
*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hadits 🦋❁❁⊱••••••••*
Rezeki itu hadir dengan rahmat Allaah pada mereka yang berusaha, bukan untuk mereka yang berputus asa. Banyak dari kita selalu fokus melihat pada kehidupan orang lain, kita anggap apa yang mereka miliki selalu indah. Sementara apa yang kita miliki serasa biasa saja.
Sungguh hidup akan terasa susah, bila yang kita miliki tidak pernah kita syukuri. Dan selalu melihat milik orang lain dengan tatapan iri.
Rezeki itu bukan hanya berupa kekayaan. Rezeki bisa saja berupa kesehatan yang baik, pasangan yang baik, anak-anak yang baik dan sebagainya. Mintalah rezeki pada-NYA dan bersyukurilah atas semua yang telah diberikan untuk kita...
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••
Setelah tetangganya pulang, Hidayah pun langsung membuka kunci pintu gerbangnya. Lalu ia pun memerintahkan Sandi untuk kembali ke mobilnya. Agar ia segera membawa mobilnya masuk kedalam halaman rumahnya. Dan Sandi mengerjakan perintah darinya. Kini mobil Richard pun telah terparkir dengan sempurna di halaman rumahnya Hidayah.
"Mas turun dong. Emangnya Mas mau tetap didalam mobil saja, hm? Disini kalau malam dingin banget loh Mas. Jadi ayo turun," ujar Hidayah. Ketika ia melihat suami hanya berdiam diri saja didalam mobilnya. Padahal Sandi juga sudah turun dari mobilnya itu.
Richard tak langsung merengges perkataan istrinya. Ia masih terlihat berdiam diri saja didalam mobilnya. Tampak ada keraguan di raut wajahnya. Hidayah pun langsung paham, apa yang menjadi penyebab keraguan dari sang suaminya itu. Dan Hidayah pun masuk kembali ke mobilnya dan duduk tepat disampingnya Richard. Lalu ia pun meraih tangan suaminya.
"Mas, Dayah tahu apa yang sedang Mas pikirkan saat ini. Tapi Mas, percayalah semuanya akan baik-baik saja. Karena Dayah sudah mengikhlaskan semuanya. Dan insya Allah, almarhum orang tua Ana juga seperti itu. Jadi Mas jangan mengkhawatirkan itu lagi ya?" Katanya dengan nada yang terdengar begitu lembut.
"Tapi Dayah, kayak Mas nggak pantas untuk memijakkan kaki mas ke rum..." Balas Richard terdengar lirih. Namun masih terdengar jelas oleh Hidayah. Dan ia pun langsung menyelanya.
__ADS_1
"Sssth... Kata siapa nggak pantas, hm? Maskan Suaminya Dayah, jadi sudah sepantasnya dong Mas juga ikut masuk kerumahnya Dayah. Terkecuali Mas bukan siapa-siapanya Dayah. Baru deh Mas nggak boleh masuk. Hmm... Emangnya Mas bukan suaminya Dayah ya?"
Mendengar pertanyaan dikalimat terakhir istrinya. Richard yang sejak tadi hanya menundukkan wajahnya, langsung mendongakkan wajahnya dan langsung menatap wajah istrinya. Dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Eh, kenapa kamu bertanya seperti itu? Ya tentu saja Aku ini Suami kamulah. Dan akan terus menjadi suaminya kamu, sampai kita terpisahkan oleh kematian," balas Richard, sambil menatap wajah istrinya dengan lembut.
Hidayah pun tersenyum manis setelah mendengar perkataan suaminya. "Aamiin. Alhamdulillah, kalau begitu sekarang kita masuk yuk Mas," ajaknya sambil menarik tangan suaminya. Dan mau tak mau akhirnya Richard pun mengikuti istrinya. Dan mereka pun turun dari mobil.
Setelah keduanya turun, Hidayah yang masih menggandeng tangan suaminya langsung berjalan menuju ke pintu masuk rumahnya. Setelah keduanya berada diruangan tamu. Tiba-tiba Richard menghentikan langkahnya dan menahannya. Membuat Hidayah akhirnya ikut menghentikan langkahnya.
"Ada apa Mas?" Tanya Hidayah terdengar lembut.
Richard tak langsung menjawab pertanyaan istrinya. Ia hanya menatap sebuah karpet berbulu yang tergelar di lantai. Sedangkan ditengah-tengahnya tersusun beberapa meja kecil yang diperuntukkan membaca Alquran. Bahkan disetiap meja-meja tersebut terdapat Al Qur'an di atasnya. Itu artinya saat ini ia sedang berada di ruangan dimana orang tua Hidayah sempat mengajarkan para tetangganya mengaji. Dan sudah pasti di ruangan itu jugalah peristiwa pembantai itu terjadi.
"Ada apa Mas? Kamu kenapa?" Tanya Hidayah, setelah tatapan suaminya telah mengarah kepadanya.
Untuk sejenak Richard masih terdiam dan hanya memandang wajah cantik sang istri yang terlihat sedang menunggu jawaban darinya. Lalu ia pun meraih kedua tangan Hidayah yang masih menempel di pipinya. Setelah itu ia kecupi kedua tangannya tersebut. Kemudian ia kembali menatap wajah istrinya dengan tatapan sedih.
"Dayah? Tidakkah kau membenci diriku? Kau tahukan, kalau akulah yang telah membunuh orang tuamu. Aku penyebab kau kehilangan orang-orang yang kamu sayangi," kata Richard dengan tatapan mata yang terlihat ada penyesalan.
Mendengar perkataan suaminya, mata Hidayah mulai berkaca-kaca. Melihat hal itu Richard pun kembali mengarahkan pandangannya ke meja-meja kecil yang berada di tengah-tengah karpet berbulu.
__ADS_1
"Waktu itu, Ayah kamu sedang duduk di sana, dan ibu kamu duduk disebelah sana. Dan di sela-sela meja-meja ini, diduduki oleh bapak-bapak dan ibu-ibu, entah siapa mereka, aku tidak kenal. Dan sebenarnya orang tua kamu menyambut kami dengan hangat dan memintaku untuk duduk. Tapi aku malah mengusir para warga itu, hingga mereka berlarian ketakutan. Karena pada saat itu, Aku tidak pernah mengenal hukum agama, ataupun mengenal belas kasihan. Bagiku siapapun yang menghalangiku maka mereka harus mati," lanjut Richard yang akhirnya ia menceritakan peristiwa dimalam pembantaian tersebut. Sambil tangannya menunjukkan tempat posisi korban sebelum peristiwa terjadi.
Hidayah yang mendengar cerita yang terdengar begitu kejam dari mulut suaminya. Ia pun langsung menutup kedua telinganya. Dan seketika tubuhnya tiba-tiba gemetaran. Karena sepertinya ia jadi membayangkan peristiwa yang mencekam itu. Bahkan ia juga dapat merasakan rasa ketakutan kedua orang tuanya di saat itu. Membayangkan hal itu rasanya ia tak sanggup lagi mendengarnya.
"Hentikan! Hentikan! Hentikan Mas!" Teriak Hidayah sambil menutup telinganya. Dengan wajah yang terlihat sudah di penuhi air matanya.
Mendengar teriakkan istrinya, Richard pun langsung terdiam. Dan ia pun langsung mengalihkan pandangannya ke istrinya. "Dayah!" Sentaknya "Maaf Dayah. Maafkan aku," katanya lagi seraya ia bermaksud ingin memeluk tubuh istrinya. Namun dengan spontan Hidayah langsung mendorongnya.
"Menjauhlah dari Ana! Hueheuhu...hiks.. hiks...hiks..." Kata Hidayah, yang akhirnya tangisnya pun pecah. Bahkan ia sampai terisak-isak. Membuat dada Richard terasa sakit. Ia memang paling tidak bisa kalau melihat istrinya menangis.
"Maafkan aku Dayah! Maaf bukan maksudku membuka luka lamamu. Dan aku memang sengaja menceritakan ini, karena aku lihat kamu seperti tak merasa terbebani ketika mengajak aku memasuki rumah ini. Padahal aku merasa sesak ketika memasuki rumah ini. Karena terus-menerus terbayang pada semua dosaku, Dayah!" Balas Richard yang akhirnya ia mengungkapkan keengganan ia memasuki rumahnya Hidayah.
"Sekarang setelah mendengar ceritaku, apakah kamu masih ingin melihat Aku berada disini Dayah? Atau kamu ingin membalaskan dendam untuk orang tuamu? Sekarang pilihan ada di tangan kamu Dayah. Membiarkan aku Pergi, atau membalaskan dendam mereka. Dan apapun keputusanmu, aku akan menerimanya dengan lapang dada" sambung Richard lagi, seraya ia mengeluarkan sebuah senjata dari saku jasnya. Lalu ia letakkan di tangannya Hidayah. Setelah itu ia pun berlutut tepat di hadapannya Hidayah.
"Lakukanlah Dayah! Aku akan menerimanya dengan ikhlas," katanya lagi seraya ia mengarahkan tangannya Hidayah yang saat ini sedang memegang pistol itu kedahinya sendiri.
"Lakukanlah Sayang,"
...•••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱•••••••••...
Maaf ya guys Ramanda baru bisa Update Kemabli. Soalnya kemarin-kemarin sengaja dihiatus karena kondisi Author seperti ini 👇👇
__ADS_1
Jadi Author harap para Readers semua dapat memakluminya. Dan semoga setelah ini Insya Allah Author akan Update setiap hari lagi. Terima kasih karena selalu menantikannya. Syukron 🙏