HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.

HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.
TEMAN DEGOL.


__ADS_3

*•••••••⊰❁❁🦋 Mutiara Hikmah 🦋❁❁⊱••••••••*


Kadang apa yang kita anggap baik bagi diri sendiri belum tentu baik bagi orang lain. Demikian pula keadaan seseorang yang kita anggap baik-baik saja, bahkan dianggap memiliki kelebihan dalam beberapa hal, terkadang kita tidak tahu ujian apa yang sedang dihadapinya. Pepatah Jawa ada yang mengatakan 'Urip iku Wang Sinawang'. Apa yang kita lihat tak selalu yang sebenarnya di rasakan orang lain.


Jangan dikira yang selalu tersenyum itu pasti bahagia. Kadang ada yang menampakkan kebahagiaan supaya tidak nampak kesedihan yang ada di hati.


Hargai dan syukuri apapun yang ada di hadapan kita. Ridho lah atas apapun yang di berikan Allah pada kita. Percayalah ada skenario Allah yang lebih baik. Rubahlah yang masi bisa dirubah, terimalah apa yang sudah menjadi kepastian. Semoga sabar selalu menghiasi diri.


__Today Muhasabah__


•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••


Setelah mengakhiri pertemuan dengan Hidayah dan Arsyad. Liechen maupun Sandi langsung mengunjungi Richard, yang saat ini sedang menjalani hukumannya di penjara. Dan kini mereka sudah berada di sebuah ruangan khusus bagi mereka yang ingin menemui para tahanan. Bahkan kini Richard juga sudah berada diruangan yang sama dengan mereka.


"Bagaimana, apakah semuanya berjalan lancar?" Tanya Richard, sambil ia duduk di sebuah kursi yang berada dihadapan mereka dengan sebuah meja yang menjadi pembatasnya.


"Sorry bro, gue gagal," balas Liechen berkata apa adanya.


Mendengar kata gagal, seketika Richard mengerenyitkan dahinya. "Gagal? Bagaimana bisa Lo gagal? Bukankah Lo biasanya selalu berhasil dalam menangani kasus hal apapun?" Tanyanya, dengan wajah yang terlihat seperti tak percaya.

__ADS_1


"Yaa, mau bagaimana lagi bro? Orang bini Lo begitu bersikeras tidak mau mentanda tanganin surat gugatan Lo. Jadi gue bisa apa kalau beliau sudah seperti itu, hm?" Balas Liechen dengan santainya.


Richard kembali mengerenyitkan dahinya, setelah mendengar perkataan sahabatnya itu. "Hmm... Mengapa dia tidak mau mentanda tanganin? Apa karena kompensasinya yang gue beri masih kurang?" Tanyanya dengan wajah yang terlihat begitu penasaran.


"Bukan karena itu Bro. Karena tadi gue lihat, bini Lo tak menyinggung sedikitpun tentang kompensasi yang sudah gue berikan. Bahkan sepertinya dia tidak memperdulikan hal tersebut. Aah... Mungkin bini Lo nggak tertarik kali sama kompensasi yang Lo berikan. Makanya dia acuh tak acuh gitu," balas Liechen.


"Nggak tertarik? Hmm... Mana mungkin dia tidak tertarik. Sebab Dia pernah berkata pada gue, kalau dia berkeinginan memiliki sebuah pondok pesantren. Makanya gue diam-diam membangun pondok itu tanpa sepengetahuannya. Karena gue ingin memberikannya sebagai kejutan untuknya. Tapi kenapa sekarang dia tidak tertarik?" Tanya Richard, sambil ia memainkan dagunya dengan jari telunjuk dan juga jari jempolnya. Tampak sekali kalau ia seperti sedang berpikir. Dan disaat bersamaan, Sandi pun ikut buka suara.


"Maaf Tuan, bolehkah saya berbicara?" Katanya terdengar begitu berhati-hati sekali. Sebab biasanya kalau sudah seperti itu Bosnya akan mudah sekali marah. Makanya ia yang cukup mengenal tabiat Richard, harus pandai-pandai mengambil hatinya.


"Hem... Bicaralah!" Balas Richard dengan singkat dan terdengar ketus.


"Tuan, tadi nyonya berkata, beliau tidak akan pernah mentanda tanganin surat gugatan dari Anda. Dan beliau juga berkata, walaupun Anda akan di penjara seumur hidup, beliau tetap tidak akan pernah menuruti keinginan Anda. Bahkan sampai akhirat beliau akan menunggu Anda," ujar Sandi, menyampaikan semua perkataan Hidayah yang ia dengar tadi.


"Iyee, benar yang dibilang Sandi. Soalnya gue juga dengar tau!" Timpal Liechen, membenarkan perkataan Sandi.


"Hah? Apa dia sekarang sudah menjadi wanita bodoh? Diakan masih muda, masa iya dia mau menunggu gue yang bakalan dihukum seumur hidup! Huh, padahal gue melakukan ini karena dia selalu nyeramahin gue! Sekarang apa maksudnya dia berkata ingin menunggu gue?" Tanya Richard dengan wajah antara kesal dan juga bingung.


"Kalau menurut saya, itu karena nyonya sangat mencintai Anda Tuan. Dan mengapa Nyonya selalu menceramahin Anda. Itu karena beliau ingin anda bertaubat, dan menjadi manusia yang lebih baik lagi. Dan apalagi saat ini nyonya sedang hamil makanya beliau tidak ingin..." Balas Sandi. Namun belum lagi ia menyelesaikan kata-katanya Richard sudah langsung menyalanya, setelah mendengar perkataan hamil.

__ADS_1


"Tunggu-tunggu! Tadi kamu bilang apa? Hamil? Siapa yang hamil?" Tanya Richard lagi, seperti ingin memastikan kalau pendengarannya tidak salah.


"Nyonya Tuan. Saat ini Nyonya Hidayah sedang mengandung anak Anda!" Balas Sandi memperjelas perkataannya. Seketika wajah Richard langsung berubah, dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan.


"Hah? Benarkah bini gue hamil lie?" Tanyanya, yang kini pertanyaan itu ia tujukan kepada Liechen.


"Benar bro. Lo ingatkan, waktu gue bilang, kalau bini Lo lagi dirumah sakit? Nah ternyata, dihari penangkapan Lo, waktu itu, Bini Lo langsung pingsan bro. Bahkan dia juga hampir kehilangan bayinya, karena saking syoknya melihat Lo ditangkap polisi. Makanya waktu itu dia nggak langsung menyusul Lo kekantorkan? Tapi Lo malah berpikir, yang tidak-tidak tentang dia, sampai-sampai, Lo langsung menyuruh gue, mengurus surat perceraian Lo!" Jawab Liechen, yang akhirnya ia menceritakan semuanya pada Richard. Sehingga Richard yang mendengarnya terlihat kaget.


"Ah! Dayah hampir keguguran?" Tanyanya dengan suara yang terdengar mulai bergetar. Dengan mata yang kini mengarah ke Sandi. Karena ia ingin memastikan perkataan Liechen.


Sandi yang mendapatkan tatapan dari bos langsung paham. Dan ia pun langsung menjawab pertanyaan Richard. "Benar Tuan. Tapi syukurnya dokter cepat menanganinya. Makanya sekarang Nyonya sudah terlihat membaik. Hanya saja tadi matanya Saya lihat agak membengkak, sepertinya beliau habis menangis," katanya. Membuat hati Richard terasa sakit mendengar hal itu.


"Hmm... Menangis? Mengapa Dia menangis?" Tanyanya dengan wajah terlihat penasaran.


"Cih! Pake nanya lagi? Bukankah Lo yang buat bini Lo nangiskan?" Balas Liechen, dengan wajah datarnya.


"Kok gue? Kenapa Lo jadi nyalahin gue, hah?" Tanya Richard sambil mengernyitkan dahinya. Tampak sekali ia seperti tak terima karena di salahkan oleh Liechen.


"Yaa, iyalah Lo! Siapa coba yang tadi nggak mau menemui dia hah?! Lo pikir Dia nggak sedih apa, saat mendengar suaminya tidak mau menemuinya. Woy, asal Lo tau aja ya, kebanyakan wanita yang lagi bunting itu, pasti sifatnya jadi sensitif. Karena diakan juga ingin diperhatikan sama suaminya tau!" Ujar Liechen, terlihat sedikit kesal melihat temannya yang menurut sedikit bodoh.

__ADS_1


"Eh! Kenapa jadi Lo yang emosi?" Balas Richard dengan wajah polosnya.


"Ya emosilah! Punya teman degol banget sih! Udah akh, lebih baik gue pulang! Lama-lama gue disini, yang ada gue ketularan bodoh lagi!" Pungkas Liechen. Seraya ia bangkit dari duduknya. Lalu ia pun berlalu meninggalkan Richard dan juga Sandi.


__ADS_2