HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.

HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.
KENANGAN TERINDAH.


__ADS_3

*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hikmah 🦋❁❁⊱••••••••*


Kesenangan dunia dan kesengsaraannya adalah ujian dari Allah. Apakah kita menjadi hamba yang bersyukur saat diberi nikmat dan sabar saat diberi cobaan, ataukah sebaliknya. Karena dunia ini adalah daarul ibtilaa’ (negeri tempat ujian dan cobaan).


Allah Azza wa Jalla berfirman,


“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali.”


(QS. Al-Anbiya: 35)


Senang dan duka adalah sunatullah yang pasti senantiasa mewarnai kehidupan ini. Tidak ada seorang manusia pun yang terus merasa senang, dan tidak pula terus dalam duka kesedihan. Semuanya merasakan senang dan duka datang silih berganti. Allah lah yang menciptakan kebahagiaan dan kesedihan agar manusia senantiasa bersyukur dan tidak menyombongkan diri.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••

__ADS_1


Hari-hari terus berlanjut, bergulir silih berganti. Hingga tanpa terasa masa Iddah Hidayah telah berakhir. Hal itu membuat ia semakin leluasa melatih ilmu bela diri dan ilmu berpedangnya. Bahkan ia juga semakin mahir dan lihai. Walaupun kata-kata sang guru masih melekat dalam ingatannya. Namun ia masih belum bisa memutuskan apakah ia harus mengikuti perkataan sang gurunya, ataukah ia mengikuti hawa nafsunya yang ingin membalaskan dendam untuk orang-orang yang dicintainya.


Hidayah masih terlihat sedang berlatih, dibukit tempat biasa ia berlatih. Dan kali ini ia ditemani oleh harimau putih sang penjaga bukit maung. Tampak sekali kalau Hidayah sudah mulai terbiasa dengan kehadiran si harimau putih tersebut. Bahkan membuat Hidayah jadi merasa aman bila sang penjaga itu selalu menemaninya berlatih. Terkadang ia juga sering mengajaknya berbicara, seperti hari ini setelah ia menyelesaikan latihannya. Hidayah langsung duduk disebuah batu, sambil memegang pedangnya.



"Ki Maung, Apa yang harus Dayah lakukan? Rasanya Dayah tidak mampu melakukan apa yang dikatakan oleh Kyai. Karena hati ini masih terasa sangat sakit, rasanya Ana masih belum mengikhlas, semua perbuatan manusia keji itu!" ujar Hidayah dengan mata terlihat dipenuhi api kemarahan.


Mendengar perkataan dari Hidayah, harimau putih itu pun mengaum beberapa kali, seolah ia sedang menanggapi curhatannya Hidayah. Dan seakan juga Hidayah seperti paham apa yang di aumkan oleh si harimau ia pun langsung berdiri dari duduknya, seraya berkata.


Mendengar kata-kata Hidayah lagi, kembali lagi si Harimau putih itu mengaum, seolah ia sangat paham apa yang dikatakan oleh Hidayah.


ROAARR... ROAAR..


Mendengar Auman si Harimau putih, Hidayah langsung membungkuk tubuhnya sedikit, "Baik Kyi Maung, insya Allah Ana akan berhati-hati. Doakan Ana juga ya, biar semuanya menjadi lancar. Kalau begitu Ana pamit Kyi Maung, Assalamu'alaikum" kata Hidayah lagi, dan kembali lagi ia membungkukkan tubuhnya sedikit pada Harimau putih tersebut.

__ADS_1


ROAARR..


Setelah mendengar Auman dari harimau putih, Hidayah pun langsung melangkah kakinya menuruni bukit, tempat ia biasa melatih ilmu bela diri dan ilmu berpedangnya. Ia terus berjalan menelusuri jalan setapak, yang mengarah ke pondoknya Siddiq. Setibanya di pondok ia pun langsung masuk ke dalamnya. Bahkan ia langsung menuju kamarnya.


"Ana harus cepat pergi, sebelum pak Kyai kembali ke pondok ini. Soalnya kemarin Ana mendengar kalau kyai sedang berada di pondok putri. Jadi ini kesempatan Ana untuk pergi dari sini." gumam Hidayah, seraya ia menyusun beberapa bajunya ke dalam tas ranselnya.


Setelah dirasanya cukup, ia pun langsung menyandangkan di kedua bahunya. Setelah itu ia pun melangkah keluar dari kamarnya. Untuk sesaat ia pandangi sekeliling isi pondok. Hingga akhirnya matanya mengarah kesebuah rak kecil yang berisikan buku-bukunya Siddiq. Ia pun menghampiri rak tersebut. Dan tampaklah olehnya sebuah Alquran mini berwarna hijau yang tertutup rapat oleh resletingnya. Hidayah pun mengambil Alquran tersebut. Lalu ia buka resletingnya.


"Ana tak memiliki sesuatu yang menjadi sebuah kenangan. Untuk itu, izinkan Ana membawa Alquran dan pedangmu ini ya Mas? Ana berjanji, ana akan menjaga benda kesayanganmu ini sampai akhir hayat Ana," gumam Hidayah, lalu ia pun menutup kembali Alquran itu, lalu ia pun mencium Alquran tersebut. Setelah itu ia masukkan kedalam tas kecilnya yang berada di depan.


Setelah semua yang diperlukan telah terbawa semua. Hidayah pun kembali melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Setelah diluar, ia pun langsung menguci pintu pondok tersebut. Dan sekali lagi, untuk sesaat ia pandangi pondok yang belum sampai satu tahun ia tinggal itu. Dengan tatapan mata yang terlihat begitu sendu bahkan matanya juga terlihat mulai berkaca-kaca. Namun dengan cepat ia menepis air mata tersebut, sebelum air mata itu jatuh kepipinya..


"Selamat tinggal kenangan terindah. Terima kasih, sudah melindungiku dari hujan dan panas sekali lagi terimakasih. Dan selamat tinggal!" gumam Hidayah lagi. Lalu setelah itu ia pun langsung bergegas pergi meninggalkan pondoknya Siddiq. Dan ia sengaja berjalan memutari podok utama. Agar kepergiannya tak diketahui oleh siapapun. Ia sengaja berjalan menelusuri jalan yang jarang sekali anak Santri melewatinya.


...•••••••••••⊰❁❁❁❁⊱••••••••••••...

__ADS_1


Dukung Ramanda terus ya guys, Syukron 🙏


__ADS_2