
*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hadits 🦋❁❁⊱••••••••*
Hidup ini hanya sebentar saja. Yang sebentar ini harus kita isi dengan segala yang bermakna. Banyak pilihan dalam hidup ini. Akan tetapi tidak semua pilihan itu baik. Karenanya penuhi pikiran kita dengan ilmu.
Asah dengan kesabaran, sikap tawadu’ dan hati yang selalu bersyukur dalam setiap keadaan. InsyaAllah segalanya akan baik-baik. Semua problema akan segera terpecahkan. Dan apa yang kita harapkan akan segera Alloh ﷻ berikan jalan kemudahan untuk mencapainya.
Jaga diri kita. Jangan lupa selalu bersyukur atas segala nikmat yang Alloh ﷻ telah berikan. Jangan biasakan bersyukur atas sesuatu yang besar saja atau yang berkaitan dengan harta saja. Tetapi bersyukurlah kepada Alloh ﷻ dalam segala keadaan. Agar kedudukan kita disisi Alloh ﷻ ada pada posisi kemuliaan.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••
Pondok pesantren.
Setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh. Akhirnya iringan mobil yang membawa Hidayah, telah sampai di area pondok pesantren Putri. Dan kedatangan iringan mobil yang terlihat mewah itu menjadi pusat perhatian seluruh Santriwati, yang kebetulan sedang beristirahat. Mereka terlihat begitu penasaran, siapakah yang berada di mobil mewah tersebut. Dan ketika Hidayah turun mereka pun langsung tercengang.
"Maa shaa Allah.. itukan Ukhty Hidayah!" Seru salah satu Santriwati, membuat para temannya langsung tersadar.
"Aah.. iya itu Ustadzah Hidayah," kata Santriwati yang lainnya, dan mereka pun langsung menyambut kedatangan Hidayah dan menyalami tangannya. Sedangkan salah satu yang lainnya langsung menuju ke pondok utama untuk memanggil Istrinya kyai Ibrahim, selalu pemilik pondok pesantren Putri.
"Ummah..! Ummah..! Ustadzah Dayah, datang Umah," teriak salah satu Santriwati, terlihat sekali ia begitu senang, karena melihat Hidayah, datang. Makanya ia ingin segera memberitahukan pada guru besarnya. Dan tak berapa lama kemudian, keluarlah seorang wanita paruh baya dari pondok utama itu.
"Mashaa Allah, ternyata benar kamu datang Dayah?" Ujar Syaidah istrinya Kyai Ibrahim.
"Iya Ummah, Assalamu'alaikum," balas Hidayah dan langsung meraih tangannya Syaidah, dan juga menciumnya.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu. Aah.. ummah kangen banget sama kamu Nak," ucap Syaidah dan langsung memeluk Hidayah, yang sudah seperti anaknya sendiri itu.
"Hemm.. Dayah juga kangen sama Ustadzah," balas Hidayah, yang menyambut pelukan Syaidah dengan eratnya.
__ADS_1
"Iis.. kamu ini, plin-plan banget sih jadi orang. Kadang panggil Umah! Kadang panggil Ustadzah. Seharusnya tuh panggilannya jangan diganti-ganti dong Nak! Kan Umah juga pernah ngomong, kalau kamu itu sudah Umah anggap anak Umah sendiri. Jadi kamu harus memanggil Umah dong!" Protes Syaidah, yang terlihat ia begitu berharap, agar Hidayah memanggilnya Umah (Ibu)
"Afwan Umah ( maaf ibu). Baiklah Dayah tidak akan ganti-ganti lagi. Dan hanya memanggil Umah saja," balas Hidayah terlihat sedikit terharu. Dan ia pun kembali memeluk Syaidah dengan eratnya, seraya berkata.
"Terima kasih Umah, terima kasih karena telah menjadi pengganti almarhum Umi, Dayah, hiks.." katanya didalam pelukannya.
"Loh, kok malah nangis sih nak? Umi kamu tuh disana sudah tenang, apalagi doa putrinya tidak pernah putuskan. Jadi insyaa Allah sudah bahagia disana. Karena memiliki anak yang shalihah seperti kamu, iyakan?" Tutur Syaidah terdengar lembut.
"Aamiin.. insyaa Allah Umah," ucap Hidayah, terdengar lirih.
"Ya sudah sekarang ayo kita masuk, kamu pasti lelahkan habis perjalanan jauh?" Ajak Syaidah, sambil merangkul pinggang Hidayah dan membimbingnya masuk ke rumahnya yang di sebut pondok utama.
Setibanya di dalam Syaidah langsung membawa Hidayah ke ruangan makan. Karena sepertinya ia tadi sedang membantu meracik sayuran yang akan dimasak oleh pembantu yang ditugaskan untuk memasak makanan para santrinya. Setelah mereka duduk di kursi makan, Syaidah pun kembali buka suara, sambil tangannya kembali meracik sayuran.
"Oh iya, kata Abi, kamu sudah menikah lagi, benar tidak, Nak?" Tanya Syaidah terlihat penasaran.
"Benar Umah," balas Hidayah, terlihat tidak sedih.
"Hmm..tidak Umah, karena yang menikah dengan Dayah adalah yang membunuh Umi dan Abu Dayah! Dan dia juga yang telah membunuh Mas Siddiq, suami pertamanya Dayah, Umi," balas Hidayah, dengan wajah yang terlihat antara sedih dan juga marah.
"Astaghfirullah! Kok bisa kamu mau menikah dengannya Nak? Seharusnya orang seperti itu di hukum mati! Biar tak semena-mena dengan nyawa orang lain!" Ujar Syaidah, terlihat ikut geram setelah mendengar perkataan Hidayah. Dan disaat bersamaan.
"Assalamu'alaikum," ucap seorang pria paruh baya yang baru saja muncul dari ruang tamu.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu," balas Hidayah dan Syaidah secara bersamaan.
"Eh, Ustadz?" Kata Hidayah, yang kemudian ia pun menyalami tangan pria itu, yang tak lain adalah Ibrahim.
"Gimana kabar kamu Nak? Baikkan?" Balas Ibrahim, menyambut uluran tangannya Hidayah.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Ana baik Ustadz," balas Hidayah, yang kemudian ia kembali duduk.
"Alhamdulillah.. oh iya, tadi saat Abi masuk perkataan umi kok kasar gitu sih?" Ujar Ibrahim, seraya ia ikut duduk disalah satu kursi makan yang terlihat masih kosong.
"Habisnya Umi kesal tau Bi! Rupanya waktu Abi pergi itu, karena mau nikahi Dayah sama seorang pembunuh! Kok tega sih Abi, nikahi Hidayah sama pembunuh itu?" Balas Syaidah, terlihat kesal.
"Astaghfirullah Mi, istighfar Mi. Ingat pembunuh itu juga ciptaan Allah Mi. Dia makhluk Allah juga, yang berhak berubah. Dan kenapa Hidayah harus menikah dengannya? Itu juga bagian rencana Allah. Karena apapun yang terjadi di dunia ini, sudah menjadi skenario-Nya. Dan tidak ada yang bisa menghindarinya bila sudah menjadi kehendak-Nya," tutur Ibrahim, memberikan nasehat pada istrinya.
"Maaf Bi, tapi Umikan kasian sama Hidayah. Masa dia harus memiliki Suami yang membunuh keluarganya sendiri sih," balas Syaidah merasa iba pada Hidayah.
"Mi, itu karena menurut Allah Hidayah mampu, Dan ingatlah firman Allah Ta'ala di surah Al-Baqarah ayat 286.
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya" (QS Al-Baqarah ayat 286)
"Nah bisa jadikan, karena keikhlasan, ketulusan, serta kesabaran Hidayah, Suaminya itu bisa bertaubat. Apa nggak jadi ladang pahala buat Dayah, Mi? Dan yakinlah setelah ini Suaminya juga mau mempertanggung jawabkan atas perbuatannya juga. Iyakan?" Jelas Ibrahim lagi, membuat Syaidah akhirnya paham.
"Hmm.. maaf Bu, Umi salah," katanya akhirnya mengakui kesalahannya.
"Alhamdulillah kalau umi sudah menyadarinya," balas Ibrahim merasa lega. Setelah itu pandangannya pun beralih pada Hidayah.
"Oh iya Nak, gimana kabar suami kamu, apa dia baik Nak?" Tanyanya pada Hidayah.
"Maaf, Ustadz, Dayah nggak tahu, karena saat ini beliau sedang keluar negeri," balas Hidayah apa adanya.
"Ooh.. hmm kamu kesini apa sudah izin padanya Nak?" Tanya Ibrahim lagi, dan dibalas gelengan kepala oleh Hidayah.
"Astaghfirullah.."
....••••••••⊰❁❁❁❁⊱•••••••••...
__ADS_1
Dukung Ramanda terus ya guys 🙏 Jangan lupa kasih Bunga dan juga Vote ya dinovel ini 🙏 Syukron 🙏.