HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.

HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.
BERNIAT MEMBALASKAN DENDAM.


__ADS_3

*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hikmah 🦋❁❁⊱••••••••*


Sungguh, nikmat dunia dibanding dengan nikmat akhirat amat jauh sekali. Namun kenapa kita lebih mengharap dunia dari akhirat? Mengapa kita lebih mengharap ridha manusia daripada ridha Allah Azza wa Jalla?


Janganlah terlalu kagum dengan kehidupan dunia karena akhirat telah menunggu kita di masa depan. Dunia dengan pasti akan kita tinggalkan. Dunia hanyalah sebagai tempat untuk mengumpulkan berbagai bekal dengan amalan menuju negeri kekal abadi di akhirat kelak...


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••


Waktu berlalu begitu cepat, hingga tanpa terasa, satu bulan telah terlewati. Maka tak heran, bila Hidayah dan Siddiq juga semakin akrab. Apalagi, Siddiq selalu mengajarkan Hidayah ilmu bela diri disetiap malamnya Dan diakhiri dengan candaan, yang membuat mereka semakin dekat. Namun beberapa hari ini Siddiq merasa sedikit khawatir, karena ia merasa Hidayah sedikit berlebihan dalam pelatihan ilmu bela dirinya.


"Dik Nisah, sudah hampir jam sebelas malam, Kita sudahi ya latihannya. Kamu pasti sudah lelahkan?" ujar Siddiq, saat mereka sedang melakukan pelatihan dibelakang pondoknya.


"Tapi Nisah belum lelah Ustadz. Jadi sebentar lagi ya Ustadz?" balas Hidayah, yang sepertinya ia masih ingin berlatih.


"Tidak boleh! Ini sudah berlebihan Nisah!" tegas Siddiq.


"Tapi Ustadz.."


Melihat istrinya, yang terlihat hendak membantahnya. Siddiq pun langsung menyanggahnya.

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapian, Dik Nisah! Saya bilang berhenti ya harus berhenti! Ingat seorang istri itu tidak boleh membantah perkataan dari suaminya!"


Hidayah, pun langsung terdiam, sambil menundukkan wajahnya. Tampak ada kesedihan yang tergambar dalam raut wajahnya. Membuat Siddiq, langsung mengerenyitkan dahinya, yang menandakan ia sedikit penasaran pada sikap istrinya, yang menurutnya sedikit berbeda.


"Ada apa Dik? Apakah ada yang kamu sembunyikan dari Abang, hm?" tanya Siddiq, sambil ia menarik tangan istrinya, kesebuah kursi kayu, yang berada tepat di sebuah pohon. Yang berada di belakang pondok mereka. Setelah keduanya duduk.


"Katakanlah Dik, sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan, hm?" tanyanya lagi, sambil memandang lekat wajah istrinya.


"Tiga hari yang lalu Kyai datangkan Ustadz?" tanya Hidayah balik.


Mendengar pertanyaan Istrinya, Siddiq tampak tersentak, "Eh! Dari mana kamu tahu itu, Dik?" tanyanya terlihat penasaran.


Siddiq kembali dikejutkan oleh pertanyaan istrinya. Ia juga tak menyangka kalau istrinya sudah mendengar pembicaraannya dengan Kyai Ibrahim. Padahal ia dan gurunya itu, bermaksud ingin merahasiakannya.


"Hmm.. apa yang sudah kamu dengar Dik?" tanyanya lagi. Ia bermaksud ingin memastikan apa yang sudah di dengar oleh Hidayah.


"Saya sudah mendengar Semuanya Ustadz. Saya juga sudah tahu, Ustadz, kalau pembunuh orang tua saya, adalah seorang mafiakan? Dan saat ini, Mafia itu sedang mencari-cari sayakan, Ustadz?" balas Hidayah, dengan raut wajah yang terlihat sedang menahan tangisnya.


"Makanya, sebelum mereka menemukan Saya. Saya harus, sudah memiliki kepandaian ilmu bela diri. Agar saya berniat membalaskan dendam untuk kedua orang tua saya Ustadz. Dan saya juga ingin mempelajari ilmu berpedang. Sebab, orang yang harus saya hadapi, adalah orang yang sangat berbahaya. Untuk itu, saya mohon pada Ustadz, untuk mengajarkan Saya ilmu berpedang. Ustadz maukan mengajarkan Saya?" sambungnya lagi, yang kali ini wajahnya terlihat begitu penuh pengharapan pada Suaminya.


Siddiq tak langsung menjawab pertanyaan istrinya. Ia hanya mengusap Air mata, yang sempat mengalir di pipinya dengan lembut. Lalu ia pun menatap wajah dengan lekat, membuat Hidayah tampak bingung, melihat tatapannya yang tak bisa diartikan itu. Dan tak berapa lama, Siddiq mendekati wajahnya, kewajah istrinya. Lalu ia pun memberikan kecupan lembut pada dahinya. Membuat mata Hidayah langsung terbelalak. Namun, tak berapa lama matanya kembali normal setelah mendengar perkataan suaminya.

__ADS_1


"Baiklah Dik Nisah, In shaa Allah, Abang akan mengajarkan semua yang kamu minta. Tapi dengan syarat, ilmu itu digunakan hanya untuk jaga diri saja, bukan untuk balas dendam. Gimana apakah kamu setuju hm?" ujar Siddiq, terdengar begitu lembut.


Wajah Hidayah, tampak berubah, setelah mendengar perkataan suaminya. Karena sepertinya ia sangat keberatan, pada syarat yang diajukan oleh suaminya.


"Maaf Ustadz, Nisah keberatan. Karena sebenarnya dari awal Nisah, belajar ilmu bela diri, memang untuk membalaskan dendam kematian orang tua Nisah. Jadi, Ustadz tidak bisa.." balas Hidayah. Namun perkataannya langsung terhenti, sebab jari telunjuknya Siddiq, sudah mendarat di bibirnya Hidayah, seraya ia berkata.


"Syussth.. dengarlah Dik," ucapnya, sambil kembali menatap lekat wajah istrinya.


"Dik? Balas dendam bukan perbuatan yang baik bagi siapapun. Sehingga tidak patut dilakukan karena balas dendam juga dilarang dalam syariat islam. Kalau pun balas dendam itu tetap di lakukan karena terlalu bencinya terhadap sesuatu. Maka yang bersangkutan akan mendapatkan pengaruh buruk juga. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah ﷺ:


"Tidaklah seseorang memaafkan kezaliman (terhadap dirinya) kecuali Allah akan menambah kemuliaannya,” (HR. Ahmad, Muslim dan Tirmidzi).


"Selain itu kita lebih baik untuk saling memaafkan. Karena pada dasarnya semua tak luput dari sebuah kesalahan. Kalau kamu masih ingin membalas dendam, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa. Tetapi bila kamu bersabar pertolongan Allah pasti akan datang Dik. Dan itu sesuai dengan Firman-Nya.


Allah Ta'ala berfirman: “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS an-Nahl [16] : 126 -128).


"Menjadi pemaaf juga dapat membuat kita lebih tenang dan damai. Hati dan fikiran kita menjadi ringan dan tenang.Tentu saja balas dendam tidak sama dengan ketika membalas perbuatan yang dzalim. Jadi biarkanlah Allah yang membalas perbuatan dzolim mereka Dik. Dan percayalah, keadilan Allah, pasti yang lebih baik. Dan itu sesuai juga yang dikatakan di dalam firman-Nya.


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: “Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri setelah teraniaya tidak ada satupun dosa atas mereka, sesungguhnya dosa itu atas orang yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas di muka tanpa hak. Mereka mendapat adzab yang pedih. Tetapi orang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang amat utama,” (QS. Asy Syuro: 39-43).


"Maka dari, hilangkanlah pemikiran kamu untuk balas dendam. Karena perbuatan itu sangat dibenci Allah Ta'ala Dik. Seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits tentang hukum membalas dendam : “Orang yang paling dibenci Allah ialah orang yang menaruh dendam kesumat (bertengkar).” (HR.Muslim).

__ADS_1


__ADS_2