HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.

HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.
PEDANGNYA SIDDIQ.


__ADS_3

*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hikmah 🦋❁❁⊱••••••••*


Ujian musibah memberikan kita 2 manfaat; manfaat pertama adalah menggugurkan dosa dan yang kedua meningkatkan derajat. Inilah yang harus kita yakini agar kita dapat bersabar. Jadi kita harus ingat bahwa ujian itu mengurangi dosa apabila seorang hamba menjalaninya dengan sabar.


Jika tidak bersabar maka mengurangi dosanya, maka musibah tersebut tidak mengurangi dosa malah membuat seorang semakin terpuruk. Ingatlah bahwa musibah dapat mendatangkan nikmat dan bisa juga mendatangkan azab. Mendatangkan nikmat apabila seorang hamba semakin dekat dengan Allah dan dengan musibah tersebut.


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Tidaklah sesuataupun yang menimpa orang mukmin, sampai duri yang menancapnya kecuali Allah catat baginya kebaikan dan dihapusnya kesalahan” (HR. Muslim, no. 2572).


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••


Tanpa terasa satu bulan pun telah berlalu. Dan semenjak kepergian suaminya yang telah tiada, Hidayah tak pernah sekalipun keluar dari pondoknya. Ditambah lagi ia sedang menjalani masa Iddahnya. Sebab sudah menjadi hukumnya bagi seorang perempuan yang ditinggal meninggal suaminya.


Pertama perempuan tidak dalam keadaan hamil. Dalam kondisi ini, maka masa iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 234:

__ADS_1


"Dan orang-orang yang mati di antara kamu serta meninggalkan istri-istri hendaklah mereka (istri-istri) menunggu empat bulan sepuluh hari."


Kedua, perempuan yang sedang dalam keadaan hamil. Masa iddahnya adalah sampai ia melahirkan kandungannya. Seperti dalam firman Allah dalam QS At-Thalaq ayat 4:


"..sedangkan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya."(QS At-Thalaq ayat 4)


Dalam hal ini, Hidayah adalah kategori perempuan yang pertama. Yang artinya ia dilarang keluar selama empat bulan sepuluh hari. Terkecuali, dalam keadaan darurat. Namun diwaktu tengah malam, disaat semua orang sedang terhanyut dalam mimpinya. Hidayah justru keluar untuk melatih ilmu bela dirinya.


Sebab ia sempat mendengar bahwa yang membunuh suaminya adalah orang yang sama, yang telah membunuh keluarganya juga. Hal itu membuatnya semakin marah. Hingga timbullah rasa ingin membalas dendam pada orang yang telah mengakhiri hidup, orang-orang yang amat ia sayangi. Hidayah terus berlatih tanpa mengenal lelah. Disaat ia masih melatih ilmu bela dirinya, tiba-tiba ia teringat pada pedang milik almarhum suaminya.


"Oh iya, Ana baru ingat, bukankah almarhum Mas Siddiq, memiliki sebilah pedang? Tapi ngomong-ngomong dimana Almarhum, Mas Siddiq menyimpannya ya?" gumam, Hidayah, tatkala ia teringat pada pedang yang pernah ia gunakan, ketika Siddiq melatih dirinya ilmu berpedang.


Sesampainya didalam, Hidayah pun mulai mencari keberadaan Pedang milik suaminya itu. Dan ia terus menelusuri disetiap ruangan yang berada di dalam pondoknya itu. Namun pedang tersebut tak juga ia temukan. Hingga akhirnya, memberanikan diri untuk mendekati lemarinya Siddiq, yang selama ini tak pernah ia jamah.


"Dimana-mana pedang itu tidak ada. Jadi apakah pedang itu berada didalam lemari ini?" gumam Hidayah, sambil menatap pintu lemari yang ada dihadapannya.


"Tapi Ana tidak pernah sekalipun membuka lemarinya Mas Siddiq. Apakah tidak apa-apa bila Anda membukanya? Aah.. bismilah saja, semoga pedang itu berada di dalam lemari ini," gumamnya lagi. Lalu dengan perlahan, ia pun mulai meraih kunci, yang terlihat masih menempel di pintu lemari tersebut.

__ADS_1


Setelah Hidayah memutar kunci tersebut pintu lemari pun mulai merenggang. Itu artinya pintu sudah tak terkunci lagi. Lalu dengan perlahan ia pun menarik pintunya. Dan terlihatlah olehnya. beberapa jubah, Siddiq yang terlihat masih tergantung rapi di lemari itu. Membuat hati Hidayah, terasa sakit. Ia mulai terenyuh saat melihat jubah-jubah yang pernah dipakai oleh Siddiq. Hingga tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja.


"Hiks.. hiks...hiks.. Kenapa kamu meninggalkan Ana begitu cepat Mas.. hiks..hiks.." ucap Hidayah terdengar begitu lirih. Dan ia kembali terhanyut pada kesedihannya. Hingga tubuhnya terasa lemah dan akhirnya ia pun terduduk tepat di depan lemarinya Siddiq.


"Hiks..hiks...Rasanya Ana masih belum percaya, hiks.. kalau kamu sudah pergi Mas. Hiks.. hiks.. Dan rasanya Ana juga belum ikhlas Mas.. hiks.. Karena kepergianmu begitu mendadak.. hiks... padahal hari itu, adalah hari dimana kamu mulai menerima Ana.. hiks..hiks.. bahkan kita sudah sampai ingin menyatukan cinta kita.. hiks.. hiks.. tapi kenapa kamu malah pergi begitu saja Mas.. huhuhu.. huhuhu.. hiks.. huhuhu..hiks.."


Hidayah tak mampu menguasai dirinya lagi. Sehingga tangisnya pecah begitu saja. Ia tampak terpukul atas kepergian Suaminya, yang begitu mendadak baginya. Dan disaat seperti itu, ia jadi ingin memeluk jubahnya Siddiq. Hingga akhirnya ia kembali berusaha berdiri kembali, dan kemudian tangannya pun mulai mengambil salah satu jubahnya Siddiq yang tergantung di lemari pakaiannya Siddiq. Lalu ia pun menciumi jubah tersebut. Apalagi jubah itu, yang paling sering digunakan oleh Siddiq.


Disaat Hidayah masih menciumi, serta memeluk jubah Siddiq. Tiba-tiba matanya tersilau, oleh kilauan yang berasal dari dalam lemarnyai Siddiq. Membuat ia menjadi penasaran, dan ingin melihatnya. Lalu ia pun menyibak jubah-jubah Siddiq yang masih tergantung di lemarinya. Setelah jubah-jubah tersingkir kekiri dan kekanan. Tampaklah olehnya sebuah pedang yang sedang berdiri tegak dinding lemarinya Siddiq.


"Alhamdulillah.. akhirnya Ana dapat menemukan pedang Mas Siddiq," gumam Hidayah, seraya ia meraih gagang pedang tersebut. Lalu ia pun un mengeluarkan pedang itu dari lemarinya Siddiq.


"Mas, izinkan Ana memakai pedang ini ya? Karena Ana ingin, balas dendam, pada orang yang telah membunuh kamu dan kedua orang tua Ana. Jadi Ana mohon, restui Ana ya Mas?" gumam Hidayah, lagi sembari ia menatap mata pedang, yang sudah keluar dari sarangnya.


"Bismillah, semoga Allah meridhoi Ana juga, untuk membalas perbuatan keji mereka!" katanya lagi, dengan mata yang terlihat sudah dipenuhi api dendam.


...•••••••••••⊰❁❁❁❁⊱••••••••••••...

__ADS_1


Dukung Ramanda terus ya guys, Syukron 🙏


__ADS_2