HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.

HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.
KEKEJAMANNYA RICHARD.


__ADS_3

*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hikmah 🦋❁❁⊱••••••••*


Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan:


“Wahai saudara-saudaraku, kehidupan yang baik bukan hanya dengan banyaknya harta, bukan hanya dengan badan yang sehat, memiliki banyak anak dan istri, bukan dengan istana-istana yang megah dan kedudukan-kedudukan yang bagus."


Kehidupan yang baik adalah ketentraman hati, dan tidak ada seorangpun yang lebih tentram hatinya daripada orang yang memiliki dua sifat, yaitu keimanan dan amal shalih.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••


Di RAS KONSTRUKSI.


Setelah peristiwa perjodohan yang ditolak mentah-mentah oleh Richard. Sebastian ayah Richard, pun harus menjalani perawatan di rumah sakit. Karena ia terserang sakit jantung secara tiba-tiba, setelah kepergian putranya. Bahkan saat ini ia sedang mengalami koma. Sehingga kini Richardlah yang harus mengambil alih sebagai Presdir diperusahaan ayahnya itu.


Setelah mengetahui bahwa Richard mengambil alih jabatan Presdir. Membuat para bawahan Sebastian menjadi resah. Pasalnya mereka jadi harus mengikuti peraturan yang dibuat oleh Richard. Dan bagi mereka yang tidak mau mengikuti peraturannya. Maka mereka dipersilahkan keluar tanpa mendapatkan apapun. Dan akhirnya mau tak mau, mereka harus menerimanya.


"Loh Dwi, kamu kok belum ngambil cuti sih? Bukankah hari Minggu kamu akan melangsungkan pernikahankan?" tanya salah satu karyawatinya Richard.


"Eh, Dilla nggak tahu ya, peraturan barunya? Sekarangkan cuti tidak boleh lebih dari enam hari. Dan cuti melahirkan saja hanya satu bulan saja. Jadi kalau masih mau bertahan disini. Mau tak mau kita harus mengikuti peraturan itu Dilla," jelas wanita yang dipanggil Dwi tersebut.


"Hah? Gila ya? Siapa sih yang buat peraturan seperti itu? Seenaknya saja dia merubah-rubah peraturan dari Pak Presdir Bastian!" balas Dilla yang tampaknya, ia belum mengetahui, siapa yang merubah peraturan diperusahaan tersebut.

__ADS_1


"Saya yang merubah peraturan tersebut! Kenapa ada masalah sama kamu, hah?" ujar seorang pria, yang tampaknya ia baru saja keluar dari sebuah lift, yang tak berapa jauh, dari meja tempat mereka bekerja.


Mendengar kata-kata dari Pria tersebut, dengan spontan, kedua wanita itu langsung menoleh ke sumber suara. Dan disaat keduanya melihat wajah dari sang pemilik suara. "Pak Richard!" sentak keduanya. Dan seketika itu juga, keduanya langsung berdiri.


"Selamat Pagi Pak wakil Presdir!" ucap Dilla.


"Selamat pagi pak Presdir !" ucap Dwi juga. Dan mereka mengucapkannya, secara bersamaan, sambil keduanya membungkukkan tubuhnya, dengan wajah dari keduanya sudah mulai memucat. Apalagi keduanya sempat melihat tatapan dingin dari pria itu. Jadi tak heran kalau saat ini kedua amat ketakutan.


"Hmm! Sekarang katakan! Apakah kamu keberatan, dengan peraturan yang telah saya buat hah?" tanya pria tersebut yang tak lain adalah Richard.


Mendengar pertanyaan dari bosnya, dengan suara yang begitu dingin. Membuat tubuh kedua wanita itu, langsung terlihat gemetaran. Tampak sekali kalau mereka, benar-benar sedang ketakutan.


"Ti-tidak Pak! Ka-kami ti-tidak keberatan!" balas Dilla dan Dwi secara bersamaan.


Setelah Richard berada di dalam ruangannya. Ia pun langsung menghampiri kursi kebesarannya. Seraya ia membuka jasnya, kemudian ia langsung sampirkan jas tersebut kesadaran kursinya. Setelah itu ia pun langsung duduk dikursinya.


"Apakah sudah kerumah sakit Sandi?" tanya Richard, tanpa memandang wajah Sandi sedikitpun.


"Sudah Bos!" jawab sandi dengan singkat, dengan posisi ia berdiri tepat didepan meja kerjanya Richard.


"Hmm..gimana keadaan Pak tua itu? Apakah dia masih belum siuman?" tanya Richard lagi, yang kini ia terlihat sedang fokus pada layar laptopnya.


"Keadaannya masih koma Bos! Dan kata dokter Beliau membutuhkan Transplantasi jantung. Karena saat ini, beliau sedang mengidap gagal jantung," jelas Sandi, berkata apa adanya, sesuai dengan apa yang ia dengar dari dokter yang merawat Sebastian.

__ADS_1


"Heh! Kenapa nggak langsung mati saja sih?! Kalau begini, namanya merepotkan orang lain! Jantung siapa coba yang mau ditukar sama jantung Pak tua itu! Huh dasar merepotkan saja!" balas Richard, yang tampaknya ia begitu membenci Sebastian. Jadi tak heran kalau ia tak memperdulikan ayahnya itu.


Mendengar, kejamannya Richard, membuat Sandi langsung bergidik, "Bagaimana Bos! Apakah Anda berniat mencarikan jantung untuk beliau Bos?" tanya Sandi terlihat begitu penasaran.


"Tidak perlu! Biarkan saja dia mati! Karena aku sudah muak melihatnya!" jawab Richard, dengan entengnya. Membuat Sandi sedikit terkejut mendengarnya.


"Eh! Tapi Bos...?" protes Sandi. Namun perkataannya langsung disanggah oleh Richard.


"Tidak ada tapi-tapian! Biarkan saja dia mati! Titik!" tegas Richard. Yang kini ia sedang menatap wajahnya Sandi dengan tatapan dinginnya


"Aah.. baiklah Bos! Saya akan mengikuti, sesuai yang Anda perintahkan," balas Sandy pasrah.


"Sekarang ganti taufik! Apakah kalian sudah mengetahui keberadaan, saudarinya Arsyad, Sandi?" tanya Richard, yang kini tatapannya sudah kembali ke layar laptopnya.


"Sudah Bos! Ternyata dia berada di sebuah perguruan Maung putih, yang berada di bukit maung, Bos!" balas Sandy lagi.


"Heh! Mereka pikir Aku takut? Kalau begitu ayo kita sekarang kesana!" ajak Richard. Membuat Sandi langsung tersentak.


"Eh Apa Bos? Kebukit Maung?"


...•••••••••••⊰❁❁❁⊱••••••••••••...


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys dukung author terus yaa, Syukron

__ADS_1


__ADS_2