HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.

HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.
KERINDUAN YANG MENDALAM.


__ADS_3

*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hadits 🦋❁❁⊱••••••••*


GANTUNGKANLAH SELALU PENGHARAPANMU KEPADA ALLAH.


Ingin dimudahkan urusan? Ingin digampangkan persoalan? Ingin dilapangkan dada, dijernihkan pikiran, ditenangkan hati dan dibukakan pintu-pintu solusi?. Maka gantungkanlah pengharapanmu kepada Allah dan jangan berpaling dari-Nya. Niscaya, cepat atau lambat, semua hajatmu akan dipenuhi pada saat terbaik, dengan cara terbaik, dan dengan sesuatu yang paling baik.


Ada satu nasihat dari Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi rahimahullâh:


"Seorang hamba apabila menggantungkan hati dan mengajukan urusannya kepada Allah semata, niscaya segala urusannya akan menjadi baik, segala keadaannya akan menjadi mudah, pemberian dari Allah pun akan datang kepadanya tanpa dia sadari."


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••


Setelah mengakui bahwasanya Hidayah adalah istrinya. Richard pun langsung membawanya memasuki lift. Selama didalam lift keduanya terlihat hanya terdiam. Hingga akhirnya mereka pun sampai di ruangannya. Dan Richard pun langsung membawa istrinya ke sofa yang berada didalam ruangannya.


"Duduklah!" Titahnya terdengar ketus..


"Terima kasih Mas," ucap Hidayah, seraya ia duduk, sambil membuka cadarnya.


Setelah melihat istrinya telah duduk, Richard pun ikut duduk di sofa yang lainnya. Dengan wajah yang terlihat begitu dingin. Sehingga Hidayah berpikir kalau saat ini suaminya sedang marah pada dirinya yang telah datang tanpa seizin suaminya. Ditambah lagi ia sempat memberi kekacauan saat di depan pintu lift tadi.


"Maaf ya Mas, pasti kamu marah banget sama Ana," kata Hidayah yang akhirnya buka suara lebih dahulu. Membuat Richard sedikit terkejut saat mendengar permintaan maafnya.


"Kenapa kamu yang minta maaf? Emangnya kamu tidak marah saat mendengar perkataan wanita tadi, hah?" Tanya Richard, dengan tatapan yang tak bisa diartikan, saat menatap wajah istrinya.


"Perkataan yang mana Mas?" Tanya Hidayah balik, dengan wajah yang terlihat begitu polos.

__ADS_1


Melihat wajah polosnya Hidayah, Richard langsung membuang wajahnya, sambil berdesis. "Aisss..." Desisnya lalu ia kembali menatap wajah polos istrinya lagi, seraya berkata, "Perkataan yang mengatakan kalau, Aku teman tidurnya. Apakah kamu tidak marah sama sekali dengan perkataan itu, hem?" Tanyanya lagi, terdengar datar.


Mendengar pertanyaan suaminya Hidayah malah menyunggingkan senyuman manisnya. "Hmm.. untuk apa Ana marah Mas, dengan perkataan itu, Mas? Nggak ada untungnyakan? Lagian itukan sudah menjadi bagian masalalunya Maskan?" Jawab Hidayah, terlihat begitu santai. Sehingga membuat Richard malah kesal mendengarnya.


"Heh, sok tahu kamu! Darimana kamu tahu, kalau dia hanya bagian masalaluku, hm? Bisa sajakan, selama aku tidak pulang kemarin, itu karena aku ingin tidur sama dia?" Tanya Richard lagi, dan masih bersikap datar saat menatap Hidayah.


"Dari mana Ana tahu? Hmm.. yang jelas Ana tahu dari pancaran matanya Mas, sendiri," balas Hidayah. Membuat Richard langsung mengerenyitkan dahinya.


"Dari mataku? Memangnya ada apa dengan pancaran mataku, hm?" Tanya Richard lagi terlihat amat penasaran.


"Pancaran mata Mas, yang ana lihat tadi, menggambarkan ketidak sukaannya Mas terhadap wanita itu. Sangat jauh berbeda ketika mata Mas menatap diri Ana," balas Hidayah, sambil membalas tatapan tajamnya Richard dengan tatapan kelembutannya.


Mendengar jawaban dari istrinya, rasa penasarannya semakin besar. "Memangnya ada apa dengan tatapan mataku saat melihat kamu, hm?" Tanyanya lagi. Seraya ia menyandarkan tubuhnya disandaran sofanya, sambil ia melipatkan kedua tangannya di bawah dadanya. Sehingga duduknya jadi terlihat lebih santai. Ditambah lagi ia juga menumpukan kaki kanannya di atas kaki kirinya. membuat ia benar-benar terlihat amat santai.


Hidayah kembali tersenyum manis, setelah mendengar pertanyaan Suaminya. Lalu ia pun bangkit dari sofa yang ia duduki. Dan kemudian ia pun berjalan memutari meja yang berada di tengah-tengah sofa, untuk menghampiri sofa yang diduduki oleh Richard yang posisinya berada disebrang sofa yang tadi ia duduki. Setelah beada dihadapan sofa suaminya, Hidayah pun menekuk kedua lututnya dihadapannya Richard. Membuat mata Richard langsung membulat karena terkejut.


"Aakh!" Pekik Hidayah tampak terkejut.


"Eh! Mas, apa yang kamu lakukan? Inikan kantor, kalau nanti ada yang lihat gimana?" Tanyanya lagi, terlihat ada kecemasan. Sebab ia takut, bila ada seseorang yang melihatnya dalam keadaan seperti itu.


"Tenanglah! Karena tidak akan ada yang berani masuk, sebelum mendapatkan izin dari ku," balas Richard berkata apa adanya. "Sekarang katakanlah ada apa di mataku saat menatap dirimu, hm?" Tanyanya lagi, mengulangi pertanyaannya yang tadi. Seraya ia menatap mata Hidayah, yang saat ini juga sedang menatap dirinya.


Mendengar pertanyaan suaminya lagi, Hidayah pun langsung meletakkan telapak tangannya ke pipinya Richard. Dengan pandangan mata yang terlihat begitu lekat menatap mata suaminya.


"Yang Ana lihat tadi di mata Mas saat melihat Ana. Adalah pancaran kerinduan mendalam yang tersirat mata ini," balas Hidayah, sambil mengelus pucuk kelopak matanya Richard dengan ujung jari jempol. Karena telapak tangannya sedang menempel di wajahnya Richard.


Richard langsung tersentak, saat Hidayah menebak apa yang terpancar di matanya. Melihat hal itu Hidayah pun kembali buka suara. "Kenapa kamu kaget begitu Mas? Apakah tebakan Ana benar, hm?" Tanyanya terdengar lembut. Membuat Richard tak kuasa lagi menahan dirinya yang sejak tadi berusaha mempertahankan keegoannya agar terlihat datar dan dingin didepan Hidayah.

__ADS_1


"Iya kamu benar! Aku memang begitu merindukanmu," katanya. Seraya ia meraih bibirnya Hidayah, yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya. Lalu, bak seorang yang sedang kehausan, ia langsung mengulum semua bibirnya Hidayah. Ia benar-benar ingin melampiaskan rasa yang ia tahan selama ini..


Mendapatkan serangan yang begitu ekstrim menurut Hidayah. Membuat ia merasa kesulitan bernapas. Dan ketika nafasnya benar-benar hampir habis, Hidayah pun langsung memukuli dada bidang suaminya itu. Dan dengan spontan Richard langsung melepaskan tautan bibirnya.


"Hoss..hoss...kamu, hoss...kamu ingin membunuh Ana Mas? Hoss..ah hoss..." Tanya Hidayah dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Aah.. maaf Sayang. Hah..hah.. ini karena Mas, benar-benar sangat merindukanmu," balas Richard yang terlihat nafasnya juga tersengal-sengal.


"Sangat merindukan Ana? Kalau memang benar, lalu kenapa Mas, selalu menghindari Ana, hm?" Tanya Hidayah terlihat begitu penasaran.


"Maaf Dayah, Aku melakukan ini karena Aku tak bisa menahan diriku bila berada didekat kamu," balas Richard, yang pandangannya memang terlihat sudah dikuasai oleh hasratnya. Namun terlihat juga ia sedang menahannya juga.


"Dan Aku juga tak bisa melihat kamu ketika kesakitan. Karena hatiku terasa sakit ketika melihatnya. Makanya Aku lebih memilih menghindar dari pada Aku melihat kamu..." Sambung Richard lagi. Namun perkataannya langsung terhenti. Sebab bibir Hidayah ternyata sudah mendarat kebibirnya. Dan seketika mata Richard langsung membulat sempurna.


"Itu hal yang wajar, bila Ana merasa sakit Mas. Sebab hari itu adalah yang pertama kalinya untuk Ana. Tetapi untuk kedua kalinya, Insya Allah Ana tidak akan merasa kesakitan lagi. Jadi mulai sekarang Mas, tidak perlu menahannya lagi," ujar Hidayah setelah ia melepaskan tautan bibirnya.


"Aaah.. benarkah itu Sayang?" Tanya Richard, seperti belum percaya pada pendengarannya.


"Hu'um Mas," balas Hidayah, sambil ia mengedipkan matanya. Membuat mata Richard langsung membulat.


"Eh! Kalau begitu Aku tak akan menahannya lagi," katanya dan ia pun langsung meraih bibirnya Hidayah. Dan tak berapa lama kemudian, ia pun langsung mengangkat tubuh Hidayah dengan posisi bibir masih bertautan.


Sedangkan Hidayah langsung melingkari kakinya dipinggangnya Richard. Hal itu memudahkan Richard untuk melangkahkan kakinya, menuju ke sebuah pintu yang berada di sudut ruangannya. Sesampainya di depan pintu, Richard pun langsung membukanya. Dan ternyata disana terdapat sebuah tempat tidur yang lumayan luas. Dan Richard pun langsung meletakkan tubuh istrinya itu diatas tempat tidur tersebut.


Dan setelah itu Author nggak tau lagi. Karena Author nggak mau ngintip, 😁


...•••••••••••⊰❁❁❁⊱•••••••••••...

__ADS_1


Dan bersambung deh, jangan lupa kasih dukungannya ya Guys Syukron 🙏


__ADS_2