HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.

HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.
PERGI KE MAKAM.


__ADS_3

*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hadits 🦋❁❁⊱••••••••*


Mungkin hidup kita tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan, tapi kita harus yakin bahwa apapun yang terjadi pasti berjalan seperti yang Allah rencanakan.


Manakala kita tidak mampu mengerti apa yang terjadi dalam kehidupan kita, cobalah pejamkan mata, tarik napas dalam-dalam dan katakan, "Ya Allah, saya tahu ini adalah rencana-Mu, tolong bantu kami untuk melaluinya, temani kami ya Allah."


Allah senantiasa memiliki rencana terbaik di setiap kondisi yang saat ini kita hadapi. So...


Lakukan usaha yang terbaik dan bersandarlah pada Allah SWT, Dzat yang Maha Baik, karena Allah tetap sayang kepada kita semua dengan segala cara-Nya.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••


Keesokan harinya.


Richard tersentak dari tertidurnya, dan seketika ia pun membuka matanya. Untuk sesaat ia masih merasa asing dengan kamar yang saat ini ia tempati. Dan disaat masih melihat disekelilingnya tiba-tiba ia teringat pada istrinya, yang ternyata sudah tidak berada di sampingnya.


"Eh, dimana Dayah? Apakah dia sedang di kamar mandi? Hm, sebaiknya aku lihat sajalah!" Gumam Richard. Seraya ia bangkit dari tempat tidurnya. Lalu ia pun berjalan menuju ke kamar mandi. Dan setibanya disana. Ternyata tidak ada siapapun dikamar mandi tersebut.


"Aah... Kemana istriku? Hmm... Apa dia sedang keluar ya? Sebaiknya aku periksa saja keluar," gumamnya. Lalu ia pun langsung mengambil piamanya. Karena saat ini ia hanya memakai celana pendek saja. Sedangkan bagian atasnya bertelanjang dada. Setelah ia memakai piyama tidurnya. Richard pun langsung bergegas meninggalkan kamar tersebut.


Setelah ia berada di luar kamar, dengan langkah yang terlihat terburu-buru ia pun menuruni anak tangga menuju ke lantai bawah. Sesampainya di lantai bawah ternyata tidak ada siapapun disana. Hal itu membuat Richard tampak resah.

__ADS_1


"Hidayah? Kamu dimana Sayang?" Panggil Richard, dengan suara yang terdengar sedikit meninggi. Dan tak berapa lama terdengar suara sahutan dari arah dapur.


"Nisah, di dapur Mas!"


Mendengar suara tersebut, Richard pun langsung bergegas menuju ke dapur. Dan benar saja ternyata istrinya memang sedang berada di dapur. Ia terlihat sedang memasak sesuatu. Melihat hal itu, Richard pun langsung menghampiri dan langsung memeluknya dari belakang.


"Hum... Baunya enak nih. Kamu masak apa sih Sayang?" Tanya Richard, masih posisi sedang memeluk istrinya dari belakang.


"Lagi masak nasi goreng Mas. Maaf ya karena dirumah ini cuma ada beras sama telur aja. Jadi sarapan kita hari ini cuma makan nasi goreng dan telur aja Mas," jawab Hidayah, dengan wajah terlihat merasa bersalah.


"Alhamdulillah dong Sayang, yang pentingkan kita masih bisa sarapankan? Lagian kamukan pernah bilang, kita tuh harus selalu bersyukur disetiap keadaan apapunkan? Jadi kita harus bersyukurkan, walaupun hari ini sarapannya hanya nasi goreng pakai telur saja?" Balas Richard. Sambil ia mengecup lembut puncak kepalanya Hidayah.


Mendengar perkataan suaminya Hidayah pun menyunggingkan senyuman manisnya pada Richard. Setelah itu Ia pun mengecup pipi suaminya. "Muaach! Ini hadiah karena Suaminya Nisa semakin pintar aja deh. Aduh gawat nih, kayaknya Nisah semakin cinta deh sama Mas, gimana nih?" Goda Hidayah, membuat Richard langsung tertawa kecil setelah mendengar perkataannya.


"Aamiin, insyaa Allah Mas. Insyaa Allah Nisah akan selalu mencintai Mas karena Allah," balas Hidayah, sambil menyunggingkan senyuman lembutnya, yang sudah menjadi ciri khasnya.


"Aamiin. Alhamdulillah, semoga kamu juga akan mendapatkan cinta dari Allah, karena sudah mencintai Mas, karena-Nya," ucap Richard. Lalu ia pun memberikan kecupan lembut di dahinya Hidayah.


"Aamiin ya Allah. Ya sudah sekarang Mas mandi gih. Biar nanti kita bisa sarapan sama-sama, ya?"


"Baiklah Sayang. Ya sudah Mas mandi dulu ya?" Balas Richard sambil kembali memberi kecupan pada puncak kepalanya Hidayah.


"Iya Mas." Setelah mendapatkan jawaban dari istrinya Richard pun berlalu pergi meninggalkan Hidayah.

__ADS_1


Sedangkan Hidayah langsung melanjutkan acara memasaknya, yang tampaknya sudah hampir selesai. Dan benar saja tak berapa lama kemudian ia pun menyelesaikan masakannya. Setelah itu masakan tersebut langsung ia sajikan diatas meja makan. Dan tak berapa lama ia selesai menyajikan masakannya. Richard tampak sudah kembali lagi dengan pakaian yang terlihat sudah rapih.


"Sudah masak ya Sayang?" Tanya Richard, seraya ia duduk di salah satu kursi yang berada di ruangan makan.


"Sudah dong Mas. Nah, sekarang Mas makan duluan ya? Nisa mau panggil bang Sandi dulu ya, biar kita sarapan sama-sama," balas Hidayah, seraya ia meletakkan sepiring nasi goreng ke meja yang berada dihadapannya Richard.


"Eh, ngapain dipanggil sih? Biarkan saja dia cari sarapan sendiri!" Ujar Richard tampak tidak senang.


"Eeh, jangan begitu dong Mas. Kasian bang Sandi. Soalnya disini agak jauh dari pasar jadi mana ada warung nasi disini. Lagian bukankah kita mau secepatnya pergi ziarahkan? Biar secepatnya juga kita kembali ke kota, iyakan Mas? Makanya nggak papa ya Bang Sandi ikut sarapan sama kita?" Balas Hidayah, memberikan pengertian pada suaminya.


Mendengar perkataan dari istrinya, Richard pun langsung mendengus kesal. "Huh! Ya sudahlah biar Mas saja yang manggil dia! Kamu pasang saja yang benar cadar kamu!" Katanya terdengar kesal. Lalu ia pun langsung bergegas pergi.


Hidayah langsung tersenyum lucu saat melihat kekesalan Suaminya. "Hihihi... Mas icad- Mas Icad.. masih aja ya, cemburuan tidak jelas. Hum.. tapi menggemaskan deh cemburunya," gumam Hidayah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah itu ia pun langsung membenarkan cadarnya. Dan tak berapa lama kemudian suaminya kembali lagi, bersama Sandi. Lalu ketiganya pun langsung menyantap sarapannya dengan penuh hikmat.


Setelah ketiga menyelesaikan sarapannya. Hidayah pun langsung membersihkan bekas makan mereka. Karena setelah itu mereka mau langsung berangkat ke makam orang tuanya Hidayah. Dan benar saja begitu ia menyelesaikan semuanya. Mereka pun langsung bergegas pergi dari rumah Hidayah. Namun sebelum berangkat, Hidayah kembali menitipkan kunci Rumahnaya pada tengganya, sekalian ia berpamitan.


Setelah mereka selesai berpamitan, ketiganya pun langsung naik ke mobilnya Richard. Dan tak berapa lama kemudian Sandi pun mulai melajukan mobilnya menuju ke area pemakaman.yang letaknya di bawah kaki perbukitan. Setelah menulusuri jalan pedesaan akhirnya mereka pun sampai di pemakaman. Dan dengan dibantu oleh penjaga makam, akhirnya mereka sampai di makam orang tuanya Hidayah. Dan baru saja mereka hendak bersimpuh di sisi makam tiba-tiba terdengar suara bariton seorang pria yang terdengar begitu lantang.


"He, Richard! Menjauhlah dari makam orang Tuaku! Karena orang kotor seperti kamu tidak pantas berada disana!!"


...•••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱•••••••••••••...


Guys, tolong bantu Vote ya🙏 agar karya ini bisa berlanjut 🙏 Sebelum dan sudah Author ucapkan terima kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2