
*•••••••⊰❁❁🦋 Mutiara Hikmah 🦋❁❁⊱••••••••*
Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman :
“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. At-Taghabun: 11)
Keberkahan seorang muslim salah satunya terletak pada hati yang tenang, ridho, tawakal atas segala hal yang terjadi dalam hidupnya. HATI yang tenang akan bersyukur apabila menerima nikmat. Sabar bila ditimpa musibah. Rela memaafkan dan mudah meminta maaf apabila bersalah. Qanaah dengan rezeki yang ada. Tawakal apabila berusaha dan senantiasa bersangka baik dengan Allah dan manusia.
Semoga kita semua memperolehi hati yang tenang (mutmainnah) dalam menghadapi segala ujian hidup, diberi kekuatan iman, Islam dan Ihsan serta diberkati dan dirahmati Allah ﷻ..aamiin
__Today Muhasabah__
•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••
Setelah mendapatkan informasi kalau ada kunjungan untuk dirinya. Richard pun langsung bergegas menuju ke ruangan khusus untuk pertemuan bagi para tahanan yang dapat kunjungan dari keluarganya. Sesampainya di depan ruangan tersebut, Richard langsung membuka pintu, dan ia pun masuk tanpa ada keraguan sedikitpun. Namun seketika matanya langsung membulat sempurna tatkala pandangan tertuju pada seorang wanita bercadar yang sedang duduk tak berapa jauh dari pria yang amat ia kenali.
"Kau?! Kenapa kau membawa dia hah? Bukankah Aku sudah..." Tanya Richard, dengan tatapan dingin mengarah ke Pria yang tak lain adalah Sandi. Namun belum lagi ia menyelesaikan pertanyaannya perkataannya tiba-tiba wanita bercadar itu langsung menyelanya.
"Ini bukan salah Bang Sandi, Mas. Nisahlah yang memaksa Bang Sandi. Jadi Nisah mohon jangan marahi Bang Sandi ya Mas?" Ujar wanita bercadar itu, yang tak lain ia adalah Hidayah. Dan ia pun langsung mendekati Richard.
"Assalamu'alaikum Mas," katanya lagi, seraya ia menyalami tangan suaminya dan tak lupa juga ia mengecup punggung tangan suaminya itu.
Melihat istrinya yang masih saja, menghilangkan dirinya. Membuat Richard tak bisa berkutik lagi. Dan ia hanya menghelakan nafas beratnya. Sambil membalas salam istrinya dengan keterpaksaan.
"Huuft! Wa'alaikumus salam!" Ucapnya terdengar ketus ditelinganya Hidayah.
__ADS_1
"Eh, kok ketus amat sih jawab salamnya Mas?" Tanya Hidayah, sambil menatap lekat wajah suaminya.
Mendapatkan tatapan dari istrinya, Richard pun langsung membuang pandangannya kearah lain, yang berkata. "Hmm... Sebaiknya jangan berbasa-basinya. Sekarang katakan, ada keperluan apa kamu kesini. Sampai-sampai kamu melibatkan Sandi, hm?" Tanyanya terdengar datar.
"Iiiss... Mas kok nanyanya gitu sih? Emangnya salah ya, bila seorang istri memiliki rasa kangen pada Suaminya sendiri ya?" Tanya Hidayah, sambil meraih kedua pipinya Richard. Agar pandangannya beralih ke dirinya. Sehingga mau tak mau mata Richard langsung mengarah kepadanya.
"Haiis... Inilah alasan, mengapa Aku menggugat kamu. Karena Aku tuh nggak mau melihat kamu seperti ini Nisah. Apalagi saat ini kamu sedang hamilkan? Itu tidak akan baik untuk anak kita, Nisah," ujar Richard, yang kita tatapannya sudah sedikit melunak.
"Astaghfirullah, istighfar Mas. Kamukan tau, Allaah itu sangat membenci yang namanya perceraian. Yah, meskipun perceraian itu dibolehkan dalam syariat Islam, akan tetapi perceraian itu sangatlah dibenci Allaah ﷻ dan rasul-Nya. Sebab perceraian bukan saja memutus hubungan pernikahan suami istri melainkan berisiko besar menyebabkan konflik dan renggangnya hubungan antar dua keluarga yakni dari pihak suami dan pihak perempuan. Dan yang akan menjadi korban anak-anak merekakan? Nah Nisah, nggak mau hal itu terjadi dan yang utama, Nisah nggak melakukan hal yang amat di benci Allaah Mas." Balas Hidayah panjang lebar. Membuat Richard kembali menghela nafasnya lagi.
"Huuft... Tapi Nisah, kitakan nggak tahu, sampai kapan, hukuman ku selesainyakan? Emangnya kamu mau menunggu sampai kapan, hm? Dan gimana kalau Mas nantinya di vonis seumur..." Ujar Richard. Namun lagi-lagi perkataannya terputus, sebab tangan Hidayah sudah menutupi mulutnya Richard.
"Sssth... Ingat Mas, kata-kata adalah doa. Jadi Nisah mohon, Mas jangan mengatakan hal-hal yang mendahului Allah Mas. Dan Nisah juga meminta, sebaiknya Mas selalu berprasangka baik saja ya? Sebab Allah selalu selalu bersama prasangka hamba-Nya, Mas. Makanya Nisah berprasangka kalau hukuman Mas, tidak akan lama. Jadi yakinkan itu saja ya Mas," ujar Hidayah, terdengar begitu lembut dan menghangatkan.
"Haiis... Kalau ngomong sama kamu tuh, nggak pernah menang ya?" Keluh Richard, dengan memasang wajah kekalahannya.
"Iya iya, Mas tahu kok!" Balas Richard terdengar dingin.
"Hmm... Oh iya, Mas sudah sarapan belum?" Tanya Hidayah, mengalihkan pembicaraan.
"Belum!" Balas Richard, dengan singkat dan terdengar datar.
"Loh kok belum, emang disini tidak disiapin sarapan ya Mas?" Tanya Hidayah terlihat begitu penasaran.
"Di sediakan kok. Cuma Mas aja yang nggak bisa sarapan," balas Richard masih terdengar datar.
__ADS_1
"Hah? Nggak bisa sarapan? Emangnya kenapa Mas?" Tanya Hidayah lagi, masih dengan wajah penasarannya.
"Ya, gimana mau sarapan, orang baru lihat makanannya aja perut Mas sudah mual. Jadi dari pada muntah-muntah, lebih baik tidak usah sarapankan?" Balas Richard, apa adanya.
"Mual, muntah-muntah? Hah? Jangan-jangan Mas saat sedang mengalami sindrom simpatik kehamilan, Nisah lagi?" Tebak Hidayah dengan spontan.
"Yah, gitu juga sih kata teman satu sel ku," balas Richard masih datar.
"Masyaa Allaah, pantasan selama ini Nisah, tidak mengalami masa ngidam sedikitpun. Rupanya ternyata, si calon Papa toh, yang mengalaminya. Ukh... Nisa kok kayaknya semakin cinta deh, sama si calon Papa," ujar Hidayah, yang kemudian ia langsung memeluk tubuh suaminya. Bahkan ia juga memberikan kecupan pada pipinya Richard. Dan seketika mata Richard langsung membulat sempurna, tampak sekali ia begitu kaget mendapatkan perlakuan seperti itu oleh istrinya.
"Eh! Apa yang kamu lakukan Nisah?! Jangan begini!" Teriaknya, sambil berusaha melepaskan diri dari pelukannya Hidayah.
"Aah... Sial! Kalau begini aku tidak bisa menahan diriku!" Gumamnya terlihat kesal. Namun tiba-tiba saja ia teringat pada bisikan teman satu selnya kemarin.
"Hmm... Bukankah pak tua itu mengatakan di tempat ini, disediakan ruangan khusus untuk suami istri?" Kata batin Richard, dan tiba-tiba pandangan langsung mengarah ke Sandi.
"Sandi! Aku pinjam hp kamu, sini!"
Mendengar titah dari bosnya spontan, Sandi pun langsung menghampirinya. "Baik Tuan muda, ini silahkan," balasnya sambil menyerahkan handphonenya pada Richard. Dan Richard pun langsung mengambilnya, dan ia pun langsung mengetik sesuatu disana. Setelah itu, ia kembalikan lagi handphonenya pada Sandi.
"Nih, baca diluar dan cepat laksanakan!" Katanya, terdengar dingin.
"Baik Tuan muda!" Balas Sandi, dan ia pun langsung bergegas meninggalkan ruangan kunjungan tersebut. Dan sesampainya diluar ruangan. Ia pun langsung melirik ke layar handphone. Dan tampaklah olehnya sebuah titah, dalam bentuk tulisan.
^Tolong carikan aku ruangan khusus untuk suami istri. Kalau tidak tahu sebaiknya kau bertanya pada salah satu petugas. Dan bila perlu kau bayar ruangan tersebut. Mengerti!^
__ADS_1
"Hah? Ruang khusus? Haiis... Kenapa jadi aku yang harus mencarinya?" Gerutu Sandi, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.