HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.

HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.
KETEGUHAN RICHARD.


__ADS_3

Richard langsung dibawa ke kantor polisi. Sesampainya disana Ia langsung diinterogasi. Untungnya pengacaranya langsung cepat tanggap dan langsung datang begitu mendengar Richard ditangkap. Setibanya di sana sang pengecara bermaksud ingin menyelesaikan secara damai. Seperti yang ia lakukan selama ini. Makanya Richard selalu terhindar dari yang namanya hukuman setiap apa yang ia lakukan.


Namun kali ini berbeda, Richard tampak melarang pengacaranya itu, untuk melakukan hal yang kotor. Karena ia sudah memantapkan dirinya untuk benar-benar bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan terhadap keluarga istri yang amat ia cintai itu. Hal, itu membuat pengacaranya sekaligus temannya itu terheran-heran pada sikapnya saat ini.


"Apa Lo gila Richard?!" Bentak pengacaranya Richard, saat mereka berada di sebuah ruangan khusus dikantor polisi tersebut.


"He! Apa maksud Lo ngelarang gue melakukan nego dengan mereka, hah? Apa Lo pikir, Lo bakalan di penjara hanya satu atau dua hari aja gitu, hah?" Lanjut pria berjas hitam dengan wajah yang terlihat begitu putih dan memiliki mata yang terlihat sipit. Tampak sekali ia begitu kesal pada Richard. Membuat Sandi yang saat ini berdiri disampingnya langsung menyentuh pundak pria tersebut.


"Tenanglah Tuan Liechen! Sebaiknya Anda jangan terbawa emosi. Karena saat ini apapun yang Anda katakan itu tidak akan mempan Tuan. Jadi sebaiknya Anda dengarkan dulu saja alasan dari Tuan Richardnya sendiri," ujar Sandi dengan suara yang terdengar sedikit berbisik.


Mendengar bisikan dari Sandi, pria yang dipanggil Liechen menghelakan nafas beratnya. "Hah! Baiklah, gue akan ikuti apa yang dikatakan oleh asisten Lo ini. Sekarang katakan pada gue, apa alasan Lo yang bersikeras untuk menjalani hukuman ini?" Ujar Liechen. Seraya ia duduk di sebuah kursi yang berada di hadapannya Richard. Dengan dibatasi oleh sebab meja yang berada di tengah-tengah mereka.


Untuk sesaat, Richard tak langsung membalas perkataan dari Richard. Dan tak lama kemudian ia pun menghela nafas beratnya. Setelah itu ia pun menatap wajah Liechen dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Hal itu membuat Liechen semakin penasaran pada temannya itu.


"Sebenarnya Lo kenapa sih? Bukannya menjawab pertanyaan gue. Ini malah ngeliatin gue kayak gitu lagi! Iiih... Ngeri tau gue liat tatapan Lo. Habjsnya kayak nafs* gitu Lo ngeliat gue!" Protes Liechen. Membuat Richard langsung menyunggingkan senyuman smriknya.


"Heh... Lo ya.. kalau ngomong suka ngasal ya? Cih! Nazis gue nafs* ma Lo!" Balas Richard terdengar ketus.

__ADS_1


"Aah... Sudahlah! Sekarang jelaskan Ama gue. Apa alasan Lo mau menjalanin hukuman ini, hm?" Tanya Liechen lagi, mengulangi pertanyaannya yang tadi.


"Lei, Lo taukan gimana bini gue?" Tanya Richard balik.


"Iya gue tau. Bini lo wanita yang sholehah yang mampu merubah lo dari orang yang bejat, menjadi orang yang.. ya bisa dikatakan sekarang Lo... Ya Sholeh jugalah," jawab Liechen, yang sepertinya ia enggan mengatakan memuji perubahan dari temannya itu.


"Alhamdulillah... Ya gue akui itu, kalau gue banyak berubah semenjak bersama dia. Sebab dia selalu mengajari gue banyak hal. Terutama baik buruknya kehidupan dunia ini, yang sifatnya hanya sementara. Karena sesungguhnya tempat kita yang sebenarnya ada di akhirat. Seperti yang tertulis di kitab suci Al-Qur'an, yang artinya.


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :


“Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mengerti ?” (QS. Al-An'am: 32).


"Nah, maka dari itu gue melakukan ini agar..."


Mendengar setiap perkataan dari Richard. Liechen pun mulai memahami arah pembicaraan yang akan dilontarkan oleh sahabatnya itu. Sehingga ia langsung bisa menebaknya sebelum Richard mengungkapkan kesemuaannya. Jadi tak heran kalau ia langsung menyela perkataan Richard.


"Ooh... Gue tau! Jadi Lo bermaksud ingin menebus dosa Lo dengan cara seperti inikan?" Potong Liechen, sambil ia melipatkan kedua tangannya di bawah dadanya.

__ADS_1


"Iya, Lo benar. Karena mungkin dengan cara seperti ini, gue bisa menebus dosa-dosa gue yang mulai menyesakan ini. Jadi gue minta Lo hanya mengikuti prosedurnya saja," balas Richard, tampak pasrah.


Liechen pun menyunggingkan senyuman sinisnya. "Heh! Jadi Lo udah yakin banget nih, mau menjalani hukuman ini, Rich? Dan pastinya Lo udah tau bangetkan, kalau hukuman ini, bukan hanya setahun atau dua tahun ajakan? Karena bisa jadi Lo bakalan dipenjara seumur hidup. Sebab sudah pasti, semua kejahatan Lo akan terungkap. Apakah Lo sudah menyadari itu Richard?" Tanyanya sekali lagi. Karena ia ingin memastikannya lagi.


"Ya, gue yakin dan gue juga sadar akan hal itu. Makanya tadi gue udah bilangkan, gue akan menerima konsekuensinya. Yaa meskipun gue harus mendekam seumur hidup dipenjara, gue akan tetap menjalaninya dengan ikhlas," balas Richard, sambil tersenyum penuh keikhlasan.


Melihat keteguhan Richard yang akan menjalani hukumannya. Liechen pun menghelakan nafas beratnya. "Huuft... Ya sudahlah kalau begitu! Eh, tapi kalau Lo udah mutusin sendiri, ngapain Lo manggil Gue kesini, hah?" Tanyanya lagi.


"Gue nyuruh Lo datang kemari. Itu karena gue mau Lo menguruskan surat perceraian gue!" Balas Richard terdengar begitu tegas. Membuat Liechen maupun Sandi tampak begitu terkejut. Pasalnya mereka amat tahu betul, kalau Richard begitu mencintai istrinya.


"Apa?! Lo mau menceraikan Hidayah? Lo nggak salah ngomong bro? Lo aja berpisah beberapa jam aja ama dia, Lo udah mau gila. Lah gimana kalau Lo benar-benar cerain dia coba? Bisa-bisa Lo malah medekam di rumah sakit jiwa, Bro!" Ujar Liechen, yang sepertinya ia enggan mengikuti keinginan sahabatnya itu.


"Ini yang terbaik untuk dia Lie. Karena gue nggak mau dia menunggu gue, yang tidak pasti kayak ginikan? Makanya lebih baik kami bercerai, agar dia bisa menemukan kebahagiaannya. Dan gue yakin di luaran sana, dia pasti akan dipertemukan jodoh yang terbaik untuknya," balas Richard, dengan wajah yang terlihat ada kesedihan yang tersirat disana.


Mendengar penjelasan Richard, akhirnya Liechen pun terdiam. Karena apa yang dikatakan temannya ada benarnya. "Hah! Ya sudahlah, kalau itu keputusan Lo, gue akan segera mengurusnya," katanya, dengan wajah yang terlihat pasrah.


"Thanks ya bro? Oh iya satu lagi, gue juga mau Lo bikinkan surat kepemilikan pesantren yang baru gue bangun di kota B, atas nama bini gue. Setelah itu gue mau Lo dan Sandi langsung mengantar kedua surat tersebut. Kalian pahamkan?" Ujar Richard, sambil ia memandang Sandi juga secara bergantian.

__ADS_1


"Baik Pak!"


"Oke Bro!" Balas Sandi dan juga Liechen secara bersamaan. Setelah itu mereka pun berpamitan pada Richard. Karena waktu berkunjung telah usai.


__ADS_2