HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.

HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.
MAHLIGAI CINTA.


__ADS_3

Usai membaca titah dari bosnya yang ada di layar handphonenya. Sandi pun langsung bertanya pada salah satu petugas yang sedang berjaga. Dan benar saja, ternyata ruangan yang dimaksud oleh bosnya itu ternyata benar-benar ada di tempat itu. Hal itu membuat Sandi sempat kaget. Dan ia tak menyangka ternyata tempat itu menyediakan ruangan yang di khususkan untuk para tahanan bila mendapatkan kunjungan dari istri-istri mereka.


"Aah... Ternyata memang benar ya disini ada juga tempat seperti ini?" Tanya Sandi, disaat ia sedang melihat-lihat bilik-bilik yang ditunjukkan oleh salah satu petugas disana.


"Benar Pak, dilapas ini memang disediakan fasilitas tersebut. Dan dapat digunakan oleh narapidana yang berada di Lapas ini. Dan Para narapidana juga diperkenankan untuk menyalurkan hasrat biologisnya di ruangan tersebut pada saat kunjungan keluarga berlangsung. Itu sudah dipraktikkan dengan sangat ketat, artinya dengan terukur. Siapa saja yang boleh berada di (lapas) minimum security, tentu dengan perubahan perilaku dan kinerja yang nyata dari napinya, terus istrinya juga dicek betul, ini istrinya bukan," jelas petugas tersebut, dengan ramah.


"Ooh, begitu ya? Hmm... Terima kasih ya Pak atas penjelasannya. Kalau begitu saya akan menyampaikan ini pada Bos saya. Sekali lagi terimakasih Pak, saya permisi," balas Sandi, sekalian ia juga berpamitan.


"Sama-sama Pak, silahkan."


Setelah mendapatkan balasan dari petugas tersebut. Sandi pun beranjak dari sana. Dan ia langsung berjalan menuju keruangan dimana bosnya sedang menunggu. Setibanya di sana ia pun langsung mengetuk pintu tersebut. Dan tak berapa lama kemudian terdengar seruan dari seorang pria dari dalam.


"Masuk!!"


Sandi pun langsung membuka pintu pintu tersebut. Dan tampaklah olehnya wajah Richard yang sedikit berbeda, dari yang tadi. Ia tampak terlihat sudah tidak sabaran, makanya begitu melihat sandi masuk ia pun langsung berdiri seraya berkata.


"Bagaimana?" Tanyanya dengan singkat, dan dengan wajah yang terlihat begitu penasaran.


"Memang ada Tuan muda, rua..." Balas Sandi, bermaksud ingin menjelaskan letaknya. Namun belum lagi ia menyelesaikan kata-katanya. Richard sudah langsung menyelanya.

__ADS_1


"Kalau begitu, cepat kau tunjukkan jalannya!" Selanya, seraya ia berjalan menghampiri Hidayah, yang kebetulan sedang duduk di seberang mejanya.


"Baik Tuan muda!" Balas Sandi sambil membungkukkan tubuhnya. Lalu ia pun kembali berjalan menuju ke pintu keluar.


Sementara Richard langsung menarik tangan istrinya. Membuat Hidayah tampak kebingungan. Karena saat Richard menarik tangannya, ia tak berbicara sepatah katapun. Ia malah hanya menunjukkan wajah datarnya saja pada istrinya.


"Eh, Mas kita mau kemana?" Tanya Hidayah, sambil ia mengikuti langkah suaminya, yang saat ini sedang menarik tangannya. Namun ia tetap ikhlas mengikutinya.


"Jangan banyak tanya ikuti saja!" Balas Richard terdengar tegas.


Mendengar hal itu, akhirnya Hidayah pun terdiam. Dan hanya mengikuti langkah sang suami dengan pasrah. Hingga akhirnya mereka sampai didepan sebuah pintu. Dimana Sandi menghentikan langkahnya. Maka berhentilah juga langkahnya Richard.


"Disini ruangannya Tuan," kata Sandi sambil menunjukkan pintu tersebut dengan jari jempolnya.


"Baik! Kalau begitu saya permisi!" Kata Sandi sambil membungkukkan tubuhnya sedikit. Setelah melihat lambaian tangan Richard, tanda ia dipersilahkan pergi. Sandi pun langsung bergegas pergi meninggalkan mereka berdua, yang terlihat masih berdiri di depan pintu tersebut.


"Sebenarnya ada apa sih Mas? Dan tempat apa ini?" Tanya Hidayah, setelah kepergiannya Sandi.


"Nanti kamu akan tahu sendiri! Jadi sekarang ayo kita masuk!" Balas Richard, dengan suara beratnya. Seraya ia membuka pintu tersebut. Lalu ia pun menarik tangan Hidayah masuk ke dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Seketika mata Hidayah terbelalak saat melihat isi di dalam ruangan tersebut. Yang ternyata didalamnya terdapat sebuah tempat tidur yang bersepraikan warna putih. Dan disudut ruangan juga terdapat sebuah kamar mandi yang terlihat dari tempatnya berdiri. Untuk sesaat ia tercengang melihat hal itu.


"Haaah? Ada tempat seperti ini juga di lapas ini?" Tanyanya dengan mata masih mengarah ke tempat tidur tersebut.


"Dari pada menjawab pertanyaan yang tidak penting. Bukankah lebih baik kita melakukan sesuatu yang penting!" Kata Richard, sambil ia meraih pinggang Hidayah, lalu ia sandarkan tubuhnya di pintu yang telah ia kunci tadi.


Setelah melihat tubuh istrinya tersandar, tanpa basa-basi, Richard langsung membuka menutup wajah istrinya. Bahkan ia langsung meraih bibirnya Hidayah. Bak seorang yang sedang kehausan, ia menyesapnya dengan rakusnya. Membuat Hidayah tampak kewalahan, karena ia jadi sulit untuk bernafas. Dan akhirnya ia pun mendorong tubuh suaminya.


"Uumm! Ukhm!! Aakh!" Hidayah mendorong tubuh Richard dengan sekuat tenaga. Karena sebelumnya dorongan tak membuat tubuh suaminya bergeming sedikitpun. Makanya kali ini ia mengerahkan seluruh kekuatannya hingga akhirnya tautan pun terlepas.


"Aakh... Ha..hah.. kamu mau membunuh Nisah Mas? Hah..hah..." Tanya Hidayah dengan tatapan kesalnya, dan dengan nafasnya yang tersengal-sengal.


"Aah... Maaf Sayang, tapi Mas sudah tak bisa menahannya lagi. Karena kerinduan ini sudah tidak bisa di bendung lagi," balas Richard dengan suara yang terdengar begitu berat, seperti sedang menahan sesuatu yang amat sakit. Dan itu terlihat jelas dari wajahnya yang memerah. Bahkan urat-urat yang ada di pelipis sampai terlihat begitu jelas. Hal itu membuat Hidayah tak sampai hati melihatnya.


"Hmm... Baiklah Nisah maafin Mas. Dan Mas boleh melakukan itu, tapi ingat lakukanlah yang sewajarnya ya Mas. Dan Nisah minta Mas juga harus berhati-hati, karena saat ini Nisah tidak sendiri lagi," ujar Hidayah dengan lembut, dan disertai juga dengan senyuman manisnya.


Mendengar perkataan sang istri wajah Richard kembali sumringah. Dan ia pun langsung mengangkat tubuh istrinya, seraya berkata. "Ah, terima kasih Sayang. Mas pasti akan berhati-hati kok, agar tidak menyakiti anak kita," katanya sambill berjalan menuju ke tempat tidur yang berada di ruangan tersebut.


Sesampainya di tempat tidur, Richard pun meletakkan tubuh istrinya diatas tempat tidur tersebut. Dan untuk sesaat ia pandangi wajah istrinya nan cantik itu dengan lekat. Lalu dengan perlahan, bibirnya kembali meraih bibirnya Hidayah yang kali ini ia menyesapinya dengan lembut. Membuat Hidayah akhirnya ikut terlena hingga tanpa terasa tangannya kini sudah melingkar sempurna di leher suaminya.

__ADS_1


Mendapatkan respon dari sang istri, seketika hasrat petualang Richard semakin besar. Apalagi sudah cukup lama ia tak merasakan hal itu. Jadi wajar saja kalau saat ini ia benar-benar seperti seorang pecandu yang baru saja mendapatkan kembali rasa candunya. Sehingga ia tak mau lewatkan sedikitpun setiap inci yang ada di tubuh istrinya.


Begitu jugalah yang dirasakan oleh Hidayah. Karena kerinduan mereka sama-sama sudah memuncak. Sehingga kini keduanya sama-sama terhanyut dalam mahligai cinta yang panas membara. Selanjutnya author nggak mau ngintip lagi yee... Lebih baik bobo aja takut paksu marah karena ketahuan author nulis lagi.


__ADS_2