
*•••••••⊰❁❁🦋 Mutiara hikmah 🦋❁❁⊱••••••••*
Manusia di ciptakan dengan wujud yang terbaik dari makhluk-Nya, dengan raga, ruh, akal dan batin untuk bisa melakukan perintah-Nya dan merasakan iman kepada-Nya. Namun seringkali kita lupa pada hakikatnya kita ada di dunia, sehingga mudahnya kita merasa angkuh dengan kelebihan diri atau justru melemah karna merasa kurang.
Sejatinya tak ada yang bisa kita sombongkan dalam diri ini, semua yang ada di dunia mudah sekali rusak dan fana. Bahkan gunung yang kuat dan menjulang bisa luluh lantak jika Allah menghendakinya.
Setiap hal yang ada dalam diri kita adalah karunia-Nya, tak ada yang tak istimewa, karna dirimu adalah perwujudan semesta, maka kenalilah dirimu sendiri dan engkau pun akan mengenali Sang Penciptamu..
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••
"He, Richard! Menjauhlah dari makam orang Tuaku! Karena orang kotor seperti kamu tidak pantas berada disana!!"
Mendengar teriakkan dari seorang pria, membuat Richard maupun Hidayah, langsung menoleh ke sumber suara. Dan tampaklah oleh mereka dua orang pria yang satunya terlihat tampan memakai setelan jas berwarna hitam. Dan yang satunya lagi, memakai jubah putih serta memakai sorban. Keduanya terlihat sedang berjalan menuju ke arah mereka. Dan mata Hidayah langsung terbelalak kaget saat melihat pria berjas hitam tersebut.
"Bang Arsyad?!" Sentaknya, membuat Richard langsung memperhatikan wajah pria tersebut. "Benarkah itu Bang Arsyad?" Gumam Hidayah lirih, yang sepertinya ia tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Dan ternyata gumamnya terdengar oleh pria yang namanya disebut Arsyad, oleh Hidayah.
__ADS_1
"Benar dek, ini Abang," kata pria yang bernama Arsyad tersebut, yang ternyata ia adalah Abang Hidayah. Mendengar perkataannya, Hidayah pun langsung berlari menghampiri Arsyad.
"Kyaak... Bang Arsyad!!" Teriak Hidayah, dan ia pun langsung loncat dan akhirnya nemplok ketubuh Arsyad. Arsyad pun menyambutnya dengan hangat.
"Ooh, Adikku Sayang, Abang kangen banget sama kamu. Aah, ternyata kamu kamu tambah berat ya? Nggak nyangka rupanya adekku yang dulu pendek, sekarang ini sudah besar banget ya?" Tanya Arsyad terlihat begitu senan. Sehingga ia berputar-putar, sambil menggendong tubuh Hidayah.
"Hehe... Eh, eh.. Abang! Hentikan! k
Kepala Nisah pusing!" Teriak Hidayah, sambil memukul-mukul punggung Arsyad.
"Aduh-duh-duh! Sakit Dek! Aah... Ternyata tangan kamu keras juga ya?" Ujar Arsyad, seraya ia menurunkan tubuh Hidayah.
"Hahahaha... Kalian, masih aja ya kayak dulu. Akurnya cuma sebentar saja, selebihnya pasti aja berantam," ujar pria tersebut, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Eh, pak kyai Ibrahim? Anda datang juga?" Tanya Hidayah, yang kemudian ia langsung menyalami tangan pria yang dipanggil Ibrahim, yang tak lain ia adalah guru besarnya Hidayah, maupun Arsyad.
"Iya Nak. Kyai datang, karena mengantar Abang kamu. Kemarin dia datang ke pondok untuk mencari kamu. Dan karena firasat Kyai kamu sedang berada disini. Makanya kami langsung kemari," jelas Ibrahim. Yang kemudian matanya langsung mengarah ke Richard yang terlihat masih berdiri disisi makam orang tuanya Hidayah.
__ADS_1
"Assalamualaikum Nak? Apa kabarnya kamu, hm?" Sapa Ibrahim pada Richard. Seraya ia mengulum tangan ke Richard. Sambil ia melangkah mendekatinya.
"Wa'alaikumus salam pak Ustadz. Alhamdulillah saya baik Pak," balas Richard. Sambil ia menyambut uluran tangannya Ibrahim.
"Alhamdulillah, saya senang mendengarnya," ucap Ibrahim. Sambil ia menyunggingkan senyuman lembut pada Richard.
Sedangkan Arsyad yang mendengar perkataan dari Richard. Tubuhnya kembali memanas, dan ia pun langsung menghampiri Richard. Dan kemudian tanpa berkata apapun ia langsung melayangkan kepalan tangannya ke arah wajahnya Richard. Membuat semua yang ada di sana lansung terkejut.
Buukg!! Buugh!! Buugh!" Arsyad memukuli Richard berkali-kali, tanpa memperhatikan jeda sedikitpun. Dan Richard pun tak memberi perlawanan sedikitpun. Ia membiarkan tubuhnya dipukuli oleh Arsyad tanpa memberi jedah sedikitpun.
Hidayah langsung menjerit-jerit ketika melihat suaminya dipukuli oleh kakaknya sendiri. "Hentikan! Hentikan! Hentikan bang Arsyad!! Dia suaminya Nisah! Lepaskan dia!!" Teriak Hidayah dengan sekuatnya. Namun teriakannya tak dihiraukan oleh Arsyad. Iya terus aja memukuli tubuh dan wajah Richard dengan membabi buta. Hingga akhirnya Kiai Ibrahimlah yang akhirnya turun tangan.
"Hentikan Arsyad!" Teriak Ibrahim sambil ia menahan tangannya Arsyad. "Istighfar Nak! Istighfarlah! Janganlah kau dikuasai oleh nafsusetan Nak!" Teriak Ibrahim. Yang akhirnya Arsyad pun menghentikan serangannya.
"Tapi Kyai, dia itu pembunuhnya! Dialah yang membunuh orang tuan kami Pak kyai! Jadi dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya!!" Bales Arsyad sambil matanya menatap wajah Richard dengan pandangan penuh api dendam.
"Saya tau Nak! Tapi bukan seperti ini caranya. Kamu juga harus mengontrol amarahmu Nak. Jangan biarkan kamu akhirnya kamu yang mendapatkan murka Allah Nak! Dan percayalah Dia pasti akan mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri!" Tegur Ibrahim masih menahan tangannya Arsyad.
__ADS_1
"Mempertanggung jawabkan? Dengan apa Kyai? Polisi? Dia pasti akan menyogoknya, dan akhirnya ia terlepas dari tuduhan jugakan?" Balas Arsyad masih menatap geram pada Richard yang terlihat ia juga sedang menatapnya dengan mata tajamnya.
"Baiklah! Saya akan bertanggung jawab! Silakan Anda panggil polisi!"