HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.

HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.
SURAT PERCERAIAN.


__ADS_3

*•••••••⊰❁❁🦋 Kalam Ulama 🦋❁❁⊱••••••••*


Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.”


Dan Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.”


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••


Arsyad tampak bingung untuk menanggapi kabar kehamilan Adiknya. Karena ekspresi wajah tersirat antara senang dan juga sedih. Hal itu membuat Ibrahim sepertinya paham apa yang sedang ia pikirkan. Yaa sebagai seorang kakak, ia pasti ingin melihat adiknya bahagia. Namun sebagai seorang anak ia juga ingin berbakti pada orang tuanya. Makanya ia tidak mungkin membiarkan pembunuh orang tuanya itu bebas tanpa bertanggung jawab atas kematian mereka. Jadi wajar saja kalau saat ini Arsyad dalam keadaan dilema.


"Nak, kamu baik-baik sajakan?" Tanya Ibrahim. Sambil menepuk pundak Arsyad, ketika melihat ia yang tampaknya sedang hanyut dalam lamunannya. Bahkan ia sampai tidak tahu kalau dokter yang tadi berbicara dengan mereka telah pergi.


"Eh! I-iya Kyai, saya baik-baik saja!" Sentak Arsyad, yang langsung tersadar dari lamunannya. "Loh, Dokternya kemana Kyai?" Tanyanya, karena ia baru sadar kalau ternyata sang dokter sudah tak berada di tempatnya semula.


"Huh! Kenapa kamu baru sadar sekarang Nak? Padahal sudah sejak tadi dokter itu pergi. Makanya kamu tuh jangan melamun saja, Nak," balas sang Kiyai, sambil ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Eh, maaf Kyai, tadi saya..." Kata Arsyad sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Namun perkataannya langsung dipotong oleh Ibrahim.

__ADS_1


"Sudahlah Nak, ayo kita ke kamar Hidayah," ajak Ibrahim, seraya ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke ruang rawat Hidayah.


"Aah... Baiklah Kyai," balas Arsyad, yang akhirnya ia pun mengikuti langkah guru besarnya itu. Dan ketika mereka telah sampai didepan pintu masuk ruangan Hidayah, tiba-tiba Arsyad menghentikan langkah Ibrahim, dengan cara memegang tangannya.


"Tunggu sebentar Kyai," katanya dengan wajah yang terlihat sedikit ragu-ragu.


"Ada apa Nak?" Tanya Ibrahim tampak penasaran.


"Hmm... Itu Kyai, hum... Apakah kita akan memberitahukan Nisah, tentang suami yang menggugat cerai?" Tanya Arsyad tampak ragu-ragu.


"Tentu saja Nak. Tentu saja kita harus memberitahukan Dia. Sebab itu adalah amanah," balas Ibrahim.


"Tapi Kyai, apa itu tidak masalah? Maksud saya saat inikan, keadaan Nisah sedang lemah. Jadi saya takut, berita ini akan membuat keadaannya semakin parah," tanya Arsyad lagi, tampak ia sedikit mengkhawatirkan keadaan adiknya.


Setelah itu Ibrahim pun membuka pintu ruang rawatnya Hidayah. Dan ternyata memang benar, kalau saat itu Hidayah tampak sedang menunggu kedatangan mereka. Sebab terlihat jelas dari matanya yang langsung berbinar ketika melihat kedatangan Ibrahim dan Arsyad.


"Assalamu'alaikum," ucap keduanya setelah melihat wajah Hidayah.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu. Alhamdulillah, akhirnya Ustadz dan Abang datang juga. Oh iya, kenapa Nisah ada di rumah sakit? Dan kemana Mas Richard?" Tanya Hidayah, tampak tidak sabaran ingin mendengar jawaban dari mereka.

__ADS_1


"Sabar Nak, satu-satu dong tanyanya. Tapi baiklah, Kyai akan menjawab pertanyaan yang pertama ya?" Balas Ibrahim, dan langsung dianggukan dengan cepat oleh Hidayah. "Pertama, kenapa kamu ada disini, itu karena kamu sempat tidak sadarkan diri waktu di pemakaman. Makanya kami langsung membawa kamu kerumah sakit. Dan ternyata saat di priksa sama dokter, kamu itu sedang hamil, Nak," sambungnya. Dan dengan spontan mata Hidayah langsung membulat sempurna tatkala ia mendengar tentang kehamilannya.


"Eh! Apa Kyai, Ana hamil?" Tanyanya ingin memastikan lagi, kalau pendengarannya tidaklah salah.


"Iya Nak kamu hamil. Selamat ya Nak, barakallah... Akhirnya kamu akan menjadi seorang ibu," balas Ibrahim, sambil menyunggingkan senyuman lembutnya, sebagai ciri khasnya.


"Alhamdulillah... Terima kasih ya Allah. Terima kasih karena Engkau telah mempercayakan hamba, atas amanah ini," ucap Hidayah, penuh rasa haru. Lalu untuk sejenak ia mengusap perutnya yang terlihat masih rata. "Terima kasih Kyai," sambungnya, dengan tatapan yang lihat masih mengarah ke perutnya yang sedang ia usapin. Tampak sekali ia begitu senang dan Haru. Hingga ia lupa akan pertanyaan yang lainnya. Sampai pada akhirnya Arsyad membuka suaranya.


"Selamat ya Dek, selamat atas kehamilan kamu," ujar Arsyad. Dan seketika Hidayah langsung teringat pada kejadian di pemakaman. Ketika Suaminya dibawa oleh beberapa petugas kepolisian.


"Terima kasih Bang. Kalau begitu bisakah Abang mencabut tuntutan Abang pada suami Nisah? Karena saat ini Nisah sangat membutuhkan Dia, Bang. Please tolong cabut perkaranya," pinta Hidayah, sambil ia mengatupkan kedua tangannya. Dengan mata yang terlihat sudah basah.


Mendengar permohonan dari adiknya Arsyad, langsung menoleh ke arah gurunya, seperti ingin meminta pendapat darinya. Ibrahim yang paham langsung mengarah matanya ke sebuah amplop yang sedang di pegang oleh Arsyad. Lalu ia mengangguk kepalanya sekali sebagai isyarat, agar Arsyad menyerahkan amplop tersebut pada adiknya.


"Dek, sebelum kamu meminta Abang menarik tuntutanku.Sebaiknya kamu baca surat ini dulu dek. Ini dari Suami kamu," ujar Arsyad dengan lembut. Sambil ia menyerahkan amplop coklat tersebut pada Hidayah.


"Dari Mas Richard?" Kata Hidayah, terdengar lirih. Dan ia pun langsung mengambil amplop tersebut. Lalu seketika itu juga ia pun membukanya dan mengambil selembar kertas putih dari dalam amplop tersebut. Setelah itu ia pun langsung membacanya.


"Surat perceraian?!" Sentak Hidayah tampak terkejut. Dan seketika tubuhnya kembali lemah dan tak lama kemudian, tubuhnya pun terkulai di atas tempat tidurnya.

__ADS_1


"Nisah!"


"Astaghfirullah Hidayah!" Sentak Ibrahim dan juga Arsyad secara bersamaan.


__ADS_2