
*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hikmah 🦋❁❁⊱••••••••*
Barangsiapa orang yang senang mengabdikan dirinya (berkhidmah) kepada Allah, maka segala sesuatu akan senang, gembira mengabdikan pada dirinya. Kita ini semua merupakan hamba-hambanya Allah. Kita ini manusia lemah jika disandingkan dengan kekuatan Allah. Oleh karena itu, kalau kita mau tau kelemahan kita, kita harus tau siapa kita?
Dan kalau mau tau kekuatan Allah, kita harus tau siapa Allah. Maka kita harus tahu dimana posisi kita dan dimana posisi Allah. Kita ini hamba, tapi banyak dari kita tidak tau menjadi hamba yang seperti apa. Oleh karena itu kita seringkali mengabaikan tanggungjawab kita kepada Allah SWT dan mengentengkan ancaman-ancaman dari Allah.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••
Syaidah tampak terkejut setelah mendengar perkataan Hidayah, yang tanpa sengaja kelur begitu saja. Namun berbeda dengan Ibrahim, ia malah terlihat, seperti sudah tahu akan hal itu, makanya ia terlihat biasa-biasa saja. Dan berbeda juga dengan Siddiq, ia malah merasa canggung, setelah mendengar keceplosan istrinya. Bahkan ia jadi merasa bersalah pada guru besarnya itu.
"Maaf, Kyai, saya tidak..." ujar Siddiq, bermaksud ingin, mengklarifikasi ucapnya Hidayah. Namun ucapannya langsung terhenti, ketika ia melihat tangan sang guru terangkat ke atas, yang mengisyaratkan agar ia tak melanjutkan perkataannya.
"Siddiq, Dayah?" panggil Ibrahim, tanpa menatap Keduanya.
"Na'am Kyai?" jawab keduanya secara bersamaan.
"Setiap pasangan suami istri tentu menginginkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Mereka mengharapkan ikatan pernikahan yang diliputi rasa aman, tentram, serta diridhoi oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebab, melalui biduk rumah tangga, seorang Muslim bisa menyempurnakaan separuh agamanya," ujar Ibrahim, sambil ia memandang tasbih kayu, yang sedang ia pegang.
"Terutama kamu Siddiq," lanjutnya, yang kali ini ia langsung menatap wajah Siddiq.
__ADS_1
"Na'am kyai?" balas Siddiq, sambil menundukkan wajahnya.
"Sebagai kepala rumah tangga, seorang suami berkewajiban untuk membimbing serta mengarahkan istri ke jalan yang benar. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam menggauli istrinya. Seorang suami dianjurkan untuk selalu ada dan mendampingi dalam setiap keadaan. Memang sih, adakalanya, seorang suami memiliki hajat yang membuatnya jauh dari sang istri. Sehingga, ia membiarkan istrinya tidur sendirian di rumah.
Lalu, bagaimana hukum suami meninggalkan istri tidur sendiri? Apakah dibolehkan dalam Islam?
Hukum Suami Meninggalkan Istri Tidur Sendiri
karena hajat tertentu adalah mubah atau boleh. Ia tidak akan diganjar dosa oleh Allah Swt. Tapi, hajat yang dimaksud di pembahasan ini ialah suatu perkara yang mengharuskan meninggalkan rumah. Misalnya karena urusan pekerjaan, mungkin juga harus tidur di rumah orangtuanya, atau pergi berjihad, atau sedang keluar karena urusan agama dan lain-lain," jelas Ibrahim, dengan penuturan yang lembut. Dan disaat ia masih menjelaskan, tiba-tiba Hidayah buka suara.
"Lalu kalau, suaminya tidak kemana-mana, apa hukumnya Kyai?" tanyanya, membuat Siddiq yang kebetulan duduk di hadapannya, langsung membulatkan matanya. Dia nggak menyangka istrinya itu sangat berani menanyakan hal seperti itu. Apalagi pertanyaan itu menyindir dirinya.
Sedangkan Ibrahim, malah tersenyum, mendengar pertanyaannya Hidayah, "Hum.. Kyaikan tadi belum selesai menjelaskannya Dayah. Makanya jangan dipotong, karena hal itu juga akan kyai jelaskan, kok," balas Ibrahim, membuat Hidayah menjadi sedikit malu.
"Ya sudah nggak papa. Kita lanjutkan lagi ya?" balas Ibrahim, dan langsung dianggukan oleh Hidayah.
"Perkara suami meninggal istri tidur sendiri, karena hajat dikatakan mubah. Dan Pendapat ini juga disepakati oleh jumhur ulama. Akan tetapi, Al-Muawalli memiliki pandangannya sendiri. Menurut al-Muawalli, makruh hukumnya seseorang suami yang meninggalkan istrinya tidur sendiri dalam keadaan suci. Walaupun hukum asalnya boleh, al-Muawalli tidak menganjurkan para suami berbuat demikian, kecuali karena hajat yang amat mendesak. Sebab, mendekati istri atau bermalam padanya merupakan salah satu mu'asyarah bi al-ma'ruf yang disyariatkan dalam Islam," kata Ibrahim lagi. Dan kemudian diam sesaat, seraya memandang Siddiq.
"Dengar Nak. Sunah hukumnya bagi suami untuk selalu bermalam dengan istrinya yang sedang dalam keadaan suci. Di dalam surat an-Nisa ayat 19, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya." (QS. An-nisa ayat 19)
__ADS_1
Berbeda dengan kondisi tersebut, seorang suami justru dianjurkan meninggalkan istri tidur sendiri karena sebab nusyuz. Nusyuz bermakna kedurhakaan istri, terhadap suaminya. Dalam hal ini, suami boleh menunjukkan kejengkelan dan menjatuhkan hukuman kepadanya. Ia diperbolehkan pisah ranjang atau meninggalkan istri tidur sendiri di kamar. Namun, perlu diingat bahwa ini tindakan ini dilakukan semata-mata agar istri sadar dan tidak lagi durhaka kepada suami. Tentunya, perbuatan harus selalu diiringi dengan niat tulus karena Allah Swt," jelas Ibrahim lagi, panjang lebar.
"Dayah, nggak durhaka kok, sama Ustadz Kyai. Kalau nggak percaya tanya aja sama Ustadz. Tapi tetap aja Ustadz, nggak pernah mau bobo bareng sama Nisah," celetuk Hidayah terdengar begitu polos. Siddiq yang mendengar pernyataan istrinya, langsung menepukkan jidatnya dengan pelan. Tampak sekali ia sedikit malu pada Ibrahim, yang terlihat sedang tersenyum, setelah mendengar perkataan Hidayah.
"Hmm.. lihatlah Nak, Istri kamu sampai curhat begini loh. Masa kamu tega membiarkan dia tidur seorang diri begitu sih?" tegur Ibarahim, pada Siddiq, membuat Siddiq semakin merasa malu dan juga merasa bersalah.
"Maaf atas kelalaian saya Kyai. Tetapi sebenarnya saya punya alasan mengapa saya..." balas Siddiq, ingin menjelaskan yang sebenarnya. Namun lagi-lagi tangan Ibrahim kembali mengisyaratkan agar ia tak melanjutkan perkataannya.
"Nak, seorang laki-laki harus punya berkomitmen! Ingatlah ketika kamu dengan lantangnya melakukan ijab qobul. Maka saat itu juga, kamu sudah harus siap mempertanggung jawabkan semuanya. Dan itu termasuk dengan tanggung jawab atas nafkah lahir dan batin untuk istri kamu. Jadi mulai sekarang tidak ada alasan, ene ono lagi! Kamu pahamkan Nak?" ujar Ibrahim terdengar sedikit tegas.
"Paham Kyai. Terima kasih atas nasehatnya, In shaa Allah, Ana akan mengingatkannya selalu," balas Siddiq dengan pasrah.
"Alhamdulillah, Oh iya karena Umi kayaknya sangat kelelahan, habis mendaki tadi. Kami istirahat dulu ya Nak?" kata Ibrahim, seraya ia melirik istrinya yang terlihat sedang memijit-mijitkan kakinya sendiri.
"Ooh silahkan Kyai. Kalau begitu saya dan istri saya pamit, ya? Assalamu'alaikum," balas Siddiq, seraya ia bangkit sambil memberikan isyarat pada Hidayah, agar ikut dengannya.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu," balas Ibrahim, dan baru saja Siddiq dan Hidayah hendak melangkah kakinya tiba-tiba, Ibrahim kembali buka suara.
"Nak, selalu berhati-hati ya? Dan tetap waspada, karena sebentar lagi, kita akan kedatangan tamu!" ucapnya membuat Siddiq sedikit bingung.
"Tamu?"
__ADS_1
...•••••••••••⊰❁❁❁⊱••••••••••••...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys dukung author terus yaa, Syukron