
Disisi lain.
Arsyad tampak panik tatkala ia melihat Hidayah yang terkulai lemah dan tak sadarkan diri. Setelah melihat suaminya dibawak oleh para petugas kepolisian. Karena ia begitu mengkhawatirkan keadaan adiknya. Arsyad pun langsung membawa Hidayah ke rumah sakit. Namun berhubung di daerah itu hanya ada puskesmas, yang pasilitasnya masih dibilang minim.
Akhirnya Arsyad pun membawa Hidayah ke kota. Karena sudah pasti rumah sakit di kota pasilitasnya lebih lengkap. Dan setelah melakukan perjalanan yang panjang akhirnya mereka sampai di rumah sakit yang berada di kota. Dan Hidayah pun langsung ditangani oleh para dokter yang bertugas di sana. Sedangkan Arsyad dan Ibrahim hanya bisa menunggu di depan ruang UGD. Di sela-sela mereka menunggu Ibrahim tiba-tiba buka suara.
"Nak, apakah kamu benar-benar sudah yakin, ingin menuntut suami adik kamu, Nak?" Tanyanya dengan nada suara yang terdengar lirih. Namun masih terdengar oleh Arsyad.
"Kenapa Kyai? Apakah ada yang salah, bila menuntut seseorang yang telah membunuh orang tua kami? Bahkan dia juga sudah membunuh teman saya juga. Lalu apakah saya harus berdiam diri saja, dan berpura-pura kejadian itu tak pernah terjadi. Apakah seperti itu yang Anda maksud Kyai?" Tanya Arsyad, terdengar datar. Dengan tatapan yang terlihat sedikit kesal pada gurunya itu. Sebab Ia merasa kalau gurunya itu sedang membela orang yang telah membunuh orang tuanya.
Ibrahim malah menyunggingkan senyuman ciri khasnya, seraya berkata. "Kamu tidak salah Nak. Andaikan kamu ingin membalas dendam padanya juga tidak masalah kok. Bahkan Allah pun memperbolehkannya bagi hambanya untuk membalas dendam sesuai atas perbuatannya. Hal itu sesuai yang dikatakan didalam firman-Nya di surat An-Nahl ayat 126.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَاِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوْا بِمِثْلِ مَا عُوْقِبْتُمْ بِهٖۗ وَلَىِٕنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصّٰبِرِيْنَ
"Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar." (QS. An-Nahl Ayat 126)
"Nah, sekarang kamu sudah jelaskan? Allah saja tidak melarang bila kamu ingin membalasnya. Masa kyai yang hanya seorang hamba juga melarang sih? Makanya kamu tidak salah Nak, bila ingin membalas perbuatan adik iparmu itu. Jadi silahkan lakukanlah sepuas hati kamu," balas Ibrahim panjang lebar. Sambil menatap wajah Arsyad dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
__ADS_1
"Dan asal kamu tahu aja Nak. Kyai juga mengatakan hal yang sama pada Adik kamu. Dan Alhamdulillahnya dia lebih cerdas dari kamu Nak," lanjut Ibrahim lagi. Membuat Arsyad tampak tersentak saat mendengar kalimat terakhirnya.
"Eh! Apa maksudnya Kyai, kalau Nisah lebih cerdas dari saya?" Tanya Arsyad tampak penasaran.
Ibrahim kembali tersenyum lembut ketika ia mendengar pertanyaan dari Arsyad. "Yaa... Akuilah Arsyad, kalau Adik kamu lebih cerdas dari kamu. Dia bahkan lebih memahami artian dari Firman Allah yang tadi Kyai bacakan. Sedangkan kamu tidak memahaminya, benar tidak Nak?"
Arsyad kembali tersentak, dan ia pun berusaha mengingat ayat yang sempat dibacakan oleh gurunya itu. "Hmm... Apa maksud Kyai tentang kalimat terakhir dari ayat surat An-Nahl itu? Yang bunyinya, 'Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar''. Benarkan?" Tanya Arsyad balik.
"Iya benar Nak. Nah yang di pilih adik mu adalah kalimat terakhir dari ayat tersebut," balas Ibrahim mengiyakan pertanyaan Arsyad.
"Huh! Itukan karena dia wanita lemah Kyai. Jadi tidak mungkinlah dia bisa membalas perbuatan laki-laki itu!" Ujar Arsyad, terdengar ketus.
Arsyad tampak tertegun sejenak setelah mendengar perkataan sang Kyai. Karena sepertinya ia sangatlah tahu maksud sang Kyai. Dan karena merasa malu ia akhirnya memilih membalas pertanyaan sang Kyai dengan gelengan kepalanya saja.
"Itu karena Dia, begitu mencintai Rabb nya. Makanya Dia lebih memilih untuk bersabar, dan memaafkan atas perbuatan suaminya itu. Sebab apabila seseorang bisa memaafkan kesalahan orang lain maka orang tersebut telah memberi hadiah yang tak ternilai harganya untuk dirinya sendiri, oleh karena itu sifat pemaaf harus dikembangkan dan dipelihara. Bahkan Allah akan memuliakan bagi orang yang memaafkan. Dan hal itu sesuai yang dikatakan disalah satu Hadits Rasulullah ﷺ.
Apabila dia memaafkan, maka Allah akan memuliakannya, dan ini telah dikabarkan Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda, ‘Tidaklah seseorang memaafkan kecuali Allah akan menambah kemuliaannya.’ (HR Muslim no 2588).”
Di dalam Hadits lainnya, Allah akan menaikkan derajatnya bagi mereka yang memaafkan. Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya,) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat)." (HRm Muslim)
__ADS_1
"Nah dari sini kamu pasti sudah pahamkan, Nak? Mengapa adik kamu memilih memaafkan Richard ketimbang membalaskan dendamnya. Bahkan dia mampu menerimanya sebagai suaminya. Apa itu juga dikategorikan sebagai wanita lemah Nak? Tidakkan? Justru Dia adalah wanita yang hebat. Karena Dia mampu membuat seorang mafia bertekuk lutut di hadapan Rabb nya."
Mendengar perkataan dari gurunya. Arsyad merasa seperti tertampar. Ia bahkan merasa malu, karena ia tak mampu menguasai hasratnya, yang berkeinginan untuk membalaskan dendamnya terhadap Richard.
"Aah... Astaghfirullah!" Ucap Arsyad, sambil ia mengusap wajah dengan kasar.
"Um.. maaf Kyai, ternyata iman Ana sangatlah dangkal. Aah... Saya malu pada Nisah, Kyai. Padahal umurku dan Dia berbeda sangatlah jauh. Tetapi ternyata dia lebih dewasa dalam menghadapi situasi ini. Tidak seperti saya yang selalu brutal dalam menghadapi takdir ini," lanjutnya, tampak ada penyesalan dari raut wajahnya.
"Tidak apa-apa Nak. Karena ini masih belum terlambat dan kamu juga masih punya kesempatan. Jadi lakukanlah yang terbaik untuk kamu dan Adik kamu" balas Ibrahim.
"Baiklah Kyai, saya akan mencabut tuntutan saya pada suaminya Nisah,"
"Alhamdulillah, kyai senang mendengarnya," balas Ibrahim lagi, sambil ia memeluk tubuh Arsyad. Dan di saat bersamaan.
"Selamat siang, maaf saya mengganggu Anda berdua," ucap seorang Pria yang mengenakan setelan jas berwarna hitam. Dan disebelahnya juga tampak seorang pria juga sedang berdiri di samping pria tersebut.
"Siang juga, Anda berdua siapa ya?" Tanya Arsyad tampak penasaran.
"Saya Liechen, pengecaranya Tuan Richard. Dan saya datang ke sini untuk menyerahkan surat perceraian untuk Nyonya Hidayah Tuan,"
__ADS_1