
*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hadits 🦋❁❁⊱••••••••*
"Jangan mengambil keputusan ketika sedang marah dan janganlah berjanji ketika sedang bahagia." (Ali bin Abi Thalib)
Memutuskan sesuatu harus dalam keadaan hati dan pikiran tenang dan tidak dalam keadan emosi. Jika dalam keadaan emosi maka keputusan yang diambil cenderung salah dan bisa jadi hanya akan menambah masalah.
Karena emosi manusia sering kali melebihi batas kewajaran, saat kondisi marah keputusan yang salah atau keputusan tidak rasional bisa diambil, dan begitu juga saat kondisi bahagia janji-janji yang kita berikan terkadang sulit untuk kita lakukan namun mudah diucapkan...
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••
Sesuai yang dikatakan oleh Richard. Akhirnya ia menemani isteri pergi menuju ke kampung halamannya Hidayah tempat ia dilahirkan. Dengan jarak tempuh selama tiga jam perjalanan. Akhirnya mobil Richard memasuki kawasan pedesaan yang begitu indah dan juga sejuk. Tapi anehnya semenjak memasuki kawasan tersebut. Richard mendadak terdiam, padahal sebelumnya ia selalu mengobrol dengan istrinya, maupun Sandi.
Melihat kediaman suaminya, Hidayah membuat Hidayah sedikit penasaran. Dan ia pun langsung menatap wajah sang Suami yang terlihat ada kegelisahan disana. Dan ia pun langsung menggenggam tangan Richard dengan lembut. Membuat pandangan Richard yang tadinya mengarah ke jendela dengan tatapan kosong, langsung beralih ke dirinya.
"Ada apa Sayang?" Tanya Richard terdengar lembut.
"Mas, harikan sebentar lagi akan gelap. Jadi Kita tidak mungkin bisa langsung ke makam Abi dan Umi, Mas. Sebab pemakaman disini letakkannya ada di perbukitan dan jalannya juga agak terjal, Mas. Jadi akan berbahaya kalau kita menempuhnya sekarang juga," balas Hidayah, terdengar sedikit berhati-hati sekali saat ia memberi penjelasan pada suaminya.
"Terus kamu maunya gimana Sayang?" Tanya Richard lagi.
"Begini mas, di sinikan penginapan sangat jauh. Dan kita sudah kelelahan jugakan setelah melakukan perjalanan jauh? Nah maksudnya, Dayah ingin mengajak Mas, bermalam di rumah orang tua Dayah, yang kebetulan tidak jauh dari sini kok Mas. Gimana Mas, apakah Mas bersedia?" Kata Hidayah lagi. Dan terdengar masih amat berhati-hati sekali.
Sebab Hidayah tahu, kalau kediaman suaminya saat ini. Itu pasti ada hubungannya dengan kenangannya, yang menyangkut tentang rumahnya Hidayah. Makanya ia harus berhati-hati sekali, ketika ia mengungkapkan keinginannya itu.
Richard tampak terdiam sejenak setelah mendengar keinginan istrinya itu. Dan untuk sesaat ia juga hanya menatap mata Hidayah, yang terlihat sedang menanti jawaban darinya dengan penuh pengharapan. Sehingga rasanya ia tak tega bila ia mengabaikan keinginannya itu.
__ADS_1
"Terserah sama kamu saja Sayang. Mas sih, sesuai keinginan kamu saja," balas Richard dengan pasrah.
"Alhamdulillah... Terima kasih ya Mas," ucap Hidayah senang. Dan ia langsung mengecup pipi suaminya.
"Sama-sama Sayang," balas Richard, sambil mengusap kepala Hidayah yang tertutupi oleh hijabnya.
Dan karena Sandi juga pernah kerumahnya Hidayah. Makanya ia langsung membelokkan mobilnya kearah rumahnya Hidayah. Setelah mendapatkan kode dari atasannya itu. Dan tak berapa lama kemudian mobil mereka pun berhenti tepat di depan sebuah rumah berlantaikan dua, yang terlihat begitu sepi. Namun rumah itu tampak bersih seperti ada yang merawatnya membuat Hidayah sedikit heran melihatnya.
"Eh, bukankah semua yang bekerja di sini sudah meninggal semuakan? Tapi kenapa rumah ini masih terlihat dirawat ya?" Batin Hidayah. Ia sengaja tak ingin diucapkannya karena ia takut Richard dapat mendengarnya.
"Ayo Mas, kita turun," ajak Hidayah, seraya ia bermaksud ingin membuka pintu mobilnya tanpa menunggu Sandi untuk membukanya.
"Sabar Sayang, Sandikan belum membuka pintu pagarnya. Kita turunnya didalam saja ya?" Balas Richard, sembari ia menahan tangannya Hidayah. Tampak sekali ia takut menjadi pusat perhatian dari para tetangga sekitar yang berdekatan dengan rumahnya Hidayah.
Yaa... Karena melihat mobil Richard yang tiba-tiba berhenti di depan rumah Hidayah. Membuat para tetangga terdekat langsung keluar dari rumah mereka. Tampak sekali mereka begitu penasaran siapa yang mendatangi rumah yang tidak ada penghuninya itu.
Namun ketika Sandi baru saja ingin membuka pintu pagar rumahnya Hidayah. Tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya dan seorang wanita paruh baya juga datang menghampiri Sandi. Keduanya tampak penasaran pada Sandi. Dan Hal itu membuat Hidayah memahami rasa penasaran mereka yang tak mengenali Sandi.
"Mas, Dayah turun aja ya? Soalnya merekakan nggak kenal sama Bang Sandi. Jadi pasti saat ini mereka sedang curigakan sama dia, Mas. Jadi boleh ya Dayah turun, Mas?" pinta Hidayah, sambil mengatupkan kedua tangannya. Membuat Richard lagi-lagi tak berdaya dan akhirnya ia pun mengizinkan Hidayah keluar dari mobilnya.
"Pergilah Sayang," balasnya dengan singkat.
"Terima kasih Mas," ucap Hidayah. Dan ia pun langsung turun dari mobilnya. Lalu ia pun menghampiri Sandi dan juga para tetangganya itu.
"Assalamu'alaikum Bu Aseh, Pak Yono," ucap Hidayah, seraya ia menyalami tangan keduanya. Membuat kedua orang tersebut tersentak mendengar namanya dipanggil Hidayah.
"Wa'alaikumus salam," ucap keduanya secara bersamaan. Dan keduanya langsung menatap wajah Hidayah yang terlihat hanya matanya saja. Tampak keduanya seperti mengingat-ingat sesuatu.
__ADS_1
"Eh, ini Neng Nisa ya? Benarkan ini Neng Nisa, Anak perempuan almarhum Pak Haji Yahyah dan Bu Haja Syafridakan?" Ujar wanita paruh baya yang di panggil Aseh tersebut.
"Alhamdulillah... Ternyata Bu Aseh masih ingat ya sama Nisah. Benar Bu ini Nisah," balas Hidayah sambil ia menyipitkan matanya tanda ia sedang tersenyum.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang Nak. Kamu baik-baik sajakan Nak?" Tanya Bu Aseh, seraya ia memeluk tubuh Hidayah. Dan di sambut dengan hangat oleh Hidayah.
"Alhamdulillah Nisah baik kok Bu. Oh iya Ibu sama Pak Yono apa kabarnya?" Tanya Hidayah balik.
"Alhamdulillah, kami baik-baik juga kok Nak," balas pria yang dipanggil Yono yang tampaknya ia juga senang melihat kedatangan Hidayah.
"Alhamdulillah... Oh iya Bu, siapa yang mengurus rumah Abi, Bu?" Tanya Hidayah terlihat penasaran.
"Kami berdua Neng, tunggu sebentar Pak Yono ambilkan kunci rumah Eneng dulu ya?" Balas Yono dan ia pun langsung bergegas menuju ke rumahnya. Yang kebetulan berada disebelah rumahnya Hidayah.
"Ooh... Maa shaa Allah. Jadi Bu Aseh dan Pak Yono yang mengurus rumah ini? Pantas saja tadi Nisah lihat rumah ini masih terlihat dirawat. Padahal sudah tidak ada siapa-siapa lagikan?" Tanya Hidayah, seperti ingin memastikan apa yang dikatakan Pak Yono tadi.
"Benar Neng, semenjak peristiwa itu, tidak ada yang berani mendekati rumah Pak Haji Yahyah. Karena pada waktu itu, rumah ini masih disegel oleh pihak kepolisian. Jadi tidak ada yang berani mendekati. Tapi lama kelamaan rumah itu semakin seram karena tak terawat. Hal itu membuat kami yang berada di sebelahnya jadi sedih. Apalagi setiap teringat pada almarhum kedua orang tuamu yang begitu baik pada kami semua. Jadi rasanya tak tega membiarkan rumahnya begitu saja. Makanya akhirnya kami meminta izin pada pak kades. Untuk merawat rumah tersebut, dan Alhamdulillah kami diizinkan. Makanya rumah kamu masih terlihat seperti ada penghuninya."
Mendengar penjelasan dari Bu Aseh yang panjang lebar itu. Membuat Hidayah merasa sedih, namun ia tetap bersyukur karena memiliki tetangga yang baik seperti Pak Yono dan Bu Aseh tersebut.
"Terima kasih Bu Aseh. Terima kasih karena telah merawat rumah orang tua Nisah," ucap Hidayah, sambil meraih kedua tangannya Aseh.
"Sama-sama Neng. Dan itu semua tidak sebanding dengan kebaikan kedua almarhum sama kami. Jadi wajar kalau kami ingin membalasnya," balas Aseh. Dan di saat bersamaan, Pak Yono sudah kembali lagi.
"Ini Neng Nisa kuncinya. Semoga Neng nyaman istirahatnya," kata Yono sambil menyerahkan beberapa kunci pada Hidayah. "Sudah yuk Bu, kita pulang, pasti Neng Nisah, capek habis perjalanan jauh," ajaknya lagi pada istrinya.
"Ah iya, ya udah istirahat dulu nanti kalau ada kesempatan kita ngobrol lagi ya Neng. Kalau begitu kami permisi," pamit Aseh.
__ADS_1
"Iya Bu, insya Allah. Dan sekali terima kasih banyak Ya pak, Bu," ucap Hidayah sambil mengatupkan kedua tangannya.