
Jika waktu berjalan tiada terasa bagi Yuana, maka begitupun dengan Ilham. Niatan yang kuat untuk memulihkan dirinya dan serangkaian kegiatan serta terapi di pondok rehabilitasi milik Gus Bahtiar membuat waktu terasa berlalu begitu cepat. Namun sebanding dengan pencapaian yang didapatkannya.
"Kami titip Ilham nggih, Gus. Kami sangat berharap, anak ini bisa menemukan takdirnya kembali," ucap penuh harap dari Rahmat ketika tangan kanannya menjabat tangan Gus Bahtiar dan tangan kirinya menepuk-nepuk bahu Ilham saat berpamitan setelah mengantar Ilham ke pondok.
Bu Fatma saat itu sudah menunggu Rahmat di dalam mobil sedangkan dokter Yusuf masih berada di kantor berbincang dengan dokter terapis yang akan menangani Ilham.
Gus Bahtiar mengangguk-angguk pasti sedangkan Ilham malah justru cengar-cengir sambil merangkulkan tangannya di pundak Gus Bahtiar.
Setelah Bu Fatma dan Rahmat sudah pergi, maka Gus Bahtiar membalas rangkulan Ilham sambil mengajaknya masuk ke kantor di mana para dokter sudah menunggu mereka.
"Saatnya kita berjuang!" seru Ilham penuh semangat.
"Kita? Kamu aja kali," seloroh Gus Bahtiar.
"Yaaaa... mana bisa berhasil kalau Gus Tiar tidak ikut berjuang," Ilham pura-pura merajuk sambil sedikit mendorong Gus Bahtiar ke samping.
"Oke... oke, let's do it!"
Bukan hal yang aneh jika Ilham dan Gus Bahtiar tampak begitu akrab. Karena keakraban itu sudah terjalin sejak awal Ilham masuk perguruan tinggi di mana Gus Bahtiar merupakan kakak tingkat beda fakultas. Awal bertemu adalah ketika diadakan program pengkaderan pengurus masjid kampus di mana Gus Bahtiar sebagai ketua pelaksana dan Ilham sebagai peserta.
Komunikasi tetap berlanjut bahkan sampai ketika Ilham menjalani program magister di luar negeri, meskipun hubungan sudah berubah menjadi jalinan bisnis. Di mana Gus Bahtiar menjadi supliyer bahan-bahan yang dibutuhkan Ilham untuk memenuhi pesanan rekan-rekannya yang rindu atau butuh produk-produk Indonesia.
Pun sebaliknya, Ilham mencarikan perangkat-perangkat canggih yang dibutuhkan oleh Gus Bahtiar untuk melengkapi kebutuhan pondok rehabilitasi yang ia rintis, yang kualitas terbaiknya kebetulan berada di negara tempat Ilham menuntut ilmu.
Begitu Ilham dan Gus Bahtiar masuk dan duduk bersama, dokter Yusuf mempersilahkan salah seorang terapis untuk menjelaskan program-program yang akan dijalani oleh pasien istimewa mereka, yaitu Ilham.
"Program yang padat... apa kamu sudah siap?" tanya dokter Yusuf untuk mengetahui kesiapan Ilham menjalani semua prosesnya.
"Apa yang harus aku takuti?" jawaban Ilham yang cukup diplomatis membuat semua merasa lega.
"Welcome back, bro!" seru Gus Bahtiar diikuti gelak tawa mereka semua.
Dan seperti jadwal yang telah Ilham pelajari semalam, pagi ini Ilham menjalani sesi konseling awal setelah senam pagi dan sarapan bersama seluruh pasien di pondok rehabilitasi tersebut.
Ilham mengerjakan beberapa questioner dengan serius, semua ia jawab dengan sebenar-benarnya, apa yang ia alami, apa yang ia rasakan dan apa yang ia pikirkan dengan gamblang.
Kemudian Ilham juga harus menjalani konseling berkelompok di mana ia dan beberapa pasien lain yang memiliki masalah yang sama, yakni ketergantungan narkotika, psikotropika dan zat adiktif (narkoba) duduk melingkar di sebuah aula yang luas dengan satu konselor diantaranya.
Sedangkan di sudut aula yang lain juga tampak duduk melingkar beberapa orang yang merupakan kelompok pasien dengan masalah kejiwaan didampingi seorang konselor dan dua asistennya.
Santri rehab adalah sebutan yang lazim bagi pasien-pasien di pondok rehabilitasi tersebut. Dan rupanya Ilham merupakan satu-satunya santri rehab yang baru masuk, sehingga ia diminta untuk memperkenalkan dirinya pada
__ADS_1
teman-teman sekelompoknya.
Banyak pelajaran hidup yang didapat Ilham dari sesi konseling kelompok kali ini. Berbagai macam latar belakang para santri serta progres rehabilitasi mereka seperti membuka dan memperluas wawasan Ilham akan nilai-nilai baru dalam kehidupan bersosial.
Sebagian besar santri-santri rehab ini mengaku bahwa mereka yang selama ini dianggap sebagai sampah masyarakat, sesungguhnya memiliki keinginan untuk memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Dan di sini, mereka seolah saling menguatkan untuk meraih cita-cita mereka.
Hal itu semakin membuat Ilham termotivasi untuk cepat-cepat pulih dan ia berfikir keras untuk menemukan solusi bagaimana ia bisa membantu mewujudkan cita-cita para santri yang baru ia kenal tersebut. Karena Ilham menyadari bahwa dirinya sendiripun sebenarnya berada di posisi yang sama dengan mereka.
Beruntung Ilham telah melewati masa putus zat saat masih dalam perawatan di rumah sakit, jadi ia tidak perlu merasakan kesakitan di pondok rehabilitasi ini akibat sakau karena harus berhenti total mengkonsumsi alkohol.
Sakau adalah kondisi seorang pencandu ketika ia menghentikan zat yang ia candui secara mendadak atau mengurangi dosisnya secara drastis. Gejalanya macam-macam, tergantung keparahan dan jenis candunya. Mulai gejala ringan hingga gejala berat, bahkan ada yang sampai harus meregang nyawa.
Sakau yang dulu dialami oleh Ilham pun berbeda dari kebiasaan yang lain. Jika yang lain seringnya mengalami insomnia, maka Ilham justru mengalami somnolensia, yakni penurunan kesadaran dan respon psikomotor, gampang tertidur tanpa ia sadari. Ia juga tidak merasakan pusing yang amat sangat, hanya keinginan yang kuat untuk meminum olkohol lagi yang sulit ia kendalikan.
Hanya saja efek dari overdosis psikotropika yang menyebabkan ia koma tahun lalu ditambah mengkonsumsi alkohol berlebih dalam kisaran sebulan itu menyebabkan sirosis hati yang terbilang parah.
Sebagaimana sakau rokok, sakau alkohol atau sakau narkoba pasti memiliki gejala putus zat yang berbeda-beda. Tergantung pada ketahanan fisik pecandu tersebut.
Itulah pentingnya memeriksakan diri dan berkonsultasi pada ahlinya ketika ingin menghentikan kebiasaan yang menjadi candu tersebut. Dan beruntung bagi Ilham, ia dibawa ke rumah sakit di saat yang tepat. Detik-detik yang sangat urgent bagi kelangsungan hidupnya.
Kecanduan sendiri sebenarnya bukan hanya pada obat-obatan atau zat tertentu saja, keranjingan atau tergila-gila pada sesuatu atau pada aktifitas tertentu pun bisa disebut kecanduan. Contohnya kecanduan game, kecanduan pornografi, kecanduan beraktifitas atau biasa disebut workaholik, kecanduan minum kopi, kecanduan pada benda tertentu, fanatisme pada seorang idola dan sebagainya. Karena kecanduan sendiri merupakan hasil kinerja otak.
Dimana otak akan melepaskan hormon dopamin dan serotonin ketika seseorang melakukan aktifitas atau mengkonsumsi sesuatu yang menimbulkan efek kenyamanan atau menyenangkan. Dan ketika orang tersebut tidak memiliki kontrol yang baik pada perasaan senang atau nyaman tersebut, maka otak akan melepaskan hormon secara berlebih.
Sehingga dalam jangka waktu tertentu, ketika efek nyaman dan menyenangkan tersebut hilang atau berkurang, sistem reward pada otak akan mengirim sinyal pada tubuh bahwa ia membutuhkan 'aktifitas' atau 'sesuatu' tersebut kembali.
Nah, perasaan membutuhkan tersebut lah yang membuat orang menjadi kecanduan.
Misalkan saja ketika kita mecoba memainkan sebuah game di smartphone, dan ternyata sangat menyenangkan. Lalu kita tidak mengkontrol rasa senang tersebut. Pada awalnya kita hanya memainkan hanya pada waktu senggang, lalu mulai menunda-nunda aktifitas yang lain dan pada akhirnya kita akan melupakan tanggung jawab kita hanya demi memainkan sebuah game. Bahkan pada saat kita melakukan aktifitas rutin, pikiran kita tidak terlepas sedikitpun pada game tersebut, sampai terbawa dalam alam bawah sadar kita, saat tidur sekalipun.
Dan ketika kita mencoba berhenti memainkan game tersebut, maka sangat mungkin bagi kita mengalami sakau game. Ritme jantung menjadi tidak stabil hingga tubuh merasa menggigil dan berkeringat dingin. Emosi pun tidak jauh beda, sangat tidak stabil. Kita jadi mudah emosi, marah bahkan sampai memukul.
Santri rehab di pondok rehabilitasi yang ditempati Ilham ini pun beberapa juga mengalami sakau game. Rata-rata remaja dan anak-anak yang kecanduan game online. Mereka harus menjalani psikoterapi dan mengkonsumsi obat untuk menstabilkan emosinya.
Begitu panjang lebar dokter Luailik memberikan penjelasan ketika Ilham bertanya kenapa orang bisa kecanduan dan berakhir di pondok rehabilitasi ini. Dokter Luailik adalah dokter terapis yang menjadi konselor medis bagi Ilham selama masa rehabilitasi, konselor selain Gus Bahtiar yang lebih menitikberatkan terapi melalui jalur religi, mendekatkan diri pada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan lebih pada memahami hakikat kehidupan manusia.
Dokter Luailik pula yang mengatur ritme aktifitas Ilham agar sesuai dengan jadwal konsumsi obat-obatan yang harus diminum oleh Ilham. Sehingga diharapkan pembiasaan tersebut tidak sampai menimbulkan keteledoran bagi Ilham selepas rehabilitasi. Terutama obat imunosurpresan yang kemungkinan besar harus diminum rutin seumur hidup oleh Ilham untuk menghindari reaksi penolakan tubuh paska transplantasi hati.
Jadwal kapan harus melakukan olahraga, aktifitas fisik apa saja yang diperbolehkan, pengaturan pola makan, aktifitas ibadah, dan aktifitas lain harus dilaksanakan olah Ilham dengan disiplin. Transplantasi hati hanyalah salah satu usaha untuk meningkatkan angka harapan hidup dan kualitas hidup pasien. Kedisiplinan untuk menjaganya adalah faktor utama kesuksesan harapan tersebut.
Dokter Luailik pun sering berpesan agar ketika Ilham keluar dari pondok rehabilitasi dan mulai beraktifitas bekerja kembali, sebisa mungkin mengadaptasi jadwal yang ia jalani selama rehabilitasi. Pun ketika suatu saat Ilham menikah, harus mencari pasangan yang bisa menyesuaikan dengan ritme hidupnya. Karena hanya dengan kedisiplinan, Ilham bisa mempertahankan kesehatan fisik dan psikis sehingga diharapkan ia bisa menjalani hidup panjang usia sebagaimana diharapkan.
__ADS_1
Mendengar harapan dokter Luailik tentang pernikahan, membuat Ilham sedikit tertawa sumbang. Dua kesalahan dalam menyikapi perasaannya terhadap perempuan, membuatnya sedikit antipati untuk menjalin hubungan kembali. Baginya saat ini hanyalah fokus memperbaiki kehidupannya, menemani ummah dan mengembangkan perusahaan warisan dari abah yang sangat ia hormati.
Ia merasa bahwa Allah telah memberikan satu kesempatan dengan memberikan kehidupan yang baru, sehingga ia berjanji tidak akan menyia-nyiakannya lagi.
Treatment demi treatment telah dijalani Ilham, baik psikoterapi medis maupun psikoterapi sufistik sudah ia lalui dengan sempurna. Dari segi fisik, kesehatan Ilham sudah bisa terbilang normal. Selain harus selalu mengkonsumsi obat imunosupresan, kondisinya benar-benar prima. Dari segi mental pun, tidak tampak sedikit pun bahwa ia pernah mengalami depresi berat.
Bahkan Gus Bahtiar menilai pencapaian Ilham melebihi ekspektasinya. Meskipun Ilham mengatakan ingin berada di pondok selama satu tahun, tetapi Gus Bahtiar merasa bahwa sudah saatnya Ilham kembali ke kehidupannya.
"Kayak e Gus Tiar iki gak seneng aku ndek kene," seloroh Ilham ketika Gus Bahtiar menyampaikan penilaiannya itu, "ndak... ndak. Aku gak bakal pergi sebelum meninggalkan jejak di sini. Itu di belakang aula, cocok untuk lab otomotif. Sama di sebelah musholla itu, jangan kosong. Kayaknya handicraft bisa untuk bekal keluar dari sini."
Gus Bahtiar yang mengerti arah pembicaraan Ilham pun tertawa lebar, lalu menepuk bahu Ilham seraya berkata, "lanjutkan!"
"Siap laksanakan!" gelak tawa pun memecah di antara keduanya.
Beberapa hari setelah itu, tampak keriuhan di belakang aula pondok. Beberapa santri rehab tampak sangat antusias membantu penataan peralatan laboratorium otomotif yang baru datang. Ilham benar-benar mewujudkan keinginannya membuka laboratorium otomotif R2 untuk membekali santri rehab, agar ketika keluar dari pondok rehabilitasi, bukan hanya sembuh dari kecanduan melainkan juga memiliki bekal untuk melangkah ke kehidupan yang baru.
"Punya santri sultan memang beda ya progresnya," ucap Gus Bahtiar.
"Maaf, Gus... yang lunas baru DPnya," sahut Robin, suplier dari peralatan yang didatangkan Ilham tersebut sambil terkekeh.
"Ah, jangan kau bocorkan yang itu. Doakan saja cicilan berikutnya lancar, Gus," kelit Ilham.
"Aman... aman. Eh, aamiin... aamiin."
Dua minggu berikutnya datang beberapa peralatan jahit dan pertukangan kayu. Rupanya Ilham pun benar-benar mewujudkan niatnya membuka laboratorium handicraft di ruangan kosong sebelah musholla.
Setelah mendata keminatan para santri rehab, Ilham juga mendatangkan praktisi dalam dunia otomotif R2, pengrajin tas dan mebel. Mereka diminta untuk menjadi mentor tiap-tiap laboratorium.
"Ngapunten, Gus. Untuk yang ini dan selanjutnya saya serahkan sepenuhnya pada Panjenengan. Saya fokus mikirin cicilan yang kemarin saja," bisik Ilham pada Gus Bahtiar ketika penandatanganan kontrak para mentor tersebut.
"Beres!"
Meskipun tidak semua santri rehab bisa mengikuti pelatihan tersebut, namun semua tampak antusias menyambut peresmian laboratorium tersebut. Ilham berharap optimisme yang ia bangun bisa menginspirasi mereka untuk menatap masa depan dengan lebih baik.
Waktu demi waktu pun berlalu, pelatihan berjalan lancar sebagaimana diharapkan.
Ilham telah dinyatakan pulih, namun ia masih belum bersedia untuk kembali ke rumah. Belum cukup ilmu alasannya.
Dalam beberapa hari terakhir Ilham lebih banyak menghabiskan waktunya mengikuti kegiatan Gus Bahtiar. Baik ketika mengisi sesi konseling bagi santri rehab, mengisi kajian di beberapa majlis ataupun ketika Gus Bahtiar pergi keluar pondok untuk urusan bisnisnya.
Oleh karena itu ia juga jadi lebih sering tidur di kamar tamu kediaman Gus Bahtiar daripada bersama santri rehab yang lain karena sering pulang malam ketika mendampingi Gus Bahtiar pergi keluar pondok.
__ADS_1
Namun tiga malam terakhir, rupanya Ilham tidak dapat tidur dengan baik. Ia selalu terbangun karena mimpi yang sama setiap harinya. Bukan mimpi yang buruk sebenarnya, hanya saja cukup mengganggu. Karena di penghujung mimpi selalu diakhiri dengan rasa sesak yang luar biasa. Ia selalu terbangun dalam kondisi tersengal-sengal dan akhirnya tidak dapat tidur kembali.
"Kenapa aku selalu memimpikannya? Siapa dia?"