
*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hadits 🦋❁❁⊱••••••••*
TAKDIR ITU TAK PERNAH SALAH, IA DATANG DI WAKTU YANG TEPAT
Bukan Datang Dengan Cepat Dan Berlalu Seperti Kilat, Semua Butuh Proses Dan PertimbaNgan. Sebab, Allah Tau Mana Yang Terbaik Untukmu. Tak Ingin Memberimu Tanpa Alasan, Tapi Begitu Banyak Kesan. TidakKah Kamu Tau Bahwa Waktu Bukan Mengulur Tapi Mencoba Untuk Mengukur Syukur, Sudah SiapKah Kamu Dengan Apa Yang Akan Terjadi Esok Nanti.
"Segala Sesuatu Menunggu Waktunya.
Tidak Ada Mawar Yang Mekar Sebelum Waktunya. Matahari Juga Tidak Terbit Sebelum Waktunya. Tunggulah, Apa Yang Menjadi Milikmu Pasti Akan Datang Kepadamu."
Penantian Akan Berujung Sebuah Kepastian, YakinLah Semua Akan Ada SaatNya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••
"Syarat kedua, Nikahi saya!"
Richard langsung tersentak saat mendengar syarat keduanya Hidayah. Namun selang beberapa menit, tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha... menikahi Anda? Hahaha... Ternyata Ekspektasi Anda besar juga ya Nona?" Balas Richard, namun tiba-tiba ekspresi wajah seketika berubah datar.
"Tapi perlu Anda ketahui Nona, Aku hampir membuat orang tuaku mati loh. Tapi Itu salah dia sendiri, karena ingin memaksakan Aku untuk menikah! Jadi intinya, tidak akan ada pernikahan di dalam hidupku! Jadi Anda jangan berharap, kalau aku bisa memenuhi syarat kedua anda Nona!" Lanjut Richard terdengar tegas.
"Ooh.. kalau begitu, Anda juga jangan berharap bisa menyentuh saya, Tuan!" Balas Hidayah, tak kalah tegasnya dengan Richard.
Mendengar perkataan Hidayah, Richard pun tersenyum smrik, "Heh..Apakah itu sebuah Ancaman Nona?" Tanyanya dengan nada datarnya.
__ADS_1
"Terserah Anda yang menanggapinya.Tapi saya tekankan pada Anda, kalau saya bukanlah wanita yang Anda pikirkan! Jadi jangan terlalu berharap Anda bisa menyentuh saya, bila tidak ada ikatan pernikahan di antara kita!" Balas Hidayah, dengan penuh penekanan.
Kembali lagi Richard menyonggengkan senyuman smriknya. Tatkala ia mendengar perkataan Hidayah yang mengatakan "saya bukanlah wanita yang anda pikirkan" sementara seingatnya, Hidayah pernah menjalani kehidupan rumah tangga.
"Heh.. bukan wanita yang saya pikirkan ya? Tapi seingatku, bukankah saat kamu sudah berstatuskan janda ya? Bukankah itu artinya Anda termaksuk barang bekaskan?" Ujar Richard, sambil memasang raut wajahnya yang sedang meremehkan, Hidayah.
"Terserah dengan penilaian Anda! Tapi yang pasti, saya tetap pada pendirian saya!" Tegas Hidayah, yang sepertinya ia tak menghiraukan cercaannya Richard.
"Oooh.. kalau begitu baiklah Nona. Karena saya bukan tipe orang yang memaksakan. Maka kesepakatan kita akhiri saja sampai disini!" Kata Richard, seraya ia membalikkan badannya bermaksud ingin pergi. Tetapi sebelum ia melangkahkan kakinya, ia nyempatkan diri untuk menatap sandi, sambil berkata.
"Langsung habiskan saja temannya sekarang juga! Dan jangan lupa, mayatnya kasihkan pada buaya-buaya putihku! Kamu paham Sandi?!" Katanya dengan nada dinginnya.
DEGH!
Jantung Hidayah langsung berdetak kencang saat mendengar titah Richard kepada Anak buahnya. Yang memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Linda. Hal itu membuat dia merasa semakin tak berdaya dan akhirnya..
Seandainya, para anak buahnya Richard tidak membawa senjata, mungkin ia masih bisa melawan mereka. Namun kenyataannya semua para anak buah Richard, sedang memegang senjata berlaraskan panjang. Makanya Hidayah benar-benar tak berdaya lagi.
Richard kembali menyunggingkan senyumannya, tapi kali ini yang ia tunjukkan adalah senyuman kemenangannya, "Hemm.. keputusan yang bijak sana, Nona! Baiklah sesuai keinginan anda, aku akan membebaskan teman Anda!" Katanya, pada Hidayah, "Sandi, bebaskan wanita itu sekarang juga!" Lanjutnya pada Sandi.
"Baiklah Tuan!" Balas Sandi, yang kemudian ia pun meminta anak buahnya untuk membawa Linda. Namun belum lagi anak udah dicat menghampiri Linda tiba-tiba Hidayah menghentikan mereka.
"Tunggu sebentar!" Teriak Hidayah, dan dengan spontan mereka pun berhenti.
Mendengar teriakannya Hidayah, Richard langsung mengerutkan dahinya, "Ada apa? Kenapa Anda menghentikan anak buahku, hm?" Tanyanya terlihat bingung.
"Maaf Tuan, tapi bolehkah saya ikut mengantar teman saya?" Tanya Hidayah, yang sepertinya ia tak percaya dengan perkataan Richard.
__ADS_1
"Hmm.. sepertinya Anda tidak percaya pada saya ya Nona? Baiklah, karena Aku juga ingin membawamu ke mansionku, jadi sekalian saja, kita antar dia," balas Richard, seraya ia kembali membalikkan tubuhnya, "Sandi, bantu wanita itu ke mobil cepat!" Lanjut Richard sebelum ia melangkahkan kakinya.
"Baik Bos!" Balas Sandi, dan lagi-lagi Hidayah kembali berteriak.
"Tunggu!" Teriaknya, berlari mendekati Linda, "Biar saya saja yang melakukannya!" Lanjutnya lagi. Membuat sandi langsung mengalihkan pandangannya pada bosnya. Iya seperti meminta persetujuan darinya. Dan Richard langsung memejamkan matanya dengan singkat. Menandakan Hidayah boleh memapah Linda. Dan akhirnya, Sandi pun membiarkan Hidayah yang memapah Linda. Lalu mereka pun meninggalkan ruangan bawah tanah tersebut.
Sesampainya di mobil, kembali lagi Hidayah, meminta agar ia satu mobil dengan temannya itu. Dan kembali lagi juga Richard menyetujuinya. Sehingga kini Linda satu mobil dengan Hidayah. Dan selang beberapa menit, mobil rombongan Richard pun meninggalkan markasnya.
Setelah menempuh perjalanan lumayan jauh, akhirnya mobil Richard berhenti tepat di rumah sakit. Dan lagi-lagi Hidayah bermaksud ini ikut masuk ke sakit tersebut. Namun kali ini Richard tak mengizinkannya. Dia malah menyuruh asistennya sendiri ya membawa Linda masuk.
Setelah Linda mendapatkan perawatan dari pihak rumah saki. Sandi pun langsung kembali ke mobil bosnya setelah ia membayar biaya administrasinya. Dan kini Sandi mobil Richard kembali melaju dengan kecepatan maksimum. Dan kali ini Richard ikut duduk di belakang mobilnya, tepat di sampingnya Hidayah, yang sejak tadi ia hanya bisa memandangnya dari kaca spion tengah saja.
"Kenapa sejak tadi bibirmu yang indah ini cemberut saja sih Nona? Bikin aku tidak bisa menahan diri saja sih! CK, aku jadi ingin menyentuhnya sekarang.." ucap Richard, dan tanpa memberi aba-aba ia langsung meraih bibirnya Hidayah.
"Uhmm!!" Dengan spontan mata Hidayah langsung terbelalak melihat Richard mencium bibirnya.
"Humm.. manis sekali! Nanti kita lanjutkan di kamar ya?" kata Richard, sambil mengedipkan matanya. Namun tiba-tiba ia tersentak saat melihat Hidayah mengigit bibirnya dengan sekuatnya. Sehingga darah segar langsung mengalir begitu derasnya.
"Hai..! Apa yang kamu lakukan Nona? Mengapa kamu menggigit bibir kamu sendiri hah?!" Tanya Richard terlihat sedikit kesal.
"Maaf Tuan, tapi ini hukuman untuk bibir saya! Karena sudah tersentuh dengan hal yang haram. Jadi sebelum Tuhan saya menghukumnya, lebih baik saya yang lebih dulu menghukumnya!" Balas Hidayah dengan mulut dipenuhi darah segarnya.
"Apa?!!"
...•••••••••••⊰❁❁❁❁⊱••••••••••••...
Dukung Ramanda terus ya guys, Syukron
__ADS_1