HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.

HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.
MENCABUT TUNTUTAN.


__ADS_3

*•••••••⊰❁❁🦋 Mutiara Hikmah 🦋❁❁⊱••••••••*


Tidak ada kenyataan yang pahit jika kita selalu yakin bahwa setiap urusan tak pernah lepas dari kehendakNya. Meluahkan keluh kesah mungkin melegakan hati, tapi bukan selalu menjadi solusi. Mengeluh di tempat yang salah pun justru akan menambah masalah dan semakin membuat gundah bukan?


Setiap hal manis tak akan abadi, begitupun yang pahit. Yang perlu kita lakukan adalah menyeimbangkan perasaan ketika menghadapi keduanya. Seimbangkan segalanya dengan syukur dan sabar. Selalu melihat ke sekeliling. Bahkan sesekali lihatlah ke masa-masa yang telah berhasil kita jalani. Rasa syukur akan menjadi penawar hati ketika kenyataan pahit melanda. Dan sabar akan menjadi penguatnya. Sabar ketika bahagia agar tidak takabur. Sabar ketika berjumpa lara agar tak putus asa.


Belajar untuk selalu membersihkan hati. Karna terkadang banyak hal terasa pahit karna kita terlalu sibuk membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. “Wamaa indallahi khair…” kalimat ini Allah sebutkan beberapa kali dalam Al-Qur’an. Jika Allah saja berkali-kali mengingatkan kita, mengapa pula kita masih ragu? Yakinlah bahwa segala hal yang datang dari sisi Allah itu baik.


__Today Muhasabah__


•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••


Sesuai yang dikatakan oleh Arsyad, ia pun Henda membawa Hidayah ke kantor polisi. Dan kebetulan saat mereka baru saja keluar dari rumah sakit. Mereka bertemu dengan Kyai Ibrahim. Lalu Arsyad pun mengutarakan niatnya untuk mencabut tuntutan terhadap Richard. Dan akhirnya Ibrahim pun bersedia mengantar mereka berdua dengan mobilnya. Dan kini ketiganya sudah berada di kantor kepolisian.


"Selamat siang pak!" Ucap Arsyad, ketika mereka sudah berada didalam kantor polisi.


"Siang juga Pak, silahkan duduk pak, Bu," balas seorang polisi yang bertugas di meja pelayanan masyarakat. Lalu ia pun mempersilahkan Arsyad, Ibrahim dan juga Hidayah, untuk duduk di depan meja kerja polisi tersebut. Setelah melihat ketiganya duduk polisi itu pun kembali mengeluarkan suaranya. " Oh iya, adakah yang bisa saya bantu?" Tanyanya dengan ramah.


"Begini Pak. Saya Arsyad Alhidayat, ingin mencabut laporan saya, yang saya lampirkan tiga hari yang lalu, pak," Balas Arsyad.


"Ooh, atas nama siapa pak?" Tanya polisi itu lagi, seraya ia membuka laptopnya.

__ADS_1


"Atas nama Richard Anthony Sebastian, Pak," jawab Arsyad.


"Baik Pak, tunggu sebentar, saya akan mengecek dulu, ya?" Balas sang petugas. Lalu ia pun langsung mengecek kasus yang sedang dihadapi oleh Richard. Dan tak berapa lama kemudian ia mengambil salah satu file yang tersusun di sebuah laci yang sepertinya laci tersebut dikhususkan untuk tempat berkas-berkas laporan. Setelah itu file tersebut dibawa kehadapan mereka.


"Begini Pak, sebelumnya saya minta maaf, mengenai pencabutan tuntutan Anda ini, tidak bisa dikabulkan. Sebab kasus yang dihadapi pak Richard cukup berat. Karena beliau telah menghilangkan beberapa nyawa. Bukan satu atau dua orang saja Pak. Makanya kami tidak bisa membebaskan Tuan Richard," jelas polisi tersebut. Membuat Hidayah yang mendengarnya tampak begitu sedih.


Sedangkan Arsyad yang melihat itu merasa iba melihatnya. Dan ia berusaha menyakinkan kepada polisi tersebut, agar mereka mau membebaskan Richard.


"Tapi Pak, kamikan dari pihak keluarga, bahkan kami ini anak-anak dari korban sudah mengikhlaskannya, Pak. Jadi tidak bisakah tersangka di bebaskan, Pak?" Tanyanya.


"Begini Pak, Dalam delik biasa, perkara tersebut dapat diproses tanpa adanya persetujuan dari yang dirugikan (korban). Jadi, walaupun korban telah mencabut laporannya kepada pihak yang berwenang, penyidik tetap berkewajiban untuk memproses perkara tersebut. Contoh untuk delik biasa atau delik laporan ini, misalnya delik pembunuhan (Pasal 338 KUHP), pencurian (Pasal 362 KUHP), dan penggelapan (Pasal 372 KUHP). Jadi menjawab pertanyaan Anda, sebagaimana diterangkan, tindak pidana pembunuhan seperti yang Anda tanyakan termasuk dalam delik biasa atau delik laporan. Dengan kata lain, proses hukum terhadap tersangka akan tetap berjalan walaupun seandainya pihak keluarga korban sudah memaafkan tersangka."


Mendengar penjelasan dari pihak berwajib, Arsyad pun tak bisa berkata-kata lagi. Ia juga tak mungkin membantah perkataan dari petugas tersebut. Dan ia hanya menatap adiknya yang terlihat cadarnya telah basah karena air matanya sudah mengalir dengan derasnya.


"Kalau bertemu pasti bisa. Tunggu sebentar saya akan menyampaikan pada rekan saya," balas petugas tersebut. Lalu ia pun meminta salah satu rekannya, untuk memanggil Richard. Dan sepuluh menit kemudian, rekan petugas itu kembali dan hanya seorang diri saja.


"Lapor Pak, tersangka tidak mau menemui siapapun. Dan beliau hanya berpesan, bila ada keperluan yang mendesak, harap berurusan dengan pengacara beliau saja. Atau Asisten beliau. Begitu pesan beliau Pak!" Ujar rekan petugas tersebut. Setelah memberikan laporan, ia pun langsung bergegas pergi.


"Bagaimana Pak, Anda sudah mendengar sendirikan? Jadi maaf saya tidak bisa membantu Anda lagi. Dan sebaiknya Anda temui saja pengacara beliau," ujar petugas itu pada Arsyad. Dan disaat bersamaan, tampak dua orang pria yang terlihat baru saja datang. Dan sepertinya petugas itu mengenali keduanya. "Nah, itu mereka baru datang, jadi silahkan Anda berdua bicara dengan mereka," lanjut petugas itu lagi.


"Aah, baiklah, kalau begitu kami permisi Pak!" Pamit Arsyad, seraya ia bangkit dari duduknya, begitu juga dengan Hidayah. Lalu keduanya pun langsung bergegas menghampiri dua orang pria yang baru saja datang tadi.

__ADS_1


Melihat kedatangan Arsyad dan Hidayah, tampak salah satu dari mereka, terlihat begitu terkejut. "Eh! Nyonya!" Sentaknya, lalu ia pun ikut mendekati mereka.


"Assalamualaikum Bang Sandi? Selamat siang Bang Liechen?" Ucap Hidayah sedikit berbeda, sebab mereka memang berlainan agama.


"Ah... Wa'alaikumus salam Nyonya."


"Selamat siang juga Nyonya Hidayah!" Balas keduanya secara bersamaan.


"Oh iya, bagaimana keadaan Nyonya? Apakah Anda sudah baikkan?" Tanya Sandi, sedikit khawatir pada istri tuanya itu.


"Alhamdulillah, saya baik Bang Sandi," balas Hidayah terdengar lemah lembut.


"Aah, syukurlah. Kalau begitu apa kita bisa bicara sebentar Nyonya?" Tanya Liechen, main menyambar saja.


"Aah... Kebetulan saya juga ingin berbicara dengan Anda Bang," balas Hidayah.


"Baiklah, kalau begitu mari kita cari tempat yang lebih nyaman Nyonya," ajak Liechen. Dan akhirnya Hidayah maupun Arsyad, mengikuti Liechen dan juga Sandi. Dan mereka pun berjalan menuju sebuah kafe yang letaknya tak berapa jauh dari kantor polisi. Setelah mereka semua duduk Liechen pun, langsung buka suara.


"Bagaimana Nyonya? Pastinya Anda sudah mendapatkan surat gugatan itukan? Jadi apakah Anda sudah menandatangani?" Tanya Liechen, to the points.


"Maaf Bang, saya tidak bisa melakukannya, karena saat ini saya sedang mengandung anak Mas Richard!" Balas Hidayah, membuat Liechen maupun Sandi tampak begitu terkejut.

__ADS_1


"Apa?! Anda hamil?"


__ADS_2