HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.

HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.
SUARA YANG MERDU.


__ADS_3

*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hadits 🦋❁❁⊱••••••••*


Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Sesuai dengan kadar niat, tekad dan semangat seorang hamba, sekadar itulah Allah akan memberikan taufik dan pertolongan kepadanya. Maka pertolongan Allah akan turun kepada seorang hamba, sesuai dengan kadar tekadnya”


(al Fawaid: 18)


Allah sangat mencintai hambaNya yang sering berdoa dan meminta pada Nya, hamba yang selalu menyertakan Allah dalam setiap cita-citanya. Jika impian kita tinggi dan harapan kita besar, maka perbesarlah doa kita dan usaha mendekat pada-Nya, karna Allah Maha Kaya, Maha Kuasa atas segalanya.


So perbesarlah 'wadah' untuk harapan dan pengabulan doa-doa kita dengan memperbanyak amal sholih, memperkuat kekhusyukan ibadah, dan menebarkan kebaikan, insyaAllah rezeki dan terijabahnya doa-doa kita sesuai dengan prasangka dan usaha kita pada-Nya


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••


Richard tampak begitu kesel karena ke manapun dia berada. Ia selalu dihantui oleh bayang-bayangan wajahnya Hidayah. Seperti saat ini, tatkala sedang berada di perusahaannya sendiri, Richard tampak begitu sulit untuk fokus dalam menangani pekerjaannya. Hal itu membuat ia semakin marah


"Aaakh!! Sebenarnya gue kenapa sih? Kenapa jadi nggak bisa fokus begini sih?!" Gerutu Richard sambil mengacak-acak rambutnya. Padahal rambutitu biasa selalu saja klimis, tak pernah sekalipun ia terlihat berantakan seperti ini. Disaat bersamaan..


"Eh! Lo kenapa bro? Tumbenan banget sih tampang lu berantakan begini?" Tanya seorang pria yang terlihat ia baru saja memasuki ruangan itu, bersama seorang pria lainnya.


"Eh! Lancang sekali kalian, masuk tanpa mengetuk pintu, hah?!" Bentak Richard tampak begitu marah, pada kedua pria itu.

__ADS_1


"Eh! Sorry bro! Tadinya kami bermaksud mau bikin kejutan sih. Iyakan Liechen?" Ujar pria yang tadi.


"Hahaha.. ho'oh, tapi kenyataannya Kitakan yang terkejut, Robin?" Balas Liechen merasa lucu dengan apa yang mereka lihat tadi.


"Aah.. berisik! Sekarang cepat katakan, mau apa kalian datang kesini hah?!" Tanya Richard masih dengan tampang kesalnya.


"Haiis.. makin kesini makin menyeramin deh tampang lu bro!" Ucap Robin, seraya ia duduk di sebuah kursi yang terletak dihadapan meja kerja Richard.


"Cih! Dibilang jangan berisikkan? Dan kalau kalian tidak ada keperluan yang penting, sebaiknya kalian keluar dari ruangan gue! Karena gue tidak punya waktu untuk mengobrol hal yang percuma. Jadi sebaiknya kalian segera pergi dari ruangan gue, cepat!" Ujar Richard dengan tampang datarnya.


"Hadee.. nih orang nggak sabaran banget ya? Kami kesini tuh, cuma mau kasih tau, kalau simpanan lu, si Elisa itu lagi di rumah sakitnya Kevin tau! Katanya, punggungnya memar parah bro. Makanya Kevin nyuruh Lo datang kerumah sakit," ucap Robin, yang akhirnya ia pun menceritakan maksud kedatangan mereka.


"Hah? Kok tumben Lo nggak peduli gitu, sama Doi? Bukannya biasanya Lo langsung ngibritkan? Kalau dengar dia kenapa-kenapakan? Atau jangan-jangan hati lu sudah berpindah pada wanita yang lu ceritakan kemarin malam lagi?" Tanya Liechen, dengan tampang penasarannya.


"Aakh.. bisa diam nggak lu pada, hah?!Kalian masih punya kupingkan?!" Bentak Richard, yang sepertinya ia mulai muak dengan kehadira kedua temannya itu.


"Ya masihlah? Emangnya lu nggak lihat apa, nih lihat kuping kami masih menempel bro!" Balas Liechen, yang sepertinya ia tidak takut sama sekali dengan bentakkannya Richard. Namun berbeda dengan Robin, ia malah memilih pergi begitu saja tanpa ingin berpamitan pada Richard.


"Baguslah! Kalau begitu cepat Lo dari sini!" Bentak Richard lagi. Membuat Liechen langsung bangkit.


"Iya iya ini juga mau pergi! Eh, Robin tungguin gue dong! Main pergi aja sih?!" Gerutu Liechen. Seraya ia mengejar Robin, yang sudah menghilang di balik pintu ruangannya Richard.

__ADS_1


Setelah kepergian temannya, Richard pun membuang file yang ia pegang tadi. Dan tiba-tiba ia teringat pada kata-katanya Liechen. "Hati Gue berpindah?" Gumamnya terdengar lirih. Dan seketika wajah Hidayah kembali terbayang di pelupuk matanya.


"Akh.. brengsek! Bisa gila gue lama-lama begini!" Gerutunya seraya ia bangkit dari kursi kebesarannya, dan kemudian ia langsung menarik jasnya yang ia sampirkan disandaran kursinya.


Setelah memakai jasnya, Richard pun langsung bergegas keluar dari ruangannya. Dan disaat ia melewati meja sekertarisnya ia pun menghentikan langkahnya, "Katakan pada Sandi untuk menyiapkan mobil!" Katanya tanpa menoleh sedikitpun pada wanita yang sedang duduk di belakang meja sekertaris tersebut.


"Baik Pak!" Balas sekertaris tersebut dan ia pun langsung melaksanakan tugasnya. Sementara Richard sudah langsung pergi menuju ke lift yang tak berapa jauh dari sana, tanpa menunggu jawaban dari sang sekretarisnya. Dan tak berapa lama kemudian ia sudah sampai di pintu lobby kantornya. Dan ternyata Sandi juga sudah menunggu dirinya.


"Kita kembali ke mansion!" Katanya seraya ia masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Sandi, waktu ia baru datang.


"Baik Bos!" Balas Sandi, dan kemudian ia pun kembali menutup pintu mobil. Setelah itu ia langsung bergegas menuju ke pintu disamping kemudinya. Dan tak berapa lama kemudian, ia pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimum.


Setelah satu berlalu, mobil Richard pun mulai memasuki gerbang Mansionnya. Dan begitu mobil itu berhenti, Richard pun langsung turun tanpa menunggu Sandi membukakan pintu mobilnya. Bahkan ia langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menuju pintu Mansionnya.


"Selamat datang Tuan muda," ucap bawahan Richard yang terlihat sedang berbaris di depan pintu Mansion.


Namun ucapan mereka tak diperdulikan oleh Richard. Seakan ia tak melihat keberadaan mereka. Richard malah langsung masuk kedalam mansionnya itu, bahkan ia langsung menaiki anak tangga menuju ke lantai dua. Sesampainya di atas ia langsung menuju kesalah satu pintu yang berjejer di sana.


Namun saat Richard sudah berada tepat di depan pintu itu, langkahnya langsung terhenti. Lalu tangannya langsung memutar handel, dengan perlahan dan membukanya juga dengan perlahan. Dan ketika pintu mulai terbuka sedikit, sayup-sayup terdengar suara seorang wanita sedang melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan merdunya. Membuat Richard akhirnya tak berani masuk, ia hanya terdiam dan terpaku di depan pintu itu saja.


"Eh! Ternyata Dia memiliki suara yang merdu, dan juga indah? Hmm.. tapi kenapa lantunan ini membuat hatiku sakit ya?" batn Richard, seraya ia memegang dadanya.

__ADS_1


__ADS_2