
*•••••••⊰❁❁🦋 Mutiara hikmah 🦋❁❁⊱••••••••*
Jangan bersedih...
Kita mempunyai Allah yang begitu penyayang. Ketika kita berbuat dosa, maka Allah akan mengampuni taubat kita. Ketika kita berputus asa, maka Allah akan menuntun kita. Ketika kita melakukan kesalahan, maka Dia akan memperbaiki kita
Janganlah bersedih,
Qadha adalah hal yang sudah pasti dari-Nya, dan takdir sudah tertulis dalam lembaran-lembaran kehidupan. Mungkin kita bisa hidup hari ini, tapi siapa tahu besok kita sudah mati.
Jika sisa usia yang kita miliki hanya tinggal satu hari saja, maka sebaiknya kebahagiaan dan rasa syukur akan kita persembahkan dalam sisa hidup kita di hari itu.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••
"Baiklah Saya akan bertanggung jawab! Jadi silahkan Anda memanggil polisi!" Kata Richard, terdengar begitu tegas, dengan tatapan yang terlihat begitu menantang. Hidayah yang mendengar perkataan suaminya. Membuat ia tampak begitu terkejut.
"Apa?! Tidak-tidak! Jangan lakukan itu Bang! Dia suami Nisah Bang. Jadi Nisah mohon, jangan libatkan polisi dalam hal ini Bang!" Pinta Hidayah sambil ia menggenggam kedua tangannya Arsyad.
"Terlambat Nisah! Karena mereka juga sudah berada disini," balas Arsyad, yang tatapan matanya terlihat sedang membalas tatapan tajamnya Richard.
__ADS_1
"Apa?! Tega banget sih kamu Bang, dia itu adik ipar Abang! Kalau suami Nisa..." Ujar Hidayah. Namun perkataannya langsung disela oleh Richard.
"Sayang, kamu tidak perlu memohon pada Abang kamu. Karena yang dilakukannya tidaklah salah. Sebab Mas, memang harus mempertanggung jawabkan perbuatan Mas, Sayang," sela Richard, sambil menyunggingkan senyuman lembutnya pada Hidayah.
"Tapi Mas..." Kata Hidayah. Namun lagi-lagi perkataannya kembali di potong oleh Richard.
"Sssth... Sayang apakah kamu tidak ingat dengan perkataan kamu tadi malam, hm? Bukankah kamu yang mengatakan, apapun yang terjadi pada diri kita, semuanya sudah menjadi rencana Allah kan? Nah mungkin ini juga bagian dari rencana-Nya. Jadi Mas, harus menerima konsekuensinya atas apa yang Mas perbuat. Dan rasa Mas hukuman di dunia ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan hukuman di akhirat. Dan Mas ikhlas kok menerima apapun hukumannya. Jadi kamu harus ikhlas juga ya Sayang?" Tutur Richard, terdengar begitu lembut.
Mendengar perkataan dari suaminya. Hidayah pun langsung berlari, kepelukan Suaminya. Dengan deraian air matanya. Dan Richard pun menyambutnya dengan hangat. Bahkan ia juga memberikan kecupan lembut pada puncak kepalanya dan juga dahinya. Melihat hal itu Ibrahim pun tersenyum bangga.
"Maa shaa Allah... Lihatlah Nak. Lihatlah! Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan adik kamu. Betapa indah bukan?" Tutur Ibrahim, dengan wajah yang terlihat begitu senang dan puas. Tatkala matanya melihat keharmonisan Hidayah dan Richard.
"Asal kamu tahu saja Nak. Dulu adik kamu sama seperti kami saat ini yang di penuhi oleh rasa dendam. Bahkan dia selalu berlatih ilmu bela diri dan ilmu berpedang, tanpa rasa lelah, dan tanpa tahu waktu. Hingga akhirnya, Kyai menantang dia untuk menaklukkan seorang mafia yang terkenal begitu ditakuti dan begitu kejam. Tapi lihatlah sekarang hasilnya, bukankah itu terlihat membahagiakan?" Sambung Ibrahim.
Assalamualaikum! Selamat siang!" Ucap salah satu pria berseragam tersebut.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu," balas Ibrahim dan juga Arsyad secara bersamaan.
"Aah... Kalian sudah datang?" Kata Arsyad, seraya ia menyalami polisi yang tadi memberi salam.
"Benar Pak! Dan kami datang, sesuai dari laporan Pak Arsyad. Dan kami datang dalam misi penakapan. Oh iya dmana tersangka yang Anda katakan itu Pak?" Tanya polisi itu lagi.
__ADS_1
"Saya disini, kapten Suprapto!" Sahut Richard. Membuat Pria yang di panggil kapten Suprapto langsung menoleh ke arah Richard, yang terlihat masih memeluk istrinya.
Melihat wajah Richard, sang kapten tampak terkejut. "Tuan Richard!" Sentaknya.
"Apa kabar kapten? Lama juga kita tidak bertemu ya?" Ujar Richard, Seraya ia menyunggingkan senyuman tipisnya pada pemimpinan yang terlihat masih dihadapan Arsyad.
"Saya baik Tuan! Gimana dengan Anda sendiri?" Tanya sang kapten lagi.
"Alhamdulillah, Saya baik kok. Aah, baiklah karena sudah selesai berbasa-basinya. Sekarang sebaiknya Anda silahkan jalankan tugas Anda!" Balas Richard, seraya ia melepaskan pelukan istrinya. Lalu ia pun mengulurkan kedua tangannya.
"Tapi Tuan, saya belum tahu tuduhan.." kata Suprapto tampak ragu.
"Sayalah pembunuh orang tua Tuan Arsyad! Jadi silahkan Anda borgol tangan saya!" Potong Richard, terdengar tegas. Dan masih mengulurkan kedua tangannya.
"Aah, baiklah Tuan! Sesuai keinginan Anda!" Ujar Suprapto. Seraya ia mengambil borgolnya. Lalu ia pun memborgol tangan Richard. Setelah itu mereka pun membawa Richard. Hidayah yang melihat hal itu, tak kuasa lagi menahan kesedihannya. Dan ia pun hendak mengejar Suaminya. Namun Arsyad langsung mendekapnya dari belakang.
"Mas! Hiks... hiks... Mas! Jangan tinggalkan Nisah! Hiks..hiks... Lepasin Nisah Bang!" Teriak Hidayah, sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Arsyad yang begitu erat.
"Dek! Tenanglah, biarkan dia menjalanin hukumannya!" Ujar Arsyad, yang terlihat semakin mempererat pelukannya.
"Tidak! Bukan seperti ini! Hiks..hiks.. Maas Richard!! Aah...." Teriak Hidayah sekencangnya. Namun saat bersamaan ia langsung pingsan. Membuat Arsyad terkejut melihatnya.
__ADS_1
"Astaghfirullah! Dek? Kamu kenapa? Bangun dek!!"