
Bangku panjang empat seat yang terbuat dari bahan stenlis terasa dingin. Sedingin hati para penunggu pasien IGD yang penuh kesedihan dan kerisauan. Begitu pula apa yang dirasakan Bu Fatma saat ini.
Belum reda kegelisahan beliau atas keadaan Ilham yang dikabarkan oleh Arief, lalu menemukan anaknya sedang muntah darah dan terkulai lemas, ditambah kejadian kecelakaan barusan.
Tak ada perbincangan panjang sebagaimana biasa ketika bertemu dengan Mbok Sari. Bu Fatma dan Mbok Sari, keduanya sama-sama duduk diam tanpa mengeluarkan suara. Hanya bibir keduanya nampak sedikit bergerak-gerak, menandakan keduanya sama-sama sedang merapalkan dzikrullah. Mengharap keagungan Tuhannya atas kesembuhan anaknya.
Ya..., di saat-saat seperti inilah, manusia wajib memasrahkan segala sesuatu hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta´ala. Ketika ikhtiyar terbaik telah dijalankan, tawakal kepada Allah-lah satu-satunya pamungkas.
Tak berapa lama terlihat sebuah brankar di dorong keluar dari ruang IGD. Rupanya Amar hendak dipindahkan ke ruang ICU yang berada tidak jauh dari ruang IGD. Tergopoh-gopoh Pak Hadi datang dari loket administrasi, berlari kecil menghampiri dokter yang mendampingi brankar Amar.
"Lakukan yang terbaik Dokter," ucap Pak Hadi.
"Pasti Pak... kami akan lakukan yang terbaik. Mohon doanya," sahut dokter.
Kemudian Pak Hadi kembali ke ruang tunggu IGD untuk menemui Bu Fatma.
"Mas Amar sudah dipindah ke ICU. Tinggal Mas Ilham yang masih di IGD," Pak Hadi mencoba mengajak Bu Fatma bicara.
"Iya, Had... kasian Amar, dia mengalami gegar otak... sampai saat ini belum sadar. Aku masih trauma Ilham koma dulu Had, hampir satu bulan baru ia sadar," jawab Bu Fatma dengan intonasi yang terdengar menyedihkan bagi orang yang mendengarnya.
Terdengar suara pesan masuk dari handphone milik Bu Fatma. Rupanya Annisa menanyakan kabar Bu Fatma, karena sejak sampai di bandara belum memberi kabar sama sekali hingga sekarang.
Kemudian Bu Fatma membalas pesan tersebut dengan menelpon Annisa. Tapi baru mengucapkan salam dan mendengar jawaban salam dari putrinya tersebut, Bu Fatma sudah tidak bisa bersuara lagi. Setiap hendak bersuara, hanya isakan tangis yang keluar. Akhirnya beliau menyerahkan handphonenya pada Pak Hadi dan meminta Pak Hadi yang menjelaskan.
"Assalamu´alaikum Mbak Annisa, saya Hadi, Mbak," sahut Pak Hadi.
"Wa ´alaikum salam Pak Hadi. Gimana ummah, Pak?"
"Alhamdulillah Ibu tadi sudah sampai tepat waktu dengan selamat Mbak."
"Trus ada apa Pak? Kenapa ummah tidak bicara barusan? Pasti terjadi sesuatu kan?" cecar Annisa, karena ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Iya... Mas Ilham tadi muntah darah sampai lemas. Untung ada Mas Amar, jadi langsung dibawa ke IGD."
"Muntah darah? Kok bisa? IGD mana?"
"Raya Husada Mbak."
"Baguslah... mudah-mudahan segera tertangani dengan baik."
__ADS_1
"Iya Mbak... tapi ada insiden yang memperparah keadaan Mbak. Kecelakaan."
"Astaghfirullah... sekarang gimana keadaannya?"
"Sekarang Mas Ilham masih di ruang IGD, sedangkan Mas Amar sudah di ICU belum sadarkan diri."
"Saya harus pulang, kasian ummah sendirian di sana. Saya mau izin Kak Zein dulu ya Pak. Assalamu´alaikum."
"Baik Mbak... Wa 'alaikum salam Mbak," Pak Hadi menutup telepon dan mengembalikan handphone pada Bu Fatma.
*
Sementara di ruang dokter. Seorang dokter spesialis anestesi sedang memeriksa berkas yang baru ia terima dari IGD yang dibawa oleh seorang residen.
"Ilham Adelio?" gumamnya sambil mengerutkan kedua alisnya.
"Kenapa dok?" tanya residen yang mengantar berkas tersebut.
"Baik...saya yang akan menanganinya. Dia pasien saya setahun yang lalu," jawab dokter tersebut. ´Juga sahabatku´ batin dokter itu.
"Sinta... " panggil dokter tersebut ketika si residen hendak keluar ruangan.
"Apakah pasien Amar sudah dipindah ke ICU?"
"Sudah dok... baru saja."
"Tolong bilang Willy... atur supaya Ilham satu ruangan dengan Amar," ucap dokter Yusuf setengah memerintah.
"Baik dok," jawab residen Sinta kemudian berlalu keluar ruangan tersebut.
Setelah dokter Sinta menutup pintu, dokter Yusuf meletakkan map berisi berkas milik pasien Ilham Adelio dan mengambil satu map dibawahnya.
"Yuana... " lirih dokter Yusuf menyebut nama yang selama ini memenuhi hatinya, sambil membuka kembali berkas pasien bernama Amar Nasiruddin. Membacanya sebentar, menutup dan mengembalikan pada tumpukan berkas di mejanya.
Menyandarkan dirinya pada sandaran kursi hidrolik yang ia duduki. Menyisir rambutnya dengan jari lalu menautkan jemarinya di tengkuknya sambil menengadah. Pikirannya menerawang pada empat tahun yang lalu ketika ia masih menjadi residen untuk menyelesaikan program pendidikan dokter spesialis.
Usahanya untuk melamar Yuana harus kandas karena perbedaan keyakinan dirinya dengan Yuana. Kenekadannya melamar Yuana karena ia tahu Yuana bukanlah gadis yang mau berpacaran. Dan tak berapa lama terdengar kalau Yuana menikah dengan Amar Nasiruddin, asisten ayah Yuana. Meskipun begitu nama Yuana masih terpatri indah di hatinya.
*
__ADS_1
Tak lama terdengar panggilan kepada keluarga pasien atas nama Ilham dari ruang IGD. Kemudian Bu Fatma dan Pak Hadi masuk ke ruang dokter IGD dan dipersilahkan duduk di depan meja dokter jaga.
"Bagaimana anak saya Dok?" tanya Bu Fatma dengan cemas.
"Untuk dislokasi lututnya sudah difiksasi, kemungkinan dua-tiga minggu gipsnya bisa dilepas, tidak ada cidera serius. Namun tetap harus dijaga selama masa pemulihan, jangan kena beban berat dulu."
Menghela nafas sebentar, kemudian dokter melanjutkan penjelasannya.
"Tapi... mudah-mudahan diagnosa saya salah, karena masih harus melalui beberapa pemeriksaan terkait kondisi pasien."
Setiap kalimat yang disampaikan, dokter selalu memberi jeda, memberi kesempatan kepada keluarga pasien untuk memahami penjelasan yang diberikan.
"Kemungkinan besar pasien Ilham mengalami sirosis hati."
"Maaf... maksudnya... sirosis hati?" tanya Pak Hadi, karena melihat Bu Fatma hanya menatap wajah dokter tanpa ada ekspresi apapun. Ada sedikit kekhawatiran terhadap kondisi majikannya tersebut.
"Sirosis hati... gagal hati... kerusakan organ hati," jawab dokter. "Apa pasien mengkonsumsi alkohol?" lanjutnya.
"Akhir-akhir ini... iya. Dan setahun yang lalu pernah koma karena overdosis," jelas Pak Hadi pada dokter. Raut wajah Bu Fatma perlahan memucat, ada kesedihan dan kekhawatiran dalam pikirannya.
"Melihat kondisi saat ini dan menilik riwayat kesehatan pasien... juga guna memastikan kestabilan kondisi pasien, saya akan merujuk untuk dirawat di ICU."
"Akan ada beberapa pemeriksaan lanjutan untuk memastikan... agar Ilham mendapat perawatan terbaik."
"Baik Dok... saya mohon, berikan penanganan terbaik untuk anak saya Dok," ucap Bu Fatma kemudian, mencoba tegar menghadapi kondisi anak yang disayanginya itu.
"Bisa kami menunjuk dokter penanggung jawab anak saya Dok?"
"Bisa saja Bu. Selama sesuai dengan kondisi dan riwayat kesehatan pasien. Dokter yang dinas di sini juga kan?" dengan tersenyum, dokter tersebut menanggapi keinginan Bu Fatma.
"Dokter Yusuf," ucap Bu Fatma dengan pasti, "beliau yang menangani Ilham tahun lalu."
Keinginan Bu Fatma rupanya tidak mempersulit rujukan, karena penanggung jawab penerima pasien Ilham di ICU memang Dokter Yusuf. Dokter yang menangani Ilham ketika koma akibat overdosis psikotropika setahun yang lalu.
"Baiklah kalau begitu... pasien Ilham akan segera kami pindahkan ke ICU," dokter jaga tersebut menutup pembicaraan.
"Baik dok."
"Baik dok," pamit Bu Fatma dan Pak Hadi bersamaan kemudian keluar dari ruangan tersebut dan berpapasan dengan dokter Sinta yang memasuki ruangan.
__ADS_1