
*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hadits 🦋❁❁⊱••••••••*
Jika kau percaya dan yakin bahwa Allah bisa mengubah keadaan bumi dan seisinya, maka yakinlah pula bahwa Allah bisa merubah lelahmu menjadi sebuah keberkahan hidup yang luar biasa. Hidup ini hanya tentang berkah Allah, sebab tanpa berkah darinya hidup yang kita miliki takkan berarti apa-apa. Bila kau merasakan manisnya kehidupan itu tak lain hanya karena Allah telah karuniaimu nikmat yang luar biasa.
Jangan khawatir tidak dapat berkah dari Allah, bilamana kau telah bersungguh-sungguh berjalan di koridor yang ditetapkan-Nya, maka biarpun lelah tetaplah percaya bahwa Allah mempunyai hadiah yang indah setelahnya.
Kaupun harus tahu, bahwa apapun yang membuatmu “Lelah” bila hati sudah “Lillah”, maka semuanya akan serba “Alhamdulillah”
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••
Dua Minggu kemudian.
Setelah melakukan ijab qobul, Richard langsung pergi, dan tak pernah kembali selama dua Minggu. Hal itu membuat Hidayah merasa aneh. Padahal sewaktu mereka belum menikah, hampir setiap hari Richard menemuinya, walaupun hanya beberapa menit saja. Tetapi setelah menikah kenapa ia malah menghilang. Dan karena rasa penasaran begitu besar akhirnya Hidayah memberanikan diri untuk bertanya pada Butler Johannes. Orang kepercayaannya Richard dalam mengelola Mansionnya.
"Hem.. Butler?" Panggil Hidayah, saat ia sedang berada di ruang makan, karena ia hendak sarapan pagi.
"Saya, nyonya muda?" Sahut Johannes dengan sopan, "Apakah menunya tidak sesuai dengan selera Anda Nyonya?" Tanyanya balik.
"Tidak-tidak bukan itu kok. Dan Alhamdulillah menu yang selalu disajikan disini selalu enak Butler," balas Hidayah terlihat sedikit canggung.
"Ooh, syukurlah kalau begitu. Lalu apakah ada hal yang lainnya, yang Anda perlukan, Nyonya?" Tanya Johannes lagi.
Tidak ada Butler. Saya hanya ingin bertanya dengan Anda. Apakah tuan mudamu sering tidak pulang seperti ini?" Tanya Hidayah yang akhirnya ia mengungkapkan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Aah.. tidak juga Nyonya. Biasanya kalau Tuan Muda tidak pulang. Itu tandanya beliau sedang melakukan perjalanan bisnis keluar negeri. Seperti sekarang beliau, sedang melakukan perjalanan bisnis kenegara Eropa," jelas Johannes, yang sepertinya ia memang tahu, kalau sebenarnya Richard sedang pergi ke luar negeri.
"Ooh.. gitu?" Balas Hidayah dengan singkat.
"Iya Nyonya. Dan karena waktu itu tuan muda begitu terburu-buru, jadi beliau tidak sempat berpamitan pada Anda Nyonya. Untuk itu saya mewakili Tuan muda, memohon maaf pada Anda, Nyonya," ucap Johanes, seraya ia membungkukkan tubuhnya sedikit pada Hidayah.
"Aah.. tidak apa-apa Butler, saya maklum kok. Karena beliau memang orang yang sibuk," balas Hidayah, sambil memanggutkan wajahnya dengan singkat.
"Terima kasih Nyonya, Karena sudah memaklumi keadaan Tuan muda. Dan terima kasih juga karena Anda sudah mau menerima Tuan kami dengan segala kekurangannya," ucap Johanes, membuat Hidayah sedikit terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka bawahan Richard malah mengucapkan rasa terima kasihnya, kepadanya.
"Aah.. kenapa Anda yang harus mengucapkan terima kasih Butler?" Tanya Hidayah terlihat penasaran.
"Hem.. anu Nyonya, eh, tidak apa-apa kok. Saya hanya ingin mengucapkannya saja," dalih Johannes, sepertinya ia sedang menyembunyikan sesuatu. "Aah.. kalau begitu saya permisi dulu Nyonya, dan selamat makan," lanjutnya lagi dan ia bermaksud ingin meninggalkan ruangan makan tersebut.
"Eh! Nyonya mau pergi kemana?" Tanya Johannes balik.
"Saya ingin pergi ke pondok pesantren saya. Karena sudah lama saya tidak berkunjung, jadi apakah saya boleh pergi ke sana, Butler?" Tanya Hidayah, terlihat dari matanya, kalau ia begitu berharap, pada Johannes mau memberinya izin.
Melihat mata sang majikan begitu berharap padanya. Membuat Johannes, tak tega untuk menolaknya. "Baiklah Anda boleh pergi, tapi dengan syarat, Anda harus diantar oleh supir dan juga harus membawa beberapa pengawal. Gimana Nyonya, apakah Anda bersedia?" Katanya, membuat mata Hidayah langsung berbinar.
"Saya bersedia Butler! Terima kasih atas kepercayaan anda," balas Hidayah terlihat begitu senang.
"Sama-sama Nyonya! Oh iya, kapan Anda akan perginya?"
"Kalau boleh setelah sarapan inj, jadi biar secepatnya juga saya pulang, Butler,"
__ADS_1
"Ooh, baiklah Nyonya, kalau begitu saya permisi, untuk mempersiapkan keberangkatan Anda," pamit Johannes sambil kembali membungkuk tubuhnya sedikit.
"Silakan Butler. Dan sekali lagi terimakasih," ucap Hidayah, dan Johannes hanya membalasnya dengan memanggutkan kepalanya dengan sekilas. Lalu ia pun berlalu meninggalkan Hidayah.
Setelah kepergian Johannes, Hidayah pun langsung melahap sarapannya. Tampak sekali ia begitu senang, karena pada akhirnya ia bisa mengunjungi pondok pesantren. Setelah sarapannya telah habis, ia pun langsung bergegas menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap. Setibanya di kamar ia langsung bergegas menuju ke ruang ganti. Dimana disana terdapat gamis-gamis yang cantik yang dilengkapi dengan hijab dan cadarnya.
"Eh, sejak kapan baju-baju indah ini tergantung disini? Bukankah kemarin cuma ada daster-daster panjang sajakan?" Gumam Hidayah z yang tampaknya ia begitu terkejut melihat isi lemarinya yang sudah penuh dengan gamis-gamis yang terlihat cantik.
"Aah.. mungkin Butler kali yang menaruhnya, atas perintah tuannya. Sudahlah karena sudah disediain, sebaiknya aku pakai sajalah. Biar dia senang," gumam Hidayah lagi, lalu ia pun mengambil salah satu gamis tersebut dan langsung memakainya. Dan tak lupa juga ia memakai hijab dan cadarnya juga.
Setelah di rasa semuanya telah rapih, Hidayah pun langsung bergegas keluar dari kamarnya. Dan langsung menuruni anak tangga menuju ke lantai satu. Setelah itu ia pun bergegas keluar dari Mansionnya Richard. Sesampainya di luar ternyata disana sudah ada Johannes dan beberapa pria berjas hitam sedang menunggu Hidayah.
"Anda sudah siap Nyonya? Kalau begitu perkenalkan, mereka adalah supir dan pengawal Anda Nyonya," ujar Johannes, ketika melihat Hidayah sudah berada di dekat mereka.
"Hah? Kenapa harus banyak banget pengawalnya, Butler? Apakah ini tidak berlebihan?" Tanya Hidayah, yang tampaknya ia begitu terkejut, saat melihat sepuluh pria bertubuh besar yang akan mengawal dirinya.
"Tidak Nyonya, ini sudah termasuk sedikit. Karena mengingat Tuan muda, yang memiliki banyak musuh, jadi saya harap Anda memakluminya Nyonya," balas Johannes, membuat Hidayah tak bisa membantahnya lagi.
"Aah.. ya sudahlah tidak papa. Asalkan saya bisa pergi kepondok," kata Hidayah terlihat pasrah.
"Baguslah, kalau begitu silahkan Anda naik ke mobil nyonya," kata Johannes, dan tanpa ingin berbasa-basi lagi, akhirnya hidayah pun langsung naik ke mobil mewah miliknya Richard. Dan tak berapa lama kemudian mobil tersebut pun mulai melaju meninggalkan halaman Mansion. Begitu juga dengan mobil para pengawalnya, yang terlihat memakai empat mobil. Dua berada didepan mobil yang dinaiki Hidayah, dua lagi berada di belakangnya.
Setelah iringan mobil tak terlihat lagi, Johannes pun bermaksud ingin masuk kembali ke mansion. Namun baru saja ia sampai di depan pintu, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari luar gerbang yang posisinya lumayan jauh dari mansion tersebut. Karena mendengar suara klakson tersebut akhirnya, Johannes kembali membalikkan tubuhnya dan langsung melihat kearah gerbang. Dan tak berapa lama kemudian muncullah iringan mobil lainnya. Yang sudah pasti itu mobilnya Richard.
"Astaga! Kenapa kebetulan begini sih? Pasti Tuan muda akan marah kalau istrinya sedang tak dirumah," gumam Johannes, terlihat sedikit gugup saat melihat mobil Richard mulai terparkir di halaman Mansion.
__ADS_1