
*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hikmah 🦋❁❁⊱••••••••*
Jika bahagiamu di dunia tak bisa engkau tulis sesuai inginmu, maka bersemangatlah untuk mengupayakan kebahagiaan hidup akhiratmu. Karena Allah memberikan kesempatan untuk setiap manusia merintis dan mengupayakan kebahagiaan akhiratnya dari caranya meraih keridhaan-Nya.
Jangan menyerah saat perjuangan masih membutuhkan semangatmu. Jangan terhenti selagi nyawamu masih melekat di ragamu. Teruslah berjuang sampai tarikan nafas terakhirmu ditutup dengan kalimat, "Laa illaaha ilallaah.."
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••
Siddiq yang tadinya begitu tegar berdiri, walaupun ia sedang terluka, akibat ditembak oleh Richard. Kini Ia langsung terkulai lemah dan terjatuh ketanah sambil memegang dadanya yang telah bersimbah darah. Setelah ia melihat kepergian Richard dan Anak buahnya yang lari tunggang langgang karena takut pada Harimau putih. Melihat Siddiq terjatuh ketanah, membuat para santri maupun para Ustadz yang lainnya langsung terkejut.
"Astaghfirullah! Ustadz Siddiq!" teriak mereka semuanya. Dan dengan spontan mereka pun langsung menghampiri Siddiq, dan kemudian mereka pun langsung mengangkat tubuh Siddiq dan membawanya ke pendopo. Dan ternyata Kyai Ibrahim sudah berada di sana. Dan ia amat terkejut, ketika melihat Siddiq sedang di gotong oleh para muridnya.
"Innalilahi! Apa yang terjadi pada kamu Nak?" tanya Ibrahim, setelah para santri meletakkan tubuh Siddiq di lantai yang beralaskan karpet.
"Maaf, Ana yang menjawab pak Kyai. Ustadz Siddiq ditembak oleh Ikhwan yang berjaket hitam tadi, pak kyai," jawab salah satu santri yang tadi ikut menggotong tubuh Siddiq.
"Benar Kyai, tadi Ustadz Siddiq sedikit lengah, maka beliau tertembak," sambung Ustadz Ilham.
"Astaghfirullah, ya sudah kalau begitu ayo kita bawa ke rumah sakit! Kalian tolong angkat tubuh Beliau, dan langsung bawa ke mobil saya!" ujar Ibrahim, pada para Santrinya. "Dan kamu tolong panggilkan Aliyah (istri) Beliau cepat!" lanjutnya, pada salah satu santrinya yang lain.
__ADS_1
"Na'am Kyai!" balas mereka secara serentak. Dan langsung melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Ibrahim. Satu orang pergi menjemput Hidayah. Dan empat orang lainnya mengangkat tubuh Siddiq, yang tak sadarkan diri. Lalu keempatnya langsung membawa Siddiq menuju ke mobilnya Ibrahim yang berada dibawah bukit.
...🦋🦋🦋...
Sementara itu di pondoknya Siddiq.
Tampak Hidayah sedang mondar mandir di dalam kamarnya, Ia tampak begitu amat gelisah. Apalagi ia sempat mendengar suara tembakan lagi. Jadi tak heran, kalau ia semakin gelisah, karena ia sangat mencemaskan suaminya.
"Astaghfirullah.. bukankah itu suara tembakan? Yaa Allah sebenarnya apa yang terjadi. Semoga tidak terjadi apa-apa pada mereka semua, lindungilah padepokan ini yaa Allah," gumam Hidayah, didalam kegelisahannya. Karena ia masih merasa gelisah, ia pun kembali mondar mandir, di sekitar kamarnya dengan perasaan yang semakin tidak enak.
"Yaa Allah, ada apa ini? Kenapa perasaan Ana jadi semakin tidak enak ya? Dan ada apa dengan jantung Ana sih? Kok sejak tadi debaran jantung Ana semakin kencang yaa?" gumamnya lagi, sambil ia berjalan menuju ketepi ranjangnya, lalu ia pun duduk di sana, sambil mengelus-elus dadanya, dimana didalamnya terdapat jantungnya semakin berdegup kencang.
"Kenapa Ana selalu terbayang terus pada wajah Mas Siddiq ya? Semoga tak terjadi apa-apa pada Mas Siddiq, lindungilah Dia ya Rabb," ucapnya lagi.
Namun belum lagi langkah Hidayah sampai pada dapurnya, tiba-tiba saja ia mendengar suara ketukan pintu dari luar. Membuat ia sedikit tersentak, dan tiba-tiba juga jantungnya semakin berdebar tak menentu. Karena ada perasaan takut, dan juga penasaran, menjadi satu. Namun karena ketukannya semakin kencang, membuat rasa penasarannya semakin besar. Dan ia pun langsung menghampiri pintu pondoknya, seraya berkata.
"Siapa disana?" tanyanya, tanpa ia membuka pintunya. Karena ia sempat teringat akan pesan suaminya. Agar tidak membuka pintunya, sebelum suaminya sendiri yang memintanya.
"Assalamu'alaikum Ustadzah! Ana Fahrul!" jawab seorang anak laki-laki tanggung dari luar.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu, ada apa Fahrul?" tanya Hidayah lagi, masih belum mau membuka pintu pondoknya.
__ADS_1
"Maaf Ustadzah, Ana diminta pak Kyai, untuk memanggil Ustadzah," jawab Anak laki-laki tanggung itu lagi dengan sopan.
"Eh, ada apa ya? Tapi maaf Fahrul, tadi Ana dipesankan oleh Ustadz Siddiq, agar tidak membuka pintu, sebelum beliau yang memintanya. Maka dari itu Ana tidak bisa memenuhi keinginan Kyai, terkecuali kalau kamu mau memanggilkan Ustadz Siddiq kemari. Untuk itu maukah kamu memanggilkan beliau Fahrul?" tutur Hidayah dan ia juga meminta Fahrul untuk memanggil suaminya.
"Maaf Ustadzah, Ana tidak bisa memanggil Ustadz Siddiq. Karena saat ini Beliau sedang terluka parah. Sebab saat bertarung tadi Ustadz Siddiq terkena tembakan," balas Fahrul, yang akhirnya ia menjelaskan apa yang terjadi pada Siddiq.
Mendengar penjelasan dari santrinya Siddiq, tiba-tiba saja tubuh Hidayah langsung gemetaran, bahkan tubuhnya langsung merosot ke bawah dan akhirnya ia terduduk di lantai. "Astaghfirullah cobaan apa lagi ini?" gumamnya dengan wajah yang terlihat begitu cemas. Bahkan tanpa terasa air matanya sudah mengalir kepipinya begitu saja.
"Ustadzah? Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Fahrul dari luar, karena sehabis ia menjelaskan semuanya. Suara Hidayah tak terdengar lagi.
"Iya Ana baik-baik saja," jawab Hidayah, terdengar pelan.
"Alhamdulillah.. kalau begitu bisakah Ustadzah menemui Pak Kyai secepatnya? Sebab Pak Kyai, mau secepatnya membawa Ustadz Siddiq kerumah sakit," ujar Fahrul, kembali menjelaskan perintah dari Ibrahim.
Mendengar hal itu, Hidayah berusaha bangkit dari duduknya, sambil berkata, "Yaa Ana bisa, tunggu sebentar Fahrul!" ucapnya dan ia pun langsung bergegas ke kamarnya untuk mengambil cadarnya. Setelah cadar terpasang ia pun langsung bergegas menuju ke pintunya dan langsung membukanya.
"Ayo Fahrul, kita kesana!" katanya, dan langsung melangkahkan kakinya setelah ia menutup pintunya. Dan keduanya langsung menuju ke pendopo utama. Setibanya di sana Hidayah langsung diantar oleh beberapa santri lainnya menuju ke mobilnya Ibrahim yang berada di bawah bukit. Dan sesampainya di bawah bukit, Hidayah melihat Kyai Ibrahim sedang berdiri di samping mobilnya. Dengan wajah yang begitu sedih, membuat Hidayah menjadi penasaran.
"A-assalamu'alaikum Kyai? A-apa ya-yang telah terjadi pada Mas Siddiq, Kyai?"
...•••••••••⊰❁❁❁❁⊱•••••••••...
__ADS_1
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..
Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author. dan LIKE Bila ingin memberikan semangat. "KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron