
*•••••••⊰❁❁🦋 Mutiara Hikmah 🦋❁❁⊱••••••••*
Membalas kebaikan orang lain sudah sewajarnya dengan kebaikan. Lalu bagaimana dengan sikap buruk orang lain, apakah harus dibalas dengan sikap buruk juga? Tidak, bukan seperti itu konsep terbaiknya.
Membalas sikap buruk dengan keburukan hanyalah kepuasan sesaat, padahal sebenarnya itu menandakan rapuhnya hati dan iman. Dan jika khilaf, justru akan menjerumuskan kita ke dalam dosa yang lebih buruk. Dan kita sendiri yang akhirnya merugi.
Perbanyak berlapang hati, yakin bahwa Allah tak pernah ingkar dengan janjinya. Hanya Allah yang punya kuasa penuh untuk membalas keburukan setiap ummat nya dengan balasan yang setimpal. Maka kita tak perlu mendahului. Serahkan sepenuhnya pada Allah.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••
Keesokan harinya, Hidayah tampak telah rapih dengan setelan gamis berwarna hitam begitu juga dengan hijab dan juga cadarnya yang berwarna senada dengan gamisnya. Tampaknya ia sudah bersiap-siap hendak meninggalkan rumah sakit tempat ia dirawat. Namun disaat ia hendak menghampiri pintu, tiba-tiba pintu tersebut lebih dulu terbuka dari luar. Dan tak lama kemudian muncullah Arsyad dengan membawa bungkusan plastik yang berisi kotak makanan.
"Assalamualaikum, loh Dek, kamu mau kemana?" Tanya Arsyad tampak sedikit kaget, karena melihat adiknya telah rapih.
__ADS_1
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu. Ana mau menemui Suami Ana Bang, di kantor polisi!" Balas Hidayah, terdengar sedikit ketus.
Hal itu membuat Arsyad sedikit kaget dan sekaligus sedih setelah mendengarnya. Karena belum pernah sejarah adiknya berkata Ana (aku) pada dirinya sendiri bila bersama dirinya. Sebab selama ini ia selalu menyebut dirinya dengan nama kecilnya sebagai bentuk adab kesopanannya, bila berbicara pada yang lebih tua darinya. Karena begitulah yang diajarkan pada sang tua mereka.
"Aah... Sebegitu marahnyakah kamu pada Abangmu ini, Nisah? Sampai-sampai adab yang diajarkan Umi kita kamu hiraukan?" Tanya Arsyad, dengan tatapan antara kecewa dan juga sedih.
"Uhm... Jujur Ana memang sedang marah sama Abang. Sebab karena keegoisan Abang, Suami Ana sampai melayangkan gugatan cerai pada Ana. Lalu apakah sekarang Abang sudah merasa puas, setelah memisahkan kami, hm? Kalau merasa sudah, sebaiknya Abang jangan hiraukan Ana lagi!" Balas Hidayah masih terdengar ketus. Bahkan tatapan matanya juga terlihat tidak bersahabat. Dan setelah mengatakan hal itu, Hidayah bermaksud ingin pergi. Namun tangan Arsyad langsung memegang tanganya.
"Astaghfirullah Nisah. Istighfar Dek, masa hanya karena seorang pembunuh kamu menyuruh Abang untuk tidak menghiraukan kamu? Itu sama saja kamu ingin memutuskan tali silaturahmi Kitakan? Dek, Abang melakukan ini juga karena ada sebabnya. Ingatlah dia sudah membunuh orang yang telah melahirkan kita dan juga membesarkan kita! Lalu kenapa kamu semudah itu memberikan maaf padanya, hah? Bahkan kamu menikah dengannya? Apa pikiran kamu sudah tidak waras dek?"
Mendengar kata-kata dari sang Kakak, membuat hati Hidayah terasa sakit. Padahal sebelum ia menikah dengan Suaminya. Ia begitu amat tersiksa, karena ulah Richard, ketika ia hendak balas dendam. Namun ketika ia mengikuti nasehat dari sang guru, agar memaafkan orang yang telah membunuh orang tuanya. Ia justru merasakan hal yang berbeda. Bahkan ia juga merasa bahagia. Akan tetapi pengorbanannya itu tiada arti bagi sang kakak.
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Dan hendaklah mereka memberi maaf dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An-Nur ayat 22).
"Seharusnya dari surah itu, Abang sudah memahaminyakan? Bang Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang bagi setiap hamba-Nya. Allah Maha Pemaaf. Maka sudah sepantasnya kita sebagai manusia, sebagai hamba Allah, berusaha untuk bisa memaafkan kesalahan orang lain. Berlapang dada dengan segala yang orang lain lakukan kepada kita. Baik itu sengaja maupun tidak. Nah, Allah aja Maha Pemaaf buat semua hamba-Nya, masa sih Abang yang kedudukannya hanya sebagai hamba Allah saja tidak mau memaafkan kesalahan sesama hamba-Nya juga? Enggak malu sama Allah Bang?"
__ADS_1
DEGH!!
Spontan jantung Arsyad berdetak begitu kencang, setelah mendengar kata-kata dari sang Adik, yang seperti tamparan baginya. Dan kata-kata juga seperti sebuah jarum yang sedang menusuk-nusuk hatinya. Sehingga tanpa sadar, tangan kini sedang menekan-nekan dadanya.
"Oh iya, asal Abang tahu aja ya? Tidak akan ada ruginya untuk kita memaafkan seseorang. Sebab apabila kita mampu memaafkan orang lain, maka Allah akan memuliakannyq, sebagaimana dalam hadits. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seseorang memaafkan orang lain, kecuali Allah akan menambah kemuliaannya.” (HR. Muslim).
"Nah jadi ketika seseorang memaafkan dan mengalah maka secara lahir menunjukkan bahwa orang tersebut adalah lemah dan tidak memiliki kekuatan, akan tetapi Nabi ﷺ mengatakan bahwa barang siapa yang memaafkan atau mengalah maka Allah akan tambah kemuliaannya. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 10 yang artinya;
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat, ayat 10)" Sambung Hidayah lagi. Akan tetapi kali ini Arsyad, malah tersenyum tipis. Namun di wajahnya tersirat rasa bangga dan juga kagum pada sang Adik.
"Maa shaa Allah... Kenapa sifat kamu mirip banget ya sama almarhum Abi kita? Bahkan kata-kata kamu mirip banget sama beliau. Yaa kamu benar dek, Allah aja maha pemaaf. Masa Abang yang hanya seorang hamba juga, malah menjudge dia ya? Astaghfirullah... Maaf Abang ya dek? Abang salah karena telah mengikuti nafs* Syetan," ujar Arsyad, seraya ia mengusap-usap kepalanya Hidayah. Namun tak dibalas olehnya. Karena Hidayah malah menitikkan air mata setelah mendengar permintaan maaf sang kakak.
"Lah, kok malah nangis sih? Ya sudah dari pada kamu nangis, lebih baik kita mencabut tuntutan suami kamu aja, yuk!" Kata Arsyad, seraya ia menarik tangan sang adik.
__ADS_1
...**********...
Jangan lupa, beri dukungannya ya Guys. Like dan VOTE selalu Ramanda tunggu. Syukron 🙏🥰