HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.

HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.
PERGI KE KAMPUNG.


__ADS_3

*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hadits 🦋❁❁⊱••••••••*


Kita seringkali merasa ada yang keliru dari apa yang kita lakukan, namun merasa tidak berdaya untuk menghentikannya. Merasa terperangkap dan sulit untuk merubahnya. Padahal hidup kita sesungguhnya adalah jihad. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan bahwa mengendalikan hawa nafsu adalah jihad yang lebih besar dari jihad di medan perang bersama beliau.Dan itu kita lakukan seumur hidup kita.


Dengan menyadari hidup ini adalah perjuangan seumur hidup, kita tidak akan menyerah sebelum berperang. Tidak akan menyerah sebelum berusaha sampai titik darah penghabisan. Gagal coba lagi. Belum berhasil bangkit lagi. Ingatlah, Allah tidak akan merubah nasib kita jika kita sendiri tidak berusaha untuk merubah keadaan dengan sedaya upaya kita.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••


Jantung Richard langsung berdegup kencang. Tatkala ia mendengar perkataan dari istrinya, yang ternyata sedang merindukan kedua orang tuanya, yang telah meninggal karena perbuatannya sendiri. Rasa penyesalan pun tiba-tiba menyeruak dihatinya. Sehingga ia terlihat bingung harus berkata apa pada Hidayah yang masih menangis didalam pelukannya.


"Maafkan aku Dayah," ucap Richard terdengar lirih. Namun karena tubuh mereka saling menempel, membuat Hidayah dapat mendengar perkataan maaf dari suaminya itu.


Mendengar hal itu Hidayah pun langsung menarik wajahnya, yang sejak tadi ia sembunyikan di dada bidang suaminya. Lalu ia pun langsung menatap wajah suaminya dengan tatapan yang terlihat begitu lembut.


"Dayah, tidak menyalahkan Mas kok. Karena Dayah tahu, itu sudah menjadi takdir yang direncanakan oleh Allah. Jadi Mas, tidak usah merasa bersalah seperti itu lagi ya?" Katanya, sambil ia memegang pipi sang Suami.


"Tapikan, gara-gara Aku, kamu..." Balas Richard. Namun perkataannya langsung disela oleh Hidayah.


"Sssth... Itu bukan gara-gara Mas kok. Sudah ya Mas, jangan dibahas lagi," kata Hidayah, seraya ia mengecup singkat bibir suaminya. Dan seketika mata Richard langsung membulat dengan sempurna.


"Eh! Kamu? Ooh.. sepertinya kamu ingin memancingku lagikah? Apa tadi kurang pu..." Tanya Richard. Namun lagi-lagi Hidayah kembali menyelanya.

__ADS_1


"Eh! Tidak-tidak Mas! Dayah, cuma ingin merayu Mas. Agar Dayah, diizinkan pergi ke kampung Dayah, karena Dayah, ingin berjiarah ke makam orang tua Dayah, Mas," balas Hidayah. Dan sekali lagi Richard tampak terkejut setelah mendengar perkataan istrinya itu.


"Ingin berjiarah?" Katanya mengulangi perkataan Hidayah.


"Iya Mas, boleh ya? Please untuk sekali ini saja, izinkan Dayah pulang kerumah orang tua Dayah, ya Mas?" Pinta Hidayah, dengan wajah yang terlihat begitu berharap sekali pada suaminya itu.


Richard yang melihat tatapan istrinya yang begitu berharap. Membuat ia tak sampai Hati untuk menolak keinginannya. "Baiklah, sesuai keinginan kamu Sayang. Dan Maslah yang akan mengantar kamu langsung kesana," balasnya sambil menyunggingkan senyuman pasrahnya ke Hidayah.


"Benarkah Mas?" Tanya Hidayah untuk memastikannya lagi, apa yang ia dengar tadi.


"Iya Sayang, apa sih yang nggak untuk kamu, hm?" Balas Richard seraya ia mengecup lembut dahi istrinya dengan kasih sayang.


"Alhamdulillah, kalau begitu bisakah hari ini juga kita perginya Mas? Aaa... Dayah lupa, hari inikan Mas mau kerjakan? Hmm... Ya sudah tunggu Mas, kapan liburnya aja deh," kata Hidayah, yang ternyata teringat kalau hari ini bukanlah akhir pekan.


"Aaakh! Mas Dayahkan bisa jalan sendiri! Cepat turunkan Dayah Mas!" Teriak Hidayah, saat ia berada di dalam gendongan suaminya.


"Tidak boleh! Istriku yang cantik inikan masih lelah! Jadi biar hari ini, Mas yang akan memandikan kamu, oke?" Balas Richard, yang terlihat masih berjalan menuju ke kamar mandi mereka.


"Eh! Nanti kalau Mas, yang mandikan pasti jadinya akan lamakan? Biasanya Maskan selalu..." Protes Hidayah. Namun Richard langsung memotongnya.


"Tidak Sayang. Mas janji kali ini Mas, hanya memandikan kamu saja kok. Karena Mas, nggak mau nantinya kamu kelelahan. Kitakan mau melakukan perjalanan jauhkan?" Balas Richard, seraya ia meletakkan tubuh istrinya kedalam bathtub, setelah mereka berada di dalam kamar mandi mereka.


Karena suaminya sudah berkata seperti itu. Hidayah pun akhirnya pasrah dan membiarkan tubuhnya dimandikan oleh suaminya. Dan sesuai dengan perkataannya, Richard pun hanya memandikan Hidayah, tanpa bermaksud melakukan apapun. Setelah usai memandikan istrinya, Richard pun langsung membersihkan dirinya sendiri. Dan setelah selesai, keduanya langsung memakai handuk kimono masing-masimg. Lalu Richard pun kembali menggendong tubuh istrinya, dan membawanya ke ruang ganti mereka.

__ADS_1


"Sekarang berpakaianlah Sayang. Atau haruskah Mas, juga yang memakaikan baju kamu, hm?" Tanya Richard, setelah ia menurunkan tubuh istrinya di sebuah kursi yang berada diruang ganti.


"Eh! Dayah bisa pakai baju sendiri kok Mas. Dan sebaiknya Mas pakai baju juga ya? Biar kita sama-sama selesai nantinya," balas Hidayah yang kemudian ia pun menghampiri lemari kaca tempat baju-baju gamisnya tergantung.


"Baiklah Sayang, kalau begitu ambilkan dulu dong bajunya. Kan Mas nggak tau baju apa yang harus Mas, pakai?" Pinta Richard, terdengar manja.


"Uluh-uluh, manja banget sih suaminya Dayah?"


"Emangnya nggak boleh ya, kalau seorang suami ingin manja sama istrinya?"


"Ya boleh saja sih. Ya sudah deh, Dayah ambilin. Sebentar ya Mas," Hidayah pun langsung menghampiri lemari yang diperuntukkan baju-baju suami. Lalu ia pun mengambil salah satu baju yang tergantung di sana.


"Pakai baju ini aja ya Mas?" Kata Hidayah, seraya ia memberikan sepasang pakaian pada Richard.


"Loh, kok baju Koko sih Sayang? Inikan belum waktunya sholatkan?" Tanya Richard, tampak heran saat melihat istrinya menyerahkan baju Koko pada dirinya.


"Mas, kitakan mau ziarah, makanya lebih bagus kalau Mas, memakai baju kokokan?" Jelas Hidayah dengan lembut.


"Ooh, begitu ya? Ya sudah deh, mas ikut apa kata kamu saja. Sekarang mas pakai ya?" Katanya seraya ia mengambil baju Koko itu dari tangan istrinya. Dan akhirnya, keduanya sama-sama memakai baju mereka masing-masing. Setelah keduanya tampak rapi, Richard pun langsung menekuk lengannya, seraya berkata.


"Anda sudah siap untuk pergi ke kampung Anda Nyonya Richard?" Katanya gaya yang terlihat begitu elegan.


Hidayah pun langsung tersenyum, seraya tangannya langsung merangkul lengan Suaminya. " Saya sudah Siap Tuan Richard," katanya, dan mengikuti gayanya Richard.

__ADS_1


"Baguslah. Kalau begitu mari kita berangkat Nyonya," ajak Richard. Dan keduanya akhirnya, meninggalkan kamar mereka dengan tangan saling merangkul, terlihat begitu mesra.


__ADS_2