HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.

HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.
KECEPLOSAN.


__ADS_3

*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hikmah 🦋❁❁⊱••••••••*


Ketika hati tersakiti, dan harga diri terlukai, kadang kesabaran runtuh terkoyak dan menyisakan kemarahan yang sulit dipahami. Ketika kegagalan silih berganti, atau musibah bertubi-tubi, kesabaran pun diuji di titik paling tepi. Ketika yang kita sayangi, melakukan hal yang tidak kita ingini, meski telah berkali-kali diperingati, rasanya kesabaran itu tiada arti.


Padahal benarkah sabar itu bertepi? Benarkah utas kesabaran itu berbatas? Lalu bagaimana dengan kesabaran Sumayyah binti Khayyat ketika mempertahankan aqidah ditengah ancaman kematian menimpa diri dan keluarganya? Bagaimana kesabaran Asiyah binti Muzahim ketika menghadapi kekafiran suaminya yakni Fir'aun?


Banyak contoh kesabaran yang jauh dari perkiraan ujian yang kita hadapi saat ini, dan kita tahu pasti ada balasan dari kesabaran itu...tak lain adalah Syurga, yang diidamkan oleh setiap muslim di dunia. Masihkah merasa sabar itu ada batasnya?


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••


Di bukit Maung.


Setelah mendengar nasehat dari Suaminya, Hidayah, tak lagi berpikir ingin membalaskan dendam untuk kedua orang tuanya. Namun ia tetap mempelajari ilmu bela diri serta ilmu berpedang dari Siddiq. Dan sesuai dengan janjinya, Siddiq pun akhirnya mengajarkan istrinya, ilmu-ilmu tersebut. Padahal sebenarnya ia menyukai istrinya mempelajari ilmu tersebut.


Namun karena sebenarnya itu juga amanah dari KYai Ibrahim. Mau tak mau akhirnya, ia harus, mengajarkan istrinya tersebut. Seperti saat ini ia sedang mengajarkan Istrinya itu ilmu berpedang. Pada awalnya, latihan mereka terlihat biasa-biasa saja. Namun lama-kelamaan, ia melihat mata istrinya seperti hendak membunuh seseorang begitu tajam, saat ia sedang mengayunkan pedangnya itu.



"Alhamdulillah.. istriku memang luar biasa. Dia selalu cepat tanggap, sehingga semua yang Ana ajarkan, langsung ia serap dengan sempurna," gumam, Siddiq, seraya ia memperhatikan setiap gerakan yang sedang dilakukan oleh Hidayah.


"Hmm.. tapi kenapa matanya seakan ingin membunuh seseorang ya? Apa yang sedang Dik Nisah pikirkan ya?" gumamnya lagi. Dan masih terlihat begitu terfokuskan pada pada istrinya



Disaat Siddiq masih fokus pada istrinya tiba-tiba salah satu seorang satri putra datang menghampirinya, "Assalamu'alaikum ustadz" ucap Santri tersebut saat berada di hadapannya Siddiq.

__ADS_1


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu. Ada Bahri?" tanya, Siddiq setelah ia menjawab salam Santi yang dipanggil Bahri itu oleh Siddiq.


"Maaf Ustadz, Ana mengganggu sejenak. Dan Ana mau memberitahukan bahwa Ustadz dan Ustadzah, di panggil pak Kyai Ibrahim. Dan beliau saat ini sedang menunggu di pendopo," jawab Bahri dengan sopan.


"Hmm, sejak kapan Kyai datang, Bahri?" tanya Siddiq lagi, yang tampaknya ia tak mengetahui kedatangan guru besarnya itu.


"Sepuluh menit yang lalu Ustadz. Dan beliau datang, bersama Nyai Syaidah Ustadz," jawab Bahri.


"Ooh.. pantesan saja Beliau juga memanggil Dik Nisah, ternyata Nyai datang juga toh. Ya sudah sebentar lagi kami akan ke sana, kamu sudah boleh pergi sekarang," balas Siddiq, sambil ia mengalihkan pandangannya ke arah istrinya lagi yang terlihat masih berlatih ilmu pedangnya.


"Baik Ustadz! Kalau begitu Ana permisi Assalamu'alaikum," pamit Bahri.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu,"


Setelah mendapatkan jawaban salamnya dari sang Ustadz. Bahri pun dengan sopan meninggalkan tempat itu. Kini tinggallah Siddiq yang terlihat ia mulai mendekati istrinya.


"Dik Nisah berhentilah! Untuk hari ini sampai disini saja dulu latihannya. Besok kita sambung lagi ya?" ujar Siddiq, dengan suara yang terdengar sedikit keras. Sebab, saat ini istrinya sedang bergerak begitu lincahnya. Jadi ia khawatir, kalau-kalau istrinya tidak mendengar kata-katanya.


"Maaf Dik, kalau kamu belum puas dalam latihannya. Tapi Dik, Kyai Ibrahim dan Nyai Syaidah sedang menunggu kita di pendopo. Mereka..." balas Siddiq, menjelaskan penyebab mengapa ia menghentikan latihannya. Namun belum lagi ia menyelesaikan penjelasannya. Hidayah sudah langsung menyelanya.


"Apa Ustadzah Syaidah datang? Ya udah ayo kita kesana Ustadz!" katanya dengan mata yang terlihat begitu berbinar. Bahkan ia langsung berlari, tanpa menunggu suaminya. Membuat Siddiq yang melihatnya langsung tersenyum lucu. Melihat tingkah Hidayah, bak seorang anak kecil yang terlihat begitu senang.


"Owalah Dik..Dik.. tadi saat Ana mengehentikan latihannya, Dia terlihat marah. Giliran mendengar Ustadzahnya datang, suaminya malah ditinggalkan begitu saja! Hum.. mana lucu banget lagi tingkahnya. Udah dewasa tapi kok tingkahnya masih kayak anak kecil ya," gumam Siddiq, sambil ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tampak ia sedikit gemas melihat istrinya itu.


"Loh.. kok Ana malah diam disini saja ya? Aah.. sebaiknya Ana menemui Kyai saja. Beliau pasti sudah menunggu-nunggu Ana," gumamnya lagi. Lalu ia pun langsung bergegas menyusul istrinya, yang sudah lebih dahulu ke pendopo, pesantren tersebut.


...❁❁❁...

__ADS_1


Sementara itu di sisi lain.


Hidayah, yang tadi sudah lebih dahulu ke pendopo. Kini ia terlihat sudah berada di depannya. Bahkan ia langsung nyelonong Bae masuk ke ruang pendopo depan. Dan disaat ia melihat seorang wanita bercadar yang sedang duduk, di dekat seorang laki-laki, yang ia kenal. Hidayah pun langsung menghampirinya.


"Assalamu'alaikum Ustadzah Syaidah! Aah.. Dayah kangen banget sama Ustadzah!" ucapnya. Dan ia pun langsung memeluk tubuh wanita bercadar tersebut.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu," balas Wanita bercadar itu dan juga laki-laki yang berada disamping si wanita bercadar secara bersamaan.


"Maa shaa Allah Dayah! Sudah punya suami kok tingkahnya kaya anak kecil begini sih Nak?" ujar wanita bercadar itu yang tak lain ia adalah Syaidah, Ustadzahnya Hidayah.


"Iis.. Ustadzah! Orang Dayah, kangen pun. Masa disamain sama anak kecil sih?" protes, Hidayah yang masih berada di pelukanya, Syaidah.


Mendengar perkataan dari Hidayah, langsung disambut dengan tawa renyahnya Ibrahim, yang tak berapa jauh duduknya dari Syaidah.


"Hahahaha..kan tingkah Dayah, memang sudah kayak gitu dari dulu Mi. Kok baru nyadar sekarang sih?Hahaha.." timpal Ibrahim, yang dibarengi dengan tawarnya.


"Iiiss.. Kyai! Kenapa jadi ikut ngeledekin Dayah sih!" protes Hidayah, dan disaat bersamaan..


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu," ucap Siddiq yang tampaknya ia baru saja masuk.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu, Nah ini dia Suaminya Hidayah Umi," balas Ibrahim, sekalian memperkenalkan Siddiq pada Istrinya.


"Maa shaa Allah, tampan banget Suami kamu Nak. Pasti kalian sangat bahagia ya? Lagiankan kalian masih suasana pengantin barukan? Jadi sudah pasti nggak suka berjauhan, iyakan?" kata Syaidah, tampak sekali ia terlihat kagum melihat wajah Siddiq.


"Eeh! Apaan si Umi! Kami nggak seperti juga kali! Bahkan tidur kami saja selalu terpisah..Eh! Ng-nggak kok!" balas Hidayah, yang tampaknya ia keceplosan tanpa ia sadari. Makanya saat ia tersadar ia langsung menutup mulutnya yang tertutup oleh cadarnya, dengan kedua tangannya. Syaidah yang sepertinya paham langsung terkejut.


"Apa! Jadi kalian belum..?"

__ADS_1


...•••••••••••⊰❁❁❁⊱••••••••••••...


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys dukung author terus yaa, Syukron


__ADS_2