
*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hadits 🦋❁❁⊱••••••••*
Waktu berjalan begitu cepat dan terasa mengejar usia yang kita miliki. Seringkali terkejut dengan betapa lekas nya kita berkurang usia, makin menua namun belum yakin dengan bekal yang kita punya.
Sementara kita tak tahu berapa lama waktu kita yang tersisa. Mungkin tahun depan, mungkin bulan berikutnya, minggu, hari atau bahkan sekejap lagi jatah usia kita akan habis.
Manfaatkan setiap waktu sebelum terlewat, jangan tambahkan maksiat, perbanyaklah taat. Sebelum nafas di ujung sempatkanlah taubat, karna tak ada yang tau hisab kita kelak di akhirat.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••
"Lakukanlah Sayang," kata Richard dengan wajah yang terlihat begitu pasrah.
Tangan pun Hidayah tampak gemetaran saat ia dipaksa untuk memegang pistol oleh suaminya. Ditambah lagi saat tangannya diarahkan oleh Richard agar ujung pistol mengarah ke dahi suaminya. Membuat ia terlihat semakin gemetaran.
"Ayolah Sayang, tekanlah pelatuknya. Tidak apa-apa, aku tidak akan melawan. Ayolah lakukan Sayang, balaskanlah dendam untuk kedua orang tua kamu. Agar orang tua kamu tenang disana. Dan kamu juga tidak akan merasa bersalah lagi pada mereka, Sayang," ujar Richard, meyakinkan istrinya, agar ia segera menembak dirinya.
Hidayah tak bergeming sedikitpun setelah mendengar perkataan suaminya. Ia hanya menatap wajah suaminya yang masih bersimpuh di hadapannya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa diam? Ayolah lakukan Sayang, akhirilah semua ini," sambung Richard lagi, sambil ia mengarahkan jari telunjuk Hidayah, ke pelatuk pistolnya. Hal itu membuat Hidayah semakin gemetaran. Dan ia pun berusaha menarik tangannya.
"Tidak! Tidak! Saya tidak bisa melakukannya!" Teriak Hidayah, Sambil berusaha melepaskan tangannya dari jeratan tangannya Richard.
"Saya tidak bisa melakukan ini Mas! Terkecuali kalau Mas, bisa menjamin orang tua Nisa akan hidup kembali, setelah Nisa menebak Mas. Maka saya akan melakukan itu. Jadi bisakah Mas menjaminnya?" Sambung Hidayah lagi, dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Mendengar kalimat terakhir dari istrinya. Richard pun langsung menundukkan wajahnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, pertanda ia tak mampu.
"Tidak bisakan? Hiks..hiks... Kalau begitu jangan pernah lagi memaksa Nisa untuk melakukan hal yang amat dibenci Allah lagi Mas. Dan Nisa juga nggak mau hidup seorang diri lagi. Hiks..hiks... Kalau Mas juga Pergi Nisah sama siapa Mas? Hiks..hiks...hiks..." Kata Hidayah lagi, sambil ia membuang pistol yang ia pegang tadi. Setelah itu ia pun ikut bersimpuh di hadapan Suaminya.
Richard pun langsung memeluk tubuh Hidayah, setelah mendengar perkataan Istrinya yang sangat memilukan. Pada dasarnya ia pun sebenarnya tidak tega meninggalkan istrinya seorang diri. Karena ia juga tahu, kalau saat ini bagi istrinya hanya dirinya tempat bersandarnya.
"Maafkan Mas Sayang. Maaf karena Mas sudah membuat kamu semakin sedih," ucap Richard. Seraya ia mengecup lembut puncak kepalanya Hidayah dengan penuh kasih sayangnya.
"Baiklah Sayang, Mas berjanji akan mengikuti keinginan kamu. Sekarang sudah puaskan?" Balas Richard seraya ia menghapus air matanya Hidayah.
"Hu'um, sudah. Sekarang tolong gendong Nisah ke kamar. Soalnya kaki Nisah lemas banget nih," pinta Hidayah dengan suara Manjanya. Dengan ekspresi wajah yang terlihat juga sedang ingin dimanja. Membuat Richard langsung tersenyum tipis melihat tingkah manja istrinya.
"Ay, kok jadi manja?" Goda Richard, sambil menoel pucuk hidungnya Hidayah.
__ADS_1
"Biarin! Gara-gara siapa coba, kaki Nisah lemas gini! Gara-gara Maskan? Jadi sekarang Mas harus tanggung jawab tau!" Balas Hidayah, sambil memanyunkan bibirnya. Membuat Richard yang melihatnya jadi gemas.
"Eh, iya iya deh, Mas ngaku salah. Ya sudah sini Mas gendong. Kamu maunya gendong dimana? Gendong depan, atau gendong belakang, hm?" Tanya Richard, sambil menaik-turunkan alisnya. Membuat Hidayah terlihat begitu senang dan juga bersyukur. Karena pada akhirnya Suaminya sudah kembali seperti semula.
"Okelah Nyonya, kalau mari saya gendong," balas Richard. Lalu ia pun mulai mengangkat tubuh istrinya dengan ala bridal style. "Sekarang katakanlah, kemana, saya harus membawa Nyonya?" Lanjutnya, sambil menatap wajah istrinya dengan tatapan seriusnya. Membuat Hidayah yang melihatnya menjadi gemas. Dan ia pun langsung mengecup bibir Richard dengan singkat.
"Muach!"
Mata Richard langsung membulat sempurna tatkala ia melihat keberanian istrinya. "Eh, kamu sudah berani menggoda Mas, hm? Kalau begitu jangan salahkan Mas, kalau malam ini, kamu tidak bisa tidur lagi. Jadi katakan sekarang dimana kamar Kamu!" Tanyanya, dengan wajah yang terlihat mulai memerah. Membuat Hidayah kembali tersenyum gemas melihat suaminya.
"Huh! Siapa takut! Palingan juga Mas, nanti yang KO duluan!" Goda Hidayah, membuat Ricardo semakin gemas karena merasa tertantang.
"Eh, nantangin lagi! Baiklah sekarang ayo kita buktikan, siapa yang KO duluan! Jadi cepat katakan dimana kamar kamu?"
"Di lantai dua Mas," balas Hidayah. Dan Richard pun langsung bergegas menuju ke anak tangga yang berada di ruang keluarga. Ia tampak terlihat tergesa-gesa saat ia mulai menaiki anak tangga tersebut. Membuat Hidayah merasa ngeri melihatnya.
"Mas, pelan-pelan saja, nanti kita jatuh loh," tegur Hidayah memberi peringatan pada Suaminya.
"Kamu tenang saja Sayang. Asal kamu tidak banyak bergerak kita pasti akan aman," balas Richard, sambil ia melangkah satu persatu anak tangganya. Hingga akhirnya mereka pun sampai di lantai dua. Setelah dilantai dua, langkah Richard tiba-tiba terhenti tatkala matanya melihat sebuah figura besar yang tergantung disebuah dinding yang berada di lantai dua.
__ADS_1
"Ada apa Mas?" Tanya Hidayah, saat melihat wajah Richard yang terlihat kembali berubah. Dan Hidayah pun langsung mengarah pandangannya ke arah mata Richard memandang. Dan ia pun melihat foto keluarga, yang terlihat masih lengkap, ada ayah dan ibunya yang terlihat sedang duduk di kursi. Sedangkan disisi Sang ibu terlihat seorang laki-laki yang sedang berdiri di samping sang ibu. Sedangkan dirinya terlihat sedang berdiri di samping Sang Ayah. Dan keempatnya terlihat sedang tersenyum bahagia.
"Betapa bahagianya kalian pada saat itu ya? Tapi Aku malah menghancurkannya."