HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.

HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.
DILEMA.


__ADS_3

*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hadits 🦋❁❁⊱••••••••*


Hanya orang yang berhati besar yang mampu menangani masalah demi masalah. Gelas yang berisi air putih yang terisi tinta hitam akan berubah menjadi hitam. Sedang kau lihat telaga itu? Butuh berapa tinta untuk membuatnya berubah. Itulah hati yang besar.


Masalah yang datang kadarnya sama dan tidak mungkin diluar kapasitas setiap diri hanya saja, respon terhadap masalah itu tergantung pada seberapa besar hati ini dalam menyikapinya.


Kekuatan hati tergantung pada iman dan ilmu. Semakin besar iman dan semakin luas ilmu yang kita miliki akan menjadikan hati ini lebih baik dalam menghadapi kehidupan dengan segala ujian didalamnya.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••


Hidayah tampak gelisah setelah kepergian Richard. Ia terus teringat pada temannya terus. Sebab sebelum Richard pergi, ia sempat mendapatkan kata-kata, yang menurutnya itu adalah sebuah ancaman, yang ditujukan untuk dirinya dan juga sahabatnya. Jadi tak heran, kalau saat ini ia sedang mencemaskan sahabatnya itu.


Disaat ia sedang dalam keadaan dilema, tiba-tiba Sandi masuk, bersama dua orang anak buahnya Richard,. Yang terlihat keduanya sedang memapah Linda, dengan keadaan tidak sadar, Bahkan ia sudah tak memakai cadar. Sehingga menampakkan wajahnya yang penuh lebaman. Bahkan diujung bibirnya, terlihat darah yang masih mengalir.


"Astaghfirullah, Ukhti Linda! Apa yang terjadi?" Sentak Hidayah sambil membulatkan matanya. Lalu pandangannya langsung beralih ke Sandi, karena sepertinya ia tahu kalau Sandi adalah anak buah kepercayaannya Richard.

__ADS_1


"Apa yang sudah kalian lakukan pada temanku, hah?!" Tanya Hidayah, terlihat begitu marah pada Sandi.


"Itu belum seberapa yang dia terima Nona. Karena penyiksaan yang sebenarnya, akan dilakukan besok. Tetapi itu semua tergantung jawab yang akan Anda berikan pada Bos saya!" Balas Sandi dengan raut wajah yang terlihat begitu datar. Setelah itu ia dan anak buahnya, langsung bergegas pergi meninggalkan Hidayah dan Linda. Dan mereka sengaja tidak mengikat Linda.


"Aah! Dasar kalian semua manusia keji! Lihat saja nanti, Allah akan membalas perbuatan kalian dengan setimpal! Hai kalian dengar aku? Setelah aku akan.." Teriak Hidayah begitu marah. Namun tak dihiraukan oleh Sandi dan juga anak buahnya. Bahkan mereka telah menutup pintu ruangan yang tertutup itu.


Linda yang mendengar temannya yang berteriak, membuat ia tersadar dan langsung memanggil nama Hidayah, dengan suara yang terdengar lemah, "Ty Dayah!" Ucapnya membuat Hidayah langsung berhenti berteriak-teriak.


"Ty Linda? Alhamdulillah Anti sudah sadar? Gimana perasaan Anti, apa yang mereka lakukan Ukhty? Sampai Anti seperti ini?" Tanya Hidayah dengan bertemu sebab Ia sangat penasaran pada apa yang telah diterima oleh temannya itu.


Namun belum lagi Linda membalas pertanyaannya tiba-tiba mata Hidayah tertuju pada tangan dan kaki Linda yang sudah tidak terikat lagi. "Eh, tangan dan kaki anti tidak terikat lagi? Hmm.. bisakah Anti, membukakan ikatan tangan Ana, Uty?" Pintanya berharap Linda bisa membuka ikatannya.


Walaupun Linda sedikit kesulitan, karena tubuhnya yang lemas. Namun ia tetap berusaha dengan keras. Hingga akhirnya ia berhasil membuka ikatan tangannya Hidayah, "Alhamdulillah, su-dah Ty.." ucapnya, akan tetapi tubuhnya langsung limbung kebelakang dan akhirnya ia kembali tak sadarkan diri.


"Astaghfirullah! Ty Linda!" Sentak Hidayah, seraya ia bangkit dari duduknya. Namun karena ternyata kakinya masih terikat, membuat ia kembali terduduk.


"Aaw..! Ah! Ternyata kakiku masih terikat?" Gumam Hidayah, yang kemudian ia berusaha membuka Ikatan tersebut, "Iikh...kenapa kencang banget sih ikatannya! Oh ya Allah tolong hamba," gerutu Hidayah, masih berusaha membuka ikatan pada kakinya, dan tak lama,

__ADS_1


"Alhamdulillah.. akhirnya terbuka juga," ucapnya, lalu ia pun langsung menghampiri Linda yang masih pingsan.


"Ya Allah.. Ty Linda, bangun Ty," panggil Hidayah sambil menggoyangkan tubuhnya sahabatnya itu. Tampak sekali iabegitu cemas. Karena Linda tak meresponnya ia pun mulai panik.


"Oh ya Allah, semoga tak terjadi apa-apa pada teman hamba ini," ucapnya seraya ia mengelap darah yang masih menempel pada ujung bibirnya dengan kain hijab syar'i nya.


"Aah.. sebaiknya Ana pindahkan dia dulu ke tempat yang lebih nyaman," gemanya Seraya ia melihat disekeliling ruangan tersebut. Dan ternyata di pojokan ruangan tersebut terdapat sebuah tempat tidur berukuran 4 kaki.


"Alhamdulillah, ternyata disana ada tempat tidur, sebaiknya aku bawa dia kesana," gumamnya lagi. Lalu ia pun memapah Linda, ketempat tidur tersebut. Setibanya di tempat tidur itu Hidayah pun langsung membaringkan tubuh Linda di atas.


"Maafkan Uty, karena Ana Anti jadi seperti ini," gumam Hidayah, sembil, mengelus pipinya Linda yang tampak membiru. Dan di saat Ia menatap wajah Linda tiba-tiba dia kembali teringat akan perkataan Richard maupun Sandi.


"Aah.. Aku tidak hal ini terjadi lagi pada Ty Linda. Tapi apa yang harus aku jawab, pada manusia keji itu? Terus bagaimana ini? Kalau sampai aku menolak keinginannya maka terindah akan kembali mendapatkan siksaan. Ana tidak mau itu terjadi," gumam Hidayah lagi dengan mata yang terlihat seperti mencari sesuatu.


"Disini juga tidak ada jendela. Huh! kami juga tidak bisa melarikan diri?" gerutunya lagi.


...•••••••••••⊰❁❁❁❁⊱••••••••••••...

__ADS_1


Dukung Ramanda terus ya guys, Syukron


__ADS_2