HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.

HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.
BERKUNJUNG


__ADS_3

*•••••••⊰❁❁🦋 Mutiara Hikmah 🦋❁❁⊱••••••••*


Tidak mungkin seorang Muslim bahagia jika dia jauh dan tidak mau belajar agama Islam. Karena dengan mempelajarinya kita akan tahu bagaimana caranya hidup bahagia, bagaimana caranya bersabar, bersyukur, ikhlas, istighfar. Belajar bagaimana caranya menjaga hidupnya hati kita, menjaga semangat kita terus menyala, mengobati kesedihan, melawan pesimis, memupuk optimis, baik sangka kepada Allah, beriman kepada takdir, membangkitkan jiwa yang terluka, menguatkan lagi sukma yang terpuruk, menyatukan kembali kalbu yang patah. So belajarlah terus sampai maut menjemput. Karena manusia itu tempatnya lupa.


"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit"


_Q.S. Tho-ha, ayat 124_


Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Memberikan kita semangat untuk belajar agama. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan hamba-hamba-Nya yang bahagia dunia dan akhirat. _Aamiin yaa Robbal 'alamiin


__Today Muhasabah__


•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••


DiMansionnya Richard.


Keesokkan paginya tampak Hidayah sedang melipat mukenanya. Karena sepertinya ia baru menyelesaikan kewajibannya terhadap Rabb nya. Setelah itu ia langsung bergegas keluar dari kamarnya. Bahkan ia langsung berjalan menuju ke arah dapur. Dan baru saja ia hendak memasuki dapur, tiba-tiba seorang pria berpakaian butler menghadang didepannya.


"Selamat pagi, Nyonya muda? Apakah Anda memerlukan sesuatu Nyonya muda?" Tanya Pria itu, seraya ia membungkukkan tubuhnya sedikit, tanda ia memberi hormat pada Hidayah.


"Pagi juga Butler Johannes, Ana tidak memerlukan apa-apa kok. Hanya saja Ana ingin memasak untuk suami Ana. Karena hari ini Ana ingin berkunjung ke penjara," balas Hidayah seraya ia melanjutkan langkahnya memasuki dapur.


"Tapi Nyonya, bukankah Tuan muda selalu menolak bertemu dengan Anda? Jadi sebaiknya..." Ujar Johannes, mengingatkan Hidayah. Karena selama ini ia sangat tahu, kalau Hidayah, selalu pulang dalam keadaan sedih. Sebab Richard tak pernah mau ditemui olehnya.


"Jangan khawatir Butler. Walaupun Mas Richard berkali-kali menghindari saya. Itu tidak akan jadi masalah untuk Ana. Sebab Ana juga tidak akan pernah menyerah, kok Butler. Pokoknya Ana akan tetap mengunjunginya, sampai beliau mau menemui Ana," potong Hidayah, terdengar begitu yakin dan percaya diri.


"Aah... Kalau itu memang sudah menjadi tekadnya Nyonya, maka saya akan memberikan dukungan pada Anda. Dan saya juga akan berdoa, semoga hati Tuan muda tersentuh akan kegigihan dari Nyonya Muda," kata Johannes, terdengar bersemangat.


"Aamiin ya Allaah... Terima kasih Butler, kalau begitu, bisakah Anda membantu Ana? Karena hari ini Ana ingin memasak makanan kesukaan Mas Richard."

__ADS_1


Mendengar permintaan dari istri majikan, Johannes pun langsung menghampiri Hidayah, yang saat ini mulai meracik-racik bahan-bahan makanan yang hendak ia masak.


"Dengan senang hati Nyonya Muda," balas Johannes. Dan akhirnya ia pun membantu Hidayah untuk meracik-racik bahan-bahan sayuran.


Setelah semua bahan selesai diracik, kini Hidayah mulai memasaknya. Dengan dibantu oleh salah satu kokinya. Sehingga dalam waktu satu jam, ia sudah menyelesaikan semua masakannya. Bahkan ia juga sudah menyajikannya kedalam rantang dan siap untuk dibawa.


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Kalau begitu Ana mau bersiap-siap dulu ya Butler," ujar, Hidayah seraya ia melepaskan celemeknya.


"Silahkan Nyonya."


Setelah mendapatkan balasan dari Johanes. Hidayah pun mulai melangkahkan kakinya, untuk beranjak dari dapur. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, ia kembali menghentikan langkahnya seraya berkata.


"Oh iya Butler, tolong katakan pada Bang Sandi ya, untuk menyiapkan mobil? Dan kali ini Ana ingin beliaulah yang mengantarkan Ana. Bisakan Butler?" Katanya dengan tatapan mata yang terlihat begitu berharap.


"Jangan khawatir Nyonya. Saya akan pastikan kali ini Sandilah yang akan mengantar Anda," balas Johannes.


"Tuan Sandi, tunggu!! Anda mau kemana?!" Teriak Johannes, ketika ia melihat Sandi terlihat hendak memasuki mobilnya.


"Eh, Butler?!" Sentak Sandi, tampaknya ia sedikit kaget. "Ah, Saya mau berangkat ke kantor. Oh iya ada apa ya? Kok Anda terlihat tergesa-gesa, Butler?" Tanyanya lagi terlihat penasaran.


"Ooh... Hmm... Apakah di kantor ada urusan yang sedang mendesak Tuan Sandi?" Tanya Johannes, tampak ragu-ragu.


"Tidak ada sih, cuma sajakan sekarang kantor sudah menjadi tanggung jawab saya, selama Tuan muda berada di penjara. Maka dari itu, saya harus menangani pekerjaan beliau yang tertunda kemarin," jelas Sandi, yang terlihat ia berkata apa adanya. "Oh iya, ngomong-ngomong ada apa sebenarnya. Kenapa Anda terlihat gelisah?" Sambungnya lagi.


"Aah... Itu Tuan, hari ini Nyonya bermaksud ingin mengunjungi Tuan muda, kepenjara. Dan beliau meminta Anda yang mengantarkannya," jawab Johannes apa adanya.


"Eh, kenapa harus saya? Bukankah beliau memiliki supir sendiri? Lagi, untuk apa beliau kesana? Bukankah semuanya akan menjadi sia-sia saja? Sebab Tuan muda tidak mau menemuinya. Jadi sebaiknya Nyonya tidak perlu kesana lagi, karena itu justru akan membuat beliau kecew..." Ujar Sandi. Namun tiba-tiba saja terdengar suara seorang wanita. Membuat ia langsung menghentikan perkataannya.


"Jangan khawatir Bang Sandi, karena Ana tidak akan pernah kecewa. Karena hal ini juga termasuk ibadah bagi Ana. Jadi walaupun Mas Richard menolak Ana lagi. Itu tidak akan membuat Ana merasa kecewa, Bang Sandi. Karena ada pahala yang akan selalu mengalir untuk Ana."

__ADS_1


Mendengar kata-kata tersebut, Sandi pun langsung menoleh ke sumber suara. "Aah... Nyonya? Hmm.. kalau begitu saya minta maaf, Nyonya, dan saya tidak bermaksud untuk..." ucapnya sambil membungkukkan tubuhnya sedikit.


"Tidak apa-apa Bang Sandi, saya memakluminya. Dan saya juga sudah memaafkan Anda," potong Hidayah, sambil ia menyipitkan matanya. Pertanda ia sedang memberikan senyuman ikhlasnya pada Sandi.


"Terima kasih Nyonya muda. Kalau begitu mari saya antar Anda menemui Tuan muda," kata Sandi, lalu ia pun langsung membuka pintu mobil bagian belakangnya.


"Aah... Alhamdulillah, terima kasih, Bang Sandi," balas Hidayah, seraya ia melangkah dan kemudian ia pun langsung masuk ke mobil. Dan setelah sang nyonya masuk Sandi pun langsung menutup pintu mobil tersebut, seraya berkata.


"Sama-sama Nyonya," ucapnya. Setelah itu ia pun ikut masuk ke dalam mobilnya dan duduk di belakang kemudinya. Dan tak berapa lama kemudian, mobil pun mulai melaju dengan perlahan-lahan, hingga keluar dari pintu gerbang Mansionnya Richard. Setelah mobil memasuki jalanan raya, ia pun langsung mempercepat laju mobilnya.


...*****...


Sementara itu di sisi lain.


Di sebuah aula tampak barisan pria-pria yang memakai seragam berwarna oranye, terlihat sedang mengantri dengan membawa sebuah baki di tangannya. Tampaknya mereka hendak mengambil jatah sarapan pagi. Dan salah satunya adalah Richard. Ia tampak ogah-ogahan ketika harus mengikuti antrian tersebut. Karena sebenarnya ia memang tak ingin sarapan, mengingat ia selalu mual setiap melihat makanan. Dan benar saja, ketika ia sudah berada di antrian terdepan, perutnya langsung merasa mual.


"Ugh!" Spontan Richard langsung menutup mulutnya. Dan bermaksud ingin pergi tanpa mengambil makanannya.


"Eh, Tuan, apakah Anda tidak mengambil makanan Anda? Kalau begitu bolehkah jatah Anda untuk saya?" Tanya salah satu pria yang berbaris di belakangnya.


"Hmm... Ya silahkan!" Balas Richard dengan singkat, lalu ia pun langsung bergegas pergi begitu saja, tanpa menoleh sedikitpun lagi.


"Loh Nak, kenapa makanan kamu malah diberikan orang lain? Bukankah tadi malam kamu bilang sudah kelaparan?" Tanya Jack yang kebetulan sedang berpapasan dengannya.


"Iya sih, tapi mau gimana lagi coba? Orang perut saya langsung mual, jadi ya sudah lebih baik tidak usah makankan?" Balas Richard datar. Dan disaat bersamaan terdengar suara seorang pria menyebut namanya.


"Selamat pagi Pak Richard, ada kunjungan dari Asisten Anda, Pak Sandi. Apakah Anda ingin menemuinya?" Ujar pria berseragam polisi.


"Pagi juga Pak! Iya saya akan menemuinya!"

__ADS_1


__ADS_2