
*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hikmah 🦋❁❁⊱••••••••*
Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,
“Diantara ihsan Allah yang sempurna kepada hamba-hambaNya adalah memberikan getirnya ujian sebelum diberi kenikmatan. Ketika Allah hendak menyempurnakan kenikmatan surga kepada Adam, Allah berikan kepadanya pedihnya dikeluarkan dari surga dan merasakan derita kehidupan dunia yang kesenangannya diwarnai oleh kepayahan.
Tidaklah Allah menguji hamba-Nya kecuali karena Dia ingin memberinya kenikmatan. Tidaklah Allah menimpakan bala kepadanya kecuali karena Dia ingin memberinya keselamatan.Tidaklah Allah mematikannya kecuali karena Dia ingin menghidupkannya kembali. Tidaklah Dia menjadikan dunia penuh kepayahan kecuali agar si hamba berharap kehidupan akherat..
Dan tidaklah Allah mengujinya dengan sikap manusia yang tidak baik kepadanya, kecuali karena agar si hamba kembali kepada-Nya..”
(Mukhtashor Showa’iq Mursalah hal. 844)
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••
"A-assalamu'alaikum Kyai? A-apa ya-yang telah terjadi pada Mas Siddiq, Kyai?" tanya Hidayah, dengan suara yang terdengar bergetar.
Mendengar suara Hidayah, Ibrahim langsung menoleh ke arahnya, sambil membalas salamnya. "Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu," balas Ibrahim, terdengar lirih. Sambil menatap wajah Hidayah, yang sedang tertutupi oleh cadarnya, dengan tatapan kasihannya. Untuk sesaat ia hanya terdiam saja, membuat Hidayah semakin penasaran.
__ADS_1
"K-kyai? Apa yang telah terjadi pada Mas Siddiq, Kyai?" tanya Hidayah lagi, mengulangi pertanyaannya yang tadi.
"Nak, kamu yang sabar ya? Dan sekarang sebaiknya temuilah Suami kamu didalam. Karena Dia sedang menunggu kamu," balas Ibrahim, terdengar pelan.
Mendengar perkataan Ibrahim, pandangan Hidayah langsung tertuju pada mobil Toyota Avanza yang ada dihadapannya. Dengan sedikit keraguan, ia mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan mendekati mobil tersebut. Dan setelah ia berada tepat di depan pintu mobil, ia pun langsung meraih, handle pintu mobilnya, dan langsung menariknya. Dan tampaklah olehnya suaminya yang sedang terbaring lemah, dengan baju yang tadinya berwarna putih, kini berubah merah.
"Astaghfirullah.. Mas Siddiq!" teriaknya, lalu ia kembali mengalihkan pandangannya pada Ibrahim. "Kyai, cepat! Kita harus cepat membawa Mas Siddiq kerumah sakit Kyai!" teriaknya lagi, dengan wajah terlihat begitu cemas.
"Maaf, Nak. Bukannya Kyai tak mau membawa Suamimu kerumah sakit. Tetapi Suami kamu sendirilah yang tidak mau di bawa kerumah sakit Nak," balas Ibrahim, dengan wajah tak berdayanya.
"Tapi Kyai, kalau dibiarkan, akan bah..." ujar Hidayah lagi. Namun lagi ia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba ia mendengar suara Siddiq memanggil dirinya.
"Mas, Ana disini! Kita kerumah sakit ya Mas?" kata Hidayah, sambil ia memasukkan tubuh bagian atasnya saja, kedalam mobil Avanza tersebut.
"Ma-af Dik, wak-tu Mas ting-gal sedi-kit lagi. Ja-di ma-suk-lah Dik, dan men-de-kat-lah pa-da Mas," ucap Siddiq, sambil mengangkat tangannya yang begitu berat, dan seakan ia ingin meraih tangannya Hidayah.
Melihat suaminya, yang sedang berusaha mengangkat tangannya,Hidayah pun langsung masuk kedalam mobil tersebut. Lalu ia langsung meraih kepala Siddiq, dan menaikkannya keatas pangkuannya. "Mas? Hiks.. kenapa kamu bisa begini Sih Mas? Hiks.. hiks.. kita kerumah sakit ya Mas? Kamu pasti akan selamat, kamu bisa mendengarkan Ana kan Mas? Hiks.." tanya Hidayah, dengan suara yang terdengar bergetar. Bahkan, air matanya telah mengalir begitu deras, hingga terjatuh, dan mengenai pipinya Siddiq.
Siddiq yang mendapatkan tetesan air mata dari istrinya yang terasa hangat, membuat ia langsung menatap matanya. Walaupun matanya terasa berat, namun ia tetap terus berusaha menahannya. Lalu ia juga terlihat sedang berusaha mengangkat tangannya dengan perlahan dan langsung meraih kain hitam yang sedang menutupi wajahnya Hidayah. Setelah wajah Hidayah terlihat olehnya, ia pun berusaha tersenyum kepada istrinya, sambil ia mengusap air matanya Hidayah.
__ADS_1
"D-dik, ka-mu tau-kan, ka-lau ka-mu itu, can-tik? Ta-pi, itu ka-lau, ka-mu tidak, mena-ngis, Dik. Ma-ka da-ri itu, ber-hen-tilah mena-ngis ya? Bi-ar kecan-tikan ka-mu bi-sa Mas lihat un-tuk terak-hir ka-linya," kata Siddiq, mengabaikan perkataan Hidayah.
"Kamu ngomong apa sih Mas? Hiks.. hiks.. tidak boleh ada kata untuk terakhir kalinya Mas! Hiks .. hiks.. makanya kamu harus mau kerumah sakit! Biar kamu bisa terselamatkan Mas!" balas Hidayah, masih dengan suara bergetarnya.
"Ma-af Dik! Ma-af ka-rena Mas, ti-dak bi-sa melin-dungi ka-mu la-gi. Un-tuk itu ja-galah diri ka-mu baik-baik ya? Dan berjan-jilah pa-da Mas, ka-mu harus tetap menja-lankan hidup deng-an penuh keba-hagiaan. Dan semoga kelak kamu akan menemukan Suami yang sempurna dan benar-benar men-cintai kamu. Ka-mukan berja-nji Dik?" pinta Siddiq, dengan mata yang terlihat sudah mulai begitu berat. Dan dengan nafas yang terlihat mulai satu dua.
Mendengar permintaan suaminya, Hidayah tak kuasa menahan suara tangisnya lagi, "Huhuhu.. Huhuhu.. huhuhu.. Mas.. hiks.. Ana mau sama Mas.. hiks.." balas Hidayah lirih.
"Ber-jan-jilah Dik, Mas su-dah ti-dak ku-at lagi ha.. ha..Mas mo-hon, ber-jan-jilah bi-ar Mas per-gi de-ngan ten-ang..ssht..." pinta Siddiq, dengan suara yang terdengar semakin lemah.
Melihat suaminya mulai kesusahan bernafas akhirnya, Hidayah pun mengangguk kepalanya, sambil berkata, "Baiklah Mas, Ana janji. hiks.. hiks.. Ana Janji akan hidup bahagia hiks..hiks .."
Mendengar jawaban dari istrinya, Siddiq pun tersenyum tipis, seraya berbisik, "Syu-kron, Zaw-jati, (Terima kasih istriku) selamat tinggal, heums..." Siddiq pun menghembuskan nafas terakhir dan dibarengi dengan matanya yang langsung terpejam.
"Mas..! Hiks.. hiks.. Mas.. bangun Mas..hiks.. Tidaaak!! MAS SIDDIIIQ!!" teriak Hidayah dengan histeris. Memecahkan keheningan malam yang begitu mencekam.
...•••••••••••⊰❁❁❁❁⊱••••••••••••...
Dukung Ramanda terus ya guys, Syukron 🙏
__ADS_1