada yang berpindah tempat.


Hanya ada tambahan sebuah wall folding table yang terpasang di sudut kamar di depan ia melaksanakan sholat subuh barusan. Meja kecil yang tergantung di sudut dinding untuk menyimpan peralatan sholat seperti yang baru saja ia lipat dan simpan di atasnya. Sebuah sarung, peci haji dan sajadah yang masih baru namun tercium wangi pelembut pakaian.


Sejak mengetahui bahwa anak semata wayangnya memutuskan menjadi mualaf, mamah Mei berinisiatif membelikan peralatan sholat untuknya. Agar jika sewaktu-waktu anaknya pulang, tidak akan kesulitan untuk beribadah. Meskipun masih mengikuti kepercayaan nenek moyangnya tapi beliau sangat mendukung keputusan anaknya itu.


Beruntung rumah tinggal mereka berada di lingkungan muslim yang bahkan mayoritas tetangganya adalah keluarga muslim, bahkan ada yang merupakan ulama yang menjadi jujukan para peziarah makam waliyullah tak jauh dari lingkungan tempat tinggalnya itu.


Sehingga mamah Mei bisa dengan mudah mencari informasi tentang persyaratan dan perlengkapan sholat untuk anaknya.


"Chyou... ayo ciak sama-sama. Mamah bikin nasi goreng sukaane kamu," mamah Mei yang mengintip dari pintu kamar, segera mengajak dokter Yusuf untuk sarapan bersama begitu melihat anaknya selesai menjalankan sholat.


Dokter Yusuf tersenyum mendengar nama Chyou dipanggil. Hanya mamah dan engkongnya yang memanggilnya dengan nama kecilnya, Chyou Feng Lin. Nama pemberian dari kakek pihak ibu yang biasa ia panggil engkong.


"Selamat pagi, Jo... ayo sini sarapan. Ini tumbenan mamah bikin nasi goreng, biasanya pohong godog aja, haha... ayo makan... makan," sapa papah Rudi Wijaya, ayah dari dokter Yusuf.


"Pagi juga, Pah. Yang penting kebutuhan nutrisi sehari-hari harus seimbang. Banyakin sayur dan buah, usahakan yang sudah dimasak. Mamah, Papah harus bisa menjaga kesehatan, Yusuf tidak bisa sering-sering datang," dokter Yusuf menggenggam tangan ayah dan ibunya dengan tangan kanan dan kirinya.


"Makane kamu segera nikah, Chyou. Jangan kerja tok ae yang dipiki. Kasih mamahmu ini cucu. Liak en Suk Jimmy, uwes punya cucu tiga, Encim malah uwes lima. Mek mamah tok ini yang belum punya cucu deweq," seperti mendapat kesempatan, mamah Mei langsung mengungkapkan harapannya pada anak satu-satunya itu.


"Justru itu Yusuf ke sini Mah... Mah, Pah... Yusuf mohon doa restu, Yusuf hendak ndeketin Yuana lagi."


"Jo!"


"Maksudmu apa Chyou... kamu mau ganggu bojoe orang gitu. Ndak... ndak... mamah ndak setuju. Masih banyak gadis yang mau sama kamu, kenapa kamu terus uber-uber bojoe orang. Liak en Lina anak e Cik Yen, uwes suwe suka sama kamu. Sripa sapa iku namae... yang anak e Oyek di gang depan iku, juga suka sama kamu. Karuan sama si Yati, ewange papah ndek toko."


"Mah... jangan begitu. Kasih kesempatan Jo buat jelasin," papah Rudi yang sempat terkejut dengan niatan anaknya itu mencoba untuk mengerti, "apa yang bisa papah bantu, Jo?"


"Tapi Pah... ini Yuana! Dekne uwes nikah, pasti juga uwes punya anak. Jangan ganggu kebahagiaane Yuana ya Chyou... mamah mohon."


"Amar... pasien Yusuf, suami Yuana sudah meninggal. Seharusnya kalau tidak salah minggu ini sudah lepas masa iddahnya."


"Kamu?" papah Rudi menatap sangsi pada dokter Yusuf.


"Tidak Pah... Yusuf sudah berusaha, hanya saja kecelakaan itu menyebabkan Amar mengalami gegar otak tidak ringan, terkena batang otak, harapan untuk bisa diselamatkan sangat kecil."


"Ya sudah, selamat berjuang. Kalo butuh bantuan papah, bilang saja. Feeling papah, tidak akan mudah. Papah berangkat dulu, harus segera buka toko," papah Rudi berdiri sambil menepuk bahu dokter Yusuf.


"Terima kasih, Pah. Yusuf juga sekalian pamit," Yusuf pun ikut bangkit dan mengekor papahnya keluar rumah. Setelah papah Rudi berangkat, ia pun berpamitan pada mamah Mei.


"Bentar temen kamu pulange Chyou, katae libur, ini pagi-pagi kok sudah pigi balik," mamah Mei seolah keberatan dengan kepergian anak yang selalu dirindukannya itu.


"Iya, Mah. Yusuf mau nglepas Ilham terapi ke pesantren, soalnya masih tergantung obat juga. Yusuf harus memastikan dia mendapat yang terbaik."

__ADS_1


"Ilham yang adik e Rahmat iku, yang dulu penah koma?" dijawab anggukan oleh dokter Yusuf, "titip salam sama bu Fatma ya, kasian dekne digudo anak segitue."


"Iya Mah... nanti Yusuf sampaikan. Mamah jaga kesehatan ya, Yusuf pamit dulu," ucap dokter Yusuf sambil mencium punggung tangan mamahnya dengan takzim kemudian memeluk dan mencium keningnya.


Mamah Mei sangat terharu, anaknya semakin menunjukkan kebaikan akhlaknya sejak menjadi mualaf. Anak semata wayang yang dulunya sangat cuek sekarang lebih hangat dan perhatian.


Dengan berkaca-kaca, mamah Mei memandang kendaraan beroda empat yang dikemudikan dokter Yusuf hingga tak tampak lagi setelah berbelok keluar gang menuju jalan raya. Kemudian ia bergegas masuk ke dalam rumah, menutup pintu seraya memegang dadanya.


Ada satu kekhawatiran yang ia rasakan mengingat niatan anaknya untuk mendekati Yuana lagi. Bukan tentang Yuana yang ia khawatirkan, karena ia sendiripun sebenarnya sayang kepada Yuana. Melainkan gadis lain yang ia tahu sangat terobsesi pada dokter Yusuf, Lina.


Baru saja ia hendak melangkah ke dalam rumah, terdengar suara seorang gadis setengah berteriak memanggilnya. Ketika ia hendak membuka pintu, tiba-tiba pintu itu sudah terbuka dari luar oleh gadis itu. Ternyata Lina, sungguh panjang umur pikirnya.


"Cik Mei! Cik Mei... katae mamah, koh Joseph dateng ya. Mana? Lagi ndek kamar ya. Kalo gitu, Lin ke atas duluan ya Cik," tanpa menunggu mamah Mei menjawab, Lina sudah berlari menaiki tangga yang terbuat dari kayu itu.


Mamah Mei pun hanya bisa memandang gadis yang hanya memakai hot pant dan tank top itu dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Suara hentakan sepatu kets yang beradu dengan anak tangga terdengar melemah dibanding awal gadis itu naik.


"Cik Mei kenapa ndak ngomong sama Lina kemaren, tau gitu kan semalem Lin ke sinie," dengan menunduk lesu Lina berjalan gontai ke luar rumah, bahkan tanpa berpamitan, ia langsung menaiki motor maticnya dan melajukannya meninggalkan mamah Mei yang terbengong menyaksikannnya.


~


Hari sudah melewati tengah hari ketika Rahmat keluar dari musholla rumah sakit, berpapasan dengan dokter Yusuf yang hendak sholat dhuhur.


"Gimana? Ilham sudah siap?"


"Okey... tunggu aku sholat dulu, setelah itu kita berangkat."


Rahmat pun berlalu menuju kamar tempat Ilham yangp selama sebulan ini di rawat, dilihatnya bu Fatma sedang menutup resleting koper lalu meletakkan koper ke samping sofa.


"Mana Ilham, Ummah? Semua sudah beres, tinggal nunggu Yusuf saja, sedang sholat dia," tanya Rahmat ketika menyadari Ilham tidak terlihat dalam kamar sambil duduk di sofa bersebelahan dengan ibunya itu.


"Ilham di kamar mandi, baruu saja... sakit perut katanya. Syukur Alhamdulillah kalau sudah beres semua. Semoga semua berjalan lancar. Oh ya... gimana perusahaan?"


"Baik-baik saja Ummah, Ummah tidak perlu khawatir, bukankah Ummah juga ikut mengontrol selama ini. Bukankah Arief juga bisa diandalkan kan, Ummah," jawab Rahmat dengan memandang heran pada bu Fatma. Pasalnya bukankah ibunya itu lebih sering mendatangi perusahaan daripada dirinya, yang hanya seminggu sekali datangnya.


"Perusahaanmu maksud ummah... bukan yang di sini, gimana sih kamu ini," ucap bu Fatma sambil berdecak.


"Oh, hahaha... Alhamdulillah Ummah, semua under control, doanya saja ya Ummah. Sekarang feedloter dikenakan ratio lima banding satu untuk sapi indukan, untung saja kandang baru sudah siap. Minggu kemarin sudah diisi indukan lima ratus ekor dulu, yang lima ratus lagi masih dihandle kandang lama. Mudah-mudahan anak-anak yang baru masuk bisa segera adaptasi. Saat ini Rahmat juga sedang membangun venue di tanah yang Rahmat beli tahun lalu. Alhamdulillah tim untuk EO sudah terbentuk, mungkin bisa launch bulan depan, Insya Allah."


"Dua puluh persen indukan? Waaah lumayan berat juga ya. Rangkul saja para peternak lokal, bikin komunitas, bangun kesejahteraan bersama."


"Good idea, Ummah. Nanti Rahmat bicarakan dengan anak-anak."


"Ratih sama Tiara apa kabar?"


"Tiara sehat-sehat saja Ummah, kerasan dia di asrama," senyum terbingkai di wajah Rahmat ketika menceritakan perkembangan anak gadis semata wayangnya, namun berubah sendu ketika membahas tentang Ratih, istrinya.

__ADS_1


"Sejak membuka Progeny Entrepreneur College, kami jarang bertemu. Ratih lebih sering pulang ke apartemen, lebih dekat kampus alasannya."


"Apa kamu yang mengalah saja, pulang ke apartemen juga? Membangun rumah tangga itu sebenarnya sangat simple, tapi jangan disepelekan juga. Ingat keluarga tetap yang utama."


"Kamu itu pemimpin, bukan hanya di perusahaan tapi juga dalam rumah tangga.


Luangkan sedikit waktu untuk memperhatikan istrimu, percaya sama ummah, sebenarnya dia butuh waktu dan perhatianmu. Tapi karena ia tahu kamu ndak ada waktu untuk sesuatu yang kamu anggap sepele, jadi dia mengalihkan harapan itu. Daripada ia membuang waktu menantimu, bukankah lebih baik ia mencari kesibukan?," lanjut bu Fatma begitu melihat Rahmat hanya diam menunduk mendengar ucapannya.


"Ummah sangat mengenal kalian berdua, kamu sama Ilham, kalian sama-sama gila kerja, persiiiis sama abah. Bedanya ummah bisa ngimbangin, ngejar langkah abah, sedangkan istrimu memilih mencari jalannya sendiri. Kalo Ilham... ini memang salah ummah, ummah selalu berpikir bahwa Ilham sulit mencari pasangan dan kelak butuh dijodohkan oleh abah sama ummah. Kamu tahu sendiri kan, dia dulu selalu lari kalo ada gadis mendekat. Eh... sekalinya kenal perempuan, membuatnya jadi seperti sekarang."


Rahmat yang dari tadi menunduk mendengarkan, seketika mendongak menoleh menatap bu Fatma dengan tertegun. Ia tidak menyangka, ibunya memiliki perasaan demikian. Ia pun segera mengangkat tangannya untuk memeluk bahu bu Fatma.


"Apa ini, Ummah?" tanya Rahmat ketika tiba-tiba bu Fatma menyodorkan dua lembar kertas kepadanya, "sketsa taman?"


"Coba kamu tebak," bu Fatma mengangguk sambil tersenyum.


"Sketsa pertama seperti... emm... taman bucinnya Ilham," dengan tertawa sumbang, Rahmat meletakkan sketsa pertama di bawah sketsa kedua. "Yang ini..." tanpa melanjutkan kalimatnya, ia memandang menyelidik kepada ibunya.


"Iya, ini sketsa milik Yuana. Dia minta pendapat untuk garis besar perubahan taman nanti, agar bisa diperbaiki lagi katanya."


"Ummah benar-benar mengikatnya, hehe. Desain yang baru ini bagus, Ummah. Yuana, cenderung family oriented pemikirannya. Ilham bisa syok lihat hasilnya nanti, hahaha. Emang kapan bisa dimulai?" Rahmat menggeleng-gelengkan kepala mengetahui totalitas ibunya itu untuk membalas budi atas pengorbanan Yuana sekaligus keinginan untuk menghapus ingatan Ilham akan perempuan bernama Cathrine.


"Dalam perjanjian sih selepas masa iddah, tiga bulanan lagi lah. Karena Yuana nanti akan banyak berurusan dengan arsitek dan tukangnya bukan?"


"Yuana masih masa iddah? Dia keguguran kan waktu itu? Bukannya otomatis batal masa iddahnya ya."


"Masa iddah bagi seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya itu empat bulan sepuluh hari jika ia tidak hamil. Jika sedang hamil, maka iddahnya hingga ia melahirkan. Sedangkan untuk yang keguguran, khilafiyah. Bahkan dalam madzhab Syafi'i juga ada dua pendapat, hanya saja mayoritas mengatakan batal masa iddahnya.


Ada yang bilang batal masa iddah seperti halnya melahirkan, ada pula yang berpendapat tergantung yang luruh itu sudah berbentuk janin atau belum. Kalo belum berbentuk janin, maka harus ada saksi bahwa itu adalah calon janin bayi.


Meskipun dokter sudah menyatakan Yuana hamil dan keguguran, namun karena Yuana sendiri tidak tau dan tidak merasa sedang hamil, dan tidak melihat wujud janinnya secara langsung, maka dia lebih memilih untuk berhati-hati. Yuana memutuskan menjalani iddah selama empat bulan sepuluh hari itu," bu Fatma berusaha menjelaskan pada Rahmat yang terlihat bingung mengetahui Yuana masih dalam masa iddah.


"Ya, memang sebaiknya berhati-hati kalau tidak begitu yakin," Rahmat pun manggut-manggut menerima penjelasan dari bu Fatma, "ini, sketsanya Rahmat bawa dulu ya, Ummah. Mau Rahmat bicarakan sama Juna, biar nanti dia yang sempurnakan," lanjutnya.


"Juna siapa?"


"Itu... yang sekarang lagi garap project venue yang di Tangsel. Nanti biar urusan taman ini, sekalian Rahmat yang tanggung. Kasian Ummah, tabungannya pasti habis buat rumah sakit," setelah memasukkan kertas sketsa ke dalam tasnya, Rahmat menggenggam tangan ibunya dengan lembut.


"Itu bukan tabungan ummah, dulu abah kepikiran untuk menjodohkan Ilham dengan anaknya Lora Sukri dan menyiapkan tabungan ONH plus untuk dua keluarga besar sebagai hadiah perkawinan sekaligus syukuran besanan. Tapi belum sampai terucap, Ilham tiba-tiba datang bawa perempuan tidak jelas, makanya abah sampai syok waktu itu. Dan sebelum abah tiada, beliau menitipkan uang itu sama ummah untuk diberikan pada Ilham kalau waktunya sudah tepat. Bukankah sekarang adalah waktu yang tepat? Menurutmu gimana? Sebenarnya ummah juga pegang sih, uang Ilham sendiri. Anak itu... selama kuliah di luar, bukannya minta kiriman uang, malah sering kirim uang sama ummah. Sebenarnya di sana Ilham benar-benar kuliah atau berdagang sih. Hmm... rasanya ummah ndak percaya Ilham bisa terpuruk seperti sekarang. Seandainya..." bu Fatma sebenarnya ingin mengungkapkan semua yang ada dalam pikirannya mengenai Ilham namun terpaksa dipotong oleh Rahmat.


Rahmat tidak berkenan, ibu yang sangat ia sayangi itu terbebani pikiran yang akan mengganggu kesehatannya.


"Ummah sekarang jangan terlalu banyak pikiran, Ilham pasti bisa menemukan jalan kehidupannya kembali, he will bright again... like usually. Ummah juga jangan memikirkan soal perusahaan, ada Annisa, anggap dia sedang magang, paling tidak dia harus tahu manajemen perusahaan. Jangan khawatir, Rahmat juga tetap akan selalu pantau. Jadi setelah mengantar Ilham ke pesantren, Ummah fokus saja untuk menjaga kesehatan Ummah sendiri. Nikmati kebersamaan Ummah dengan cucu dan anak baru, hehe."


"Siapa anak baru?" suara Ilham mengejutkan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2