
*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hadits 🦋❁❁⊱••••••••*
Mengapa kita mesti resah bila kehilangan beberapa hal yang kita sayangi? Tidak lain karena rasa "memiliki" yang begitu besar pada hal-hal tersebut. Jadi bebaskan diri kita dari keresahan itu. Jangan pernah merasa memiliki, maka kita tak akan pernah merasa kehilangan...
Kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup memang berat. Semakin besar keterikatan kita padanya, semakin besar pula kepedihan yang akan kita rasakan. Hal-hal penting itu mungkin tak serta merta kembali kepada kehidupan kita. Entah itu materi, kesempatan, sahabat, cinta, atau nyawa orang-orang yang kita sayangi. Tapi, semoga saja dengan hanya mengharap ridha-Nya, kita mampu lebih tabah, sabar dan ikhlas dalam menerima realita kehidupan.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••
Waktu berlalu begitu cepat, hingga tanpa terasa sudah dua bulan lebih juga usia pernikahan Hidayah dan Richard. Dan pernikahan mereka juga semakin hari semakin harmonis. Karena memang Hidayah, paling bisa mengambil hati suaminya dengan penuh kesabarannya. Jadi tak heran, kalau melihat Richard yang semakin hari semakin bucin kepada istrinya.
Namun beberapa hari belakangan ini, sikap Hidayah sedikit aneh, ia juga lebih sensitif. Dan hal itu membuat Richard jadi merasa heran. Apalagi ketika melihat istrinya yang sedang melamun, membuat ia semakin penasaran dan membuat ia jadi kepikiran terus. Seperti saat ini biasa pagi-pagi Hidayah sudah menyiapkan setelan jas kerjanya. Namun hari itu tak ada sama sekali. Dan ia malah melihat istrinya sedang melamun di balkon kamar mereka.
"Eh, tumben banget, Dayah kok belum menyiapin baju kerjaku?" Gumam Richard, saat ia baru keluar dari kamar mandinya. Dan masih memakai handuk kimono yang berwarna putih.
"Dia kemana ya? Apa..." Gumamnya lagi. Namun perkatanya langsung terhenti, tatkala matanya mengarah ke balkon kamarnya. "Aah... Dia melamun lagi?" Katanya lagi. Sembari ia berjalan menghampiri istrinya yang sedang duduk di salah satu kursi yang berada disana.
"Sayang?" Panggil Richard. Namun sepertinya Hidayah tak mendengar panggilannya. Tampak sekali ia masih melamun, karena dari pandangan terlihat begitu kosong. Melihat hal itu, Richard pun langsung memberikan kecupan lembut pada puncak kepalanya. Dan seketika Hidayah pun langsung tersentak.
"Eh! Mas Richard!" Ucapnya sambil menatap wajah suaminya. Dan disaat matanya mengarah kehanduk kimono suaminya, ia pun langsung teringat sesuatu.
"Ah iya, Dayah lupa nyiapin baju kerjanya Mas. Sebentar ya Mas, Dayah ambilkan," katanya lagi dan ia pun langsung bangkit dan bermaksud ingin melangkahkan kakinya.
__ADS_1
Namun Richard, langsung menarik tangannya. Sehingga ia pun kembali terduduk namun kali ini ia terduduk di atas pangkuan suaminya.
"Aakh...!" Pekik Hidayah, tampak begitu terkejut. "Mas Ichard, apa yang kamu lakukan? Dayahkan mau nyiapin baju..." Katanya lagi. Namun perkataannya langsung disela oleh Richard.
"Sssth... Diamlah. Mas ingin seperti ini dulu sebentar," sela Richard, seraya ia menciumi tengkuknya Hidayah. Yang kebetulan saat itu, istrinya hanya memakai songkok rajut saja dikepalanya. Sehingga menampakkan leher jenjangnya yang terlihat begitu putih dan mulus.
Yaa, Hidayah memang jarang sekali memakai hijab bila ia sedang berada di kamar pribadi mereka. Sebab itu memang permintaan dari suaminya sendiri. Namun sesekali ia tetap menyempatkan diri untuk memakai songkok. Namun terkadang ia juga tidak memakainya sama sekali. Bila sang suami ingin melihat rambutnya yang panjang. Intinya ia selalu menuruti apapun yang menjadi keinginan suaminya.
"Uhm..." Lenguh Hidayah, saat bibir suaminya mendarat di tengkuknya. "Aah, Mas, inikan bukan akhir pekan. Emangnya hari ini mas tidak ke kantorkah?" Katanya sambil ia mengelak lehernya agar Richard berhenti mengecupinya.
"Emangnya Mas, nggak boleh begini ya? Lagian Mas Bosnya, jadi tidak apa-apa dong, kalau sesekali tidak bekerja," balas Richard, kembali ia mengecupi leher Hidayah.
"Ukhm.. iya sih. Tapikan, tadi malam Mas, bilang hari ini mau pergi cepatkan? Soalnya nanti mau ada rapat pagi," kata Hidayah, mengingatkan suaminya.
"Aah.! Mas, kamu mau apa?" Teriak Hidayah tatkala, Richard membopong tubuh secara tiba-tiba.
"Ya mau apalagi Sayang? Mas tadikan sudah Mas bilang, menyangkut kamu. Mas sulit untuk menundanya," balas Richard, sembari ia meletakkan tubuh istrinya diatas tempat tidur mereka.
"Hah? Bukankah tadi malam kamu sudah... UMM..!" Protes Hidayah. Namun perkataannya tak sampai selesai. Sebab bibir Richard sudah lebih dulu mendarat kebibirnya.
Pada awalnya Hidayah memukuli dadanya Richard. Namun tatkala ia melihat suaminya yang sudah diselimuti oleh hasratnya. Membuat ia tak mampu menolak keinginan suami. Sehingga dengan pasrah ia pun mengikuti permainan suaminya. Dan akhirnya pertempuran yang dipenuhi dengan gairah yang begitu panas itu tak bisa dihindari lagi.
Namun pertempuran tersebut tak berlangsung lama. Sebab Richard dapat merasakan ada yang berbeda pada istrinya. Makanya ia pun langsung mengakhiri dengan cepat. Dan setelah ia menuntaskan semuanya, ia pun langsung menjatuhkan tubuhnya tepat disisinya Hidayah.
__ADS_1
"Maaf ya Mas? Maaf karena Dayah tak melayani Mas dengan sempurna?" Ucap Hidayah, yang sepertinya ia menyadari kesalahannya.
"Tidak apa-apa Sayang. Inikan juga salah Mas. Padahal Mas tahu kalau kamu pasti masih kelelahan, karena tadi malam. Tapi tetap aja Mas melakukannya lagi. Maaf ya sayang," balas Richard. Yang kemudian ia pun mengecup lembut dahinya Hidayah.
"Iya Mas, nggak papa kok. Lagian inikan sudah kewajiban seorang istri, untuk melayani suaminya kapanpun ia memintanya," kata Hidayah dengan lembut. Sambil ia menyunggingkan senyuman manisnya ke Suaminya.
"Alhamdulillah, kamu memang istri sholehaku. Terima kasih ya Sayang?" Ucap Richard, dan kembali lagi ia mengecup dahinya Hidayah.
"Oh iya, bolehkah Mas bertanya sama kamu Sayang?" Tanya Richard, sambil ia menyingkirkan rambut-rambut halusnya Hidayah, yang telah nyasar diwajahnya yang masih berkeringat.
"Tanyalah Mas," balas Hidayah dengan lembut.
"Sayang, sebanarnya apa yang sedang kamu pikirkan sih? Soalnya akhir-akhir ini, Mas lihat kamu tuh, seringkali melamun. Kemarin juga waktu Mas, pulang kerja, kamu baru habis nangiskan? Katakanlah Sayang, sebenarnya kamu kenapa?" Tanya Richard, dengan penuturan yang terdengar begitu lembut.
Mendengar pertanyaan suaminya Hidayah tak langsung menjawabnya. Ia malah terdiam dengan wajah yang terlihat sudah berubah. Bahkan matanya juga terlihat sudah berkaca-kaca. Hal itu membuat Richard semakin penasaran.
"Sayang? Kamu sebenarnya kenapa? Kok malah jadi sedih? Apakah Mas, sudah berbuat salah sama kamu, hm?" Tanya Richard lagi. Dan langsung dibalas gelengan kepala saja oleh Hidayah.
"Kalau tidak, lalu kamu kenapa hm?" Tanya Richard sambil memeluk tubuh istrinya.
"Hiks...hiks.. hiks.. Dayah hanya kangen, sama orang tua Dayah Mas, hiks..hiks... Dan Dayah, juga belum pernah sekalipun berjiarah kubur, dari semenjak mereka meninggal Mas, hiks..hiks.." ungkap Hidayah. Dan seketika jantung Richard langsung berdetak kencang.
DEGH!!
__ADS_1