
Bergetar tangan Yuana ketika mencoba membuka pintu mobil, sesaat setelah mobil berhenti sempurna di depan pintu utama rumah sakit Raya Husada.
"Yang kuat Nak Yuana, suamimu butuh ketegaranmu. Dukung ia untuk cepat pulih, yaa?" dengan lembut Bu Fatma memberi kekuatan pada hati Yuana.
"Insya Allah Bu," jawab Yuana dengan mencoba tersenyum. Sungguh, ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan siapapun, terutama di hadapan suaminya nanti. Ia berharap ketika mereka bertemu, keadaan Amar jauh lebih baik dari pada semalam.
Nabila terbangun ketika bundanya hendak menurunkan kaki dari mobil. Mata bulatnya terbuka dengan penuh. Sepertinya ia bingung sedang berada di tempat yang asing baginya, karena situasi dalam pandangannya berbeda dengan semalam.
"Ini mau te mana bunda?" tanya Nabila sambil mengerjapkan mata bulatnya.
"Bila sama bunda mau menemani Buti periksa ke dokter, Bila mau kan?" Bu Fatma yang melihat Yuana kesulitan menjawab, berinisiatif membantu menjawab.
"Buti satit apa?" Nabila yang semula tampak ceria berubah menjadi khawatir kemudian turun dari pangkuan Yuana dan menghampiri Bu Fatma.
"Buti tidak sakit sayang... hanya saja Buti sudah tua, jalannya sudah tidak bisa cepat... jadi banyak yang harus diperiksa sama bu dokter nanti," lanjut Bu Fatma.
"Bundaa... bunda dak papa dalan sendili? Bila mau dandeng Buti, tasiyan dalana hanus pelan-pelan," Nabila yang merasa iba pada Bu Fatma meminta persetujuan Yuana untuk membantu Bu Fatma.
"Nak Yuana pergi duluan saja ke ICU, temui Amar. Nabila biar sama ibu dulu, nanti ibu tunggu di kantin. Kita gantian masuk ICUnya," setengah berbisik Bu Fatma meminta Yuana jalan duluan dibalas anggukan kepala dari Yuana.
"Iya sayang... bunda jalan duluan yaa. Nabila jagain Buti ya..." Kemudian Yuana turun dari mobil. Sambil menurunkan Nabila, Yuana berpamitan pada Bu Fatma, "Yuana duluan ya Bu... titip Nabila."
Setelah Bu Fatma turun dan menggandeng tangan Nabila, Yuana bergegas berjalan ke ruang ICU tempat Amar dirawat.
Bu Fatma berjalan menuntun Nabila menuju taman yang berada di tengah-tengah rumah sakit tersebut. Sementara Pak Hadi melajukan mobilnya keluar untuk segera pergi ke bandara.
__ADS_1
"Kita jalan-jalan ke taman dulu ya Nabila... Di sana banyak bunga yang mekar, pasti ada kupu-kupu juga. Nanti kita kejar kupu-kupunya, ya..." Bu Fatma mencoba mengalihkan perhatian Nabila dari bundanya.
"Ote Buti... tapi bial Bila aja yang tejal, Buti duduk aja... tan Buti dak boleh dalan cepet sama bu dotel," balas Nabila dengan menunjuk jari telunjuknya pada Bu Fatma, seolah ia sedang menasehati Bu Fatma. Bu Fatma semakin dibuat gemas oleh balita tersebut.
*
"Dokter Sinta... bagaimana kondisi suami saya?" tanya Yuana pada dokter Sinta yang baru saja keluar dari ruang Amar dirawat.
"Untuk tanda-tanda vitalnya... sampai saat ini masih lemah, tapi masih terhitung normal. Hanya saja masih belum sadar, kemungkinan karena gegar otak yang dialami," dengan pelan dokter Sinta berusaha memberi penjelasan tentang kondisi pasiennya yang bernama Amar tersebut.
"Apakah suami saya mengalami koma Dok?"
"Bisa dibilang seperti itu... cedera pada kepalanya kemungkinan besar mempengaruhi kinerja syaraf di otaknya. Karena pada batang otaknya mengalami tekanan akibat pembengkakan dan pendarahan pada otak."
"Tapi suami saya masih bisa sembuh kan Dok? Dia akan sadar kan Dok?" dipegangnya lengan dokter Sinta, berharap akan ada kabar baik mengenai kondisi suaminya. Namun hanya dengan senyuman dokter Sinta menjawab pertanyaan Yuana.
"Baik Dok... terima kasih," jawab Yuana sambil memegang handle pintu. Namun tidak segera membuka pintu, ia terpaku memandang Amar dari kaca persegi panjang yang berada di tengah-tengah daun pintu. Tampak Amar terbaring tak berdaya dengan segala alat yang menempel pada tubuhnya. Dengan menggigit sedikit bibirnya yang bergetar, Yuana berusaha menata hati agar bisa tenang saat menemani suaminya.
"Mau saya temani?" dokter Sinta mencoba menawarkan diri untuk mendampingi Yuana masuk ke ICU. Yuana menoleh ke arah dokter Sinta dan menggeleng pelan.
"Tidak perlu Dok... saya bisa sendiri," jawab Yuana sambil mengatur nafasnya.
"Baiklah... saya kembali ke ruangan dulu. Kalo Pak Amar sadar atau ada apa-apa, tekan tombol warna merah ya..." pesan dokter dengan rambut sebahu tersebut kemudian berlalu menuju ruangannya. Sedangkan Yuana perlahan membuka pintu ruangan kemudian masuk dengan perlahan dan menutup kembali pintu itu dengan pelan-pelan.
Menutup mulut dengan kedua tangannya, Yuana berjalan menuju ke samping brankar. Dimajukan sedikit badannya mendekati brankar dan Yuana meraih tangan suaminya dan mencium jemari tangan yang di punggungnya terpasang jarum infus.
__ADS_1
Dipindai seluruh tubuh suaminya, kepala terbebat perban, begitupun lengan kanannya. Memakai ventilator atau alat bantu nafas yang terpasang di mulutnya. Selang makanan masuk melalui hidungnya. Elektrode untuk mendeteksi jantung terpasang di dadanya. Alat infus terpasang pada pergelangan kiri. Dari bawah dada sampai tungkai tertutup selimut berwarna biru toska. Sepertinya tungkai kanan dibalut dengan bidai panjang dan diujung kakinya tergantung sebuah bandul pemberat.
'Yaa Allah...'
Tak dapat ia bayangkan bagaimana penderitaan suaminya jika tersadar dan merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya nanti. Kembang kempis dada Yuana dan bergetar bahunya menahan perasaannya.
Dengan gemetar digenggamnya tangan kiri Amar dengan erat, berharap Amar menyadari kehadirannya. Air mata yang terus mengalir tak dapat ia bendung, bibir bergetar menahan keluarnya isak tangis.
"Maaaas... maafin Yuana Maaas. H..ha..harusnya Yuana tidak memaksa Mas berangkaaat... huu... maafin Yuana Maaas... Harusnya Mas tetap di rumah seharian ini... ya kan Mas?" akhirnya Yuana tidak bisa menahan dirinya. Tersedu-sedu ia menangis, menyandarkan kepala ke lengan Amar.
Ditatap dengan linangan air mata wajah Amar, diusap pipinya berharap Amar berkenan membuka mata.
"Maaas... Mas Amar... kenapa jadi begini Mas. Mas Amar marah pada Yuana kah? Mas Amar merajuk kah? Maaas... jangan begini Maaas."
Diantara deru suara alat monitoring dan ratapan Yuana, terdengar suara pintu dibuka diikuti suara langkah kaki, sepertinya ada dua orang yang masuk ke dalam ruang ICU. Mungkinkah Bu Fatma dan Nabila? Kenapa Nabila diajak masuk? Yuana segera menegakkan dirinya. Mengusap pipi dan menutup mulutnya berusaha menghentikan tangisan.
"hk...hk...hik..." masih terdengar suara isakan Yuana yang berusaha keras ia tahan.
Namun ternyata tidak ada yang menghampiri dirinya, rupanya yang masuk adalah dokter yang berkunjung ke brankar sebelah. Terdengar suara orang berbicara dengan pelan, Yuana tak dapat mendengar dengan jelas. Namun kemudian salah satunya berbicara lebih keras.
"Tolong ingatkan perempuan itu, kalau tidak bisa tenang, tunggu di luar saja."
Suara seorang lelaki yang terdengar ketus dan dingin tersebut terdengar oleh Yuana, karena memang dengan brankar sebelah hanya tersekat gorden tebal berwarna biru laut. Kemudian orang tersebut melangkah keluar ruangan ICU.
Yuana melirik ke arah pintu dan terlihat seorang dokter memakai jas putih berlengan panjang sedang menutup pintu itu. Kemudian dari kaca di tengah pintu tersebut tampak wajah dokter tersebut walaupun hanya sekilas dan bagian samping saja. Tercengang Yuana melihat dokter tersebut.
__ADS_1
"Mungkinkah dia... ?"