HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.

HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.
PERTARUNGAN.


__ADS_3

*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hikmah 🦋❁❁⊱••••••••*


Di antara bentuk akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam adalah bermuka manis di hadapan orang lain. Bahkan hal ini dikatakan oleh Syaikh Musthofa Al ‘Adawi menunjukkan sifat tawadhu’ seseorang. Namun sedikit di antara kita yang mau memperhatikan akhlak mulia ini. Padahal di antara cara untuk menarik hati orang lain pada dakwah adalah dengan akhlak mulia. Lihatlah bagaimana akhlak mulia ini diwasiatkan oleh Lukman pada anaknya,


“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Lukman, ayat: 18).


Ibnu Katsir menjelaskan mengenai ayat tersebut, “Janganlah palingkan wajahmu dari orang lain ketika engkau berbicara dengannya atau diajak bicara. Muliakanlah lawan bicaramu dan jangan bersifat sombong. Bersikap lemah lembutlah dan  berwajah cerialah di hadapan orang lain”


(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 56).


•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••


DOOR!! DOOR!!


Terdengar suara tembakan yang terdengar agak jauh. Namun membuat Hidayah maupun Siddiq langsung tersentak. Hingga Siddiq langsung menghentikan aksi bercumbu. Lalu dengan sigap ia langsung mengambil jubahnya, yang tadi sempat ia buka, dan menyisakan kaos oblong yang belum sempat ia buka. Setelah memakainya pandangannya langsung beralih pada istrinya yang saat ini masih berada di tempat tidurnya.


"Tetaplah disini ya Dik? Ingat jangan membuka pintu kalau bukan Saya yang memintanya! Kamu mengerti Dik?!" ujar Siddiq terdengar tegas. Seraya ia berjalan menghampiri istrinya lagi.

__ADS_1


"Iya Ustadz, Insya Allah," balas Hidayah dengan suara yang terdengar sedikit bergetar.


"Jangan khawatir, insya Allah semuanya akan baik-baik saja, kok Dik," kata Siddiq lagi, seraya ia mengecup lembut puncak kepala istrinya lalu ia juga mengecup lembut dahinya Hidayah. "Jaga diri kamu baik-baik ya? Saya pergi dulu ya? Assalamu'alaikum?" lanjutnya lagi seraya ia mengelus pipi Hidayah sambil menatapnya, dengan lembut.


"Iya Mas juga ya? Kamu juga ya, berhati-hatilah dan cepatlah kembali. Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu," balas Hidayah, sambil memeluk erat tubuh Suaminya, yang seakan enggan untuk dilepaskan.


"Inshaa Allah Sayang. Ya sudah Mas pamit lagi, Assalamu'alaikum," ucap Siddiq seraya ia melepaskan pelukannya istrinya, dengan sedikit dipaksa. Karena memang Hidayah memeluknya begitu erat.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu," balas Hidayah dengan lirih.


Setelah mendengar balasan dari istrinya, Siddiq pun langsung bergegas keluar dari kamarnya. Dam baru saja ia keluar dari kamarnya tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar pondoknya. dan sidik pun langsung bergegas menuju ke pintu lalu ia pun segera membukanya dan tampaklah olehnya seorang santri berjubah putih sedang berdiri di depan pondoknya.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu," balas Siddiq, yang sepertinya ia sudah sudah memahami situasi yang sedang terjadi.


"Ustadz, itu padepokan kita disera..." ucap Santri itu lagi. Namun belum lagi ia menyelesaikan kata-katanya, Siddiq sudah mengangkat tangannya, agar santri tersebut tak melanjutkan perkataannya.


"Saya sudah tahu! Jadi sebaiknya kita kesana sekarang!" katanya sambil ia melangkah kakinya keluar dari pondoknya. Lalu ia kembali menutup pintunya dari luar. Karena ia tak mau, santrinya tersebut melihat istrinya.

__ADS_1


Setelah Siddiq, menutup pintu pondoknya, ia pun berjalan menuju ke pondok utama. Dan semakin ia mendekati pondok utama itu, semakin terdengar suara seperti orang-orang yang sedang bertarung. Mendengar hal itu, Siddiq pun percepatan langkahnya agar ia dapat melihat apa yang sedang terjadi. Dan benar saja, saat ia sudah mencapai halaman pondok, ternyata disana sedang terjadi pertarungan antara anak santri, dengan para pria berjas hitam. Bahkan ia juga melihat, saat guru besarnya juga ikut bertarung, dan menghadapi beberapa pria berjas hitam dengan bertubuh besar.


"Astaghfirullah, Kyai!" sentaknya, dan ia pun langsung bergabung pada pertarungan yang menurutnya tidak seimbang, "Assalamu'alaikum Kyai? Apakah Anda baik-baik saja?" tanyanya, saat ia sudah berada dibelakang guru besar dengan posisi tubuh saling menempelkan punggung.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu, Alhamdulillah Ana baik-baik saja! Sekarang mari kita halau, niat buruk kedatangan mereka ke pendopo kita!" balas Kyai Ibrahim, sambil ia melayangkan tendangannya pada beberapa pria bertubuh besar itu, yang saat ini sedang mengepung mereka berdua.


"Baiklah Kyai dengan senang hati, mari kita hajar mereka! Hiaaat!" seru Siddiq, sambil ia juga melayangkan tendangannya ke pria-pria itu dengan bertubi-tubi. Dan mereka pun langsung terhempas satu-persatu.


Setelah lawan-lawannya jatuh satu persatu, Siddiq kembali menghantami para pria berbaju jas satu persatu. Dan disaat ia sedang berusaha melindungi gurunya, tiba-tiba terdengar suara letusan yang mengarah ke udara dengan disertai Seruan dari seorang pria.


DOOR..DOOR!!


"BERHENTI! ATAU AKU AKAN MENEMBAKKAN WANITA INI!" teriak seorang pria berjaket hitam, yang terlihat ia sedang menodongkan sebuah senjata dikepala seorang wanita paruh baya. Dan dengan spontan pertarungan pun terhenti saat mereka melihat wajah wanita itu.


"Kyaaaak!!"


...••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••...

__ADS_1


Jangan lupa dukung Ramanda terus ya guys 🙏


__ADS_2