HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.

HIDAYAH UNTUK SANG MAFIA.
ANA MILIK USTADZ SEUTUHNYA.


__ADS_3

*•••••••⊰❁❁🦋Kalam Hikmah 🦋❁❁⊱••••••••*


BERIBADAHLAH DENGAN CINTA


Cinta kepada Allah itu indah, bahkan itulah keindahan yang paling diinginkan oleh hati dan jiwa seorang manusia. Indahnya rasa cinta kepada Allah Ta'ala telah menjadikan segala bentuk ibadah dan ketaatan menjadi indah dan nikmat, karena rasa kenikmatan itu mengikuti rasa cinta kepada-Nya...


Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata : 


"Tiada kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan serta kebaikan bagi hati manusia kecuali (setelah) ia pun menjadikan Allah (sebagai) sembahan satu2nya, puncak dari tujuannya dan Dzat yang paling dicintai-Nya melebihi segala sesuatu" (Ighotsatul Lahfan 1/26)


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••


Setelah mendengar perkataan dari Ibrahim, Siddiq pun bisa langsung menebaknya. Dan ia pun segera memerintahkan para santri-santrinya, juga untuk waspada. Namun berbeda bagi Hidayah, ia malah sering senyum-senyum sendiri, setelah ia mendengar nasehat Ibrahim. Karena memang selama ini, Hidayah sudah mulai menyadari kalau dirinya, kalau dirinya sangat mencintai suaminya. Namun ia belum berani mengakuinya didepan suaminya.


"Kamu kenapa sih Dik? Kok sejak tadi Abang perhatikan kamu senyum-senyum sendiri gitu sih?" tanya Siddiq, sambil memasang wajah penasarannya.


"Ada deh, idih Ustadz mulai kepo ya?" ledek Hidayah, seraya ia mendekati wajahnya ke wajahnya dan otomatis mata Siddiq langsung membulat sempurna. Tampak sekali ia begitu terkejut melihat keberanian istrinya itu.


"Eh! Dik Nisah! Bikin kaget saja sih!" tegur Siddiq, mulai merasa risih pada keberaniannya Hidayah.

__ADS_1


"Masa sih, segitu aja kaget? Kalau begini kaget nggak, muach..!" balas Hidayah, yang kali ini ia malah mengecup singkat bibir suaminya. Dan spontan mata Siddiq kembali membulat. Ia benar-benar begitu kaget dan bermaksud ingin menegurnya.


"Kamu!" katanya, namun baru saja ia hendak protes. Hidayah sudah langsung menyelanya.


"Kenapa Ustadz? Apakah ada larangannya, untuk seorang istri mencium suaminya sendiri, hm? Nggak adakan?" tanya Hidayah, sambil menunjukkan tampang wajah polosnya, membuat Siddiq yang melihatnya menjadi gemas. Bahkan ia jadi merasakan ada desiran pada dadanya saat wajah istrinya, yang terlihat begitu cantik dan menggemaskan itu.


"Aah.. sudahlah! Sebaiknya kamu istirahat sana! Saya mau keluar dulu!" balas Siddiq, yang sepertinya ia bermaksud menghindari Hidayah, dan juga bermaksud ingin menenangkan jantungnya yang mulai berdetak kencang, setiap kali ia melihat tingkah laku istrinya yang sangat menggemaskan menurutnya itu. Dan disaat ia hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba Hidayah menghalangi langkahnya. Lalu ia berdiri tepat di depan pintu yang terlihat masih tertutup.


"Eh, Ustadz mau kemana? Ooh Ustadz mau menghindari Ana lagi ya? Emangnya Ustadz lupa ya, dengan nasehat Kyai Ibrahim?" tanyanya sembari ia merentangkan kedua tangannya, untuk menghalangi Siddiq agar tidak keluar.


"Kamu? Apa yang kamu lakukan Dek? Jangan halangi saya! Atau kamu akan menyesal nantinya!" tegas Siddiq yang sepertinya ia mengabaikan pertanyanya Hidayah, dengan wajah yang terlihat sedikit memerah.


"Menyesal? Justru Ustadz yang akan menyesal, karena telah mengabaikan Ana, sebagai istrinya Ustadz!" balas Hidayah, sembari berkacak pinggang, seakan menantang Suaminya, "Bahkan Ustadz juga telah mengabaikan nasehat Ky.. uhmm..!" lanjutnya dengan suara yang terdengar mulai lantang.


Pada awalnya, ia hanya tertegun saat, Suaminya, mulai mengenali bibirnya dengan kasar. Namun ketika kecapan mulai terasa melembut, membuat ia jadi ikut terlena. Dan akhirnya ia pun melingkari tangannya dileher suaminya. Dan di saat Hidayah, baru saja menikmati sensasi permainan bibir suaminya, tiba-tiba Siddiq melepaskan tautan secara mendadak.


"Aakh.." Hidayah begitu terkejut, bahkan wajahnya seperti tak rela, karena suaminya harus mengakhiri tautannya, yang menurutnya begitu singkat. Melihat kekecewaan yang terlihat diwajah istrinya, membuat Siddiq merasa bersalah.


"Maaf Dik Nisah. Kalau ini dilanjutkan, bisa-bisa saya tidak akan bisa menahan diri saya. Dan saya.." ujar Siddiq, seraya ia meraih tangan Hidayah yang masih melingkar di lehernya, agar terlepas dari lehernya. Akan tetapi, Hidayah malah mempererat lingkarannya, seraya ia menyela perkataannya Siddiq.


"Kenapa harus ditahan Ustadz? Bukankah Ana istrinya Ustadz? Yang Ana seutuhnya milik Ustadz. Jadi Ustadz tidak perlu menahannya lagi, karena Ana sudah siap lahir dan batin," balas Hidayah, lalu ia pun mendekati bibirnya ketelinganya Siddiq, "Sekarang lakukanlah Ustadz, agar agama Anda menjadi sempurna," bisiknya lagi, membuat Siddiq seakan terprovokasi dan tanpa berkata apapun, dan tanpa memberi aba-aba juga, ia pun langsung menggendong tubuh istrinya. Dan otomatis Istrinya langsung terpekik.

__ADS_1


"Kyaaaak!!" teriak Hidayah, dan dengan spontan tangannya kembali melingkar di lehernya Siddiq. Lalu dengan tatapan mata yang saling bertemu, Siddiq pun mulai melangkahkan kakinya menuju ke kamar mereka. Dan sesampainya di kamar, dengan perlahan ia menurunkan tubuh Hidayah ke atas tempat tidurnya yang berukuran lima kaki.


Untuk sesaat Siddiq hanya memandangi wajah cantik istrinya saja, dengan tatapan mata yang di penuhi dengan cinta, "Dik? Apakah benar, saya boleh memiliki kamu seutuhnya, hm?" tanyanya dengan suara yang terdengar begitu lembut.


"Tentu saja boleh Ustadz. Maka dari itu, jadikanlah Ana, milik ustadz seutuhnya," balas Hidayah, sembari ia menyunggingkan senyuman manisnya.


"Alhamdulillah.. Kalau begitu, saya mulai ya?" kata Siddiq, dan dibalas Hidayah dengan anggukan kepalanya saja.


Setelah mendapatkan jawaban dari istrinya. Siddiq pun mulai melakukan ritual pertamanya, yaitu, berdoa sebelum melakukan ritual yang lainnya. Dan setelah doa selesai ia melanjutkan ritual keduanya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu zawjati" ucap Siddiq, terdengar lembut.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu, zawji" balas Hidayah.


Setelah mendengar jawaban salamnya, Siddiq pun melanjutkan ritual ketiganya, yaitu mencumbui istrinya, yang diawali dengan mengecup dahi istrinya dengan lembut. Lalu turun, menuju ke kedua kelopak matanya, lalu turun kembali menuju ke kedua pipinya, dan lupa ia juga mengecup lembut pucuk hidungnya Hidayah. Dan baru saja bibirnya ingin menyentuh bibirnya, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara..


DOOR!! DOOR!!


...•••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱•••••••••••...


Assalamualaikum Readers Fillahku.

__ADS_1


Maaf ya, baru sekarang Author melanjutkan novel ini. Karena kemarin bulan Ramadhan, jadi Author tunda sejenak novel ini. Karena isinya mulai, hemm..Hem.. kalian tau dong. Makanya Author hentikan, agar puasa para Readers yang beragama Islam tidak terganggu. Dan Mulai hari ini Insya Allah, novel ini akan berlanjut lagi oke. Untuk itu dukung Ramanda terus ya guys 🙏 Syukron 🙏😘.


__ADS_2